Google+

Minggu, 14 Maret 2010

kanda Pat - Saudara Kandung Manusia

Kanda pat yang merupakan saudara yang akan menemani manusia sejak lahir hingga meninggal nanti.

Kanda Pat adalah Empat Teman: Kanda = teman, Pat = empat, yaitu kekuatan-kekuatan Hyang Widhi yang selalu menyertai roh (Atman) manusia sejak embrio sampai meninggal dunia mencapai Nirwana.

Menurut Kitab Suci Lontar Tutur Panus Karma, nama-nama Kanda Pat berubah-ubah menurut keadaan/ usia manusia:

Kanda Pat Rare;

Embrio; Karen, Bra, Angdian, Lembana.
Kandungan 20 hari; Anta, Prata, Kala, Dengen.
Kandungan 40 minggu; Ari-ari, Lamas, Getih, Yeh-nyom.
Lahir, tali pusar putus; Mekair, Salabir, Mokair, Selair.

Kanda Pat Butha;
Bayi bisa bersuara; Anggapati, Prajapati, Banaspati, Banaspatiraja.



Kanda Pat Sari;
14 tahun; Sidasakti, Sidarasa, Maskuina, Ajiputrapetak.
Bercucu; Podgala, Kroda, Sari, Yasren.

Kanda Pat Atma;
Meninggal dunia; Suratman, Jogormanik, Mahakala, Dorakala.

Kanda Pat Dewa;
Manunggal (Moksa); Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa, Suniasiwa.



Bentuk-bentuk kandapat yang dapat dilihat dan diraba secara nyata adalah ari-ari, lamas, getih dan yeh-nyom. Setelah mereka dikuburkan (segera setelah bayi lahir) maka perubahan selanjutnya adalah abstrak (tak berwujud) namun dapat dirasakan oleh manusia yang kekuatan bathinnya terpelihara.

Bagan di atas dapat juga dibaca terbalik dengan pengertian sebagai berikut:
Hyang Widhi mewujudkan diri menjadi empat manifestasi, kemudian keempatnya itu yaitu:
  1. Hyang Siwa selanjutnya mewujudkan dirinya menjadi ari-ari
  2. Hyang Sadasiwa mewujudkan diri sebagai lamas
  3. Hyang Paramasiwa mewujudkan diri menjadi getih, dan
  4. Hyang Suniasiwa mewujudkan diri menjadi Yeh-nyom.
Keempat teman yang abstrak ini menyertai terus sampai manusia mati dan rohnya menghadap ke Hyang Widhi. Mereka juga menjaga dan melindungi roh, serta mencatat sejauh mana atman (roh) terpengaruh oleh indria keduniawian. Semua pengalaman hidup di record oleh Sang Suratman yang dahulu berbentuk ari-ari. Inilah catatan subha dan asubha karma yang menjadi penilaian dan pertimbangan kesucian roh untuk menentukan tercapainya moksa (bersatunya atman-brahman) ataukah samsara (menjelma kembali). Kandapat ada dalam diri/ tubuh manusia, namun ketika tidur, kandapat keluar dari tubuh. Maka mereka perlu dibuatkan pelinggih berupa "pelangkiran" di kamar tidur, tempat bersemayamnya kanda pat ketika kita tidur pulas.

By http://esotericworlds.blogspot.com

3 komentar:

  1. Om swastiastu tiang nengah sxxxxx tiang jagi nakenang tiang jagi melajahang rage indik kanda pat punike nanging tiang ten mdue guru pengajian, nah sane mangkin napi dados melajahang dewek wantah sakeng mace tanpa bimbingan sakeng guru . . . ?
    Wantah asapunike dumun suksma om shanti shanti shanti om

    BalasHapus
    Balasan
    1. simpang maten ke yayasan tyg nggih..

      Hapus
  2. becik nike bli nengah..
    ajaran niki ten je perlu guru sane jakti wikan..
    nanging perlu praktek..
    lanjut manten... mogi nemu kesujatian rage

    BalasHapus