Google+

Mokṣa — Pembebasan: Antara Relasi dan Realisasi

Mokṣa — Pembebasan: Antara Relasi dan Realisasi

Ketika berbicara tentang mokṣa (pembebasan), perbedaan pemahaman menjadi sangat mencolok.

Dalam beberapa tradisi berbasis Purāṇa (Smṛti), mokṣa digambarkan sebagai keberlanjutan eksistensi individu dalam suatu dunia rohani, lengkap dengan relasi, aktivitas, dan pengalaman. Salah satu gambaran yang sering dikutip adalah sebagai berikut:

Lima Jenis Mokṣa

  1. Sālokya → tinggal di alam yang sama dengan Tuhan
  2. Sārṣṭi → memiliki kemuliaan yang setara dengan Tuhan
  3. Sāmīpya → menjadi dekat atau rekan Tuhan
  4. Sārūpya → memiliki bentuk yang serupa dengan Tuhan
  5. Sāyujya (Ekatvam / Jīvanmukti) → menyatu dengan Brahman

Dari klasifikasi ini, terlihat jelas arah yang berbeda:

  • sebagian mempertahankan relasi (1–4)
  • sebagian menuju kesatuan (5)

Sebelum menilai lebih jauh, Śruti memberikan satu gambaran mendasar tentang realitas tertinggi:

Sloka — Kaṭha Upaniṣad 2.2.15

na tatra sūryo bhāti na candratārakaṃ

nemā vidyuto bhānti kuto'yamagniḥ ।

tameva bhāntamanubhāti sarvaṃ

tasya bhāsā sarvamidaṃ vibhāti ॥

Di sana tidak bersinar matahari, tidak pula bulan dan bintang. Tidak juga kilat, apalagi api. Karena Dia bersinar, segala sesuatu bersinar; dengan cahaya-Nya, semua ini bercahaya.

Sloka — Śvetāśvatara Upaniṣad 6.14

na tatra sūryo bhāti na candratārakaṃ

nemā vidyuto bhānti kuto'yamagniḥ ।

tameva bhāntamanubhāti sarvaṃ

tasya bhāsā sarvamidaṃ vibhāti

Pada kehadiran Brahman, matahari tidak bersinar, bulan dan bintang-bintang juga tidak bersinar, kilat, apalagi api ini. Saat, Brahman bersinar, semuanya bisa bersinar. Dari Dia semua ini mendapatkan cahaya-Nya.

Makna Inti: Realitas tertinggi bukan tempat, bukan dunia, bukan lokasi kosmis, melainkan sumber dari seluruh keberadaan dan cahaya itu sendiri.

Jika diperhatikan, empat jenis pertama:

  • Sālokya
  • Sārṣṭi
  • Sāmīpya
  • Sārūpya

semuanya memiliki satu kesamaan masih mempertahankan struktur dunia

Artinya:

  • ada tempat
  • ada individu
  • ada relasi
  • ada aktivitas

Dengan kata lain: ini bukan pembebasan dari struktur, tetapi perpindahan ke struktur yang lebih halus.

Jika masih ada lokasi (Vaikuṇṭha, Goloka, dll),  bentuk,  relasi sosial, maka: ruang, waktu, dan dualitas masih ada. Dan jika itu masih ada: itu belum mokṣa dalam pengertian absolut Śruti.

Dalam beberapa penjelasan, dunia-dunia rohani digambarkan:

  • “mengapung” dalam Brahmajyoti
  • sebagai tempat tinggal Tuhan dan para bhakta

Namun ini menimbulkan pertanyaan mendasar:

apakah Brahman adalah tempat, atau dasar dari segala tempat?

Śruti menjawab dengan tegas Brahman bukan wadah kosmis, tetapi realitas yang melampaui seluruh kosmos.

Jika Brahmajyoti dijadikan “latar belakang” bagi dunia-dunia rohani, maka Brahman direduksi menjadi ruang kosmis yang besar. Padahal Śruti tidak pernah menyebut Brahman sebagai ruang, melainkan sebagai yang melampaui ruang itu sendiri.

Apakah Dunia-Dunia (loka) Itu Kekal?

Śāstra Vedānta justru memberikan peringatan keras:

Sarva Vedānta Siddhānta Sāra Saṅgraha 20

sarvasyānityatve sāvayavatvena sarvataḥ siddhe ।

vaikuṇṭhādiṣu nityatvamatirbhrama eva mūḍha buddhīnām ॥

Karena segala sesuatu yang tersusun dari bagian adalah tidak kekal, maka anggapan bahwa Vaikuṇṭha dan sejenisnya kekal adalah kekeliruan dari pikiran yang belum matang.

Tejobindu Upanishad 6.18

na brahmaloko vaikuṇṭho na kailāso na cānyakaḥ ॥

Tidak ada Brahmaloka, tidak ada Vaikuṇṭha, tidak ada Kailāsa, dan tidak ada loka. lainnya.

Makna: Pada tingkat tertinggi semua konstruksi kosmis—bahkan yang disebut “rohani”—tidak lagi relevan.

Berbeda dengan konsep relasional, Śruti menegaskan:

mokṣa bukan:

    • tinggal di suatu tempat
    • bukan menjadi pelayan
    • bukan mendapatkan pengalaman

melainkan lenyapnya seluruh pembatas (upādhi).

 Sloka — Adhyātma Upaniṣad 21

svātmanya aropitā śeṣābhāsavastunirāsataḥ ।

svayam eva paraṃbrahma pūrṇam advayamakriyam ॥

Dengan menyingkirkan sepenuhnya semua objek yang ditumpangkan pada Ātman, ia menjadi Parabrahman yang sempurna, non-dual, dan tanpa aktivitas.

Mokṣa bukan pergi ke tempat lain, bukan bertemu entitas lain. tetapi menyadari bahwa tidak pernah ada keterpisahan sejak awal.

Pada akhirnya, pilihan memang terbuka:

  • melihat mokṣa sebagai kelanjutan relasi dalam dunia rohani, atau
  • memahami mokṣa sebagai lenyapnya seluruh dualitas dalam Brahman

Namun Śruti tidak berbicara dalam simbol atau imajinasi,

melainkan menunjuk langsung pada realitas yang tidak berbentuk, tidak berlokasi, tidak berdua. Dan di sanalah pembebasan sejati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar