Google+
Tampilkan postingan dengan label Jro Mangku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jro Mangku. Tampilkan semua postingan

Kursus Pemangku

Kursus Pemangku

Jro Mangku muput banten
Jro Mangku
merupakan pelatihan tentang kepemangkuan yang diselenggarakan oleh Yayasan Taman Bukit Pengajaran.

Kursus ini bertujuan memperluas pemahaman dan pengetahuan bagi masyarakat umum, para Mangku dan calon Mangku.

Pelajaran yg akan diberikan :

  • Tatwa Agama, 
  • sesana/swadarmaning pemangku, 
  • upacara/upakara, 
  • wariga, 
  • gegelaran Pemangku (tentang tata cara pemujaan dan mantram dalam melaksanakan upacara yadnya/muput upacara), 
  • Yoga Asuci Laksana (praktek yoga untuk meningkatkan kwalitas kesucian diri dan kerahayuan).

Jro Mangku sebutan untuk Pemangku

Jro Mangku sebutan untuk Pemangku

Pada umumnya kita di Bali mendengar kata pemangku (Jro Mangku) memang hal yang sudah biasa, namun perlu kita ketahui apakah yang terkandung tersirat dari makna kata yang terkandung didalamnya pada bagian ini kita akan bahas dari beberapa sumber yang menyebutkan makna dari kata pemangku. 

Menurut Lontar Widhi Sastra kata pemangku diuraikan menjadi:

  • ‘Pa’, bermakna “Pastika pasti”, yang artinya paham akan hakikat kesucian,
  • ‘Mang’ bermakna “Weruh ring titining Agama” artinya paham mengenai pelaksanaan ajaran Agama. Mengingat ‘Mang’ sebagai suku kata aksara suci Dewa Iswara atau Siwa sendiri sebagai guru niskala bagi warga desa, beliau juga dijuluki sebagai Sanghyang Ramadesa. 
  • ‘Ku’ bermakna “Kukuh ring Widhi” yang artinya teguh dan konsisten berpegangan kepada Tuhan/ Ida Sanghyang Widhi.

Kemudian dari kata Widhi, diperoleh suku kata ‘di’ yang artinya “dina” (hari), dari kata ‘dina’ diperoleh suku kata ‘na’ artinya “amertha” (sumber kehidupan) dari kata amertha diperoleh suku kata ‘ta’ artinya “toya” (air), dari kata toya diperoleh suku kayaa ‘ya’ artinya “jati jatining kaweruhan ring kahananing bhuana agung muang bhuana alit (hakikat pengetahuan mengenai bhuana agung dan bhuana alit).


Dalam Lontar Sukretaning Pamangku, dinyatakan bahwa pemangku adalah perwujudan I Rare Angon (Dewa Gembala/Pengangon) yang merupakan perwujudan dari Dewa Siwa seperti dinyatakan sebagai berikut” ‘Ikang sukretaning pamangku ring khayangan, wnang tegesin pamangku kawruhakena kang mawak pamangku ring sariranta. I Rare Angon mawak pamangku ring sariranta’.

Pawintenan Pemangku

Pawintenan Pemangku

Pawintenan atau Mawinten berasal dari kata “mawi” dan “inten”.

  • Mawi adalah kata bahasa Kawi yang berarti bersinar,
  • Inten berarti intan atau permata. 

Dengan demikian, maka orang yang sudah mawinten diibaratkan sebagai permata yang berkilauan karena lahir batinnya sudah disucikan.
Mengapa perlu disucikan?
Sebagai pelayan Ida Sang Hyang Widhi sekaligus pelayan masyarkat, seorang Pemangku harus bertanggung jawab atas kesucian Pura yang diemongnya. Karena itu sebelum diresmikan sebagai Pemangku, seseorang yang ditunjuk atau dipilih menjadi Pemangku terlebih dahulu harus disucikan dengan cara menjalani upacara penyucian diri yang dinamakan Upacara Pawintenan.

Peranan Pemangku dalam Masyarakat Adat Bali

Peranan Pemangku dalam Masyarakat Adat Bali

Pemangku mempunyai peranan yang sangat penting dalam masyarakat beraagama Hindu. 
Dikatakan penting karena setiap upacara atau yajna, sepanjang tidak mempergunakan Sulinggih, maka Pemangkulah yang diminta bantuannya untuk nganteb upakara (banten). Memang tidak semua upacara harus diselesaikan oleh Pendeta dan/atau Pemangku, sebab ada pula upacara-upacara kecil yang tidak mempergunakan jasa Sulinggih maupun Pinandita. 

Pada umumnya masyarakat sudah memahami tradisi dan kebiasaan, mana upacara yang harus dipuput oleh Pendeta, mana yang harus dihaturkan oleh Pemangku dan mana yang dapat dipersembahkan sendiri. Dalam hal dipergunakannya bantuan Pemangku, maka Pemangku tersebut berfungsi sebagai perantara antara umat yang punya kerja dengan Ida Sang Hyang Widhi dan Ida Bhatara Kawitan/Leluhur. Karena itu tugas Pemangku sering disebutkan sebagai pelayan Ida Sang Hyang Widhi sekaligus pelayan masyarakat. Dalam posisinya sebagai pelayan itulah Pemangku menduduki posisi yang sangat penting dan terhormat.

Mengingat peranan penting tersebut, maka seorang Pemangku diharapkan dapat menjadi panutan, dapat memberi contoh yang baik, bahkan jika mungkin harus dapat menuntun dan membina warga masyarakat untuk bisa lebih mendekatkan dirinya dengan dan selalu ingat kepada keagungan dan kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Itulah sebabnya, maka untuk bisa menjadi Pemangku tidaklah mudah, karena harus dipenuhi berbagai persyaratan.

Aji Pengiwa di Bali antara Mangku dan Balian

Aji Pengiwa di Bali antara Mangku dan Balian

Hampir sebagian besar di antara kita pernah mendatangi praktik Jero balian atau dukun, baik untuk tujuan penyembuhan suatu penyakit, menanyakan sesuatu yang niskala, mencari perlindungan diri, penangkal agar tidak terserang orang secara gaib, bahkan untuk mendapatkan penglaris. Apapun tujuan kita mendatangi jero balian, dan apa pun kemampuan jero balian, tampaknya tidak mudah bagi kita untuk menghindari kepercayaan dunia niskala, yang kita terjemahkan secara sederhana dan sempit, yakni dunia mistik dan gaib.

Dalam kepercayaan permanen itu, suatu penyakit atau musibah selalu dikaitkan dengan gejala ketidak-harmonisan hubungan kita dengan sesama dan alam gaib yang menyebabkan timbulnya suatu penyakit dan musibah, karena itu kita memerlukan bantuan pihak lain, yang dianggap memahami dan dapat mengendalikan kekuatan gaib yang mengganggu kesehatan dan ketentraman hidup kita. Kekuatan gaib itu menyebabkan penyakit dan mendatangkan musibah.