Google+

Bhagavata Puraṇa Tidak Dapat Membatalkan Bhagavad Gita

Menjawab Klaim Hare Krishna
KṚṢṆA ADALAH SUMBER DARI SEMUA INKARNASI? Bhāgavata Purāṇa Tidak Dapat Membatalkan Bhagavad Gītā

Klaim Hare Krishna menjadikan Bhāgavata Purāṇa 1.3.28 sebagai dasar utama bahwa Krishna adalah Tuhan Yang Asli (Svayam Bhagavān).

Mereka mengutip:

ete cāṁśa-kalāḥ puṁsaḥ
kṛṣṇas tu bhagavān svayam
indrāri-vyākulaṁ lokaṁ
mṛḍayanti yuge yuge

"Semua avatāra yang disebutkan sebelumnya hanyalah bagian-bagian atau bagian dari bagian.Tetapi Kṛṣṇa adalah Bhagavān Yang Asli (Svayam Bhagavān)."

Bahkan mereka menegaskan:

"Ayat ini merupakan paribhāṣā-sūtra yang menetapkan bahwa Kṛṣṇa bukan sekedar avatāra Viṣṇu, melainkan sumber dari seluruh avatāra."

Masalahnya, pernyataan tersebut berasal dari Purāṇa, bukan dari Śruti maupun Bhagavad Gītā.

Dalam tradisi Weda, apabila terjadi pertentangan, maka Śruti menjadi otoritas tertinggi, kemudian Itihāsa, sedangkan Purāṇa berfungsi menjelaskan, bukan mengubah ajaran yang telah ada.

Oleh karena itu, sebelum menerima tafsir Bhāgavata Purāṇa, terlebih dahulu harus diperiksa apakah pernyataan-pernyataan tersebut selaras dengan Bhagavad Gita.

Svayam Bhagavān versi Purana

Bhagavad Gitā Tidak Pernah Menyebut "Aku Sumber Semua Avatar"

Hare Krishna kemudian mengutip Bhagavad Gitā 10.8.

ahaṁ sarvasya prabhavo
mattaḥ sarvaṁ pravartate

Dengan Pemahaman Hare Krishna lewat perkumpulannya, lalu mereka menyimpulkan:

Ayat ini menegaskan Krishna sebagai sumber dari semua avatara.

Padahal, Bhagavad Gitā tidak pernah memakai kata avatāra dalam ayat tersebut.

Yang dikatakan Krishna hanyalah:

ahaṁ sarvasya prabhavo

Aku adalah sumber segala sesuatu.

Segala sesuatu (sarvasya) meliputi seluruh alam semesta, seluruh makhluk, seluruh hukum alam, seluruh kehidupan.

Ayat itu TIDAK sedang membahas hierarki antar avatara.

Justru Hare Krishna telah menggambarkan makna sarvasya menjadi hanya "semua avatara."

Padahal teksnya sendiri tidak mengatakan demikian.


Bhagavad Gita Mengajarkan Brahman Universal

Apabila memang tujuan Bhagavad Gītā adalah mengajarkan bahwa tubuh historis Krishna merupakan sumber seluruh avatar, tentu ajaran itu akan diulang berkali-kali.

Sebaliknya, Bhagavad Gitā justru berkali-kali mengarahkan perhatian kepada Brahman yang melampaui bentuk.

avyaktaṃ vyaktim āpannaṃ manyante mām abuddhayaḥ

paraṃ bhāvam ajānanto mamāvyayam anuttamam
(BG 7.24)

Orang yang kurang memahami mengira Aku yang tidak termanifestasi menjadi terbatas dalam bentuk yang tampak; mereka tidak mengetahui hakikat-Ku yang tertinggi dan kekal.

Ayat ini justru memperingatkan agar manusia tidak berhenti pada bentuk yang tampak.

Kemudian Krishna berkata:

brahmaṇo hi pratiṣṭhāham
(BG 14.27)

Akulah landasan Brahman yang kekal.

Perhatikan.

Yang jelasnya adalah hubungan dengan Brahman, bukan daftar hierarki antar avatara.


Yang Dilihat Orang Bijaksana Bukan Tubuh Krishna

Bhagavad Gita juga mengajarkan:

vidyā-vinaya-sampanne brāhmaṇe gavi hastini
śuni caiva śvapāke ca paṇḍitāḥ sama-darśinaḥ

(BG 5.18)

Orang bijaksana melihat dengan pandangan yang sama dengan seorang brahmana, sapi, gajah, anjing, maupun pemakan anjing.

Kalau memang tujuan utama Bhagavad Gitā adalah menetapkan supremasi tubuh historis Krishna di atas seluruh manifestasi ilahi lainnya, tentu ajaran ini tidak akan menjadi salah satu inti yoga.

Sebaliknya, Krishna mengajarkan sama-darśana, yaitu melihat hakikat ilahi yang sama pada seluruh makhluk.


Mahābhārata Justru Menunjukkan Kṛṣṇa Menyembah Dewa Lain

Narasi Klaim Hare Krishna menyatakan:

"Krishna adalah sumber dari seluruh avatara."

Namun Mahābhārata justru mencatat berkali-kali bahwa Kṛṣṇa sendiri melakukan pemujaan.

sebelum Aśvamedha.

arcayitvā suraśreṣṭhaṃ pūrvam eva maheśvaram
(MB 14.62.18)

Terlebih dahulu mereka memuja Mahādeva, yang tertinggi di antara para dewa.

Kemudian:

modakaiḥ pāyasenātha māṃsāpūpais tathaiva ca
āśāsya ca mahātmānaṃ prayayur muditā bhṛśam

(MB 14.62.19)

Dengan modaka, pāyasa dan persembahan lainnya mereka memohon restu Mahātma itu sebelum berangkat.

Jika Krishna adalah sumber seluruh avatara sekaligus sumber seluruh dewa dalam arti literal sebagaimana dibuktikan Hare Krishna, mengapa Mahābhārata justru menggambarkan Krishna melakukan pemujaan menurut tata dharma?

Narasi Mahābhārata lebih konsisten dipahami sebagai līlā seorang manusia agung yang mematuhi tatanan dharma, bukan sebagai pembuktian bahwa semua dewa hanyalah perluasan tubuh historis Kṛiṣhṇa.

Bhagavad Gitā Tidak Pernah Memerintahkan Menetapkan Hierarki Avatāra

Di seluruh Bhagavad Gītā tidak ada satu pun perintah:

  • kenalilah Aku sebagai sumber semua avatar;
  • tetapkan hierarki avatāra;
  • sembahlah Aku karena Aku lebih tinggi dari Rāma, Nṛsiṃha, Varāha, atau Nārāyaṇa.

Sebaliknya, Kṛṣṇa berulang kali mengajarkan:

yo māṃ paśyati sarvatra
sarvaṃ ca mayi paśyati

(BG 6.30)

Siapa yang melihat Aku di dalam semuamakhluk dan melihat semua makhluk berada di dalam-Ku...

Arah ajaran Bhagavad Gītā adalah melihat Yang Ilahi di mana-mana , bukan membangun kompetisi teologis mengenai siapa avatāra yang paling tinggi.

Kesimpulan Bhagavata Puraṇa Tidak Dapat Membatalkan Bhagavad Gita

Bhāgavata Purāṇa 1.3.28 adalah pernyataan teologis dari sebuah Purāṇa. Ayat itu dapat dihormati sebagai bagian dari tradisi Purāṇik, tetapi tidak dapat dipakai untuk mengubah makna Bhagavad Gītā maupun Śruti .

Bhagavad Gitā tidak pernah mengatakan bahwa tujuan yoga mengakui Kṛṣṇa sebagai sumber seluruh avatar. Sebaliknya, Gītā mengajarkan bahwa hakikat tertinggi adalah Brahman yang melampaui bentuk (BG 7.24; 14.27), bahwa orang bijaksana melihat Yang Ilahi secara sama dalam semua makhluk (BG 5.18), dan bahwa kesempurnaan spiritual dicapai ketika seseorang melihat Tuhan hadir di mana-mana (BG 6.30).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar