Google+

Ajaran Veda: Daging, Makanan Tamasika dan Bangkai Sapi

Ajaran Veda:  Daging, Makanan Tamasika dan Bangkai Sapi

Membedah Logika Keliru Bhakta Hare Krishna


Artikel ini merupakan kelanjutan bedah narasi Ajaran Veda sebelumnya (silahkan baca: Ajaran Veda: Benarkah Prabhupada mengincar daging sapi?). Dimana oknum Para Prabhu dan Dasa dari Hare Krishna yang tergabung dalam sebuah akun Facebook yang bernama Ajaran Veda membuat Narasi " BENARKAH PRABHUPADA "MENGINCAR" DAGING SAPI? ". Secara bertahap Narasi tersebut sudah kami bedah, namun untuk mengingatkan kembali, kami narasikan kembali untuk memperkaya pemahaman pembaca online.


Membongkar Generalisasi Hare Krishna (HK)
dengan Mahābhārata (Bhagavad Gita) dan Ayurveda

Ada satu persoalan mendasar dalam narasi yang mengatakan bahwa daging sapi, dalam kondisi apa pun, tetap tāmasika, lalu menggunakan Bhagavad Gītā, Ayurveda, dan prinsip vegetarianisme untuk menjelaskan posisi Prabhupāda.

Masalahnya bukan apakah seorang Vaiṣṇava boleh memilih vegetarianisme. Tentu seseorang boleh memiliki disiplin makanan tertentu. Persoalannya adalah ketika pilihan teologis sebuah sampradāya kemudian diproyeksikan sebagai pernyataan tekstual universal seluruh Veda, Gītā, Mahābhārata dan Ayurveda.

Ketika teks diperiksa secara filologis, persoalannya ternyata jauh lebih rumit.



1. Pertama: jangan memasukkan kata māṃsa ke dalam Bhagavad Gītā 17.10

Argumen HK biasanya bertumpu pada BG 17.8–10, lalu menyimpulkan:

Daging adalah makanan tāmasika.

Tetapi mari membaca teksnya, bukan membaca tafsir yang sudah jadi.

BG 17.10:

yāta-yāmaṃ gata-rasaṃ pūti paryuṣitaṃ ca yat |
ucchiṣṭam api ca amedhyaṃ bhojanaṃ tāmasa-priyam ||

“Yang telah lewat waktunya, kehilangan rasa, busuk, lama tersimpan, sisa, dan tidak suci—itulah makanan yang disukai oleh yang bersifat tāmasa.”

Perhatikan dengan teliti.

Kṛṣṇa menyebut:

yāta-yāma — telah lewat waktunya

gata-rasa — kehilangan rasa

pūti — busuk

paryuṣita — lama tersimpan

ucchiṣṭa — sisa

amedhya — tidak suci

Tetapi tidak ada māṃsa.

Tidak ada: māṃsaṃ tāmasikam.

Tidak ada: go-māṃsaṃ tāmasikam.

Jadi secara filologis kita harus membedakan dua proposisi:

A. Daging yang busuk dapat termasuk makanan tāmasika.

dengan:

B. Semua daging secara inheren adalah makanan tāmasika.

A dapat diinferensikan dari sifat pūti/paryuṣita/amedhya. B tidak dinyatakan oleh BG 17.10.

Ini bukan persoalan vegetarian atau nonvegetarian.

Ini persoalan kejujuran terhadap teks.



2. Bahkan Ayurveda membuat generalisasi “daging = tamasika” menjadi problematis

Di sinilah narasi HK menghadapi persoalan yang lebih berat.

Caraka Saṃhitā dalam korpus kita secara eksplisit membahas gavya, yakni daging sapi, dan māhiṣa, daging kerbau.

varāha-piśitaṃ balyaṃ rocanam svedanaṃ guru |
gavyaṃ kevala-vāteṣu pīnase viṣama-jvare ||

Daging babi hutan disebut balya, rocana, svedana dan guru; sedangkan gavya, daging sapi, disebut bermanfaat dalam gangguan vāta tertentu, pīnasa, dan viṣama-jvara. [Car 1.27.79]

Kemudian:

śuṣka-kāsa-śramāty-agni-māṃsa-kṣaya-hitaṃ ca tat |
snigdhoṣṇaṃ madhuraṃ vṛṣyaṃ māhiṣaṃ guru-tarpaṇam ||

Daging sapi kembali disebut dalam konteks śuṣka-kāsa, kelelahan, kondisi agni tertentu, dan māṃsa-kṣaya; sementara daging kerbau disebut snigdha, uṣṇa, madhura, vṛṣya, guru dan tarpaṇa. [Car 1.27.80]

Jadi bagaimana kita harus membaca teks ini?

Bukan:

Caraka menyuruh semua orang makan sapi.

Itu juga salah.

Tetapi juga bukan:

Dalam tradisi Ayurveda, daging sapi otomatis tāmasika dan tidak memiliki tempat sama sekali.

Itu juga tidak cocok dengan teks Ayurveda - Caraka Samhita.

Caraka bahkan memperlakukan māṃsa berdasarkan dravya dan guṇa—substansi dan kualitas—sebagaimana sistem Ayurvedanya memang bekerja.

Dengan demikian, kategori Ayurvedik tidak boleh begitu saja disamakan dengan kategori guṇa dalam BG 17.10.



3. “Daging sapi” dan “bangkai sapi” adalah dua kategori berbeda

Ini bagian yang harus kita akui secara jujur.

Caraka yang menyebut gavya tidak otomatis membuktikan bahwa bangkai sapi boleh dimakan.

Jangan melakukan kesalahan yang sama dengan HK.

Ada perbedaan antara: 

māṃsa → daging sebagai bahan pangan/terapi

dan

śava → tubuh mati yang telah mengalami perubahan pascakematian.

Maka kita tidak perlu mengatakan:

“Caraka membolehkan makan bangkai.”

Teks yang kita punya tidak mengharuskan kesimpulan itu.

Tetapi justru karena itu, argumen HK:

“Daging sapi = tāmasika = bangkai = tidak pernah boleh”

juga tidak sah.

Mereka telah mencampurkan empat kategori yang berbeda:

māṃsa → daging
go-māṃsa/gavya → daging sapi
śava → tubuh mati
pūti/paryuṣita → busuk/lama

Padahal keempatnya tidak sinonim.



4. Mahābhārata bahkan lebih sulit direduksi menjadi vegetarianisme absolut

Lihat bagaimana Mahābhārata berbicara mengenai śrāddha.

anvāhāryaṃ mahārāja pitṝṇāṃ śrāddham ucyate |
tac cāmiṣeṇa vidhinā vidhiḥ prathamakalpitaḥ ||

“Śrāddha bagi para pitṛ disebut anvāhārya; dan pada awalnya tata caranya ditetapkan menggunakan bahan āmiṣa.” [MB 13.87.6]

Kemudian:

ājena māsān prīyante pañcaiva pitaro nṛpa |
vārāheṇa tu ṣaṇmāsān sapta vai śākunena tu ||

Dengan kambing lima bulan, babi hutan enam bulan, dan burung tujuh bulan. [MB 13.88.6]

Dan yang paling sensitif:

māsān ekādaśa prītiḥ pitṝṇāṃ māhiṣeṇa tu |
gavyena datte śrāddhe tu saṃvatsaram ihocyate ||

Dengan māhiṣa, kepuasan pitṛ berlangsung sebelas bulan; dengan gavya, disebut berlangsung selama satu tahun. [MB 13.88.8]

Ini bukan argumen:

Maka makan daging sapi setiap hari adalah dharma.”

Tidak.

Tetapi ini adalah bukti tekstual bahwa:

Tradisi Mahābhārata tidak dapat direkonstruksi secara jujur sebagai sistem yang menganggap semua bentuk māṃsa selalu dan dalam setiap konteks identik dengan makanan terlarang.

Ada konteks śrāddha, yajña, terapi, keadaan tertentu, dan kehidupan sehari-hari.



5. Māṃsa dalam konteks yajña

Dalam Mahābhārata 14.64:

sa gṛhītvā sumanaso mantrapūtā janādhipa |
modakaiḥ pāyasenātha māṃsaiś copāharad balim ||

Sang raja mempersembahkan bali dengan modaka, pāyasa dan māṃsa. [MB 14.64.4]

Kemudian:

kṛsareṇa samāṃsena nivāpais tilasaṃyutaiḥ...

Tempat pemujaan dihiasi dengan persembahan kṛsara yang bercampur daging dan persembahan lain. [MB 14.64.7]

Dan dalam Aśvamedha:

śamayitvā paśūn anyān vidhivad dvijasattamāḥ |
turagaṃ taṃ yathāśāstram ālabhanta dvijātayaḥ ||

Hewan-hewan korban ditangani sesuai aturan, dan kuda diperlakukan menurut tata ritual śāstra. [MB 14.91.1]

Jadi problemnya bukan: “Apakah kita suka daging atau tidak?

Problemnya adalah:

Apakah seluruh Veda–Mahābhārata dapat dipaksa mengikuti satu aturan diet modern yang kemudian dibaca mundur ke seluruh teks?

Jawabannya:

tidak.

 


6. Mahābhārata juga memiliki kritik keras terhadap pembunuhan hewan

Nah, di sinilah narasi yang lebih cerdas daripada narasi HK.

Śānti Parva mengatakan:

sarvakarmasv ahiṃsā hi dharmātmā manur abravīt |
kāmarāgād vihiṃsanti bahir vedyāṃ paśūn narāḥ ||

“Dalam semua tindakan, ahiṃsā adalah [prinsip] dharma; karena dorongan keinginan dan nafsu, manusia membunuh hewan di luar altar.” [MB 12.257.5]

Lalu:

tasmāt pramāṇataḥ kāryo dharmaḥ sūkṣmo vijānatā |
ahiṃsaiva hi sarvebhyo dharmebhyo jyāyasī matā ||

“Karena itu dharma yang halus harus ditentukan berdasarkan pramāṇa oleh orang yang memahami; ahiṃsā dianggap lebih utama daripada semua dharma.” [MB 12.257.6]

Ini TIDAK disembunyikan.

Justru ini membuat counter kami menjadi lebih kuat.

Kita tidak mengatakan:

“Veda membenarkan pembantaian.”

Kita mengatakan:

Veda itu sendiri memperlihatkan adanya perkembangan dan ketegangan internal antara ritual māṃsa dan ideal ahiṃsā.

Dan Mahābhārata bahkan mengecam:

vṛthā māṃsāni khādanti naiṣa dharmaḥ praśasyate

“Mereka makan daging dengan sia-sia; ini bukan dharma yang dipuji.” [MB 12.257.8]

Nah!

Ini jauh lebih tajam daripada sekadar berkata “vegetarian karena Kṛṣṇa vegetarian.”



7. Bahkan teks yang sama mengenal “daging ritual” dan “daging sembarangan”

Perhatikan MB 12.186.13:

yajuṣā saṃskṛtaṃ māṃsaṃ nivṛtto māṃsabhakṣaṇāt |
na bhakṣayed vṛthāmāṃsaṃ pṛṣṭhamāṃsaṃ ca varjayet ||

Veda menerjemahkannya sebagai daging yang disucikan dengan Yajus dalam konteks ritual, sementara orang yang meninggalkan makan daging tidak boleh memakan daging sembarangan dan harus menghindari daging yang tidak layak.

Ini menunjukkan bahwa kategori normatifnya tidak sesederhana “māṃsa = tamas.”

Ada konsep:

  • ritual,
  • niat,
  • saṃskāra,
  • vṛthā — sia-sia,
  • dan batas konsumsi.


8. Jadi apa yang salah dengan argumen “Prabhupāda hanya memberikan konsesi”?

Secara prinsip, saya justru tidak perlu menyangkal bahwa Prabhupāda mungkin sedang membuat argumentasi komparatif:

Jika seseorang tetap ingin makan daging, lebih baik tidak membunuh hewan yang masih hidup daripada membangun industri pembantaian.

Itu dapat dibaca sebagai argumentasi pengurangan kekerasan.

Tetapi kemudian jangan melakukan lompatan berikut:

“Karena seorang bhakta ISKCON idealnya vegetarian, maka seluruh Veda mengajarkan vegetarianisme absolut.”

Itu non sequitur.

Kesimpulan pertama:

“Bhakta ISKCON seharusnya vegetarian.”

tidak otomatis menghasilkan:

“Semua śāstra Veda melarang semua māṃsa dalam semua konteks.”

Untuk mendapatkan kesimpulan kedua, mereka membutuhkan bukti tekstual yang jauh lebih luas.

Dan korpus kita justru memperlihatkan adanya:

gavya + māhiṣa + māṃsa + āmiṣa + yajña + śrāddha + Ayurveda + apaddharma.



9. Kesalahan terbesar mereka: mengubah ideal spiritual menjadi klaim filologis

Ini inti counter-nya.

Saya tidak keberatan kalau seorang Vaiṣṇava mengatakan:

“Kami memilih vegetarianisme karena prinsip ahiṃsā dan bhakti.”

Silakan.

Tetapi berbeda sekali dengan mengatakan:

“Gītā menyatakan semua daging tāmasika.”

Karena teksnya tidak mengatakan demikian.

Berbeda pula dengan mengatakan:

“Ayurveda tidak mengenal daging sapi.”

Karena Caraka justru menyebut:

gavyaṃ...

dan bahkan memberikan khasiatnya.

Berbeda pula dengan mengatakan:

“Mahābhārata tidak mengenal daging sapi atau kerbau dalam konteks ritual.”

Karena MB 13.88.8 justru menyebut:

māhiṣeṇa... gavyena...

Jadi:

pilihan diet ISKCON boleh bersifat absolut untuk anggotanya; tetapi klaim bahwa seluruh korpus Veda harus dibaca sesuai pilihan diet tersebut adalah persoalan lain.



10. Dan di sinilah “bangkai sapi” harus dipisahkan dari seluruh perdebatan

Kalau HK mengatakan:

“Jadi apakah Anda membela makan bangkai sapi?”

Jawabannya:

Tidak. Pertanyaan itu mengubah topik.

Yang sedang diuji adalah:

Apakah BG 17.10 menyatakan semua daging adalah tāmasika?

Jawabannya: Tidak secara tekstual.

Kemudian:

Apakah Ayurveda mengenal daging sapi dan kerbau sebagai substansi pangan/terapi?

Ya.

Kemudian:

Apakah Mahābhārata mengenal māṃsa, māhiṣa dan gavya dalam konteks tertentu?

Ya.

Kemudian:

Apakah Mahābhārata sekaligus mengutamakan ahiṃsā dan mengecam pembunuhan/makan daging secara sia-sia?

Ya.

Jadi persoalannya bukan “daging atau vegetarian.”

Persoalannya adalah:

konteks, dharma, ahiṃsā, tujuan, cara memperoleh, ritual, terapi, dan kualitas makanan.

 


Catatan untuk Hare Krishna

Maka kepada narasi HK tersebut saya akan menjawab:

Jangan menggunakan Bhagavad Gītā 17.10 untuk mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan oleh Bhagavad Gītā.

Kṛṣṇa tidak mengatakan:

māṃsaṃ tāmasikam.

Kṛṣṇa mengatakan:

yāta-yāmaṃ gata-rasaṃ pūti paryuṣitaṃ ca yat...

Yang dibicarakan adalah makanan yang telah lewat, kehilangan rasa, busuk, lama, sisa, dan tidak suci.

Lalu jangan menggunakan kata “Veda” sebagai payung untuk menghapus Caraka Saṃhitā.

Caraka secara eksplisit mengatakan:

gavyaṃ kevala-vāteṣu pīnase viṣama-jvare

dan

māhiṣaṃ guru-tarpaṇam.

Daging sapi dan kerbau bukan konsep yang asing dalam Ayurveda; keduanya dibahas berdasarkan sifat dan kegunaannya.

Dan jangan mengatakan Mahābhārata tidak mengenal daging sapi atau kerbau dalam konteks ritual, karena MB 13.88.8 menyebut:

māhiṣeṇa... gavyena...

dalam pembahasan śrāddha.

Tetapi jangan pula memelintirnya menjadi pembenaran pembantaian. Mahābhārata sendiri berkata:

ahiṃsaiva hi sarvebhyo dharmebhyo jyāyasī matā

“Ahiṃsā lebih utama daripada semua dharma.” [MB 12.257.6]

Dan:

vṛthā māṃsāni khādanti naiṣa dharmaḥ praśasyate

“Makan daging secara sia-sia bukanlah dharma yang dipuji.” [MB 12.257.8]

Jadi posisi tekstual yang jujur jauh lebih kompleks daripada slogan “daging = tamas”.

Seorang Vaiṣṇava boleh memilih vegetarianisme sebagai vrata spiritualnya. TETAPI ia TIDAK BOLEH mengubah pilihan vrata tersebut menjadi klaim bahwa seluruh Veda, Gītā, Mahābhārata dan Ayurveda secara tekstual menyatakan semua māṃsa sebagai tāmasika dalam setiap keadaan.

Itu bukan lagi śāstra. Itu sudah menjadi generalisasi sektarian.

Dan kalau mereka tetap mengatakan: “Tetapi semua daging tetap tāmasika!

maka pertanyaan terakhir cukup satu: Tunjukkan satu śloka BG 17.10 yang mengandung kata māṃsa.” Kalau kata itu tidak ada, maka yang perlu dipertanggungjawabkan bukan dagingnya—melainkan penambahan kata ke dalam śāstra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar