Penafsiran Ulang Sloka tentang Wanita dalam Sarasamuccaya
Oleh : Drs Wayan Suwira Satria, MM
(Puket III STAH DNJ, Dosen Filsafat Timur UI )
Sebelum kita mempergunakan teori Gadamer menginterpretasikan sloka-sloka ini, maka pertama tama kita pergunakan teks Sarasamuccaya dalam bahasa Jawa Kuno yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Nyoman Kadjeng dkk. Alasannya adalah oleh karena teks Jawa Kuno kita tidak menemukan siapa penterjemahnya dari bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Jawa Kuno. Oleh karena Nyoman Kadjeng menterjemahkannya dari bahasa Jawa Kuno ke dalam bahasa Indonesia, maka mulai dari sinilah kita akan melakukan upaya-upaya penafsiran ulang sloka-sloka tersebut.
Berbicara masalah teori interpretasi Gadamer, kita mempertanyakan maksud apa yang terkandung dari penuturnya (Waisampayana), penulisnya (Wararuci), penterjemahnya ke dalam bahasa Jawa Kuno (Anonim), dan penterjemahnya ke dalam bahasa Indonesia, sesuai dengan perkembangan horisonnya masing-masing, dalam rentang waktu dan tempat yang berbeda-beda. Waisampayana adalah penutur nilai-nilai, sari-sari dari Mahabharata, ditujukan kepada pendengarnya Janamejaya, cucu Arjuna. Sebagai penerus dinasti Pandawa yang sangat diharapkan dapat membawa kerajaan dengan seluruh rakyatnya, laki perempuan tua muda menikmati kesejahteraan dan kebahagiaan lahir dan batin dan mendapatkan kesempatan dan peluang secara adil, agar tidak terulang kembali prahara Bharata Yuda seperti leluhurnya dulu. Inilah merupakan horison berpikir dari penutur dan penulis (Bhagavan Wararuci) serta teks Sarasamuccaya di masa lalu.