Google+

Ajaran Weda Krisna adalah sumber purusa

 Ajaran Weda:
Krisna adalah sumber purusa

Meluruskan Narasi Hare Krishna

Narasi ini disusun sebagai tanggapan terhadap berbagai materi keagamaan yang disebarkan melalui media sosial FACEBOOK atas nama Ajaran Veda, khususnya narasi yang dibangun dan disebarluaskan oleh oknum Prabhu, Dāsa, maupun pihak yang mengatasnamakan tradisi Hare Krishna/ISKCON Indonesia

Karena materi tersebut dipublikasikan kepada masyarakat luas dengan membawa nama AJARAN VEDA, maka setiap klaim yang disampaikan sudah semestinya dapat diperiksa, dibandingkan, dan diuji berdasarkan sumber-sumber Veda yang relevan, bukan semata-mata diterima karena otoritas tokoh atau identitas kelompok yang menyampaikannya. Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk menyerang pribadi, organisasi, atau keyakinan seseorang, melainkan untuk menguji narasi, pemahaman, dan logika berpikir yang digunakan dalam membangun suatu kesimpulan teologis. 

Ketika sebuah tafsir kemudian dipresentasikan sebagai “ajaran Veda”, penting untuk membedakan mana yang benar-benar berasal dari śruti, mana yang merupakan interpretasi terhadap Bhagavad Gītā, dan mana yang merupakan konstruksi teologis yang berkembang dalam tradisi Hare Krishna. Karena itu, pembahasan ini berupaya menghadirkan informasi pembanding sekaligus meluruskan kekeliruan penalaran apabila ditemukan, baik berupa pemilihan ayat secara selektif, pemutusan konteks, penyamaan antara tafsir dengan teks sumber, maupun lompatan kesimpulan yang tidak didukung oleh premis yang memadai. 

Kritik diarahkan kepada argumentasi dan klaimnya, bukan kepada pribadi penganutnya, sebab sebuah ajaran yang benar tidak semestinya takut diuji; justru semakin kuat ketika mampu bertahan di hadapan teks, konteks, filologi, dan logika. Dengan demikian, pembaca diajak untuk kembali kepada pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang sesungguhnya dikatakan oleh Veda, apa yang ditafsirkan oleh Hare Krishna, dan apakah kesimpulan yang mereka bangun benar-benar mengikuti teks atau merupakan hasil konstruksi teologis yang ditambahkan kemudian?

Krisna adalah sumber purusa

KETIKA TAFSIR
DIANGKAT MENJADI KESIMPULAN SELURUH VEDA

Menguji Klaim Kṛṣṇa sebagai Sumber Puruṣa, Nārāyaṇa, dan Seluruh Avatāra
melalui Śruti, Mahābhārata, Bhagavad Gītā, dan Vedānta

Perdebatan mengenai kedudukan Kṛṣṇa tidak akan pernah selesai apabila kita hanya saling melempar śloka. 

Bhakta Hare Kṛṣṇa (HK) dapat mengutip kṛṣṇas tu bhagavān svayam, sementara pihak lain dapat mencari ayat yang tampaknya menempatkan Nārāyaṇa, Puruṣa, Brahman, Ātman, atau realitas lain pada posisi tertinggi. Pada akhirnya kita hanya berpindah dari satu kutipan ke kutipan lain tanpa pernah menguji bagaimana sebuah kesimpulan teologis dibangun dari teks

Karena itu, persoalan yang lebih mendasar bukanlah apakah Bhāgavata Purāṇa menyebut Kṛṣṇa sebagai Bhagavān—jelas teks itu memang melakukannya—melainkan apakah doktrin bahwa Kṛṣṇa adalah sumber ontologis Puruṣa, Nārāyaṇa, dan seluruh avatāra merupakan kesimpulan yang secara langsung diwajibkan oleh Śruti dan Vedānta, atau merupakan sintesis teologis Purāṇik yang kemudian diperkuat oleh hermeneutika Gaudiya.

