Google+
Tampilkan postingan dengan label kemuliaan wanita hindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kemuliaan wanita hindu. Tampilkan semua postingan

Peranan Ibu wujudkan Keluarga Bahagia

Peranan Ibu wujudkan Keluarga Bahagia

Peran Ibu dalam membangun Keluarga yang Bhawantu Sukhinah
"Jika ibu wajahnya selalu memancarkan keceriaan,seluruh rumah tangga berbahagia,

tetapi jika wajahnya cemberut, semuanya akan kelihatan suram" Manavadharmasastra, III.62.
Tanggal 22 Desember setiap tahun bangsa Indonesia memperingati hari Ibu sebagai penghormatan atas jasanya kepada putra-putrinya yang telah melahirkan bangsa ini. 

Bila kita membicarakan ibu, maka perhatian kita pada sebuah keluarga (keluarga inti) yang terdiri dari ibu, bapak dan anak-anak. Keluarga merupakan tahapan hidup yang kedua bagi setiap orang. 
Tahapan yang pertama disebut Brahmacari, yakni menuntut ilmu pengetahuan selaras pula dengan perkembangan jasmani dan rohani manusia. Ketika ia mencapai kematangan jasmani dan rohani, mereka memasuki kehidupan berumah tangga yang disebut Grahasthasrama. Kehidupan keluarga ini dimulai dengan upacara perkawinan (Vivaha). 
Perkawinan tanpa upacara ( Vivaha tan sinangarkara) tidak dibenarkan dalam agama Hindu dan diyakini sebagai dosa yang membuat kehancuran rumah tangga dan masyarakat.

Penafsiran Ulang Sloka tentang Wanita dalam Sarasamuccaya

Penafsiran Ulang Sloka tentang Wanita dalam Sarasamuccaya

Oleh : Drs Wayan Suwira Satria, MM (Puket III STAH DNJ, Dosen Filsafat Timur UI )
Sebelum kita mempergunakan teori Gadamer menginterpretasikan sloka-sloka ini, maka pertama tama kita pergunakan teks Sarasamuccaya dalam bahasa Jawa Kuno yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Nyoman Kadjeng dkk. Alasannya adalah oleh karena teks Jawa Kuno kita tidak menemukan siapa penterjemahnya dari bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Jawa Kuno. Oleh karena Nyoman Kadjeng menterjemahkannya dari bahasa Jawa Kuno ke dalam bahasa Indonesia, maka mulai dari sinilah kita akan melakukan upaya-upaya penafsiran ulang sloka-sloka tersebut.

Berbicara masalah teori interpretasi Gadamer, kita mempertanyakan maksud apa yang terkandung dari penuturnya (Waisampayana), penulisnya (Wararuci), penterjemahnya ke dalam bahasa Jawa Kuno (Anonim), dan penterjemahnya ke dalam bahasa Indonesia, sesuai dengan perkembangan horisonnya masing-masing, dalam rentang waktu dan tempat yang berbeda-beda. Waisampayana adalah penutur nilai-nilai, sari-sari dari Mahabharata, ditujukan kepada pendengarnya Janamejaya, cucu Arjuna. Sebagai penerus dinasti Pandawa yang sangat diharapkan dapat membawa kerajaan dengan seluruh rakyatnya, laki perempuan tua muda menikmati kesejahteraan dan kebahagiaan lahir dan batin dan mendapatkan kesempatan dan peluang secara adil, agar tidak terulang kembali prahara Bharata Yuda seperti leluhurnya dulu. Inilah merupakan horison berpikir dari penutur dan penulis (Bhagavan Wararuci) serta teks Sarasamuccaya di masa lalu.

Wanita, dibalik keindahan fisik dan Intelektualitas

Wanita, dibalik keindahan fisik dan Intelektualitas

Seiring berputarnya roda waktu dan seiring bergulirnya peristiwa demi peristiwa, banyak sekali terjadi perubahan-perubahan pemikiran. Salah satunya adalah konsep pemahaman tentang peran wanita dalam kehidupan. Wanita merupakan sosok yang tak akan lepas dari sandiwara kehidupan ini. Jika tak ada wanita mungkin tidak ada benih kehidupan. Jika tidak ada wanita mungkin tidak akan pernah ada bunga yang berkembang memperindah kehidupan dan jika tidak ada wanita mungkin juga tidak akan ada pria yang memenuhi penjara atas kasus pelecehan terhadap wanita atau kekerasan dalam rumah tangga. Wah, ternyata begitu besar peran wanita untuk dunia.

Masih ingat sosok R.A. Kartini? 
Pastilah kaum wanita Indonesia ingat. Atas jasa besarnya, wanita Indonesia bisa berlenggang kangkung mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Sejak itu terngianglah kata-kata emansipasi wanita. Emansipasi berarti persamaan derajat dengan pria dalam hal kebebasan menjalani kehidupan, bebas mengenyam pendidikan sampai bebas memilih pasangan hidupnya masing-masing.

Kemuliaan Seorang Wanita, Istri dalam Agama Hindu

Kemuliaan Seorang Wanita, Istri dalam Agama Hindu

kemuliaan wanita dan seorang istri dalam ayat - ayat suci hindu

Sifat sifatnya wanita yang patut ditumbuh kembangkan adalah yang menjalankan dharma sebagai ibu pertiwi yang sopan, cerdas, maadiri, percaya diri dan sebagai pengayom keluarga dan lingkungannya.

Wanita berasal dari Bahasa Sanskrit, yaitu Svanittha,

di mana kata:
  • Sva artinya “sendiri”, dan 
  • Nittha artinya “suci”.
Jadi Svanittha artinya “mensucikan sendiri” kemudian berkembang menjadi pengertian tentang manusia yang berperan luas dalam Dharma atau “pengamal Dharma”. 
Dari sini juga berkembang perkataan Sukla Svanittha yang artinya “bibit” atau janin yang dikandung oleh manusia, dalam hal ini, peranan perempuan. 

Wanita sangat diperhatikan sebagai penerus keturunan dan sekaligus “sarana” terwujudnya Punarbhava atau re-inkarnasi, sebagai salah satu srada (kepercayaan/ keyakinan) Hindu. wanita mulia adalah yang menarik perhatian, unggul, baik hati, bercahaya, dan lain-lain. Ada pula yang mengatakan bahwa wanita mulia terlihat dan berbagai warna, mulia, berseri, jernih, indah, sedap, sebagai gambar, rupa, sosok. Mengacu pada pemikiran diatas, menurut analisis penulis, bahwa yang dimaksud dengan wanita mulia adalah penggambaran sosok wanita yang unggul secara pribadi, cantik, menarik secara phisik, wanita ideal yang didambakan oleh semua manusia.

Posisi Wanita dalam Agama Hindu

Posisi Wanita (Perempuan) dalam Agama Hindu

Wanita merupakan sesuatu yang senantiasa menarik untuk dibicarakan. Tentu tidak sedikit segi yang menarik dapat diangkat sebagai bahan pembicaraan, salah satu diantaranya adalah perihal kerahasiaan sifat yang melekat dalam sebutan wanita itu sendiri. Sejalan dengan itu, terungkap kecenderungan pola sikap da piker wanita dalam rangka mempertahankan pesona diri, yakni kemampuan menjaga sesuatu hal yang bersifat misteri pada dirinya.

Wanita dalam pandangan agama Hindu memiliki peranan yang tidak terpisahkan dengan kaum pria dalam kehidupan masyarakat dari jaman ke jaman. Sejak awal peradaban agama Hindu yaitu dari jaman Veda hingga dewasa ini wanita senantiasa memegang peranan penting dalam kehidupan. Hal ini tidak mengherankan bila ditinjau dari konsepsi ajaran agama Hindu dalam Siwa Tattwa yang mengatakan adanya kehidupan makhluk terutama manusia karena perpaduan antara unsure suklanita dan swanita. Tanpa swanita tak mungkin ada dunia yang harmonis. Demikianlah pentingnya kedudukan wanita dalam kehidupan ini.

dilema seorang wanita - Bisa Menjadi Sumber Sial

Wanita Bisa Jadi Sumber sial

wanita cantik penuh misteri
menikah tentu banyak pertimbangan, disamping dewasa ayu, pertalian dengan wanita yang menjadi pilihan menjadi istripun sangat menentukan masa depan kelangsungan keluarga yang akan dibina. pasalnya ada beberapa jenis perempuan yang dikatakan kurang baik untuk dinikahi.

perkawinan pada hakekatnya perbuatan mulia dan penuh tanggung jawab, selain karena adanya kesaksian masyarakat, warga lingkungan tempat tinggal serta keluarga (manusa saksi) juga kesaksian terhadap Tuhan (dewa saksi). kesaksian ini meyakinkan sekaligus mengukuhkan bahwa kedua orang mempelai (laki dan perempuan) tersebut mengikatkan dirinya menjadi pasangan suami istri. tetapi bila salah memilih pasangan wanita, konon jutru menyebabkan perkawinan tersebut "panas" atau gagal.

kemuliaan wanita dan seorang istri dalam ayat - ayat suci Hindu

kemuliaan wanita dan seorang istri dalam ayat - ayat suci hindu

Sifat sifatnya wanita yang patut ditumbuh kembangkan adalah yang menjalankan dharma sebagai ibu pertiwi yang sopan, cerdas, maadiri, percaya diri dan sebagai pengayom keluarga dan lingkungannya.

Wanita berasal dari Bahasa Sanskrit, yaitu Svanittha,

di mana kata,
  • Sva artinya “sendiri”, dan 
  • Nittha artinya “suci”. 
Jadi Svanittha artinya “mensucikan sendiri” kemudian berkembang menjadi pengertian tentang manusia yang berperan luas dalam Dharma atau “pengamal Dharma”. 
Dari sini juga berkembang perkataan Sukla Svanittha yang artinya “bibit” atau janin yang dikandung oleh manusia, dalam hal ini, peranan perempuan.
Wanita sangat diperhatikan sebagai penerus keturunan dan sekaligus “sarana” terwujudnya Punarbhava atau re-inkarnasi, sebagai salah satu srada (kepercayaan/ keyakinan) Hindu.
Wanita mulia adalah yang menarik perhatian, unggul, baik hati, bercahaya, dan lain-lain. Ada pula yang mengatakan bahwa wanita mulia terlihat dan berbagai warna, mulia, berseri, jernih, indah, sedap, sebagai gambar, rupa, sosok.
"Mengacu pada pemikiran diatas, menurut analisis penulis, bahwa yang dimaksud dengan wanita mulia adalah penggambaran sosok wanita yang unggul secara pribadi, cantik, menarik secara phisik, wanita ideal yang didambakan oleh semua manusia.