BG 1.1
Bhagavad Gītā 1.1
धर्मक्षेत्रे कुरुक्षेत्रे — dharmakṣetre kurukṣetre
dharma-kṣetre kuru-kṣetre samavetā yuyutsavaḥ |
māmakāḥ pāṇḍavāś caiva kim akurvata sañjaya ||
(Bhagavad Gītā 1.1)
Terjemahan BG 1.1
"Di medan Dharma, di Kurukṣetra, ketika putra-putraku dan putra-putra Pāṇḍu berkumpul dengan keinginan untuk berperang, apakah yang mereka lakukan, wahai Sañjaya?"
Komentar BG 1.1
Bhagavad Gītā tidak dimulai dengan pembahasan Brahman, yoga, ataupun mokṣa. Ia dimulai dengan satu kata yang menjadi fondasi seluruh ajarannya:
Dharma.
Kurukṣetra disebut Dharmakṣetra, sebab perang yang akan terjadi bukan sekadar perebutan kerajaan, melainkan ujian antara satya dan anṛta, antara kebenaran dan penyimpangan.
Sebagaimana dinyatakan dalam Śatapatha Brāhmaṇa:
dvayaṃ vā idaṃ na tṛtīyam asti — satyaṃ caivānṛtaṃ ca"Hanya ada dua jalan: satya dan anṛta; tidak ada jalan ketiga."(ŚB 1.1.1.4)
Karena itu manusia dipanggil:
idam aham anṛtāt satyam upaimi"Aku bergerak meninggalkan anṛta menuju satya."(ŚB 1.1.1.4)
Para dewa sendiri hidup menurut prinsip itu:
sa vai satyam eva vadet... etaddhavai devā vrataṃ caranti yat satyam"Hendaklah berkata benar; sebab inilah vrata para dewa: satya."(ŚB 1.1.1.5)
Maka perang Kurukṣetra adalah ujian: siapakah yang berdiri pada satya?
Veda jauh sebelumnya telah menyatakan:
ṛtam ṛtena sapante... adruhā devau vardhete"Dengan ṛta mereka memelihara ṛta; tanpa tipu daya mereka bertumbuh."(RV 5.68.4)
Dharma selalu berdiri di atas ṛta, hukum kosmis yang dijaga oleh Mitra dan Varuṇa.
Karena itu Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad menegaskan:
tad etat kṣatrasya kṣatraṃ yad dharmaḥ"Dharma adalah kekuasaan di atas segala kekuasaan."
tasmād dharmāt paraṃ nāsti"Tidak ada yang lebih tinggi daripada Dharma."
yo vai sa dharmaḥ satyaṃ vai tat"Sesungguhnya Dharma itu adalah Satya."
(BU 1.4.14)
Jadi sejak ayat pertama, Gītā telah menyatakan bahwa yang akan diuji bukan kekuatan senjata, tetapi kesetiaan kepada Dharma.
Karena itu Taittirīya Upaniṣad memberikan amanat kepada setiap pencari kebenaran:
satyaṃ vada, dharmaṃ cara"Berkatalah benar; jalankan Dharma."
svādhyāyāt mā pramadaḥ"Jangan lalai mempelajari kitab suci."
dharmāt na pramaditavyam"Jangan pernah menyimpang dari Dharma."
(TU 1.11.1)
Dengan demikian Kurukṣetra adalah panggilan untuk memilih antara kepentingan pribadi atau Dharma.
Namun memasuki Dharmakṣetra tidak cukup hanya membawa senjata.
Veda berdoa:
apa naḥ śośucat agham... sukṣetriyā sugātuyā"Semoga dosa menjauh; semoga kami memperoleh ladang yang baik dan jalan yang baik."(AV 4.29.2)
"Ladang yang baik" (su-kṣetra) bukan hanya tanah Kurukṣetra, melainkan hati yang siap menerima Dharma.
Upaniṣad kemudian menjelaskan tujuan akhir seluruh perjuangan itu.
etat satyaṃ brahmapuram... eṣa ātmā apahatapāpmā vijaro vimṛtyuḥ"Inilah kota Brahman; Ātman bebas dari dosa, usia, kematian dan dukacita."(CU 8.1.5)
Perang lahir hanyalah bayangan dari perjuangan batin untuk menemukan Ātman yang tidak dapat disentuh kematian.
Namun jalan menuju Dharma sering terhalang oleh avidyā.
Karena itu Īśā Upaniṣad memperingatkan:
andhaṃ tamaḥ praviśanti ye'vidyām upāsate"Mereka yang hidup dalam avidyā memasuki kegelapan."
(ĪU 9)
Mundaka dan Kaṭha Upaniṣad bahkan menggambarkan keadaan manusia:
avidyāyām antare vartamānāḥ svayaṃ dhīrāḥ paṇḍitam manyamānāḥ"Mereka hidup dalam avidyā sambil menganggap dirinya bijaksana."
(MU 1.2.8; KU 2.5)
Dan lebih jauh:
avidyāyaṃ bahudhā vartamānā vayaṃ kṛtārthā ityabhimanyanti bālāḥ"Orang-orang bodoh mengira dirinya telah mencapai tujuan."(MU 1.2.9)
Karena itu Dharmakṣetra pertama-tama adalah medan peperangan melawan kebodohan diri sendiri.
Mahābhārata kemudian menunjukkan akibat ketika nasihat Dharma diabaikan.
Dhṛtarāṣṭra sendiri mengakui:
aśrutvā hitakāmasya vidurasya... paritapyāmi"Karena aku tidak mendengarkan Vidura yang menghendaki kebaikan, kini aku tersiksa."(MB 14.1.10)
Vidura telah memperingatkan:
duryodhanāparādhena kulaṃ te vinaśiṣyati"Karena pelanggaran Duryodhana, keluargamu akan binasa."(MB 14.1.11)
Namun Dhṛtarāṣṭra mengaku:
duryodhanam ahaṃ pāpam anvavartaṃ vṛthā matiḥ"Aku justru mengikuti Duryodhana yang jahat dengan pikiran yang sia-sia."(MB 14.1.17)
Inilah sebab mengapa Bhagavad Gītā dibuka dengan pertanyaan Dhṛtarāṣṭra. Ia mengetahui apa itu Dharma, tetapi tidak mampu memilihnya.
Kesimpulan
Bhagavad Gītā 1.1 bukan sekadar pembukaan kisah perang. Ayat pertama telah merangkum seluruh pesan Veda dan Upaniṣad:
- Ṛta adalah tatanan kosmis (RV 5.68.4).
- Satya adalah jalan para dewa (ŚB 1.1.1.5).
- Dharma adalah Satya (BU 1.4.14).
- Satya harus diucapkan dan Dharma harus dijalankan (TU 1.11.1).
- Avidyā menyesatkan manusia dari Dharma (ĪU 9; MU 1.2.8–9).
- Mengabaikan nasihat Dharma membawa kehancuran, sebagaimana pengakuan Dhṛtarāṣṭra sendiri (MB 14.1.10–17).
Dengan demikian, sejak ayat pertama Bhagavad Gītā, pertanyaan yang diajukan kepada setiap pembaca bukanlah "Siapa yang akan menang?", melainkan:
"Apakah aku berdiri di pihak Dharma atau di pihak kepentingan pribadiku?"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar