Google+

Membantah Klaim Hare Krishna: "Menghilangnya" Caitanya Mahāprabhu Tidak Pernah Menjadi Ajaran Veda

Membantah Klaim Hare Krishna:
"Menghilangnya" Caitanya Mahāprabhu Tidak Pernah Menjadi Ajaran Veda

Bhakta Hare Krishna sering mengklaim bahwa sumber utama ajaran mereka adalah Bhagavad Gītā . Maka, apabila demikian, pembuktian mengenai ketuhanan Caitanya Mahāprabhu maupun kisah “menyatu dengan arca” seharusnya dapat ditemukan dalam Bhagavad Gita atau sekurang-kurangnya mempunyai dasar yang jelas dalam Śruti . Faktanya, tidak ada satu pun sloka Bhagavad Gītā maupun Veda yang mengajarkan doktrin tersebut.

Bhagavad Gītā justru mengajarkan agar pencari memahami Kṣetra, Kṣetrajña, Ātman, dan Brahman , bukan membangun keyakinan atas dasar riwayat hidup seorang tokoh.

Kṛṣṇa menyatakan:

kṣetra-kṣetrajñayor jñānaṃ yat taj jñānaṃ mataṃ mama
"Pengetahuan mengenai kṣetra dan kṣetrajña, itulah pengetahuan menurut-Ku." (BG 13.2)

Kemudian ditegaskan:

adhyātma-jñāna-nityatvaṃ tattva-jñānārtha-darśanam etaj jñānam iti proktam ajñānaṃ yad ato'nyathā
"Ketekunan pada pengetahuan adhyātma dan penglihatan terhadap tujuan pengetahuan hakikat, itulah pengetahuan; selain itu adalah ketidaktahuan." (BG 13.11)

Dengan demikian, Bhagavad Gitā tidak pernah mengatakan bahwa pengetahuan tertinggi adalah mengetahui bagaimana seorang guru "menghilang", apalagi menyimpulkan bahwa ia melebur ke dalam sebuah arca.

Klaim Hare Krishna arca caitanya

Lebih jauh lagi, objek pengetahuan tertinggi dalam Gita adalah Brahman, bukan sejarah seseorang.

jñeyaṃ yat tat pravakṣyāmi yaj jñātvāmṛtam aśnute anādimat paraṃ brahma na sat tan nāsad ucyate
"Aku akan menjelaskan yang patut diketahui; setelah seseorang mencapai keabadian, yaitu Brahman Yang Tertinggi yang tanpa awal." (BG 13.12)

Mahābhārata, Santi Parwa bahkan menjelaskan ayat ini:

na strī pumān vāpi napusakaṃ ca; na san na cāsat... tad akṣaraṃ na kṣaratīti viddhi
"Ia bukan perempuan, bukan laki-laki, bukan pula netral; bukan ada dan bukan tiada. Ketahuilah itulah Akṣara." (MB 12.194.24)

Brahman berada melampaui semua identitas historis maupun jasmani.

Bhagavad Gītā juga menjelaskan bahwa Tuhan hadir sebagai Kṣetrajña di semua makhluk, bukan hanya pada satu pribadi tertentu.

kṣetrajñaṃ cāpi māṃ viddhi sarva-kṣetreṣu bhārata
"Ketahuilah Aku sebagai Kṣetrajña di seluruh tubuh." (BG 13.2)

Mahābhārata, Santi Parwa  menjelaskan:

ātmā kṣetrajña ity uktaḥ... tair eva tu vinirmuktaḥ paramātmety udāhṛtaḥ
"Ātman disebut Kṣetrajña ketika terkait dengan guṇa-guṇa prakṛti; ketika bebas darinya disebut Paramātman." (MB 12.180.22)

Dengan demikian, fokus Gītā adalah realisasi Ātman dan Paramātman, bukan pembuktian mukjizat historis.

Bhakta Hare Krishna sering mengutip BG 7.7:

mattaḥ parataraṃ nānyat kiñcid asti dhanañjaya mayi sarvam idaṃ protaṃ sūtre maṇigaṇā iva
"Tidak ada sesuatu pun yang lebih tinggi dari-Ku; segala sesuatu terjalin pada-Ku seperti permata pada seutas benang." (BG 7.7)

Namun Mahābhārata sendiri menjelaskan hakikat "Aku" tersebut sebagai Akṣara Brahman:

gambhīraṃ gahanaṃ brahma... anādinidhanaṃ cāhur akṣaraṃ param eva ca
"Brahman itu dalam dan tak terselami, tanpa awal dan tanpa akhir; disebut Akṣara Yang Tertinggi." (MB 12.217.48)

Jadi ayat ini tidak berbicara mengenai pembuktian seorang tokoh sejarah, melainkan mengenai prinsip metafisis yang menopang seluruh alam.

Veda pun mengajarkan arah yang sama.

Ṛgveda menyatakan:

ekaṃ sad viprā bahudhā vadanti (RV 1.164.46)

"Kebenaran itu satu, para ṛṣi menyebut-Nya dengan banyak nama."

Pusat perhatian Veda adalah Sat , bukan jejak terhadap riwayat seorang manusia.

Ṛgveda juga menyatakan:

tasminn ātmā jagatas tasthuṣaś ca (RV 7.101.6)

"Di dalam Dia bersemayam Ātman dari seluruh yang bergerak maupun yang tidak bergerak."

Artinya, kehadiran Tuhan bersifat universal, tidak dibatasi oleh satu sejarah tubuh.


Upaniṣad menegaskan:

sarvaṃ khalv idaṃ brahma
"Sesungguhnya seluruh ini adalah Brahman."

Dan:

tat tvam asi
"Engkau adalah Itu."

Arah seluruh Śruti adalah pengenalan terhadap Brahman, bukan pencarian kisah hilangnya seorang guru.

Mahābhārata bahkan memberikan ukuran siapa yang benar-benar mengetahui Tuhan.

iṣṭisatreṇa saṃsiddho... kṣetrakṣetrajñayor vyaktiṃ bubudhe
"Melalui yajña dan tapa, sang ṛṣi memahami hakikat Kṣetra dan Kṣetrajña." (MB 12.211.12)

Tidak dikatakan bahwa kesempurnaan dicapai dengan mengetahui bagaimana seorang mahāpuruṣa meninggalkan dunia.

Lebih jauh lagi, seluruh struktur yajña dalam Veda selalu diarahkan menuju Tuhan Yang Mahatinggi, bukan kepada seorang tokoh sejarah.

yajñena yajñam ayajanta devāḥ tāni dharmāṇi prathamāny āsan (RV 10.90.16)

“Dengan yajña para dewa mempersembahkan yajña; itulah dharma-dharma yang pertama.”

Dan:

yad devā devam ayajanta viśve (RV 10.130.3)

“Para dewa melakukan yajña kepada Sang Dewa Yang Esa.”

Tidak ada satu pun mantra yang menyatakan bahwa tujuan akhir Veda adalah membuktikan seorang guru melebur ke dalam mūrti.


Kesimpulan Bantahan Klaim Hare Krishna (HK)

Narasi mengenai "menghilangnya" Caitanya Mahāprabhu adalah tradisi teologis internal Gaudiya Vaiṣṇava . Tradisi-tradisi tersebut boleh dihormati sebagai keyakinan suatu sampradāya, tetapi tidak dapat disajikan sebagai ajaran Veda tanpa dukungan dari Bhagavad Gītā dan Śruti.

Apabila standar yang digunakan benar-benar adalah Bhagavad Gitā, maka fokus utama Gitā adalah Ātman, Kṣetrajña, Brahman, yoga, pengendalian diri, dan realisasi hakikat (BG 7 dan BG 13), bukan pembahasan mengenai cara wafat atau hilangnya seorang tokoh. Selama tidak ada satu mantra Śruti maupun satu ayat Bhagavad Gītā yang mengajarkan bahwa seorang mahāpuruṣa akan "menyatu dengan arca" ketika meninggalkan dunia, maka klaim tersebut tetap berada pada wilayah kepercayaan tradisional , bukan pada wilayah ajaran Veda yang dapat dibuktikan melalui pramāṇa utama .


Tidak ada komentar:

Posting Komentar