Google+

Senin, 10 Mei 2010

JAPA - Menyebut Nama Tuhan

JAPA MALA RUDRAKSA (TASBIH GENITRI) Menyebut Nama Tuhan

Manusia diciptakan memiliki unsur pembentuk yang sama dengan makhluk lainnya, baik dengan tumbuhan maupun hewan, bahkan dengan mahkluk terkecil sekalipun. Semua mahkluk dibentuk oleh 5 (lima) unsur utama ; Tanah, Air, Api, Udara dan Akasa (ruang hampa), sama persis dengan unsur2 utama yang membentuk alam semesta.

Lalu apa yang membedakan manusia dari mahkluk lainnya?

hanya satu kelebihan manusia, yaitu dilengkapi dengan tenaga hidup - Hati Nurani (Budhi). Tumbuhan hanya memiliki satu tenaga yaitu Bayu, tenaga untuk tumbuh dan berkembang secara biologis. Binatang dianugrahi Tenaga Bayu dan Suara (sabda). Suara yang membuat binatang mampu berkomunikasi satu sama lainnya. Hanya manusia yang memiliki Budhi. Dengan budhi manusia memiliki kebebasan luas untuk mengetahui dan menetapkan baik dan kurang baik. Dengan budhi pula manusia mampu meningkatkan spiritualitas mendekati kesempurnaan, tapi sekaligus budhi yang tertutup membuat manusia jatuh pada jurang kenestapaan lahir dan bathin.

Pada jaman yang berkembang sangat cepat, baik secara budaya maupun teknologi, banyak kesenangan duniawi yang mampu memanjakan kepuasan indera manusia. Kesenangan duniawi ini semakin menjauhkan manusia dari harkatnya untuk menjadi MANUSIA. Karena sibuk mencari kepuasan diluar dirinya, manusia lupa menghargai (respect) dirinya sendiri, lupa dengan kemanusiaannya.

Disela-sela itu, ada satu dua tersembul pelatihan-pelatihan meditasi dan spiritual yang mampu mencuri perhatian sebagian kecil populasi manusia. Beberapa gelintir manusia itu sibuk mencari kedalam dirinya sendiri, mencari sesuatu yang tidak mungkin ditemui jawabannya. Tapi paling tidak, mereka mulai menghargai dirinya sendiri. Mulai mengkonsumsi benda2 yang memang secara natural hanya yang dibutuhkan saja. Mulai belajar melihat mahluk lain tak ada bedanya dengan dirinya. Mulai belajar lebih banyak memberi kepada lingkungan, daripada merampasnya.

Ada satu cara ampuh yang mampu mengendalikan perilaku manusia, mengarahkan Hati Nurani (budhi) selalu terjaga, baik pada saat menghadapi kebahagiaan yang luar biasa, maupun pada saat menghadapi godaan yang menyesatkan, yaitu Menyebut Nama Tuhan. Bagaimana caranya supaya selalu berpikir yang baik, selalulah menyebut nama Tuhan. Bagaimana caranya supaya selalu berkata dan berbuat yang sesuai dengan nilai2 kemanusiaan, selalulah menyebut nama Tuhan. Bagaimana caranya mengendalikan sifat rakus pada saat menerima rejeki yang berlimpak, selalulah menyebut Nama Tuhan.

Puji dan Syukur dalam tarikan nafas, selalu bersama Tuhan pada setiap langkah merupakan senjata pemungkas yang sangat ampuh untuk menghadapi segala macam hambatan pada jaman kaliyuga ini. Mari biasakan ber Japa, menyebut nama Tuhan berulang-ulang. Semoga Tuhan selalu menyertai, menuntun kita pada Cinta Kasih Sejati.


PENGENALAN DAN ETIKA JAPA MALA
  • JAPA = mengulang-ulang kata suci atau bertuah atau mantra. Mengulang tersebut dilakukan hanya dalam ingatan (mental) yang disebut manasika japa, dengan berbisik disebut upamsu japa, dengan bersuara yang terdengar maupun keras disebut wacika japa, dan ada juga dilakukan dengan gerakan atau tulisan/gambar. 
  • MALA = rangkaian biji-bijian, batu, permata, mutiara, mute, merjan, spatika, atau butiran yang terbuat dari keramik, gelas, akar lalang, kayu, seperti kayu tulasi tulsi) dan cendana. Kata mala juga padanan kata tasbih dan rosary. Tasbih yang utama adalah tasbih yang terbuat dari rangkaian biji buah rudraksa. 
  • RUDRAKSA = rudra berarti Siwa dan aksa berarti mata, sehingga arti keseluruhannya berarti mata Siwa, yang sejalan dengan mitologinya bahwa di suatu saat air mata Siwa menitik, kemudian tumbuh menjadi pohon rudraksa menyebar di Negeri Bharatawarsa dan sekitarnya, Malaysia bahkan sampai ke Bumi Nusantara, yang popular dengan nama GANITRI atau GENITRI. Dalam bahasa latinnya disebut ELAEOCARPUS GANITRUS. Ada tiga macam jenis ganitri dan 4 jenis agak berlainan yang dinamai KATULAMPA. 
  • RUDRAKSA = adalah buah kesayangan Siwa dan dianggap tinggi kesuciannya. Oleh karena itu rudraksa dipercaya dapat membersihkan dosa dengan melihatnya, bersentuhan, maupun dengan memakainya sebagai sarana japa (Siva Purana). Sebagai sarana japa atau dapat dipakai oleh seluruh lapisan umat atau oleh ke-empat warna umat, maupun oleh pria atau wanita tua ataupun muda.

Selain pengaruh spiritual/religius tersebut, kepada pemakai rudraksa juga dapat memberikan efek biomedis dan bio-elektomagnetis (energi), secara umum dapat dikatakan dapat memberi efek kesehatan, kesegaran maupun kebugaran. Hal ini terungkap dari buku tentang penyhelidikan secara mendalam terhadap keistimewaan rudraksa tersebut di India.

Untuk mendapat daya-guna sampai maksimal, tentu harus memenuhi etika dan syarat, apalagi untuk memperoleh manfaat-manfaat khusus, berkenaan dengan sifat-sifat tertentu yang dimiliki rudraksa sesuai dengan bentuk, rupa serta jumlah mukhi (juringan)-nya. Secara umum dapat disebutkan bahwa rudraksa harus tidak dipakai / dibawa ke WC, melayat, turut kepemakaman/crematorium, dan tidak dalam keadaan cuntaka (sebel), maupun sebel pada diri wanita.

Sebelum dimanfaatkan sebaiknya tasbih genitri itu dipersembahkan di pura, kemudian dimohonkan keampuhannya denagan diperciki tirtha, yang berarti pemakaiannya melalui prosedur ritual. Hal itu ditempuh karena ber-japa dengan tasbih genitri bukan sekedar untuk menghitung-hitung, memakai rangkaian japa-mala rudraksa juga bukan sekedar asesori atau sebagai atribut status quo. Dengan ritual itu ingin dicapai kemantapan bathin yang berdimensi magis, dan memperlakukan japa-mala-rudraksa itu sebagai sarana sakral, di samping untuk kesehatan.

Yang dimaksud dengan etika berjapa, adalah termasuk hal-hal yang akan disebutkan berikut ini. Selama berjapa jagalah jangan sampai bagian bawah tangkainya terkulai begitu saja, apalagi sampai menyentuh tanah. Untuk itu perlu tangan kanan yang meniti butir genitri terangkat setinggi ulu hati dan bagian yang terjuntai ditadah dengan telapak tangan kiri. Ada juga dianjurkan, agar selama berjapa rangkaian rudraksa itu diperlakukan tertutup, bahkan diperlakukan dalam kantung khusus.

Melakukan japa dengan tasbih genitri sebaiknya dengan sikap bathin yang tenang, serta terpusatkan pada tujuan mantra, selagi ibu jari tangan kanan menggerakkan mala dibantu jari tengah dan satu persatu biji rudraksa itu akan melangkahi bagian ujung jari manis.

Jari telunjung maupun jari kelingking tidak diberikan tugas dan tidak menyentuh biji rudraksa.

Mala yang terdiri dari 108 biji rudraksa diuntai dengan benang katun/kapas, memiliki puncak yang diberi nama MERU. Rangkaian Japamala rudraksa ada juga diuntai dengan kawat, bahkan deberi berbagai variasi seperti emas, perak, tembaga, manik-manik yang berwarna-warni sesuai dengan “warna” pemakainya.

Melakukan japa mulai dari mala pertama di bawah Meru.... dan terus berakhir pada mala yang ke 108 (terakhir). Kalau hendak melanjutkan lagi, maka mala yang terakhir tadi dianggap yang pertama digerakkan kembali (balik) arah, pantang melewati/menyebrangi Meru. Demikianlah berulang-ulang bolak-balik sampai mencapai jumlah yang dikehendaki.

MANTRA UNTUK BERJAPA

Kebiasaan berjapa dengan mala atau tasbih bagi umat Hindu di Indonesia nyaris tak dikenal, kecuali dikenal hanya dikalangan sulinggih yang memakainya sebagai pelengkap atribut dalam berpuja. Bahkan dikalangan beberapa generasi Hindu. Jika melihat umat agama lain sedang berjapa dengan mala/tasbih, tidak merasakan bahwa berjapa itu merupakan tradisi miliknya juga. Barulah pada penghujung abad XX ini, umat Hindu Indonesia melebarkan cakrawalanya terutama ke pusat kelahiran agama Hindu, dapat memungut kembali butir-butir Japa-mala yang sudah lama tercecer untuk dimanfaatkan kembali. Tidaklah berlebihan disebutkan di sini, bahwa kini sudah saatnya umat Hindu mengambil manfaat ber-japa dengan mala terutama yang terbuat dari rudraksa atau genitri.
MANTRA adalah kata suci atau bertuah yang dapat memberi pengaruh atau getaran yang bersifat magis, apabila disebutkan maupun dijapakan, baik secara ingatan (mansika), berbisik (upamsu), maupun dengan ucapan (wacika). Kata ataupun kata-kata bertuah itu antara lain:
  • BIJA AKSARA = Yang disebut juga BIJA MANTRA, adalah huruf,atau suku kata, ataupun unsur suku kata itu sendiri yang tak terpisahkan dari tuahnya yang bergetar abadi 
  • NAMA-NAMA TUHAN = Bukan Tuhannya yang banyak. Tuhan hanya satu, tiada duan-Nya, Melainkan Brahman para cendekia yang bijaksana menyebut dengan berbagai nama. 
  • PUJA STAWA = yang juga memiliki “nilai” mantra. 
  • MANTRA-MANTRA: Dengan memperbandingkan Bija aksara yang kita sudah dikenal dari dulu di Indoenesia dengan Bija mantra yang tersebut dalam buku-buku terbitan India boleh jadi Bija aksara itu juga bisa dipakai untuk mantra-mantra dalam ber-japa- mala.Yang jelas adalah Pranawa OM, Ongkara itu sendiri sebagai Udgita, disamping yang lain-lain seperti: dwi aksara/rwa bhineda, tri aksara, panca aksara, dasa aksara, dasa aksara-bayu dan bija aksara lain yang menjadi pegangan para Husadawan. Ketidak tegasan ini tentu akibat dari pada “tidak” atau “belum” terbiasanya umat Hindu di Indonesia ber-japa-mala.

Tanpa bermaksud meremehkan diri, baiklah kita kutipkan beberapa mantra dari buku-buku terbitan India.
  • OM : Tuhan itu sendiri, merupakan sumber serta asal muasal yang ada, sehingga wajib kita mendekatkan diri kepadaNya, sembah sujud kepadaNYa dengan berserah diri sepenuhnya.... dstnya. 
  • KSHRAUM : bija mantra Narasimha (Narasinga) untuk mengusir, rasa takut dan cemas. 
  • AIM (ENG) : bija mantra Saraswati, sebagai perkenan/restu bagi remaja putra-putri agar pandai dalam berbagai cabang pelajaran. 
  • SHRI(SRI) :bija mantra Dewi Laksmi (Laksmi), yang di Indonesia dikenal dengan nama Dewi Sri Mantra ini di-japa-kan seseorang untuk menuju kemakmuran dan kesenangan. 
  • HRIM : bija mantra Bhuwana-ishwari, atau disebut juga mantra Maya.Kegunaannya diterangkan dalam Dewi Bhagwatma, bahwasanya seseorang bisa menjadi pemimpin dan mendapatkan seluruh yang diinginkan. 
  • KLIM : bija mantra Raja Kama atau Dewa Kama untuk pemenuhan kemauan seseorang. 
  • KRIM :Bija mantra Dewi Kali atau Durga untuk menghancurkan musuh dan memberikan kebahagiaan. 
  • DUM : Bija mantra Durga, marupakan ibunya cosmos untuk mendapatkan perlindungan dari padaNya, serta memberikan apa saja yang diinginkan manusia. 
  • GAM, GLAUM/GAM GLAUM : Bija mantra Ganesha untuk menyingkirkan rintangan serta mengembangkan sukses. Ga berarti Ganesha, La berarti sesuatu yang dapat meresap dan Au berarti cerdas atau daya pikir yang cemerlang. 
  • LAM : Bija mantra Pertiwi (Pritvi), sebagai pertolongan yang menjamin hasil panen baik. 
  • YAM : Bija mantra Bayu (Vayu), untuk mejamin hujan.
Masih banyak lagi bija mantra yang lain, terutama yang bersifat khusus, namun yang disajikan di atas sudah memadai, apalagi ditambah nama-nama Tuhan beserta ista dewata, awatara, maupun puja stawa, antara lain:

OM SRI MAHA GANAPATAYE NAMAH;
OM NAMAH SIWAYA;
OM NAMO NARAYANAYA;
HARI OM;
HARI OM TAT SAT;
OM SRI HANUMAN NAMAH;
OM SRI SARASWATYE NAMAH (OM SRI SARASWATYAI NAMAH);
OM SRI DURGAYAI NAMAH;
OM SRI LAKSHMYAI NAMAH;
OM SO HAM;
OM TAT TWAM ASI;
OM AHAM BRAHMAN ASMI
OM HARE RAMA HARE RAMA RAMA RAMA HARE HARE; HARE KRISHNA HARE KRISHNA KRISHNA KRISHNA HARE HARE;
OM SRI RAMA; JAYA RAMA; JAYA JAYA RAMA.

Puja Gayatri atau Sawitri juga dapat di-japa-kan dengan sangat populer dan mahautama. Demikian juga Mahamertyunjaya.
OM TRYAMBAKAM YAJAMAHE SUGANDHIM PUSHTIVARDHANAM;
URVAARUKAMIVA BANDHANAAN MRITYORMUKSHEEYA MAAMRITAAT.

Penjelasan:
Mantra Maha-Mertyunjaya (Mrityunjaya) adalah mantra untuk pang-hurip-an (anuggrah jiwa-kehidupan). Pada saat-saat kehidupan sangat komplek dewasa ini, kecelakaan karena gigitan ular, sambar petir, kecelakaan kendaraan bermotor, kebakaran, kecelakaan di air dan udara dan lain-lainnya.

Disamping itu, mantra tersebut mempunyai daya perlindungan yang besar, penyakit-penyakit yang dinyatakan tak tertangani secara medis (dokter), dapat diobati dengan mantra ini, apabila mantra di-uncar-kan (disebutkan secara manasika, upamsu maupun vacika) dengan sungguh-sungguh, jujur dan taat. Mantra tersebut merupakan senjata melawan penyakit-penyakit serta menaklukan kematian.

Mantra Mrityunjaya adalah juga mantra- moksha, mantra-Nya Siwa. Selain memberi berkah mohksha, mantra itu juga memberi berkah kesehatan (Arogya), panjang umur (Dirgha Yusa), kedamaian (shanty), kekayaan (Aiswarya), kemakmuran (Pushti), dan memuaskan (Tushti)

Pada saat ulang tahun, mantra ini di-japa-kan sebanyak 100 ribu kali atau paling tidak 50.000 kali, haturkan makanan kepada orang-orang miskin dan orang sakit, akan mendapat berkah seperti tersebut di atas

by cakepane.blogspot - berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar