Aham Brahmāsmi
bukan Dalih Menyembah Manusia
Sebelum mengutip "Aham Brahmāsmi" atau "Tat Tvam Asi", ada satu pertanyaan sederhana yang seharusnya dijawab oleh para bhakta Sai Baba maupun Hare Krishna.
Jika benar kalian memahami Bhagavad Gītā dan Upaniṣad, mengapa yang kalian sembah justru tubuh manusia?
Bhakta Sai Baba bersujud dan menyembah di hadapan FOTO Sai Baba. Bhakta ISKCON memenuhi altar dengan ARCA Caitanya Mahāprabhu, Nityānanda, para Gosvāmi, hingga A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda—pendiri ISKCON yang memulai gerakan itu dari sebuah kuil di New York. Padahal Bhagavad Gītā sejak Bab 2 berulang kali mengajarkan bahwa tubuh bukanlah diri yang sejati.
Ironisnya, orang yang paling sering mengutip "Aham Brahmāsmi" justru masih terikat pada nama, rupa, dan badan. Orang yang paling sering mengucapkan "Tat Tvam Asi" justru berhenti pada tubuh seorang guru, seolah-olah Brahman dapat dibatasi oleh satu jasad manusia.
Bhagavad Gītā mengajarkan agar manusia membedakan deha (tubuh) dan dehī (penghuni tubuh). Upaniṣad mengajarkan bahwa yang mati hanyalah tubuh, sedangkan Ātman tidak pernah mati. Maka ketika seseorang menjadikan tubuh seorang guru sebagai objek pemujaan, sesungguhnya ia sedang mengabaikan pelajaran paling mendasar yang diajarkan oleh Kṛṣṇa sendiri.
Pertanyaannya bukanlah "Apakah guru harus dihormati?" Tentu guru patut dihormati sebagai pembimbing menuju pengetahuan.
Pertanyaannya adalah: mengapa tubuh guru diperlakukan sebagai Tuhan, padahal Bhagavad Gītā menyatakan bahwa tubuh hanyalah pakaian sementara yang suatu hari akan ditinggalkan?
Jika jawabannya tidak ditemukan dalam Bhagavad Gītā maupun Upaniṣad, maka yang sedang dipraktikkan bukan lagi ajaran Vedānta, melainkan tradisi pengkultusan manusia yang kemudian dicari pembenarannya dengan mengutip mahāvākya secara terpisah dari konteks aslinya.
Sri Krishna Mengajarkan Mengenal Ātman, Bukan Menyembah Tubuh
Pelajaran pertama Bhagavad Gītā bukanlah tentang mendirikan altar, memuja nama seseorang, ataupun mengkultuskan seorang guru. Pelajaran pertama justru dimulai dengan membedakan deha (tubuh) dan dehī (penghuni tubuh). Seluruh bangunan filsafat Bhagavad Gītā berdiri di atas pembedaan ini. Tanpa memahaminya, seluruh pembahasan mengenai bhakti, yoga, karma, maupun mokṣa akan mudah disalahpahami.
Kṛṣṇa berkata:
dehino 'smin yathā dehe kaumāraṃ yauvanaṃ jarātathā dehāntara-prāptir dhīras tatra na muhyati (BG 2.13)
"Sebagaimana penghuni tubuh mengalami masa kanak-kanak, dewasa, dan tua di dalam tubuh ini, demikian pula ia memperoleh tubuh yang lain; orang bijaksana tidak bingung karenanya."
Ayat ini membedakan secara tegas antara deha dan dehin. Tubuh berubah terus-menerus, sedangkan penghuni tubuh tetap ada. Yang berpindah bukan tubuh, melainkan Ātman.
Penegasan ini diperkuat lagi oleh Kṛṣṇa:
vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro 'parāṇitathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī (BG 2.22)
"Sebagaimana seseorang menanggalkan pakaian yang usang lalu mengenakan pakaian yang baru, demikian pula dehī meninggalkan tubuh yang tua dan memasuki tubuh yang baru."
Jika tubuh hanyalah pakaian, maka nama yang melekat pada tubuh juga bersifat sementara. Tubuh berubah, nama berubah, bentuk berubah, tetapi dehī tetap sama.
Karena itu, ketika Bhagavad Gītā mengajarkan penghormatan kepada Kṛṣṇa, ajaran tersebut tidak dapat dipahami sebagai perintah untuk mengkultuskan jasad seorang manusia. Kṛṣṇa justru sedang mengarahkan Arjuna agar melampaui identitas badan dan mengenali hakikat yang hidup di dalamnya.
Prinsip ini mencapai bentuk yang lebih filosofis pada Bab 13 ketika Kṛṣṇa menyatakan:
idaṃ śarīraṃ kaunteya kṣetram ity abhidhīyateetad yo vetti taṃ prāhuḥ kṣetrajña iti tadvidaḥ (BG 13.1)
"Tubuh ini disebut kṣetra (ladang), sedangkan yang mengetahui tubuh ini disebut kṣetrajña."
Lalu Kṛṣṇa menambahkan:
kṣetrajñaṃ cāpi māṃ viddhi sarva-kṣetreṣu bhārata (BG 13.2)
"Ketahuilah Aku sebagai Kṣetrajña di semua tubuh."
Perhatikan bahwa Kṛṣṇa tidak berkata, "Aku hanya berada dalam tubuh-Ku." Sebaliknya, Ia menyatakan bahwa diri-Nya adalah Kṣetrajña di semua kṣetra, yaitu kesadaran yang hadir dalam setiap makhluk. Dengan demikian, fokus Bhagavad Gītā bergeser dari penyembahan satu tubuh menuju pengenalan Kesadaran Universal yang hadir dalam seluruh kehidupan.
Inilah fondasi yang harus dipahami terlebih dahulu. Selama seseorang masih berhenti pada nama, rupa, atau tubuh seorang guru, maka ia masih berada pada tingkat kṣetra. Bhagavad Gītā justru mengajak manusia melampaui kṣetra dan mengenali kṣetrajña, Sang Kesadaran yang menjadi hakikat semua makhluk.
Tat Tvam Asi Menunjuk kepada Ātman, Bukan kepada Tubuh
Setelah Bhagavad Gītā menjelaskan bahwa tubuh hanyalah kṣetra dan yang sejati adalah kṣetrajña, pertanyaan berikutnya adalah: siapakah "Aku" yang sebenarnya?
Upaniṣad menjawab pertanyaan ini melalui salah satu mahāvākya yang paling terkenal.
sa ātmā tat tvam asi śvetaketo
"Itulah Ātman. Engkau adalah Itu, wahai Śvetaketu." (Chāndogya Upaniṣad 6.8.7; diulang hingga 6.16)
Perhatikan susunan kalimatnya.
Upaniṣad tidak mengatakan:
sa dehaḥ tat tvam asi"Tubuh itulah engkau."
Tetapi dengan sangat jelas mengatakan:
sa ātmā tat tvam asi
Artinya, kata tvam (engkau) menunjuk kepada Ātman, bukan kepada badan, nama, rupa, kasta, suku, ataupun kepribadian.
Inilah sebabnya Bhagavad Gītā terlebih dahulu mengajarkan perbedaan antara tubuh dan penghuni tubuh. Setelah mengetahui bahwa tubuh hanyalah pakaian yang silih berganti, barulah seseorang dapat memahami bahwa yang dimaksud "engkau" dalam Tat Tvam Asi adalah Ātman yang tidak pernah lahir dan tidak pernah mati.
Hal ini sepenuhnya selaras dengan ajaran Kṛṣṇa:
dehino 'smin yathā dehe... tathā dehāntara-prāptir (BG 2.13)
Penghuni tubuh tetap sama meskipun tubuh terus berubah.
Kemudian ditegaskan kembali:
vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāya... tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇāny anyāni saṃyāti dehī (BG 2.22)
Yang berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain adalah dehī, bukan nama dan bukan bentuk jasmaninya.
Karena itu, apabila seseorang memahami Tat Tvam Asi sebagai identitas badan tertentu—baik badan Kṛṣṇa, badan seorang guru, maupun badan tokoh agama mana pun—maka ia telah menggeser makna mahāvākya dari Ātman menuju tubuh. Padahal Upaniṣad sama sekali tidak mengajarkan demikian.
Kesatuan yang diajarkan Upaniṣad bukanlah kesatuan bentuk fisik, melainkan kesatuan hakikat kesadaran. Tubuh setiap makhluk berbeda, tetapi Ātman yang menjadi dasar keberadaannya adalah realitas yang sama.
Prinsip ini kembali dipertegas oleh Bhagavad Gītā ketika Kṛṣṇa menyatakan:
kṣetrajñaṃ cāpi māṃ viddhi sarva-kṣetreṣu bhārata (BG 13.2)
"Ketahuilah Aku sebagai Kṣetrajña di semua tubuh."
Dengan demikian, Tat Tvam Asi bukanlah ajaran untuk mengidentifikasi diri dengan tubuh tertentu, melainkan ajaran untuk mengenali Ātman yang hadir dalam setiap makhluk. Selama seseorang masih berhenti pada nama dan rupa, ia masih berada pada tingkat kṣetra. Tat Tvam Asi mengajak manusia melampaui seluruh identitas jasmani dan mengenali hakikat yang sama di dalam semua makhluk.
Sarvaṃ Khalv Idaṃ Brahma Bukan Berarti Satu Manusia adalah Brahman
Setelah Upaniṣad menjelaskan bahwa "Tat Tvam Asi" menunjuk kepada Ātman, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana hubungan Ātman dengan seluruh alam semesta.
Chāndogya Upaniṣad menjawabnya melalui mahāvākya yang sangat terkenal.
sarvaṃ khalv idaṃ brahma tajjalān iti śānta upāsīta"Sesungguhnya seluruh ini adalah Brahman. Dari-Nya semuanya lahir, di dalam-Nya semuanya hidup, dan kepada-Nya semuanya kembali. Dengan pemahaman itu hendaknya seseorang bermeditasi dengan tenang."Chāndogya Upaniṣad 3.14.1
Perhatikan baik-baik.
Upaniṣad tidak berkata:
"Sai Baba adalah Brahman."
Tidak pula berkata:
"Caitanya Mahāprabhu adalah Brahman."
Atau:
"Prabhupāda adalah Brahman."
Yang dinyatakan adalah:
sarvaṃ khalv idaṃ brahma — "Seluruh ini adalah Brahman."
Artinya, apabila seseorang memahami mahāvākya ini dengan benar, maka ia tidak akan memusatkan pemujaan kepada satu tubuh manusia tertentu. Sebab jika seluruh alam adalah Brahman, maka tidak ada alasan untuk mengistimewakan satu badan jasmani sebagai satu-satunya representasi Tuhan.
Inilah yang kemudian dijelaskan oleh Bhagavad Gītā.
kṣetrajñaṃ cāpi māṃ viddhi sarva-kṣetreṣu bhārata"Ketahuilah Aku sebagai Kṣetrajña di semua tubuh."Bhagavad Gītā 13.2
Kata sarva-kṣetreṣu berarti "di semua tubuh".
Bukan di satu tubuh.
Bukan di satu guru.
Bukan di satu avatāra.
Melainkan pada seluruh makhluk.
Karena itu, ketika seseorang berkata, "Sai Baba adalah Tuhan," atau "Prabhupāda adalah Tuhan," atau "Caitanya Mahāprabhu adalah Tuhan," sementara pada saat yang sama ia tidak memandang semua makhluk dengan kesadaran yang sama, maka ia sedang menyempitkan makna sarvaṃ khalv idaṃ brahma menjadi "sebagian kecil ini adalah Brahman."
Padahal Upaniṣad justru mengatakan sarvam—seluruhnya.
Bhagavad Gītā bahkan menjelaskan mengapa seseorang mampu melihat demikian.
yo māṃ paśyati sarvatra sarvaṃ ca mayi paśyatitasyāhaṃ na praṇaśyāmi sa ca me na praṇaśyati"Dia yang melihat Aku di mana-mana dan melihat segala sesuatu berada di dalam-Ku, Aku tidak pernah hilang darinya dan ia pun tidak pernah hilang dari-Ku."Bhagavad Gītā 6.30
Kṛṣṇa tidak berkata, "Lihatlah Aku hanya pada tubuh-Ku."
Sebaliknya, Ia berkata:
"Lihatlah Aku di mana-mana."
Ayat berikutnya bahkan memperluas lagi pandangan itu.
sarva-bhūta-sthitaṃ yo māṃ bhajaty ekatvam āsthitaḥsarvathā vartamāno 'pi sa yogī mayi vartate"Yogi yang memuja-Ku sebagai Yang berdiam di dalam semua makhluk, dengan pandangan kesatuan, tetap berada di dalam-Ku dalam keadaan apa pun."Bhagavad Gītā 6.31
Di sini kata ekatvam (kesatuan) menjadi kunci.
Kesatuan bukan berarti mengangkat satu manusia menjadi Tuhan.
Kesatuan berarti melihat Brahman yang sama berdiam di dalam seluruh makhluk.
Pandangan ini mencapai puncaknya pada ajaran Bhagavad Gītā:
ātmaupamyena sarvatra samaṃ paśyati yo 'rjunasukhaṃ vā yadi vā duḥkhaṃ sa yogī paramo mataḥ"Orang yang melihat semua makhluk dengan dirinya sendiri sebagai ukuran—baik dalam suka maupun duka—dialah yogi yang tertinggi."Bhagavad Gītā 6.32
Dengan demikian, Sarvaṃ Khalv Idaṃ Brahma bukanlah legitimasi untuk mengkultuskan satu tokoh spiritual. Sebaliknya, mahāvākya ini menghancurkan segala bentuk eksklusivisme, karena Brahman tidak terbatas pada satu nama, satu rupa, satu guru, atau satu tubuh.
Jika seseorang benar-benar memahami Sarvaṃ Khalv Idaṃ Brahma, maka penghormatannya tidak berhenti pada satu manusia, melainkan meluas menjadi penghormatan kepada seluruh kehidupan. Sebaliknya, apabila ia hanya memuliakan satu badan jasmani sambil mengabaikan kehadiran Brahman dalam semua makhluk, maka ia belum memahami makna sarvam sebagaimana diajarkan oleh Upaniṣad dan ditegaskan kembali oleh Bhagavad Gītā.
Kesimpulan
Bhagavad Gītā dan Upaniṣad tidak pernah mengajarkan manusia untuk mengkultuskan tubuh seorang guru. Sebaliknya, keduanya justru memulai ajarannya dengan menghancurkan kesalahan paling mendasar manusia, yaitu menganggap tubuh sebagai diri.
jīvāpetaṃ vāva kiledaṃ mriyate na jīvo mriyata iti
Inilah ajaran yang kemudian ditegaskan kembali oleh Kṛṣṇa:
vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāya... tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇāny anyāni saṃyāti dehī
Maka muncul pertanyaan yang tidak dapat dihindari.
Jika Ātman telah meninggalkan tubuh sebagaimana seseorang meninggalkan pakaian usang, lalu siapakah yang sebenarnya dipuja ketika seseorang bersujud kepada tubuh yang telah ditinggalkan itu?
Jika yang disembah adalah Ātman, maka Ātman hadir di semua makhluk. Tidak ada alasan mengapa hanya satu manusia diperlakukan sebagai Tuhan.
Namun jika yang disembah adalah badan, maka itu bertentangan dengan pelajaran pertama Bhagavad Gītā, karena badan hanyalah pakaian sementara yang pasti ditinggalkan.
Ironisnya, mereka yang paling sering mengutip Aham Brahmāsmi, Tat Tvam Asi, dan Sarvaṃ Khalv Idaṃ Brahma justru sering berhenti pada nama, rupa, dan jasad seorang guru. Mahāvākya yang seharusnya membebaskan manusia dari keterikatan terhadap tubuh justru dipakai untuk mempertahankan keterikatan itu. Mahāvākya yang seharusnya menghapus eksklusivisme justru dijadikan legitimasi untuk mengultuskan satu tokoh tertentu.
Di sinilah letak ironi yang paling besar.
Bhagavad Gītā mengajarkan agar manusia meninggalkan identifikasi dengan badan. Upaniṣad mengajarkan agar manusia mengenal Ātman. Tetapi sebagian orang justru meninggalkan Ātman demi mempertahankan badan.
Selama seseorang masih menganggap tubuh seorang guru sebagai tujuan akhir pemujaan, ia belum memasuki inti ajaran Vedānta. Sebab Vedānta tidak mengajak manusia berhenti pada deha, melainkan menuntun manusia mengenal dehī; tidak berhenti pada nama dan rupa, melainkan menuju Ātman; tidak berhenti pada satu tubuh, melainkan menyadari Brahman yang hadir dalam seluruh kehidupan.
Dengan demikian, persoalan utamanya bukanlah apakah seseorang menghormati gurunya. Guru memang patut dihormati sebagai pembimbing menuju pengetahuan. Persoalannya adalah ketika penghormatan kepada guru berubah menjadi pemujaan terhadap tubuh manusia, lalu dicari pembenarannya dengan mengutip mahāvākya di luar konteksnya.
Bhagavad Gītā dan Upaniṣad tidak membutuhkan pembelaan dari tradisi-tradisi belakangan. Keduanya telah berbicara dengan sangat jelas. Yang perlu diperbaiki bukanlah kitab sucinya, melainkan cara membacanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar