Google+
Tampilkan postingan dengan label Arya Wiraraja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arya Wiraraja. Tampilkan semua postingan

Blambangan versi Sejarah

Blambangan versi Sejarah

ini merupakan tulisan yang diunggah oleh Sumono, seorang penulis kelahiran Blambangan, dengan judul asli dari tulisannya: DAMARWULAN, MENAKJINGGO, Blambangan versi Sejarah, Perang Paregreg dan NEGARA KRTAGAMA

Prajnaparamita (ken dedes)
ditemukan di singosari
Di Banyuwangi sampai dengan tahun 1960an, berkembang sebuah seni pertunjukan yang disebut Damarwulan,mengambil nama cerita yang dipertunjukan dalam kesenian tersebut. Seni pertunjukan ini menggunakan costum dan gamelan Bali, oleh karena itu ada juga yang menyebutkan pertunjukan ini sebagai Janger.
Cerita dalam pertunjukan ini adalah tentang Menakjinggo, raja Blambangan yang memiliki cacat fisik, pincang dan matanya buta sebelah, dengan suara cadel dan parau serta memiliki character angkuh, culas, dan tak tahu diri yang ingin mempersunting/memperistri ratu Mojopahit Kenconowungu. Versi lain menggambarkan Menakjinggo adalah raja para raksasa. Sungguh penggambaran yang amat sempurna tentang kejelekan manusia.

Selanjutnya untuk menghukum Menakjinggo yang tak tahu diri ini maka dikirimlah seorang ksatrya yang gagah perkasa dan berwajah ganteng bak arjuna, Damarwulan, sebagai Senopati Mojopahit. Dan ternyata sang rupawan mampu mengalahkan Menakjinggo. Berbeda dengan tampilannya yang gagak dan rupawan ternyata pemuda ini sangat keji, yaitu memenggal kepala sang Menakjinggo untuk dipersembahkan pada Ratu Kencono Wungu. Sang rupawanpun akhirnya menikah dengan Ratu Kenconowungu dan lebih dari itu juga memperistri mantan istri Menakjinggo.

Ida Bagus Pinatih - Sira Ranggalawe memberontak pada Majapahit

Ida Bang Pinatih - Sira Ranggalawe memberontak pada Majapahit

Dikisahkan sekarang Sira Ranggalawe menjabat sebagai Menteri Amanca Negara, memerintah kawasan Tuban. 
Arya Wiraraja tidak diperkenankan uintuk berdiam di Madura, diperintahkan untuk bertempat tinggal di Majapahit, sebagai Tabeng Wijang Ida Prabu Kertharajasa. Sejak saat itu Bhupati Arya Wiraraja berganti gelar, dimaklumkan di seluruh penjuru negeri sebagai Rakriyan Mantri Arya Adikara.

Diceriterakan Ida sang Prabhu di Majapahit menyelenggarakan pertemuan besar membahas prihal rencana penunjukan Patih Amengkubhumi. Kemudian, saat itu Ida Sang Prabu menunjuk Sira Patih Nambi menjadi Patih Amengkubhumi
Keputusan itu kemudian didengar oleh Sira Ranggalawe, kemudian beliau menghadap ke Kraton Majapahit, berhatur sembah kepada Ida Sang Natha Kertharajasa, berkenaan dengan keputusan Ida Sang Prabhu, yang sudah diumumkan di seluruh negeri yakni Ki Patih Nambi diangkat menjadi Patih Amengkubhumi, hanyalah satu upaya yang tidak berguna, jelas negeri ini akan menjadi tidak baik, sebab Ki Patih Nambi sudah nyata-nyata pengecut di medan laga. Yang sebenarnya patut dipertimbangkan soal kesetiannnya di medan perang hanyalah Ki Lembu Sora atau diri beliau sendiri Sira Ranggalawe, yang patut diangkat menjabat sebagai Patih Amengkubhumi. Itu sebabnya menjadi kacau pertemuan itu.

Ida Bang Banyak Wide membantu Raden Wijaya Majapahit

Ida Bang Banyak Wide membantu Raden Wijaya membangun Majapahit

Diceriterakan sekarang daerah Daha diserang oleh Raja Singasari serta kemudian dikuasai oleh Singasari. Ida Bang Banyak Wide tatkala itu menjabat sebagai Demang atau Patih pada saat pemerintahan Prabu Kertanagara tahun 1272 Masehi. Lama kemudian para menteri yang sudah tua di Singosari semuanya diturunkan pangkatnya masing-masing diganti dengan pejabat yang muda-muda. Saat itu patih tua Rangganata diberhentikan. Ki Arya Banyak Wide diturunkan jabatannya ke Sumenep menjadi Adhipati Madura bergelar Arya Wiraraja. Hal seperti itu jelas menjadi bibit tidak baik di kemudian hari.

Lalu diceriterakan Prabu Singasari menyerang Tanah Melayu, semua bala tentaranya dikirim ke Tanah Melayu. Tatkala sang Prabu bersenang-senang di Puri, Ida Arya Bang Banyak Wide kemudian memberikan surat sindiran kepada Raja Daha yang bernama Prabu Jayakatwang tentang leluhur beliau yang bernama Dandang Gendis dirusak oleh sang Prabu Singosari. Patut sang Prabhu Daha membalas dendam kepada Sang Prabu Kerthanegara. Pemberitahuan Adipati Banyak Wide diluluskan oleh Sang Prabu Daha. Kemudian Singosari diserang oleh Daha, tidak urung kemudian kalah Singasari.

Bhujangga waisnawa Ida Maharsi Madura di danau beratan

Bhujangga waisnawa Ida Maharsi Madura di danau beratan

Menurut Raja Purana Pura Puncak Pengungangan, Bedugul. 

Menyebutkan tentang perjalanan Ida Rsi Madura dengan diiring sekitar 400-800 orang pengikut beliau datang dari jawa ke daerah seputaran Danau Beratan untuk melakukan pertapaan dan untuk membangun tempat-tempat suci. 

Begitu juga seperti tersebut dalam Bhuana Tattwa Rsi Markandeya, dimana dinyatakan bahwa Ida Rsi Madura memperistri anak dari Ida Dalem Tamblingan yang bernama Ida Dewa Ayu Sapuh Jagat. 

Dari dua sumber tertulis ini dapat ditelusuri bahwa Ida Rsi Madura pernah lama bertempat tinggal di daerah seputaran Bedugul. Di seputaran tempat ini, beliau banyak membangun tempat suci atau pura yang banyak mengadopsi arsitektur Jawa disesuaikan dengan tempat kelahiran dan asal Ida Rsi Madura yaitu dari daerah Madura. Pura-pura ini kalau kita telusuri dari daerah selatan adalah:

  • Pura Puncak Sari, 
  • Pura Puncak Kayu Sugih, 
  • Pura Puncak Pengungangan, 
  • Pura Batu Meringgit, 
  • Pura Puncak Terate Bang (Pura Puncak Bukit Tapak), 
  • Pura Penataran Beratan, 
  • Pura Candi Mas, 
  • Pura Puncak Rsi, 
  • Pura Puncak Taman Sebatu (Pura Ulun Danu Beratan yang asli).