Google+
Tampilkan postingan dengan label Babad Mengwi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Babad Mengwi. Tampilkan semua postingan

Runtuhnya Kerajaan Mengwi

Runtuhnya Kerajaan Mengwi

Dengan menyerahnya Keraton Mengwi, Mengwi dibawah kekuasaan raja Badung maka diangkatlah Anak Agung Putu Kukus sebagai pejabat penguasa Mengwi, kekuasaan Anak Agung Putu Kukus meliputi wilayah-wilayah yang ditaklukan Badung setelah mendapatkan pembagian dari sekutunya, antara lain: Tabanan, Ubud, dan Bangli.

Banyak rakyat Mengwi yang masih setia kemudian meninggalkan wilayah kekuasaan Anak Agung Putu Kukus, terutama para prajurit Mengwi, meminta perlindungan kepada Raja Tabanan, Ubud dan Bangli.

Penduduk-penduduk yang berdiam di wilayah perbatasan Mengwi banyak yang meninggalkan desanya. hal itu mereka lakukan karena ketidakpuasan mereka dengan pemerintahan Anak Agung Putu Kukus yang masih membiarkan sikep-sikep Badung melakukan penjarahan di desa-desa mereka.
Pemberontakan-pemberontakan kecil sering terjadi dibeberapa wilayah perbatasan kekuasaan Anak Agung Putu Kukus, sehingga para penduduk yang semula damai menepati daerahnya merasa tidak tenang dan ketakutan memilih untuk meninggalkan desa.

Kedua Adipati Agung Kerajaan Mengwi yaitu I Gusti Putu Mayun (Putra dari I Gusti Agung Munggu, treh Arya Kepakisan) dan I Gusti Made Ngurah dapat menyelamatkan diri dari peperangan yang terjadi di keraton Mengwi sampai wilayah hamparan sawah di daerah Mengwitani.

Akhir Perang Agung Wilis Kerajaan Blambangan

Akhir Perang Agung Wilis Kerajaan Blambangan

Sir Thomas Stanford Rafless dalam bukunya Hystory of Java menulis tentang adanya disolating system orang Banyuwangi pada page 68 sbb:
From that moment , the provinces subjected to its authority, ceased to improve. Such were the effect of her desolating system that the population of the province of Banyuwangie,which 1750 is said to have amounted to upwards of 80.000, was in 1811 reduce to 8000

Benarkah pembunuhan itu terjadi?

Kebenaran tulisan Sir Thomas Raffles mantan Letnan Gubernur Jawa dan Sumatra itulah yang menjadi perburuan saya, mencermati setiap fakta untuk mencari jawaban kebenaran tulisan itu. Maka ketika Hystory of Jawa di terjemahkan, saya membelinya dan melahapnya sebagai bacaan yang menarik, karena ditulis seorang birokrat muda (umur 30 tahun), yang dalam masa pemerintahan yang singkat 6 (enam ) tahun, telah menulis buku yang diakui sebagai masterpiece tentang Jawa dan membela orang Jawa, dari character assanisation Belanda.

Blambangan versi Sejarah

Blambangan versi Sejarah

ini merupakan tulisan yang diunggah oleh Sumono, seorang penulis kelahiran Blambangan, dengan judul asli dari tulisannya: DAMARWULAN, MENAKJINGGO, Blambangan versi Sejarah, Perang Paregreg dan NEGARA KRTAGAMA

Prajnaparamita (ken dedes)
ditemukan di singosari
Di Banyuwangi sampai dengan tahun 1960an, berkembang sebuah seni pertunjukan yang disebut Damarwulan,mengambil nama cerita yang dipertunjukan dalam kesenian tersebut. Seni pertunjukan ini menggunakan costum dan gamelan Bali, oleh karena itu ada juga yang menyebutkan pertunjukan ini sebagai Janger.
Cerita dalam pertunjukan ini adalah tentang Menakjinggo, raja Blambangan yang memiliki cacat fisik, pincang dan matanya buta sebelah, dengan suara cadel dan parau serta memiliki character angkuh, culas, dan tak tahu diri yang ingin mempersunting/memperistri ratu Mojopahit Kenconowungu. Versi lain menggambarkan Menakjinggo adalah raja para raksasa. Sungguh penggambaran yang amat sempurna tentang kejelekan manusia.

Selanjutnya untuk menghukum Menakjinggo yang tak tahu diri ini maka dikirimlah seorang ksatrya yang gagah perkasa dan berwajah ganteng bak arjuna, Damarwulan, sebagai Senopati Mojopahit. Dan ternyata sang rupawan mampu mengalahkan Menakjinggo. Berbeda dengan tampilannya yang gagak dan rupawan ternyata pemuda ini sangat keji, yaitu memenggal kepala sang Menakjinggo untuk dipersembahkan pada Ratu Kencono Wungu. Sang rupawanpun akhirnya menikah dengan Ratu Kenconowungu dan lebih dari itu juga memperistri mantan istri Menakjinggo.

Babad Mas Sepuh - Pangeran Menak Jingga

Babad Mas Sepuh - Pangeran Menak Jingga

Sang penyair menyatakan pujiannya kepada Siwa, memohon pengampunan, rahmat dan restu: semoga ia dijauhkan dari segala kejahatan, segala penderitaan, segala dosa; semoga dia dan kerabatnya mendapatkan kebahagiaan, umur panjang dan kemakmuran.

Pangeran Danureja, yang telah menjadi raja Blambangan sesudah lama bertapa, mempunyai anak:

  • Pangeran Menak Jingga (Pangeran Jingga dalam Babad Wilis) yang biasanya dinamakan Pangeran Mas Sepuh.
  • Mas Ayu Nawangsasi (isteri Danuningrat). 
  • Mas Ayu Sepuh (Babad Tawang Alun) atau Mas Ayu Rahinten, 

Pada tahun 1520 Saka (dengan sangkala nora tinghal bhuta sasih) [yaitu 1598 M], Blambangan ditaklukkan oleh Ki Gusti Nglurah Panji Sakti, raja Singaraja, yang kemudian menghadiahkannya—bersama negeri Jambrana [Bali Barat]—kepada Raja Mangwi, Gusti Agung Dhimadhe. Gusti Agung Dhimadhe lalu dinamakan Gusti Nglurah Agung Sakti dari Blambangan [dalam babad Mas Sembar, ia diberi nama Cokordha Blambangan]

Puri Karangenjung - Babad Mengwi

Puri Karangenjung - Babad Mengwi

I Gusti Agung Nyoman Sengguan yang berstana di Puri Karangenjung, mempunyai istri dua orang, yaitu 
dari I Gusti Ayu Raka memiliki dua orang anak, masing-masing bernama:

  • I Gusti Agung Putu Karang
  • I Gusti Agung Gede Rai. 

dari Siluh Made Rai berasal dari Desa Sobangan dan memiliki seorang putra bernama 

  • I Gusti Agung Nyoman Tanjal.

Sekarang tersebutlah pula I Gusti Ketut Adi yang bersemayam di Desa Sembung; beliau menurunkan

  1. I Gusti Agung Putu Gde Kengetan, 
  2. I Gusti Agung Ayu Raka dan 
  3. I Gusti Agung Ayu Nyoman Rai.

Adapun I Gusti Agung Putu Gde Kengetan, setelah dewasa diangkat menjadi Manca Sembung-Kerangjung oleh Sri Baginda Raja Menguraja dengan pembantu-pembantunya I Gusti Agung Putu Karang dan I Gusti Agung Gde Rai di Karangenjung.

Sekarang disebutkan isteri-isterinya I Gusti Agung Putu Gde Kengetan yang sama-sama sudah mengadakan putera-putera mereka masing-masing adalah :
dari Sayu Putu Mugelik dari Jero Tambangan Sibang Shrijati berputera:

  1. I Gusti Agung Putu Gde Kengetan Berata, 
  2. I Gusti Agung Ngurah Gde Geriya, 
  3. I Gusti Agung Rai Anom dan 
  4. I Gusti Agung Ayu Ketut Rai. 

Ni Jero Siulan dari Banjar Belangpande Sembung melahirkan:

  • I Gusti Agung Putu Oka.

Ni Jero Jasa dari Banjar Pasekan Sembung, melahirkan:

  • I Gusti Agung Nyoman Kuta, dan 
  • sebelumnya sudah mengangkat seorang putera bernama I Gusti Agung Made Gerya, Putera dari I Gusti Agung Gde Rai di Karangenjung.

Adapun I Gusti Agung Ngurah Gde Griya diangkat anak oleh I Gusti Agung Ayu Rai bibi beliau yang sampai tua tidak mau bersuami; karena dikecewakan oleh pacar beliau dari Banjar Semu.

Babad Mengwi Puri Karangenjung

Perjalanan Puri Karangenjung

Sri Nararya Kresna Kepakisan adalah Arya ing Kediri (Aryeng Kediri) anak dari Sri Sastra Jaya, raja Kediri yang memerintah tahun 1258 – 1271 M. Sebagai Kerajaan taklukan Majapahit, maka gelar-gelar seperti yang dipakai oleh para leluhurnya (Erlangga dan raja berikutnya) sudah barang tentu tidak boleh digunakan lagi. 

Gelar Sri Nararya yang disandangnya adalah juga pencerminan kalau beliau adalah keturunan Raja Kediri. 

  • Sri adalah merupakan cerminan gelar para Raja Kediri sebagai leluhur beliau. 
  • Nararya berarti yang mulia diantara orang-orang atau keturunan raja. 
  • Arya berarti terhormat, terpandang, mulia atau ningrat. (Suhardana, 2005 : 34).

Pada waktu Dalem memegang tampuk pemerintahan di Bali bangsawan yang paling penting adalah patih, yakni tangan kanan dan sekaligus penasehat Dalem. Semua patih berasal dari keturunan Klan Arya Kepakisan dan di dalam hirarki mereka menduduki posisi kedua ; hanya Dalem dari Gelgel saja yang menjadi atasan mereka. Raja-raja Mengwi selanjutnya menelusuri garis keturunannya kedalam klan Arya Kepakisan ini (Henk Schulte Nordholt, 2006 : 24 – 25).

Sri Nararya Kresna Kepakisan mempunyai dua orang putra, masing-masing bernama:

  1. Pangeran Nyuhaya (Kiayi Agung Nyuh Aya) dan 
  2. Pangeran Made Asak.


Pangeran Nyuhaya mempunyai dua orang istri 
dari istri pertama lahir : 

  1. Kiyai Petandakan, 
  2. Kiyai Satra, 
  3. Kiyai Pelangan, 
  4. Kiyai Akah, 
  5. Kiyai Keloping, 
  6. Kiyai Cacaran, 
  7. Kiayi Anggan dan 
  8. Kiayi Ayu Adi (wanita). 

Sedangkan dari istri kedua lahir : 

  1. I Gusti Wayahan Nyuhaya, 
  2. I Gusti Nengah Nyuhaya dan 
  3. I Gusti Ketut Nyuhaya. 

Berakhirnya Kerajaan Mengwi

Berakhirnya Kerajaan Mengwi

Perselisihan di Dalam Kerajaan Mangha-pura

Dalam perkembangan selanjutnya terjadi perselisihan di dalam kerajaan Mengwi. Anak Agung Gede Alangkajeng meninggalkan kerajaan Mengwi dan putera – puterinya, hanya didampingi oleh isterinya I Gusti Ayu Sagung, menuju negara Badung di Jro Kanginan. Selama tinggal di Badung putera – puterinya tidak ada yang menjenguk, hingga membuat hatinya semakin sedih. Anak Agung meninggal di Jro Kanginan Badung bergelar Bhatara Ring Badung. Beliau dibuatkan Pelinggih Gedong di Pura Penataran Tinggan.

Anak Agung Gede Alangkajeng meninggalkan beberapa putera dan puteri, yang terkemuka diantaranya adalah: 

  • I Gusti Agung Made Ngurah (beribu Gusti Luh Rai dari Bnajar Natih Sedang), 
  • I Gusti Agung Putu Alangkajeng (beribu keturunan Dewa Godong Artha), 
  • I Gusti Agung Istri Kajeng (beribu Jro Taluh Harsa) diperistri oleh Ida Putu Batu, kemudian mediksa bernama Ida Pedanda Gede Sembung dan Ida Pedanda Istri Agung. 
  • I Gusti Agung Ketut Rai beribu Jro Ketut Raga.

Putera beliau yang bernama I Gusti Agung Made Ngurah diangkat menjadi Raja Muda. Tetapi tidak disenangi karena tidak mempunyai tanggung jawab sebagai pemimpin, hanya menjalankan kesenangan sendiri.

Raja Mengwi ke III - XI

Raja Mengwi ke III - XI

I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng Raja III Mengwi

Setelah I Gusti Ngurah Made Agung wafat, digantikan oleh adiknya I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng, yang bergelar Cokorda Munggu. 

Hal ini disebabkan putera mahkota I Gusti Agung Made Agung tidak kuasa dicegah, melanggar bisama leluhur, mengambil isteri ke Puri Kuramas. I Gusti Agung Made Agung mengungsi ke desa Kapal, menjadi Pangeran Kapal.

I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng mempunyai beberapa putera, yakni: 

  • I Gusti Agung Mbahyun, 
  • I Gusti Agung Made Munggu, 
  • I Gusti Ngurah Jembrana (pemguasa di Jembrana), dan 
  • I Gusti Gede Meliling.

Gusti Agung Made Alangkajeng - Raja II Mengwi

Gusti Agung Made Alangkajeng - Raja II Mengwi

I Gusti Agung Putu setelah tua digantikan oleh puteranya yang terkemuka, yaitu:

  • I Gusti Agung Made Alangkajeng. 

Putera – putera yang lain, yaitu:

  • I Gusti Agung Panji, 
  • I Gusti Ketut Buleleng, 
  • I Gusti Agung Made Kamasan, 
  • I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng, dan lain – lain, yang kesemuanya diberikan tempat dan rakyat. 

Sedianya I Gusti Agung Panji akan menggantikan ayahnya, namun beliau wafat di desa yang kemudian disebut Padekdekan.
I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng pindah ke desa Munggu mendirikan istana Puri Munggu.

I Gusti Agung Made Alangkajeng menjadi raja bergelar I Gusti Ngurah Made Agung, atau oleh Dewa Agung Klungkung dipanggil I Gusti Agung Banya, sebab beliau sogol, sering mengucapkan banya (aku, kau). Adiknya I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng, disuruh pulang ke Mangha-pura, membangun istana baru di Barat-daya Taman Ayun.

Pada tahun 1750 I Gusti Ngurah Made Agung, memaksa meminta seorang puteri dari Nambangan, yang bernama Ni Gusti Ratu Tegeh, puteri dari Kyai Anglurah Tegeh Kori XI. Puteri ini sudah dijodohkan dengan Kyai Ngurah Jambe Merik, putera Kyai Jambe Pule, sama – sama tinggal di Nambangan (Badung). Penyerahan puteri ini ke Mengwi menyebabkan kemarahan keluarga Jambe beserta rakyat Badung. Keluarga Jambe bersama dukungan sebagian besar rakyat Badung berhasil menjatuhkan kekuasaan Kyai Anglurah Tegeh Kori XI.

Dari isterinya Gusti Luh Patilik, berputera I Gusti Agung Made Agung. Dari puteri Ratu Tegeh ini beliau menurunkan seorang puteri I Gusti Ratu Istri Bongan, yang diperisteri oleh Kyai Anglurah Pemecutan III, menurunkan putera di Puri Kaleran Pemecutan.

Babad Mengwi - Kerajaan Mengwi

Babad Mengwi - Kerajaan Mengwi

setelah berhasil menundukkan Pasek Badak, Perjalanan selanjutnya I Gusti Agung Putu menundukkan I Gusti Ngurah Teges, sehingga kekuasaannya daerah Kaba-kaba menjadi bagian dari wilayah Kawyapura.

I Gusti Agung Putu juga menyerang dan menaklukkan Penebel dalam rangkaian membantu Tabanan. Sebagai imbalan kemenangan itu Tabanan memberikan desa Marga kepada I Gusti Agung Putu. Beberapa penguasa atau Anglurah juga menyatakan takluk kepada Kawyapura, hingga wilayah Kawyapura meliputi:
  • ke Selatan bukit Jimbaran sampai Uluwatu, 
  • ke Utara sampai gunung Beratan, 
  • ke Timur sampai sungai Petanu, 
  • ke Barat sampai sungai Yeh Panah.

Perkembangan kemudian laskar I Gusti Agung Putu berperang dan menaklukkan laskar Buleleng. Perang ini dipicu oleh putera I Gusti Ngurah Panji Sakti yang bernama I Gusti Panji Wayahan, yang merabas hutan Batukaru dan merusak Pura Luhur Batukaru, kekuasaan Kawyapura. Sebagai tanda takluk I Gusti Ngurah Panji Sakti menyerahkan daerah Blambangan dan Jemberana menjadi daerah kekuasaan Kawyapura.
Selain itu, puteri Panji Sakti, Ni Gusti Ayu Panji sebagi isteri I Gusti Agung Putu. Raja juga memohon seorang Brahmana, Ida Pedanda Sakti Bukian dari desa Kayu Putih, diberikan tempat di Kekeran untuk mendampingi beliau,

Demikianlah bertambah – tambah keagungan dan kebesaran I Gusti Agung Putu, Ketika diangkat menjadi Raja I Kawyapura, beliau diberi gelar I Gusti Agung Bima Sakti, atau Cokorda Sakti Blambangan gelar lainnya. kerajaan beliau disebut Mengwi.

Perpecahan Puri Kuramas dan Puri Kapal

Perpecahan Puri Kuramas dan Puri Kapal

Tersebutlah I Gusti Istri Ayu Made, adik dari I Gusti Agung Putu dan kakak dari I Gusti Agung Made Agung, yang menderita sakit ingatan. Seorang Pandita Pande dari desa Wanasara berhasil menyembuhkan, tetapi setiap berpisah dengan Sang Pandita penyakitnya kambuh lagi. Akhirnya I Gusti Istri Ayu Made dikawinkan dengan Sang Pandita Pande. 
Perkawinan ini tanpa sepengetahuan kakaknya I Gusti Agung Putu di Puri Kuramas. 
I Gusti Agung Putu murka dan membunuh Sang Pandita. Sang Pandita Pande sebelum menghembus napas terakhir sempat mengeluarkan kutukan kepada I Gusti Agung Putu, bahwa 
"kelak I Gusti Agung Putu dan keturunannya tidak akan pernah menjadi raja. Sedangkan kutukan kepada I Gusti Agung Made Agung, bahwa keturunannya tidak akan habis – habisnya menderita sakit ingatan (gila)" 

Sejak peristiwa itu, I Gusti Agung Made Agung mengeluarkan sumpah putus hubungan bersaudara dengan kakaknya I Gusti Agung Putu.

Gusti Agung Maruti Menaklukkan Buringkit

Gusti Agung Maruti Menaklukkan Buringkit

setelah kekalahannya dalam pertempuran di Gelgel, Patih Agung Maruti meninggalkan laskarnya melarikan diri diikuti oleh Kryan Kaler Pacekan, menuju desa Jimbaran. Atas usaha Kryan Kaler Pacekan berhasil membujuk rakyat I Gusti Agung Maruti untuk ikut bersamanya, dan berhasil mendapatkan keris Ki Sekar Gadhung dan Ki Panglipur. Kryan Kaler Pacekan tetap di desa Jimbaran.

Merasa diperdaya I Gusti Agung kemudian menuju ke kerajaan Kyai Anglurah Tegeh Kori hendak menghamba. Tetapi atas nasihat dari Kyai Tegeh Kori, Kryan Agung Maruti menuju menemui Pangeran Kapal di desa Kapal, bersama 3 orang putera dan puterinya, yatu:
  • I Gusti Agung Putu, 
  • I Gusti Istri Ayu Made, dan 
  • I Gusti Agung Anom. 

Arya Celuk

Arya Celuk

Berikut sekilas cerita sejarah ataupun babad mengenai keberadaan Arya Celuk, dapat diinformasikan bahwa di Bali terdapat beberapa orang memakai nama I Gusti Celuk,

Gusti Celuk Keturunan Arya Kenceng.

dikisahkan oleh Mahapatih Kryan Gajah Mada waktu berhasil menyerang dan menaklukkan Bali, Arya Kenceng dinobatkan sebagai Anglurah, beliau berkedudukan di Pucungan pada tahun saka 1255 (tahun 1343 M).
adapun salah satu keturunan dari Arya Kenceng adalah I Gusti Gading alias I Gusti Tegeh Kori anglurah Badung.
dikisahkan I Gusti Gading menurunkan beberapa putra, salah satunya adalah I Gusti Ngurah Pujungan, yang nantinya menurunkan salahsatunya bernama I Gusti Ngurah Celuk

Pucungan sekarang merupakan sebuah desa bernama desa Buahan, Kabupaten Tabanan, dan pura Kawitan dari mereka keturunan dari Arya Kenceng tanpa kecuali apa pun sebutan atau gelarnya bersama-sama nyungsung Pura Kawitan di Bontinggih. 

Gusti Celuk Keturunan Gusti Bebalang

I Gusti Celuk juga ada keturunan I Gusti Bebalang di Desa Marga, Kabupaten Tabanan, yang mengikuti I Gusti Agung Putu merebas hutan yang berlokasi di sebelah selatan Marga, dan sesudah menjadi Desa Belayu, Belayu berasal dari kata “bala ayu”(rakyat pilihan) yang ngiring I Gusti Agung Putu, yang selanjutnya mendirikan kerajaan Mangwi, dan kata Mangwi terdiri dari dua kata yaitu “Mangu” karena di Gunung mangu inilah I Gusti Agung Putu memperoleh wara lugraha dari Yang Kuasa atau dari Kawi (Sanghyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa). 
Sebab itu kerajaannya dinamakan “mangu-wi”(di Gunung Mangu mendapatkan wahyu dari Kawi), dan juga disebut Kawyanegara, yaitu Negara karena kehendak atau diciptakan oleh Kawi (sanghyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa).

Gusti Celuk Keturunan Arya Kapakisan

Keturunan Arya Kapakisan alias Arya Kresna Kapakisan juga ada bernama I Gusti Celuk, salah seorang putra dari I Gusti Purnadesa putra angakt oleh I Gusti Kamasan dan Keturunan I Gusti Penida.

Adapun pura Sada yang berlokasi di Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung didirikan oleh Raja Mangwi, disungsung oleh seluruh rakyat kerajaan Mangwi, sedangkan pura Pedarman keturunan Arya Kapakisan termasuk I Gusti Celuk, salah seorang putra I Gusti Purnadewa ialah di pura Pedarman yang lazim disebut duwe Mangwi.
Pembangunan Pura Sada tersebut tidak lebih dahulu dari pura Besakih, dan cenderung dibangun lebih dahulu dari pura pedarman Arya Kapakisan yang terdapat di kompleks pura Besakih.
Memang di pura Besakih tidak ada pura pedarman khusus untuk I Gusti Celuk (dan bukan Arya Celuk), melainkan satu dengan kturunan Arya Kapakisan lainnya. Karena tidak tiap keturunannya memiliki pura Pedarman khusus di kompleks pura Besakih.
sumber: Jro mangku Gde Ktut Soebandi mengenal leluhur

Gusti Panji Sakti memiliki Menantu dari Mengwi

Menantu dari Mengwi

Gusti Ngurah Panji Sakti mempunyai beberapa isteri. Dari para isteri memberikan beliau keturunan beberapa orang putra dan beberapa orang putri.

Setelah keinginannya menguasai wilayah Blambangan tercapai, I Gusti Ngurah Panji Sakti merasa lega. Beliau telah mempercayakan kepada putranya berkuasa di Blambangan dan telah bisa menjalankan roda pemerintahannya di ujung Jawa Timur. Harapannya adalah agar bisa menyatukan kekuasaannya dengan Untung Surapati yang sudah mengusai wilayah Pasuruhan dan sekitarnya.

Sedang dalam menata rencana, tiba-tiba datang seorang utusan menghadap I Gusti Panji. Utusan itu menyampaikan bahwa seseorang dari wilayah Mengwi ingin bertemu. Setelah I Gusti Panji tahu maksud kedatangan tamu tersebut lalu dengan senang akan menerima kedatangannya. Tidak berselang waktu lama, datanglah seeorang memperkenalkan diri, bernama I Gusti Agung Anom dari Puri Kapal dengan iringan beberapa orang. Setelah memperkenalkan diri, I Gusti Agung Anom mengutarakan maksudnya yang tidak lain adalah ingin meminang putri I Gusti Ngurah Panji yang bernama I Gusti Ayu Panji.

Peristiwa Terbunuhnya Pasek Badak (Pasek Badak Takluk)

Peristiwa Terbunuhnya Pasek Badak

Setelah berhasil mengalahkan I Gusti Ngurah Kekeran, I Gusti Agung Putu mendirikan istana di Bekak, di sebelah Utara Bale Agung Mengwi, sehingga dinamai Puri Kaleran. Di sebelah Barat – Laut istana dibangun Parahyangan (Dewa Graha) yang dinamai Taman Ganter. Dibuatkan Tengeran (kulkul) yang bernama Si Tankober, milik I Gusti Tangeb. 
Setelah diupacarai dinamakan Kawyapura, atau Manghapura nama lainnya. 
Sementara istana beliau di Balaayu (Puri Belayu) diberikan kepada I Gusti Celuk.

Ada seorang Ki Pasek yang sakti dan teguh berkendaraan Badak, dengan pengikutnya tidak mengakui kedaulatan I Gusti Agung Putu. 
Pada suatu hari, ia mengundang Pasek Badak untuk datang menghadap ke Puri.
Ki Pasek Badak memenuhi permintaan Gusti Agung Putu, datang ke sana bersama keluarga rakyat sebagai pengiringnya. 

Raja menantang untuk adu tanding, tanpa mengadu rakyat. Rakyat hanya menjadi taruhan. Tantangan disetujui oleh Ki Pasek Badak. Mereka berdua mengadu kekuatan, sama – sama kebal tidak terlukai oleh senjata. Tidak ada yang kalah. Kemudian Ki Pasek Badak menyadari, bahwa I Gusti Agung Putu ditakdirkan menjadi penguasa dan menikmati kewibawaan. 

Pasek Badak setuju dan memberitahu kepada I Gusti Agung Putu, ia tidak bisa dibunuh dengan keris pusaka. Ki Pasek bersedia mengalah dan dibunuh dengan syarat setelah menjadi Pitara disembah oleh 40 orang keturunan I Gusti Agung Putu.

Syarat itu disetujui, Ki Pasek menyerahkan nyawanya, ditikam dengan keris Ki Nagakeras. Jenazahnya diurus sebagaimana mestinya oleh I Gusti Agung Putu sebagaimana menurut tradisi kerajaan. Binatang Badak peliharaannya juga mati di sebelah Selatan desa Buduk. 

I Gusti Agung Putu kemudian melakukan upacara pemerasan kepada 40 orang dari semua golongan masyarakat untuk menyembah roh Ki Pasek Badak, sebab beliau tidak mau keturunan langsung yang menyembah. 

Warga Ki Pasek seluruhnya tidak mau tunduk, mereka mengungsi ke desa Tanguntiti Tabanan.

I Gusti Agung Putu memenuhi janjinya dengan mendirikan Pura Taman Ahiun (Ayun). Arwah Ki Pasek Badak diistanakan di Pelinggih Meru Tumpang 1. Kemudian dilaksanakan upacara besar Bhuta Yajnya, Manca Wali Krama, dan Siwa Yajnya, pada Anggara – Kliwon – Medangsya. 

Warga 40 orang yang menyembah roh Ki Pasek Badak kemudian dijadikan laskar kerajaan bernama Bala Putra Dika Bata – Batu.

Ada seorang pasek Badak laki-laki yang masih anak-anak diajak oleh I Gusti Agung Putu ke purinya. Kemudian sesudah kerajaan Mengwi berdiri serta anak itu sudah dewasa ,anak itu diangkat menjadi sedahan, memegang seluruh harta benda kekayaan I Gusti Agung Putu. Pedang yang bias dipakai membunuh Pasek Badak, kemudian diberi nama Ki Nagakeras sebagai senjata Pusaka I Gusti Agung Putu

Sedang keturunan Pasek Badak Sedahan Puri Mengwi, masih tetep tinggal di Banjar Gulingan, Mengwi. Lama-kelamaan ada keturuannya pidah tempat ke berbagai desa, seperti misalnya ke desa Braban, Kediri, wilayah Tabanan dan lain-lainnya.

Mengenai keturunan I Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa yang ada di beberapa desa ,dapat dijelaskan sebagai berikut: Keturunan Pasek Tohjiwa, yang dikenal dengan julukan Pasek Badak ada yang kembali ke Desa Buduk, lalu bertempat tinggal di Banjar Sengguan Desa Buduk, wilayah Badung. Kemudian ia menurunkan enam orang anak semuanya disebut Pasek Tohjiwa,namun berlainan tempat tinggal yaitu:

  1. Pasek Tohjiwa di Banjar Sengguan Desa Buduk
  2. Pasek Tohjiwa di Banjar Gunung Desa Buduk
  3. Pasek Tohjiwa di Banjar Danginjalan Desa Buduk
  4. Pasek Tohjiwa di Banjar Dawuhjalan Pasekan Desa Buduk
  5. Pasek Tohjiwa di Banjar Tengah Desa Buduk
  6. Pasek Tohjiwa di Banjar Umadwi Desa Padangsambian.

Dewa Agung Made - Raja I Tegallalang (1765 – 1770 M) Babad Dalem Sukawati

Dewa Agung Made - Raja I Tegallalang (1765 – 1770 M) Babad Dalem Sukawati

Telah diceritakan di istana kerajaan Dalem Sukawati terjadilah percecokan antara dua putra mahkota kakak beradik yaitu I Dewa Agung Gede dan I Dewa Agung Made.  I Dewa Agung Made memohon kepada kakak beliau agar membagi wilayah Kerajaan Sukawati, yaitu:

  • dari desa Mas ke selatan supaya di pegang oleh kakaknya I Dewa Agung Gede, dengan pusat pemerintahan di Sukawati.
  • dari Mas ke utara supaya di pegang oleh I Dewa Agung Made dengan pusat pemerintahan di Peliatan. 
Permohonan I Dewa Agung Made ternyata tidak mendapat persetujuan dari kakaknya Dewa Agung Gede, sehingga kemudian percecokan tersebut semakin memanas.

Sri Aji Maha Sirikan Raja Sukawati I (1710 – 1745 M) - Babad Dalem Sukawati

Sri Aji Maha Sirikan Raja Sukawati I (1710 – 1745 M) - Babad Dalem Sukawati

Setelah menaklukan Ki Balian Batur, dipastikan berkuasa di bagian Timur wilayah Kerajaan Mengwi, maka untuk selanjutnya ditentukan lokasi istana untuk Dewa Agung Anom.

Lokasi kerajaan ditentukan di Baturan (Batuan sekarang) yang terletak di desa Timbul. barat dukuh kebalian (kebayan). Istana terletak di depan pasar Timbul yang selesai dibangun pada tahun 1710 M, bernama Puri Grokgak, sekitar 27 km ke Selatan Smarajayapura. Setelah Puri Grokgak selesai dibangun, Dewa Agung Anom Sirikan pindah dari pesramannya menempati Puri Grokgak.  Bersamaan dengan itu dibangun pula Pemarajan yang bernama Pura Penataran Agung sekarang. Semenjak pemerintahan beliau, rakyat desa Timbul bersukahati, oleh karena itu desa Timbul lama-lama berubah menjadi Sukahati (Sukawati sekarang). Beliau diberi gelar Sri Aji Maha Sirikan, Sri Aji Wijaya Tanu, atau lumrah disebut Dhalem Sukawati.

Ki Balian Batur - raja Leak di pesisir Timur Bali

Ki Balian Batur - raja Leak di pesisir Timur Bali

Grubug Agung Di Pesisir Timur Kerajaan Mengwi

Dikisahkan sekitar awal tahun 1700 M ada seorang termashyur kesaktiannya tentang ilmu hitam keturunan Sengguhu Bintang Danu, karena mendapatkan penugrahan Ida itu Hyangning Hulundanu Batur orang ini kemudian dikenal dengan nama Ki Balian Batur, bertempat tinggal di dusun Teledunginyah, di sebelah Barat desa Cau. Mempunyai asrama wilayah di desa Ketegan Alas Kedangkan di dekat abian timbul, sekarang dikenal dengan nama Banjar Rangkan Desa Ketewel Sukawati.

Sosok Ki Balian Batur seorang lelaki berambut panjang, dengan kebiasaan apabila mencuci rambutnya pergi ke Alas Rangkan untuk mengeringkannya. Ki Balian Batur banyak mempunyai sisya (murid), salah satu muridnya yang terkemuka adalah I Gede Mecaling.

Merasa dirinya ditantang oleh Kerajaan Mengwi yang dengan senjata lengkap memasuki wilayahnya, disamping karena adanya penghinaan prajurit kerajaan mengwi yang menghina Anaknya ditudah berdagang dengan menyebarkan ilmu leak dengan ilmu hitamnya, Ki Balian Batur memerintahkan semua muridnya melakukan penyerangan terhadap kekuasaan kerajaan Mengwi dibawah rajanya I Gusti Agung Putu yang juga bergelar Cokorda Sakti Blambangan.

I Gusti Alit Dawuh - Babad Tabanan

Sri Magada Sakti (1700)

I Gusti Alit Dawuh kemudian mejadi raja Tabanan bergelar Sri Maghada Sakti Raja Singhasana. Adapun yang menjabat Bahudanda I Gusti Nyoman Kukuh. Semasa pemerintahannya negara aman dan tertib, rakyat sejahtera.

Pada suatu hari yang sudah ditentukan, Raja I Gusti Alit Dawuh mengadakan pertemuan dihadap oleh para punggawa, manteri, bahudanda, pendeta, pejabat-pejabat, serta tokoh-tokoh terkemuka di masyarakat. Dalam pertemuan itu Raja I Gusti Alit Dawuh bersabda, bahwa tidak akan mengabdi lagi kepada Ksatrya Dalem, karena merestui pembunuhan terhadap Maharaja Dewata Bhatara Nisweng Panida. Dalem sudah ingkar terhadap hubungan baik antara leluhur dulu. Semenjak itu putus hubungan kerajaan Tabanan dengan Dalem di Suweca-pura.

Setelah Sri Megada Sakti mantap kekuasaannya, maka ingin membalaskan dendam terhadap wilayah Penida, lalu diserang dan dapat ditaklukan, sehingga semua kekuasaan daerah Penida masuk Kerajaan Tabanan, seperti : Pandak, Kekeran, Nyitdah, Kediri dan lainnya.

Di Kabakaba lalu memerintah Prabu Alit, oleh karena masih muda, timbul pembangkangan dari pengikutnya. Prabu Alit melapor kepada Sri Megada Sakti, lalu beliau menertibkan dan menaklukan desa-desa yang membrontak. Itulah sebabnya daerah negara Tabanan semakin meluas dari lembah Sungai Sungi hingga ke Timur Sungai Pulukan dan sepanjang pantai Selatan.

Diceritakan I Gusti Agung Putu yang kemudian mendirikan kerajaan Mengwi sempat ditawan di Tabanan. I Gusti Agung Putu kalah berperang dengan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng dari Kekeran Nyuh Gading. Namun diperlakukan sebagai saudara oleh Sri Maghada Sakti. Kemudian atas permohonan I Gusti Putu Bebalang dari desa Wratmara (Marga), I Gusti Agung Putu diperkenankan diajak ke desanya, dan bersahabat dengan adiknya yang bernama I Gusti Celuk.