Japa di Jalan: Bhakti atau Kebisingan Spiritual?
Di ruang-ruang publik hari ini—jalan raya, alun-alun kota, hingga acara car free day—muncul fenomena yang makin sering terlihat: sekelompok umat Hare Krishna berbusana religius berjalan sambil bernyanyi, menabuh, dan melantunkan nama Tuhan dengan suara keras. Mereka tampil mencolok, bergerak kolektif, dan sering menarik perhatian layaknya pengamen jalanan—hanya saja dibungkus dengan label sankīrtana. Dalam persepsi awam, perilaku ini kerap dianggap sebagai bentuk religiusitas tertinggi: semakin vokal, semakin publik, semakin dianggap suci. Namun justru di titik inilah masalahnya muncul—ketika spiritualitas berubah menjadi performa, dan perhatian publik menjadi tujuan terselubung.
Bhagavad Gita tidak pernah mendefinisikan japa sebagai pertunjukan eksternal. Sebaliknya, teks ini menegaskan bahwa inti praktik adalah pengendalian batin, bukan ekspansi suara:
yato yato niścarati manaś cañcalam asthiram
tatas tato niyamyaitad ātmany eva vaśaṃ nayet
Secara filologis BG 6.26:
- manaḥ cañcalam = pikiran yang liar, tidak stabil
- niyamyaitat = harus dikendalikan
- ātmani eva = dikembalikan ke dalam diri
Maknanya jelas:
arah spiritual itu ke dalam (inward), bukan keluar (outward spectacle).
Ketika japa berubah menjadi:
- kebisingan publik
- aktivitas yang menarik perhatian
- bahkan menyerupai performa jalanan
maka ia justru bergerak berlawanan arah dari prinsip yoga dalam Gītā.
Lebih jauh lagi, Gītā 10.25 menegaskan: nya
BG 10.25: yajñānāṃ japa-yajño ’smi — “Di antara semua yajña, Aku adalah japa-yajña.”
Ironinya:
japa disebut sebagai yajña tertinggi, tetapi justru karena itu ia menuntut:
- keheningan
- konsentrasi
- kesadaran mendalam
bukan pertunjukan massal yang kehilangan kualitas batin.
Pesan lontar Usadha Buduh
Di titik ini, kritik tradisional Nusantara justru berbicara lebih blak-blakan.
Dalam lontar Usadha Buduh (teks pengobatan gangguan jiwa dalam tradisi Bali), terdapat klasifikasi yang sangat tajam:
“ta, edan matebang mwang anyambat dewa, sa, …”
Secara filologis:
- edan = gila / tidak stabil mental
- matebang = bernyanyi tanpa arah
- anyambat dewa = menyebut-nyebut nama dewa
Terjemahan maknawi:
“Orang gila adalah yang bernyanyi-nyanyi dan menyebut-nyebut nama dewa (berjapa tanpa konteks).”
Ini bukan sekadar deskripsi medis, tetapi kategori epistemologis:
praktik spiritual yang lepas dari konteks → jatuh menjadi gangguan.
Dalam kerangka ini, seseorang yang:
- terus-menerus menyebut nama Tuhan
- di ruang publik
- tanpa konteks ritual atau kesadaran batin
dikategorikan sebagai:
“bebai dewa” (kedewan-dewan) — kondisi mental yang terlepas dari realitas.
Mahabharata (MB 12.190.4–7) memperkuat kritik ini secara eksplisit:
“avajñānena kurute … jāpako yāti nirayaṃ” → “Japa yang dilakukan tanpa kesadaran membawa pelakunya ke neraka.”
“aiśvaryapravṛttaḥ … sa eva nirayaḥ” → “Jika japa dilakukan demi dorongan hasil atau kepentingan, itulah nerakanya.”
Makna filologis:
- avajñāna = tanpa penghormatan / kesadaran
- niraya = kondisi jatuh (penderitaan batin, bukan sekadar tempat)
Jadi masalahnya bukan japa,
tetapi bagaimana dan untuk apa japa itu dilakukan.
Mahābhārata (MB 12.37.7–8) memberi prinsip pamungkas:
“Dharma bisa menjadi adharma jika dilakukan di tempat dan waktu yang salah.”
Ini menghancurkan ilusi bahwa:
“Selama menyebut nama Tuhan, pasti benar.”
Tidak.
Jika dilakukan:
- di tempat yang tidak tepat
- dalam konteks yang salah
- dengan kesadaran yang dangkal
maka praktik itu justru jatuh dari dharma menjadi adharma.
Jika ditarik lurus:
- Gītā → menuntut pengendalian batin
- Mahābhārata → mengkritik japa tanpa kesadaran
- Lontar Bali → bahkan mengklasifikasikannya sebagai gangguan
Maka pertanyaannya berubah total:
Ini bhakti… atau sekadar performa spiritual di ruang publik?
Dan lebih dalam lagi:
Apakah mereka sedang mendekat kepada Tuhan—
atau justru menjauh dari kesadaran itu sendiri?
Kesimpulannya sederhana tapi tidak nyaman
tidak semua yang terdengar “nama Tuhan” itu bernilai spiritual. Ketika japa dipindahkan dari ruang kesadaran ke ruang pertunjukan—dari disiplin batin menjadi kebisingan publik—ia kehilangan inti dan tinggal bentuk. Śāstra sudah tegas: tanpa kendali pikiran, tanpa konteks, tanpa niat yang jernih, praktik itu bukan lagi yoga, melainkan distorsi yang bahkan bisa menjatuhkan, kesalahpahaman tafsir bhakta Hare Krishna. Maka ukuran religiusitas bukan seberapa keras kita melantunkan nama-Nya di jalan, tetapi seberapa dalam kita menundukkan diri di dalam kesadaran. Jika yang dicari adalah perhatian manusia, jangan berharap mendapat kedekatan dengan Yang Ilahi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar