Google+
Tampilkan postingan dengan label Pemangku dan Sulinggih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemangku dan Sulinggih. Tampilkan semua postingan

Mengapa Yoga Meditatif Lebih Disukai Para Rsi?

Mengapa Yoga Meditatif Lebih Disukai Para Rsi?

Jalan Sunyi Para Pencari Kebenaran

Para Ṛṣi bukanlah pendeta megah yang mengatur upacara besar. Mereka hidup di hutan, menyatu dengan alam, dan menyelami batin hingga kedalaman tak terukur. Mereka meninggalkan keramaian, memilih jalan sunyi yang memurnikan kesadaran. Dan dalam jalan itu, mereka tidak membawa dupa, bunga, atau lonceng—mereka membawa dhyāna: meditasi murni. Sebab bagi para Ṛṣi, meditasi adalah satu-satunya jembatan menuju Brahman.


1. Ṛṣi Tidak Mencari Surga, Mereka Mencari Yang Tak Terlahirkan

Banyak ritual Veda ditujukan untuk mencapai svarga atau hasil karma baik. Tapi para Ṛṣi tidak tertarik pada hasil duniawi atau surgawi. Mereka ingin mokṣa, bukan pahala. Dalam Muṇḍaka Upaniṣad 1.2.10, dikatakan:

"parīkṣya lokān karmacitān brāhmaṇo nirvedam āyāt"
"Sang brāhmaṇa yang bijak menyadari bahwa hasil tindakan itu terbatas dan menjadi jenuh karenanya."

Setelah memahami keterbatasan semua ritual, para Ṛṣi berhenti dari ‘melakukan’ dan mulai ‘menyadari’. Maka mereka memilih yoga meditatif, karena hanya melalui kesadaran hening, Brahman bisa dikenal, bukan melalui aktivitas.


2. Meditasi adalah Penglihatan Tanpa Mata

Dalam Kaṭha Upaniṣad 1.3.12, digambarkan bahwa Diri yang sejati hanya bisa disadari oleh batin yang terkendali dan terfokus:

"indriyebhyaḥ parā hy arthāḥ"
“Indra berada di bawah objek, dan di atas semua itu adalah Manas.”

Para Ṛṣi tahu bahwa kebenaran tidak bisa ditemukan di luar, tapi di balik indera, dalam batin yang diam. Maka mereka menutup mata, bukan karena menghindar, tetapi karena ingin melihat lebih dalam.


3. Hanya dalam Meditasi, Ātman dan Brahman Menyatu

Dalam Śvetāśvatara Upaniṣad 2.15, disebutkan:

"yadā hi evaiṣa etasminn ātmani..."
"Ketika ia melihat Sang Purusha melalui kesunyian dalam batin, ia memperoleh keabadian."

Para Ṛṣi tahu bahwa Brahman bukan entitas terpisah, tetapi diri sejati yang terselubung oleh pikiran. Maka dengan yoga meditatif, mereka menyibak tabir-tabir itu—bukan melalui mantra, tetapi dengan diam total.


4. Meditasi Adalah Ritual Batin yang Tak Pernah Usang

Ritual bisa berubah: caranya, bahannya, bahkan kalendernya. Tapi meditasi adalah abadi. Seperti yang disampaikan dalam Bhagavad Gītā 6.19:

"yathā dīpo nivāta-stho neṅgate sopamā smṛtā"
“Seperti nyala api yang tak bergoyang di ruang tanpa angin—begitulah pikiran seorang yogi yang bermeditasi.”

Para Ṛṣi tidak butuh altar. Mereka membuat altar di dalam hati yang tenang. Dan di sanalah, Brahman menyala tanpa suara.


5. Mereka Menjadi Ṛṣi Karena Meditasi, Bukan Sebaliknya

Kata ṛṣi sendiri berasal dari akar kata ṛṣ = melihat (melalui pengetahuan batin). Artinya, yang disebut Ṛṣi bukan orang yang hafal mantra, tetapi yang telah melihat kebenaran melalui intuisi rohani (darśana). Seperti dalam Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad 3.9.26:

"ātmanam paśyati"
“Ia melihat Sang Diri.”

Melihat di sini bukan dengan mata, tapi dengan kesadaran hening. Maka meditasi bukan hanya disukai oleh para Ṛṣi—meditasi adalah yang menjadikan mereka seorang Ṛṣi.


Meditasi adalah Sumber Wahyu, Ritual adalah Warisan

Ritual diwariskan dari Ṛṣi ke manusia. Tapi wahyu yang diterima Ṛṣi lahir dari meditasi, bukan dari tindakan luar. Maka jika kita ingin menjadi penerus ajaran Ṛṣi, jangan sekadar meniru ritualnya—teladani keheningan batinnya.

Meditasi adalah tempat di mana mantra tidak lagi diucapkan, tapi langsung dirasakan. Di mana Tuhan tidak dipanggil, tapi disadari sebagai Diri sendiri.


iti Tingkahing Weda Parikrama

Tingkahing Weda Parikrama

OM AWIGNAM ASTU NAMA SIDEM

I.    PANGAWIT
1 Mekampuh

Om, Ang, Siwa Stiti Ya Namah Swaha
Ong, Tang, Mahadewa Ya Namah Swaha (Wastra)


2. Mesabuk
Ong, Ung, Wisnu Ya Namah Swaha

3. Waseh Pada
Ong, Ang, Kang Kasolkaya Iswara Ya Namah Swaha

4. Waseh Asta
Ong, Hrah Pat Astra Ya Namah

5.  Tak Muhmuh
Ong, Ung, Pat Astra Ye Namah

6. Masila Denapeded
Ong, Ang, Prasada Stiti Sarira, Siwa Suci Nirmala

7. Ungkab Sangwanta
Ong, Ing, Iswara Pretista Jnana Lila Ya Namah Swaha

8. Pehening Budhi
Ong, Ung, Hrah Pat Astra Ya Namah
Ong, Atma Tatwatma Sudamem Swaha
Ong, Ong, Ksama Sampurna Ya Namah Swaha
Ong, Sri Pasupataye Ong Pat
Ong Gring Wosat Ya Namah


Kewenangan Sulinggih (Pandita)

Kewenangan Sulinggih (Pandita)

Status dan wewenang Diksa atau Sang Diksita ( Sulinggih) ada termuat di dalam beberapa pustaka agama Hindu. Di antaranya Sarassamuscaya menguraikan :
Sang apta, sanga sistacara, sang panadahan upadesa
Artinya:
kepada sulinggih ada tiga kekuatan suci pada pribadinya yaitu yang mengetahui  (berilmu tinggi), kehidupan suci dan merupakan tempat orang memperoleh kebenaran / dharma.

Rontal Bhisma Parwa menguraikan bahwa sang pandita wenang muput upakara / yadnya :
Kalinganya kantas kreta dening jnana
Artinya:
pada hakekatnya Karma Yadnya ( upakara) itu dipimpin dan diselesaikan oleh jnana  (ilmu suci keagamaan) atau yang memiliki ilmu keagamaan.

Batas Kewenangan Pinandita

Batas Kewenangan Pinandita

Pindandita yang terdiri dari Jro Mangku, Jro Gde, Wasi, Balian Sonteng adalah tergolong sebagai tingkatan “Eka Jati”. Dalam Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu XIII tahun 1986/1987 yang mengacu kepada hasil Keputusan Mahasabha Hindu Dharma Indonesia II tanggal 02 sampai dengan 05 Desember 1968 menyatakan bahwa :

Memantra dan Puja Mantra Pemangku

Memantra dan Puja Mantra Pemangku

Oṁ sahana vavatu sahana bhunaktu
Saha viryam karavavahai
Tejasvināvaditham āstu mā vidviṣā vahai
Ya Tuhan semoga kami dapat belajar bersama, berkembang bersama, memperoleh pengetahuan bersama. Semoga tidak terjadi suatu kesalahpahaman di antara kami. Dan apabila terjadi sesuatu kesalahan secara sengaja atau tidak sengaja, semoga kami dapat saling memaafkan.

Tetikesan Puja Mantra Pemangku

Dalam melaksanakan puja bhakti kepada Brahman, umat Hindu diberikan kebebasan untuk dapat mewujudkan bentuk Śraddhā tersebut. Secara umum bentuk Bhakti umat Hindu dapat dilakukan dengan menggunakan: mantra, yantra, tantra, yajña, dan yoga. 

Kursus Pemangku

Kursus Pemangku

Jro Mangku muput banten
Jro Mangku
merupakan pelatihan tentang kepemangkuan yang diselenggarakan oleh Yayasan Taman Bukit Pengajaran.

Kursus ini bertujuan memperluas pemahaman dan pengetahuan bagi masyarakat umum, para Mangku dan calon Mangku.

Pelajaran yg akan diberikan :

  • Tatwa Agama, 
  • sesana/swadarmaning pemangku, 
  • upacara/upakara, 
  • wariga, 
  • gegelaran Pemangku (tentang tata cara pemujaan dan mantram dalam melaksanakan upacara yadnya/muput upacara), 
  • Yoga Asuci Laksana (praktek yoga untuk meningkatkan kwalitas kesucian diri dan kerahayuan).

Jro Mangku sebutan untuk Pemangku

Jro Mangku sebutan untuk Pemangku

Pada umumnya kita di Bali mendengar kata pemangku (Jro Mangku) memang hal yang sudah biasa, namun perlu kita ketahui apakah yang terkandung tersirat dari makna kata yang terkandung didalamnya pada bagian ini kita akan bahas dari beberapa sumber yang menyebutkan makna dari kata pemangku. 

Menurut Lontar Widhi Sastra kata pemangku diuraikan menjadi:

  • ‘Pa’, bermakna “Pastika pasti”, yang artinya paham akan hakikat kesucian,
  • ‘Mang’ bermakna “Weruh ring titining Agama” artinya paham mengenai pelaksanaan ajaran Agama. Mengingat ‘Mang’ sebagai suku kata aksara suci Dewa Iswara atau Siwa sendiri sebagai guru niskala bagi warga desa, beliau juga dijuluki sebagai Sanghyang Ramadesa. 
  • ‘Ku’ bermakna “Kukuh ring Widhi” yang artinya teguh dan konsisten berpegangan kepada Tuhan/ Ida Sanghyang Widhi.

Kemudian dari kata Widhi, diperoleh suku kata ‘di’ yang artinya “dina” (hari), dari kata ‘dina’ diperoleh suku kata ‘na’ artinya “amertha” (sumber kehidupan) dari kata amertha diperoleh suku kata ‘ta’ artinya “toya” (air), dari kata toya diperoleh suku kayaa ‘ya’ artinya “jati jatining kaweruhan ring kahananing bhuana agung muang bhuana alit (hakikat pengetahuan mengenai bhuana agung dan bhuana alit).


Dalam Lontar Sukretaning Pamangku, dinyatakan bahwa pemangku adalah perwujudan I Rare Angon (Dewa Gembala/Pengangon) yang merupakan perwujudan dari Dewa Siwa seperti dinyatakan sebagai berikut” ‘Ikang sukretaning pamangku ring khayangan, wnang tegesin pamangku kawruhakena kang mawak pamangku ring sariranta. I Rare Angon mawak pamangku ring sariranta’.

Pawintenan Pemangku

Pawintenan Pemangku

Pawintenan atau Mawinten berasal dari kata “mawi” dan “inten”.

  • Mawi adalah kata bahasa Kawi yang berarti bersinar,
  • Inten berarti intan atau permata. 

Dengan demikian, maka orang yang sudah mawinten diibaratkan sebagai permata yang berkilauan karena lahir batinnya sudah disucikan.
Mengapa perlu disucikan?
Sebagai pelayan Ida Sang Hyang Widhi sekaligus pelayan masyarkat, seorang Pemangku harus bertanggung jawab atas kesucian Pura yang diemongnya. Karena itu sebelum diresmikan sebagai Pemangku, seseorang yang ditunjuk atau dipilih menjadi Pemangku terlebih dahulu harus disucikan dengan cara menjalani upacara penyucian diri yang dinamakan Upacara Pawintenan.

Cara Memilih Pemangku

Cara Memilih Pemangku

sebelum memilih seorang Pemangku/Mangku, kita wajib mengetahui, siapa yang boleh menjadi Pemangku.
Pemangku sebagai pelayan Ida Sang Hyang Widhi hendaknya dipilih dari umat yang memiliki budhi luhur, moral dan mental yang tinggi. 
Seorang calon Pemangku hendaknya memiliki jiwa pengabdian yang tulus dan ikhlas serta selalu siap untuk ngayah tanpa memikirkan imbalan apapun. 
Jabatan Pemangku seyogyanya tidak dijadikan sebagai tameng untuk menutupi kelemahan pribadinya yang sesungguhnya kurang baik, sehingga dapat menjadi orang terpandang di masyarakat. Kalau ternyata ada yang bertindak seperti itu, maka yang bersangkutan dapat dikatakan sebagai penipu masyarakat. Karmaphala buruk yang harus ditanggung dikemudian hari tentu akan menjadi lebih besar lagi. 

Demikianlah, maka untuk menetapkan seseorang untuk menjadi Pemangku tidaklah sembarangan.

Yang boleh dipilih menjadi Pemangku adalah mereka yang benar-benar memenuhi syarat. 

Peranan Pemangku dalam Masyarakat Adat Bali

Peranan Pemangku dalam Masyarakat Adat Bali

Pemangku mempunyai peranan yang sangat penting dalam masyarakat beraagama Hindu. 
Dikatakan penting karena setiap upacara atau yajna, sepanjang tidak mempergunakan Sulinggih, maka Pemangkulah yang diminta bantuannya untuk nganteb upakara (banten). Memang tidak semua upacara harus diselesaikan oleh Pendeta dan/atau Pemangku, sebab ada pula upacara-upacara kecil yang tidak mempergunakan jasa Sulinggih maupun Pinandita. 

Pada umumnya masyarakat sudah memahami tradisi dan kebiasaan, mana upacara yang harus dipuput oleh Pendeta, mana yang harus dihaturkan oleh Pemangku dan mana yang dapat dipersembahkan sendiri. Dalam hal dipergunakannya bantuan Pemangku, maka Pemangku tersebut berfungsi sebagai perantara antara umat yang punya kerja dengan Ida Sang Hyang Widhi dan Ida Bhatara Kawitan/Leluhur. Karena itu tugas Pemangku sering disebutkan sebagai pelayan Ida Sang Hyang Widhi sekaligus pelayan masyarakat. Dalam posisinya sebagai pelayan itulah Pemangku menduduki posisi yang sangat penting dan terhormat.

Mengingat peranan penting tersebut, maka seorang Pemangku diharapkan dapat menjadi panutan, dapat memberi contoh yang baik, bahkan jika mungkin harus dapat menuntun dan membina warga masyarakat untuk bisa lebih mendekatkan dirinya dengan dan selalu ingat kepada keagungan dan kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Itulah sebabnya, maka untuk bisa menjadi Pemangku tidaklah mudah, karena harus dipenuhi berbagai persyaratan.

Mangku dan Kepemangkuan

Mangku dan Kepemangkuan

Dalam Agama Hindu seorang Pemangku atau Pinandita dinyatakan sebagai rokhaniawan. Rokhaniawan artinya orang yang rokhani atau jiwanya telah disucikan. Karena itu sebagai rokhaniawan, seorang Pemangku seyogyanya mendalami pengertian rokhaniawan, sehingga yang bersangkutan bisa menempatkan diri dan melaksanakan tugas pekerjaannya sesuai dengan tingkat kesuciannya. Berdasarkan tingkat penyuciannya, rokhaniawan Hindu dapat dibedakan dalam dua golongan yaitu :

  • Rokhaniawan yang termasuk dalam golongan atau tingkatan Dwijati seperti Pedanda, Pandita, Sri Bhagawan, Empu, Rsi dan lain-lain yang pada umumnya dinamakan Sulinggih.
  • Rokhaniawan yang termasuk dalam golongan atau tingkatan Ekajati seperti Pemangku, Balian, Mangku Dalang dan lain-lain

Disamping dua golongan tersebut diatas sesungguhnya masih ada satu golongan rokhaniawan yang ketiga yaitu termasuk dalam golongan atau tingkatan Trijati. Yang dimaksud dengan golongan Trijati adalah para sulinggih yang telah berkedudukan sebagai Guru Nabe. Mereka ini dipandang sebagai lahir tiga kali, yakni dari Ibu, dari ilmu pengetahuan dan kemudian diangkat menjadi Guru Nabe. Beliau mempunyai wewenang untuk meningkatkan sisyanya dari calon Pendeta menjadi Pendeta dalam tingkatan Dwijati.

Lontar Soda Siwakerana

Lontar Soda Siwakerana

Om Swastiastu
Om Awignhamastu Nama Siddham
ini merupakan lontar yang berisikan bebantenan pecaruan yang bisa dipakai sebagai pedoman, disesuaikan dengan desa kala patra, dan artikel salinan lontar ini banyak mengandung inti falsafah hindu.

"nihan soda siwakerana ngarania, maka pangeleburan ulah salah muwang ala, muah idep laksana nora ulah. iki wenang maka ngalebur serana toya mawadah payuk 16 siki, maisi sarwa wangi, ika pinuja dening wiku anuju dina ayu muwang rahina wenginia.
bebantenia: suci asoroh mantuk ring sang amuja (wiku), canang lenga-wangi, burat wangi, genahang wing pamujan.
banten sang malukat: 
sesayut pengambiyan, peras panyeneng, jerimpen, panyegjegan, pangulapan, dapetan, tulung agung, perayascita, daksina agung, artaniya: 4.000 (nista), 8.000 (madya) utawi 16.000 (utama).
ring wong anggarabawos miwah ring wong paguru; 10.000 (nista), 20.000 (madya) utawi 40.000 (utama).
ring wong aparayoya; 20.000 (nista), 40.000 (madya) utawi 80.000 (utama).
muwah sang amuja, ring sang kapijain japa mantra tan norani sayogya, sama wera, ila-ila (ile-ile) palaniya, pada upadrawannia de Sang Hyang Sastra muwang Sang Nugraha.
mekadi sang Wiku muwah sang Prabu, pada kautamania, wenang angango tanpa banten, rika masurya sawana ginawe.
manih sang wiku yogya yan ayun atulung ring catur janma, amungel sesantunnia kadi nguni. kewala bantenia den jangkep kadi nguni, muwah sesantun artania 1700.
iki pijania, mantra watek dewata maider:

  • iswara astawa purwa setanannia
  • gni astawa,


demikian sekilas tentang lontar Soda Siwakerana. semoga bermanfaat.