Bhāgavata Purāṇa membuka dirinya dengan formula yang sangat penting:

janmādy asya yato 'nvayāditarataś cārtheṣv abhijñaḥ svarāṭ |
tene brahma hṛdā ya ādikavaye muhyanti yat sūrayaḥ |
tejovāri-mṛdāṃ yathā vinimayo yatra trisargo 'mṛṣā |
dhāmnā svena sadā nirasta-kuhakaṃ satyaṃ paraṃ dhīmahi ||

“Kami bermeditasi kepada Kebenaran Tertinggi, dari-Nya berasal segala sesuatu. Ia mengetahui segala sesuatu dan mandiri; Ia menyampaikan pengetahuan Brahman kepada Ādikavi melalui hati, sementara para bijaksana pun dapat mengalami kebingungan terhadap-Nya. Dengan cahaya-Nya sendiri, Ia senantiasa bebas dari segala tipu daya.” - Śrīmad-Bhāgavata 1.1.1

Perhatikan frasa janmādy asya yataḥ. Formula ini bukan milik eksklusif Bhāgavata. Ia juga merupakan Brahmasūtra 1.1.2janmādy asya yataḥ

Śaṅkara menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sebab dari kelahiran, keberlangsungan, dan kehancuran jagat; sebab tersebut adalah yang sarvajña dan sarvaśakti, yakni Brahman. 

Karena itu, ketika Bhāgavata menggunakan formula yang sama, kita tidak boleh langsung membuat rantai logika: janmādy asya yataḥ → Vāsudeva → Kṛṣṇa → sumber Puruṣa → sumber Nārāyaṇa → sumber seluruh avatāra. Setiap anak tangga dalam rantai tersebut membutuhkan pembuktian tersendiri. 

Kesamaan formula antara Bhagavata Purana dan Brahma sutra membuktikan adanya hubungan konseptual yang kuat, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan seluruh konstruksi ontologis Gaudiya.

Hal ini menjadi semakin penting ketika kita kembali kepada Śruti. Taittirīya Upaniṣad mengajarkan:

yato vā imāni bhūtāni jāyante |
yena jātāni jīvanti |
yat prayanty abhisaṃviśanti |
tad vijijñāsasva | tad brahma ||

“Carilah apa yang menjadi asal semua makhluk, oleh apa mereka hidup setelah lahir, dan ke dalam apa mereka masuk ketika pergi; ketahuilah itu—itulah Brahman.” - Taittirīya Upaniṣad 3.1.1

Di sini Śruti memberikan sebuah definisi epistemik dan ontologis: realitas tertinggi dicari sebagai asal, dasar kehidupan, dan tujuan kembali segala sesuatu, lalu disebut Brahman. Chāndogya bahkan mengatakan:

sad eva somyedam agra āsīd ekam evādvitīyam

“Pada awalnya hanya sat yang ada, satu tanpa yang kedua.” - Chāndogya Upaniṣad 6.2.1

Karena itu, apabila kemudian suatu tradisi mengidentifikasi realitas tersebut dengan Kṛṣṇa, persoalannya bukan apakah identifikasi itu boleh ada dalam tradisi tersebut. Tentu boleh. Persoalannya adalah apakah identifikasi itu merupakan satu-satunya kesimpulan yang dipaksakan oleh Śruti. Di sinilah standar pembuktian harus dijaga.

Bahkan Bhāgavata sendiri memberikan sebuah rumusan yang sangat menarik:

vadanti tat tattvavidas tattvaṃ yaj jñānam advayam |
brahmeti paramātmeti bhagavān iti śabdyate ||

“Para pengetahui tattva menyebut realitas itu sebagai pengetahuan yang non-dual (jñānam advayam); Ia disebut Brahman, Paramātman, dan Bhagavān.” - Bhāgavata 1.2.11

Śloka ini tidak perlu dilawan. Justru harus digunakan secara serius. Bhāgavata sendiri menyebut Brahman, Paramātman, dan Bhagavān dalam hubungan dengan satu jñānam advayam, satu realitas pengetahuan yang non-dual. Maka ketika seseorang membangun hierarki bahwa Bhagavān adalah pribadi tertentu yang secara ontologis menjadi sumber Brahman dan Paramātman, pertanyaan yang harus diajukan adalah: apakah hierarki itu benar-benar dinyatakan oleh śloka tersebut, atau merupakan hasil penafsiran teologis atasnya? Inilah perbedaan antara membaca teks dan memasukkan sistem teologi ke dalam teks.

Persoalan menjadi lebih tajam ketika kita memasuki Bhāgavata 1.3. Bhāgavata terlebih dahulu berbicara tentang Puruṣa:

jagṛhe pauruṣaṃ rūpaṃ bhagavān mahadādibhiḥ |
sambhūtaṃ ṣoḍaśakalaṃ ādau lokasisṛkṣayā ||

“Bhagavān mengambil bentuk Pauruṣa yang berkaitan dengan mahat dan enam belas prinsip, pada awal penciptaan dunia.” - Bhāgavata 1.3.1

Kemudian:

yasyāmbhasi śayānasyā yoganidrāṃ vitanvataḥ |
nābhi-hradāmbujād āsīd brahmā viśvasṛjāṃ patiḥ ||

“Ketika Ia berbaring di atas air dalam yoganidrā, dari bunga teratai yang muncul dari pusar-Nya lahirlah Brahmā, penguasa para pencipta.” - Bhāgavata 1.3.2

Dan:

etan nānāvatārāṇāṃ nidhānaṃ bījam avyayam |
yasyāṃśāṃśena sṛjyante devatiryaṅnarādayaḥ ||

“Inilah tempat asal dan benih yang tidak musnah bagi berbagai avatāra; melalui sebagian dari sebagian-Nya diciptakan para dewa, binatang, manusia, dan lainnya.” - Bhāgavata 1.3.5

Kemudian Kṛṣṇa muncul dalam daftar tersebut:

ekonaviṃśe viṃśatime vṛṣṇiṣu prāpya janmanī |
rāmakṛṣṇāv iti bhuvo bhagavān aharad bharam ||

“Pada kelahiran ke-19 dan ke-20, setelah lahir di antara kaum Vṛṣṇi sebagai Rāma dan Kṛṣṇa, Bhagavān mengurangi beban bumi.” - Bhāgavata 1.3.23

Setelah itu:

avatārā hy asaṅkhyeyā hareḥ

“Avatāra Hari sesungguhnya tidak terhitung.” - Bhāgavata 1.3.26

Lalu:

ṛṣayo manavo devā manuputrā mahaujasaḥ |
kalāḥ sarve harer eva saprajāpatayaḥ smṛtāḥ ||

“Para ṛṣi, Manu, para dewa, putra-putra Manu, dan para Prajāpati semuanya disebut sebagai kalā dari Hari.” - Bhāgavata 1.3.27

Barulah kemudian muncul:

ete cāṃśa-kalāḥ puṃsaḥ kṛṣṇas tu bhagavān svayam ||

“Mereka ini adalah aṃśa dan kalā dari Puruṣa; tetapi Kṛṣṇa adalah Bhagavān sendiri.” - Bhāgavata 1.3.28

Kami tidak perlu menyangkal kṛṣṇas tu bhagavān svayam. Kami menerimanya sebagai apa adanya: Bhāgavata memang memberikan kedudukan istimewa kepada Kṛṣṇa. Tetapi menerima sebuah śloka tidak berarti menerima seluruh konstruksi teologi yang kemudian dibangun di atasnya tanpa pemeriksaan.

Perhatikan bahwa 1.3.28 mengatakan:

ete cāṃśa-kalāḥ puṃsaḥ

bukan:

ete cāṃśa-kalāḥ kṛṣṇasya

Teks tersebut menggunakan puṃsaḥ, “dari Puruṣa”. Kemudian datang kontras:

kṛṣṇas tu bhagavān svayam - “tetapi Kṛṣṇa adalah Bhagavān sendiri.”

Karena itu, ketika dikatakan bahwa Puruṣa-avatāra adalah “ekspansi fungsional Kṛṣṇa”, kita harus membedakan dengan disiplin antara apa yang dinyatakan śloka dan apa yang disimpulkan oleh sistem teologi tertentu. Śloka 1.3.28 tidak secara eksplisit berbunyi bahwa Puruṣa adalah ekspansi Kṛṣṇa, tidak mengatakan bahwa Nārāyaṇa adalah aṃśa Kṛṣṇa, dan tidak menyatakan bahwa ketiga Puruṣa berasal dari pribadi historis Kṛṣṇa. Klaim-klaim tersebut mungkin merupakan bagian dari siddhānta Gaudiya, tetapi karena itu adalah interpretasi, ia harus dibuktikan melalui keseluruhan korpus, bukan diperlakukan sebagai isi literal satu śloka.

Di sinilah istilah paribhāṣā-sūtra juga harus ditempatkan secara tepat. Dalam hermeneutika Gaudiya, 1.3.28 memang diperlakukan sebagai prinsip penting untuk membaca daftar avatāra. Tetapi kata paribhāṣā-sūtra sendiri bukan bagian dari śloka tersebut. Karena itu, secara akademik lebih tepat mengatakan bahwa tradisi Gaudiya memperlakukan 1.3.28 sebagai prinsip hermeneutis, bukan mengatakan bahwa teks itu sendiri menyatakan dirinya sebagai paribhāṣā-sūtra. Perbedaannya sangat penting: yang pertama adalah cara suatu tradisi membaca teks, sedangkan yang kedua adalah klaim mengenai isi teks.

Lebih menarik lagi, ketika kembali kepada Mahābhārata—sumber induk tempat Bhagavad Gītā berada—kami menemukan formulasi yang tidak boleh diabaikan:

yas tu nārāyaṇo nāma devadevaḥ sanātanaḥ |
tasyāṃśo mānuṣeṣv āsīd vāsudevaḥ pratāpavān ||

“Dia yang bernama Nārāyaṇa, Tuhan para dewa yang abadi; sebagian (aṃśa)-Nya hadir di antara manusia sebagai Vāsudeva yang perkasa.” -Mahābhārata 1.61.90

Ini bukan ayat dari Bhāgavata dan bukan komentar seorang ācārya Gaudiya. Ini adalah data dari Mahābhārata. Karena itu, ketika sebuah sistem teologi mengatakan Kṛṣṇa/Vāsudeva adalah sumber Nārāyaṇa, kami memiliki hak akademis untuk bertanya bagaimana pernyataan Mahābhārata tersebut harus ditempatkan. Mahābhārata di sini justru memberikan konstruksi:

Nārāyaṇa → aṃśa → Vāsudeva.

Sementara pembacaan Gaudiya kemudian membangun Kṛṣṇa → Puruṣa → Nārāyaṇa.

Kami tidak menyatakan salah satu teks “salah”. Yang harus dilakukan adalah membandingkan lapisan tradisi dan kronologi teologisnya, lalu bertanya mana yang benar-benar berasal dari sumber mana.

Hal yang sama berlaku terhadap Bhagavad Gītā. Gītā memang memiliki pernyataan yang sangat kuat:

ahaṃ sarvasya prabhavo
mattaḥ sarvaṃ pravartate |
iti matvā bhajante māṃ
budhā bhāva-samanvitāḥ ||

“Aku adalah asal dari segala sesuatu; dari-Ku segala sesuatu berlangsung. Setelah mengetahui demikian, orang-orang bijaksana memuja-Ku dengan penuh penghayatan.” - Bhagavad Gītā 10.8

Gītā juga menyebut Kṛṣṇa: puruṣottama sebagaimana Arjuna berkata:

svayam evātmanātmānaṃ vettha tvaṃ puruṣottama |
bhūta-bhāvana bhūteśa deva-deva jagat-pate ||

“Engkau sendiri mengetahui diri-Mu melalui diri-Mu sendiri, wahai Puruṣa Tertinggi, pengada makhluk, penguasa makhluk, dewa para dewa, penguasa jagat.” - Bhagavad Gītā 10.15

Maka sekali lagi, kami tidak perlu menyangkal keagungan teologis Kṛṣṇa dalam Gītā. Tetapi Bhagavad Gītā harus dibaca sebagai bagian dari Mahābhārata, bukan hanya melalui komentar sektarian yang datang kemudian. 

Ketika Gītā mengatakan “Aku adalah asal segala sesuatu”, pertanyaan filosofis berikutnya adalah: apa hakikat “Aku” tersebut dalam keseluruhan struktur Vedānta? Apakah ia harus dipahami sebagai pribadi historis semata, atau sebagai pengungkapan Brahman/Ātman/Puruṣa dalam bahasa Bhagavān?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika Śruti berbicara mengenai realitas tertinggi dengan bahasa yang tidak bergantung pada nama historis tertentu. Śvetāśvatara Upaniṣad mengatakan:

eko devaḥ sarvabhūteṣu gūḍhaḥ
sarvavyāpī sarvabhūtāntarātmā |
karmādhyakṣaḥ sarvabhūtādhivāsaḥ
sākṣī cetā kevalo nirguṇaś ca ||

“Yang Ilahi itu satu, tersembunyi dalam seluruh makhluk, meresapi semuanya, dan merupakan Ātman terdalam seluruh makhluk; Ia adalah pengawas karma, tempat bersemayam semua makhluk, saksi, kesadaran, Yang Tunggal, dan nirguṇa.” - Śvetāśvatara Upaniṣad 6.11

Dan:

nityo nityānāṃ cetanaś cetanānām
eko bahūnāṃ yo vidadhāti kāmān |
tat kāraṇaṃ sāṃkhyayogādhigamyaṃ
jñātvā devaṃ mucyate sarvapāśaiḥ ||

“Yang abadi di antara yang abadi, yang sadar di antara yang sadar, Yang Satu di antara yang banyak, yang memenuhi kebutuhan banyak makhluk—dengan mengetahui Yang Ilahi sebagai sebab, seseorang terbebas dari seluruh belenggu.” - Śvetāśvatara Upaniṣad 6.13

Katha Upaniṣad juga berkata:

avyaktāt tu paraḥ puruṣo
vyāpako 'liṅga eva ca |
yaṃ jñātvā mucyate jantur
amṛtatvaṃ ca gacchati ||

“Namun melampaui yang tak termanifest adalah Puruṣa, yang meresapi segala sesuatu dan tidak memiliki tanda pembatas; dengan mengetahui-Nya makhluk terbebaskan dan mencapai keabadian.” - Katha Upaniṣad 6.8

Maka ketika menempatkan Śruti sebagai standar pengujian, pertanyaan kami bukan lagi “apakah ada kitab yang menyebut Kṛṣṇa sebagai Tuhan?” Tentu ada. Pertanyaannya menjadi jauh lebih mendasar: apakah struktur ontologi Śruti mengharuskan kita menempatkan seorang pribadi historis tertentu sebagai sumber ontologis seluruh Brahman, Ātman, Paramātman, dan Puruṣa? Jika jawabannya tidak dinyatakan secara eksplisit oleh Śruti, maka klaim tersebut harus diakui sebagai hasil interpretasi, bukan sebagai premis yang boleh dipaksakan kembali kepada Śruti.

Di sinilah Advaita memiliki ruang filosofis yang sangat kuat. Advaita tidak perlu menyangkal bahwa Kṛṣṇa dapat disebut Bhagavān. Ia justru mempertanyakan hakikat terdalam Bhagavān. Brahmasūtra dimulai dengan:

athāto brahmajijñāsā

“Karena itu, sekarang penyelidikan terhadap Brahman.” - Brahmasūtra 1.1.1

Dan ketika ditanya apa hakikat Brahman, Brahmasūtra menjawab:

janmādy asya yataḥ

“Brahman adalah yang menjadi sebab asal-usul dan sebagainya dari jagat.” - Brahmasūtra 1.1.2

Śaṅkara menguraikan Brahman sebagai sebab jagat yang mahatahu dan mahakuasa. Dengan demikian, Advaita tidak perlu memenangkan debat dengan mengatakan “Kṛṣṇa bukan Bhagavān”. Ia cukup bertanya: ketika Bhagavān dipahami sebagai tattva tertinggi, apakah ia merupakan realitas kedua di luar Brahman, ataukah Bhagavān merupakan cara memahami realitas Brahman dalam hubungan dengan jagat dan upāsanā?

Di sinilah konsep jñānam advayam dari Bhāgavata 1.2.11 menjadi sangat penting. Bhāgavata sendiri telah menyediakan sebuah bahasa yang memungkinkan kita membicarakan Brahman, Paramātman, dan Bhagavān sebagai satu tattva yang advaya. Karena itu, seorang Advaitin tidak perlu menyerang Bhāgavata dari luar. Ia dapat mengambil pertanyaan filosofisnya dari dalam teks Bhāgavata sendiri.

Maka persoalan yang sesungguhnya bukanlah apakah Kṛṣṇa pernah disebut Bhagavān. Tidak ada gunanya menyangkal sesuatu yang memang tertulis. Persoalannya adalah bagaimana dari pernyataan “kṛṣṇas tu bhagavān svayam” kemudian dibangun seluruh rantai metafisika bahwa Kṛṣṇa adalah sumber Puruṣa, sumber Nārāyaṇa, sumber seluruh avatāra, dan akhirnya identik dengan Brahman tertinggi sebagaimana dimaksud seluruh Śruti.

Setiap anak tangga membutuhkan bukti.

Jika jawabannya adalah Bhāgavata, maka itu adalah sumber Purāṇik. Jika jawabannya adalah Jīva Gosvāmī atau Baladeva Vidyābhūṣaṇa, maka itu adalah hermeneutika Gaudiya. Jika jawabannya adalah Prabhupāda, maka itu adalah tafsir modern atas tradisi Gaudiya. Jika dibawa Gopāla-tāpanī atau teks Upaniṣadik sektarian lainnya, maka status dan kedudukannya harus terlebih dahulu diuji terhadap Śruti utama yang menjadi standar pembanding.

Dengan demikian, kami tidak perlu menyerang kitab purana dan upanisad penjelasan purana yang menjadi rujukan utama Hare Krishna. Kami cukup mengembalikan setiap klaim kepada sumbernya.

Śruti digunakan untuk menguji horizon ontologis.

Mahābhārata digunakan untuk memahami konteks utama kehidupan Kṛṣṇa dan tempat Gītā berada.

Bhagavad Gītā dibaca dari teksnya sendiri dan dari konteks Mahābhārata.

Bhāgavata dibaca sebagai perkembangan teologi Purāṇik yang sangat penting.

Sedangkan komentar para Ācārya dibaca sebagai lapisan hermeneutik, BUKAN otomatis disamakan dengan Śruti — beda jauh level otoritasnya.

Dengan metode itu, kami tidak mengatakan Bhāgavata Purana salah.”

Kami mengatakan:

Tunjukkan mana teksnya, mana konteksnya, mana interpretasinya, dan mana kesimpulan teologinya.”

Dan ketika seluruh lapisan itu dipisahkan, pertanyaan yang tersisa menjadi jauh lebih tajam:

Apakah supremasi ontologis Kṛṣṇa sebagai sumber Puruṣa dan seluruh avatāra benar-benar merupakan kesimpulan yang diwajibkan oleh Śruti–Vedānta–Mahābhārata, atau merupakan sintesis teologis Bhāgavata yang kemudian dirumuskan secara sistematis oleh tradisi Gaudiya?

Itulah pertanyaan yang harus dijawab.

Bukan dengan mengulang Kṛṣṇas tu bhagavān svayam.” Sebab kami sudah membaca śloka itu.

Yang sedang kami uji sekarang adalah seluruh rantai penalaran yang dibangun setelah śloka itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar