Google+
Tampilkan postingan dengan label do'a Mantra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label do'a Mantra. Tampilkan semua postingan

Keajaiban Mantra: Dari Bunyi ke Kesadaran

Keajaiban Mantra: Dari Bunyi ke Kesadaran

Apa itu Mantra?

Mantra bukan sekadar rangkaian huruf atau bunyi. Ia adalah struktur suara yang tersusun dengan presisi kosmik—sebuah pola getaran yang merepresentasikan realitas itu sendiri. Sumbernya tidak tunggal; ia tersebar dalam korpus Weda, Purāṇa, dan Tantra, namun esensinya tetap sama: mantra adalah bahasa realitas yang terdengar.

Setiap huruf dalam mantra bukan simbol arbitrer, melainkan penanda vibrasional. Karena itu, cara pengucapan (uccāraṇa) menjadi krusial. Bunyi bukan sekadar medium—ia adalah manifestasi dari śabda, dan dalam kerangka Vedik, śabda berakar pada Brahman, sumber dari seluruh Brahmāṇḍa (alam semesta).

Secara ontologis, śabda dipahami sebagai kualitas (guṇa) dari ākāśa (ruang). Namun ia tidak “dihasilkan” oleh ruang; ia terungkap di dalamnya. Analogi sederhananya: suara muncul karena getaran udara, tetapi hanya dapat terdengar karena adanya ruang. Demikian pula dalam tubuh—gelombang suara lahir dari pergerakan prāṇa, melalui napas.

Apa itu mantra

Mantra yang Selalu Berlangsung: Ajapa

haṃkāreṇa bahiḥ yāti saṃkāreṇa viśet punaḥ

haṃ haṃ iti paraṃ mantraṃ jīvo japati sarvadā

Prana bermanifestasi dalam tubuh manusia sebagai napas melalui inspirasi ( Sa ) (atau Shakti ) dan ekspirasi ( Ha ) (atau Shiva ). Bernapas itu sendiri adalah Mantra , yang dikenal sebagai Mantra yang tidak diucapkan ( Ajapa-Mantra ), karena diucapkan tanpa kehendak.

Maknanya sederhana namun radikal:

setiap makhluk hidup, tanpa sadar, selalu menjapa mantra.

    • Saat napas keluar → haṃ
    • Saat napas masuk → saṃ / saḥ

Inilah yang disebut ajapa-mantra—mantra yang tidak perlu diucapkan karena sudah berlangsung secara alami.

Di sini muncul pembalikan perspektif yang penting:

mantra bukan sesuatu yang “kita lakukan”, tetapi sesuatu yang sudah terjadi sebagai struktur kehidupan itu sendiri.

Napas bukan sekadar fungsi biologis. Ia adalah ritme kosmik yang menghubungkan tubuh dengan prinsip dasar realitas. Selama prāṇa bergerak, kehidupan berlangsung. Ketika ia berhenti, yang dinamis kembali menjadi statis—hidup larut ke dalam Sat.


Masalah Utama: Mantra Tanpa Kesadaran

Mengulang mantra tanpa memahami maknanya hanyalah gerakan mekanis. Dalam kondisi ini, mantra “tidur”—ia tidak aktif, tidak bekerja.

Mantra menjadi efektif hanya ketika:

  • dipahami,
  • disadari,
  • dan dihayati.

Kesadaran adalah faktor pengaktif. Tanpanya, suara tetap suara. Dengannya, suara berubah menjadi daya transformasi.

Di sinilah letak perbedaan antara:

  • pengulangan (repetition)
  • dan realisasi (realization)


Mantra sebagai Brahman

Setiap mantra bukan sekadar alat menuju Brahman—ia adalah Brahman itu sendiri dalam bentuk suara.

Dari proses manana (refleksi mendalam), muncul pemahaman bahwa:

Brahman (realitas absolut) dan Brahmāṇḍa (alam semesta) adalah satu kesatuan.

Etimologinya menegaskan ini:

  • man → dari manana (merenung, menyadari)
  • tra → dari trāṇa (membebaskan)

Maka mantra adalah:

alat pembebasan melalui kesadaran.

Ia bukan sekadar bunyi, tetapi mekanisme transformasi kesadaran.


Mantra dan Devata

Dalam tradisi śāstra, mantra dan devatā tidak terpisah.

Mantra adalah devatā dalam bentuk getaran.

Ketika mantra dijapa dengan benar:

  • ia menata ulang getaran tubuh,
  • menstabilkan sistem internal,
  • dan pada tingkat subtil, menghadirkan realitas devatā itu sendiri.

Ini bukan simbolisme. Ini adalah proses ontologis: dari getaran → bentuk → kesadaran.


Gayatri: Mantra sebagai Kosmos dalam Benih

Salah satu contoh paling murni adalah Mantra Gāyatrī:

Om Bhur Bhuvah Svah

Tat Savitur Varenyam

Bhargo Devasya Dhimahi

Dhiyo Yo Nah Prachodayat Om

Terjemahan ringkasnya:

  • Kita merenungkan Cahaya Ilahi Sang Pencipta,
  • sumber dari seluruh alam—bumi, atmosfer, dan langit.
  • Semoga Ia menerangi kecerdasan kita.

Namun makna terdalamnya jauh melampaui doa.

Tat Savitur merujuk pada prinsip penciptaan yang diwujudkan secara paling nyata sebagai Surya (Matahari):

  • sumber energi,
  • pusat gravitasi,
  • penentu waktu,
  • dan penopang kehidupan.

Dalam perspektif ini:

Matahari bukan sekadar objek fisik,

tetapi manifestasi langsung dari prinsip kosmik penciptaan.

Di luar, ia adalah cahaya di langit.

Di dalam, ia adalah cahaya kesadaran di hati—api tanpa asap.


Mantra dan Hukum Realitas

Apa yang kini disebut sebagai “hukum fisika” mungkin dahulu dipahami sebagai hukum dharma kosmik.

Mantra adalah cara manusia kuno:

  • membaca realitas,
  • menyelaraskan diri dengannya,
  • dan berpartisipasi di dalamnya.

Jadi pertanyaannya bukan lagi:

“Apakah mantra bekerja?”

Tetapi:

Apakah kita selaras dengan struktur realitas yang sudah bekerja itu?

Di titik ini, mantra berhenti menjadi praktik—dan mulai menjadi cara berada.

Mantra Pemangku Nganteb Ider Bhuana

Mantra Pemangku Nganteb Ider Bhuana

Om Swastyastu, Om Ano Badrah Kratawo Yantu Wiswatah
Puji syukur kami panjatkan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa, karena atas tuntunan dan asung kerta nugraha-Nya, kami dapat mengumpulkan tuntunan mantra penganteb untuk tingkatan Jro Mangku/Pinandita.

artikel ini kami sajikan dan kami kumpulkan dari beberapa buku mantra, agar dapat dipergunkan sebagai acuan atau tuntunan bagi para Pemangku/Pinandita yang mau belajar untuk kemajuan umat kita dalam melaksanakan Kerti Yadnya di bidang mantra untuk nganteb. Kami menyadari bahwa ini tidak mesti harus dipakai karena masih banyak kekurangan-kekurangannya, tetapi dapat dipakai sebagai pembanding dalam nganteb Yadnya se hari-hari didalam melaksanakan tugas ke Permangkuan/Pinandita, sekaligus untuk meningkatkan SDM pemangku/Pinandita.

Mantra Muspa atau Sembahyang

Mantra Muspa atau sembahyang

setelah lama menulis, ternyata ada banyak pertanyaan tentang
"mantra untuk muspa" itu yang bagaimana...?
apakah mantra saat muspa diluar rumah dengan di dalam dirumah itu beda?

untuk itu, melalui blog cakepane ini, saya kembali mengulas tentang Mantra Muspa atau Sembahyang.
kalau diteliti dari awal dibuatnya blog tentang budaya bali cakepane ini, penulis telah beberapakali memposting tentang mantra muspa atau sembahyang ini, yaitu dengan judul Kramaning Sembah

tetapi, untuk mengisi dahaga para pembaca setia cakepane ini, saya kembali bagikan mantra-mantra yang digunakan saat muspa dirumah saja, sedangkan untuk muspa diluar rumah baik di pura maupun tempat lainnya, silahkan baca artikel saya di atas.

dilihat dari etimologi, asal kata "muspa" berasal dari kata "puspa" yang artinya sekar, kembang, bunga. jadi maksud dari kata "muspa" ini adalah sembahyang dengan menggunakan sarana sekar/kembang, yang dalam kesehariannya juga dikenal dengan istilah mabakti.
mabakti sendiri asal katanya adalah "bakti", yang menunjukan maksud dengan kesungguhan hati mengabdi dengan cinta kasih mendekatkan diri, tunduk kehadapanNYA.

muspa atau mabakti ini dilakukan dengan jalan 5 tahap, sehingga dapat juga disebut dengan "panca sembah". diantaranya:

  1. sembah puyung "tanpa bunga" yang ditujukan kehadapan Tuhan YME sebagai Sang Hyang Paratma.
  2. sembah dengan bunga yang ditujukan kehadapan Tuhan YME yang dimanifestasikan sebagai Dewa Surya, sebagai saksi setiap kejadian di dunia ini.
  3. sembah dengan bunga/kawangen, yang ditujukan kehadapan Tuhan YME dalam manifestasinya sebagai Dewata Utama yang dijadikan tujuan utama sembahyang. misalnya kalau dirumah kehadapan bhetara hyang guru/kawitan (yang memiliki kemulan) atau siwa aditya (yang tidak memiliki kemulan, hanya memiliki sanggah surya/padma sari)
  4. sembah dengan bunga, yang ditujukan kehadapan Tuhan YME dalam manifestasinya sebagai Dewata/dewa samodaya untuk memohon anugrahNYA
  5. sembah puyung, tanpa sarana, yang ditujukan kehadapan Tuhan YME hyang Acintya.

bagi yang ingin mengetahui mantra dan tatacara ritual pamuspan atau mebakti dapat dilaksanakan sebagai berikut:

Mantra Dewa Siwa - 108 Nama Gelar Hyang Siwa

Mantra Dewa Siwa - 108 Nama Gelar Hyang Siwa

Hindu mengajarkan banyak cara dan jalan untuk mewujudkan kebahagiaan dalam hidup. Salah satu cara dan jalan tersebut adalah melalui pengucapan Japa Mantra. 

Menurut Agni Purana sebagaimana dikutif oleh Sadguru Sant Keshavadas memberikan batasan pengertian Japa yaitu berasal dari suku kata “ja” artinya menghancurkan kelahiran dan kematian dan suku kata “pa “artinya menghancurkan semua dosa.  Jadi japa adalah menghancurkan semua dosa dan meniadakan lingkaran kelahiran kematian serta membebaskan jiwa dari keterikatan duniawi. 
Japa juga berarti pengulangan mantra yang bersifat pikiran/mental. Jadi Japa Mantra adalah pengulangan nama –nama Tuhan atau aksara-aksara Suci.

Sedangkan mantra yang sering dilantunkan dalam “Japa Mantra” merupakan mantra-mantra untuk memuja kebesaran-NYA, antara lain : Mantra Siwa dengan melantunkan nama-nama/sebutan Siwa, Hare Krisna (Hare Krisna Hare Krisna Krisna Krisna Hare Hare, Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare), ataupun Gayatri Mantam. 

Biasanya dalam melaksanakan Japa Mantra digunakan Genitri sebagai medianya, ataupun bisa menggunakan tangan apabila tidak tersedia Genitri. Tangan kanan digunakan untuk menghitung satuan, sedangkan tangan kanan digunakan untuk menghitung puluhan. Satu putaran sebanyak 108 kali.

108 Japa Mantra yang ditujukan untuk Dewa Siwa yang bergelar Sang Hyang Mahadewa

doa Mantra Memohon Anak Keturunan

doa Mantra Memohon Anak Keturunan

adanya berbagai pertanyaan semeton bali, tentang Mantra memohon anak keturunan, membuat hati saya tergugah untuk mencari-carinya. setelah lama mencari, akhirnya saya menemukan doa mantra, yang mungkin berguna untuk para semeton hindu bali.

Masalah kelahiran, kehidupan, dan kematian semuanya di tangan Hyang Widhi. Manusia hanya bisa memohon ke hadapan Hyang Widhi. Untuk itu perlu diketahui bahwa kelahiran dalam Agama Hindu berarti re-inkarnasi roh leluhur.

Roh leluhur bisa ber-reinkarnasi bila sudah suci, yaitu sudah di aben-nyekah dan mepaingkup. 
Cobalah ditanyakan apakah para leluhur sudah diaben atau belum atau masih banyak yang belum di-aben. Bila demikian halnya ini satu unsur penyebab. Saran ini tentu atas asumsi bahwa anda sudah berkonsultasi dengan dokter dan tidak ada masalah dengan kesehatan.
Lakukan Puja Trisandya dan Kramaning Sembah/persembahyangan terus menerus secara intensif untuk mohon dikaruniai putra. 

Upacara Bajang Colong

Upacara Bajang Colong


Banten Pasuwungan

Banten ini berfungsi sebagai pembersihan terhadap jasmani anak, terdiri dari: peras, ajuman, daksina, suci sorohan alit, pengelukatan, pengambeyan, penyeneng, nasi enem ceper masing-masing dengan ikan/daging yang berbeda, daging ayam, itik, telur siput, daging babi dan kacang-kacangan. Kemudian dilengkapi dengan dua buah “kuakang” (sejenis jejahitan) yang berisi nasi lauk pauk dengan sesate, kemudian keduanya dialasi dengan bokor yang berisi beras, sirih tempel, benang, telur ayam mentah dan uang 25 kepeng.

Banten Pengelukatan di Dapur

Peras dengan tumpeng berwarna merah, ikannya ayam biying dipanggang, dilengkapi dengan ajuman, daksina, pengulapan, pengambeyan, penyeneng, dan sorohan alit masing-masing sebuah serta sebuah periuk yang berisi air dan bunga harum untuk mohon penglukatan.

Puja Brahma Ring Pawon

Om Brahma namas catur Muka,
Brahma Angi rakta warnaca,
Spatika warna Dewata
Sarwa busana raktakham.

Banten Bajang Colong

Banten Bajang Colong


Sebuah buki/periuk tanah yang bagian bawahnya bolong/pecah diberi kalung tapis, kemudian didalamnya dimasukkan sebuah pusuh biyu (jantung pisang serta dilengkapi juga dengan pelapah daun kelapa yang bolong. Pusuh pisang tersebut disisipi uang tiga kepeng sedangkan papah bolong yang dihias yang diberi selimut popol bayi digantungi ketipat, belayak yang tidak ada isinya dan gantung-gantungan dari janur. Semua itu diberi hiasan dari kapur yang berupa tapak dara serta gambar muka manusia. Selebihnya dihiasi juga dengan penjor dari pelapah daun enau, pada lidinya diberi bunga pucuk merah seperlunya. Adapun bantennya adalah sebagai berikut: dua buah penek dihiasi dengan ceper, dilengkapi dengan jajan, buah-buahan dan canang burat wangi.

Selanjutnya banten Bajang Colong adalah: peras, tulung, sesayut, buah-buahan, canang burat wangi, sampyan tangga kecil. Sedangkan ikannya adalah, ceper pertama berisi guling katak, ceper kedua berisi guling capung, ceper ketiga berisi guling balang, ceper keempat berisi guling ayam semulung (ayam kecil). Kemudian dilengkapi juga dengan tegen-tegenan. Setelah selesai upacara, semua banten ini diletakkan diperempatan jalan.

Puja Ngayab Banten Bajang Colong.

Om Sang Hyang Korsika, Sang garga, sang Metri
Sag Kurusya, sang pretanjala,

mantra dan doa Upacara Natab sambutan

mantra dan doa Upacara Natab sambutan


Diawali dengan proses upacara si anak turun tanah, mengelilingi lesung dan taman serta memakai seperangkat perhiasan, yang didapatkannya.

Puja rare Tuwun (turun) Tanah.

Om pakulun kaki citra gotra
Nini citra gotra, hulun aminta nugraha,
nurun aken sang rare ring lemah turun ayam ameng-ameng,
Sarwa kencana sri sedana,
Katur ring bhatari amamngkurat,
Bhatari wastu, bhatari kadep.

Iki aturan ipun sare hasta,

Amerta urip waras dirgayusa,
tan keneng geget wewidinan,
asungane urip teguh timbul abujangga kulit,

kumpulan mantra dan doa penglukatan

kumpulan mantra dan doa penglukatan

Panglukatan Mala.

(gering lara, ila, muang gering tuju bayu, tuju angin. Dapat disembuhkan)

Banten.

Sahe seyayut, mewasta sesayut durga yusa, amerta Sanjiwa muah rikala nuju dina: budha Keliwon, Anggara Kliwon, Purnama, Tilem (Wetania). Wenang sangkepi sesayut, resigana, muah panglukatania, umertraya, Uma tirtha, nawa ratna, sakotamania.
Penglukatan Uma Tirta.
Om antinira Sang hyang Brahma,
Sire ageseng lara wiggena,
Pape klesanaingrat kabeh,
Ong gangga suci nirmala,
Sira sang hyang tirtha meretha,
Mijil sakeng amprunira Sang Hyang Sadesiwa,
Angenjutakna, papa klesening rat kabeh,
Ong Sang Hyang gangga suci,

kumpulan doa dan mantra untuk pemangku

kumpulan doa dan mantra untuk pemangku


Caru manca rupa. (dagingnya bisa diganti)

(Asubang bungkem, bebek bulu sikep, sami ngajak suci, sami ngeed, asu kelod kauh genahnia, ingulah ketengan (66), dadi akarang, kambing kaja kauh genahnia, ingolah ketengan (11), dadai akarang, muang siap putih siungan, kauh genahnia, ingolah ketengan (7) dadi akarang. Sate siap selem kaja genahnia, ingolah ketengan (4) dadi akarang.

Iki peretiyaksa kena/pedasang mekayun. 

(Agar diperhatikan dengan baik dan dikaji secara mendalam untuk kepentingan dengan tujuan kebaikan).
Yan caru panca sanak tan milu kambing, angsa pada wenang,
Pemadem bawi butuan, paksi kokokan wenang,
Pemadem kidang bebek putih jambul wenang,
Pemadem kebo, bebek selem (wenang),
Pemadem kambing, sata kanguru, siyung wenang,
Pemadem angsa sata buik bulu gadang wenang
Yan tan wenang mademan banteng,
wenang kukur anggen pateh ring banteng
Yan tan wenang mademang ciciri (kuluk),
Wenang bebek belang kalung angge, pateh ring asu.
Yan tan mademang kambing,
wenang siap kelawu gerungsang angge, pateh ring kambing
(Gambar, 1986:26-28).

kumpulan mantra dan doa untuk piodalan

kumpulan mantra dan doa untuk piodalan

Mantram sebelum Belajar Memantra

(Sang Hyang Aji Panusangan).

Pangleburan letuhan sarira, tan keni sebelen saluwuing magelah ring prajamandala, wenang sekama-kama apan Sang Hyang Mantra luwih utama, yan tasak ngerangsukin mantra iki, saksat mawinten ping telu, gelarana siang ratri
Idepaku anganggo Aji kotamah,
Amangsa-amangsung aku tan pabersihan,
aku pawaking setra suka kang akasa,
suka kang peretiwi, tan ana aku keneng sebelan,
apan aku teke abersihin awak sariranku,
teka bersih bersih-bersih-bersih. (Gambar, 1986:51-52)

Pawisik Dewi Maya Asih.

(Pinuja kene desang Sedaka ndiata).

Ong tat purusa ya namah,

Doa sehari hari

Doa sehari hari


Pada waktu bangun pagi:

Om, Utedanim bhagavantah syamota prapitva uta madhye ahnam, utodinau madhvantan tsuryasya vayam devanam sumantausyama.(Atharva Veda III.16.4)
Artinya:
"Ya Tuhan Yang Maha Pemurah! Jadikanlah kami selalu bernasib baik pada pagi hari ini, menjelang tengah hari, apalagi matahari tepat di tengah-tengah dan seterusnya. Semoga para Dewa berkenaan menganugharkan rakhmat-Nya kepada kami".

Menggosok gigi

Om Cri Dewi Bhatrimsa Yogini namah
Artinya:
Om, sujud pada (sakti-Mu) Cri Dewi Bhatrimsa (dan) Yogini.

Membersihkan mulut:

Om Um Phat astraya namah.
Artinya:
Om, sujud kepada Um, astra Phat (itu).

Ilmu pelet pengasih atau ilmu guna guna

Ilmu pelet pengasih atau ilmu guna guna

Bila cinta ditolak, pengasih dan ilmu guna-guna bertindak!!!

Om swastyastu Om a no bhadrah kratawo yantu wiswatah
semoga pikiran yang baik datang dari semua penjuru

Kali ini saya kembali lagi dengan tajuk yang agak menarik untuk dibincangkan. Pastinya ramai sahabat di luar sana yang pernah gagal dalam percintaan dan mungkin juga cinta tertolak dan membuatkan anda sakit hati dan kecewa. ilmu pelet, Pengasih dan ilmu guna-guna pastinya altenatif terbaik bagi mereka yang tidak punya iman dalam jiwanya bagi mengubat segala guris di hati.

Semua kita maklum dengan kata-kata ini :
“ Sakitnya luka di jasad, mudah saja di ubati. Sakitnya hati, mungkin saja dibawa ke mati!!”

Justru, mungkin ramai diantara kita yang terfikir untuk berbuat sesuatu yang bisa mengubat sakitnya hati termasuk saya sendiri. Saya juga punya hati dan perasaan. Bila mana disakiti, sukar untuk disembuhkan.

kumpulan mantra bali

kumpulan mantra bali

berikut sedikit saya share beberapa mantra yang mungkin akan berguna buat para pembaca blog ini.
diwajibkan kepada para pengguna mantra bali untuk "Belajar kawisesan Asli Bali", agar tujuan dari mantra bali ini bisa berjalan sesuai dengan fungsinya.

sekali lagi, sebelum merafalkan mantra ini, sangat diharapkan untuk  belajar tehnik tenaga dalam asli bali, karena apabila tidak mempelajarinya, mantra-mantra berikut ini tidak akan berjalan sesuai dengan maksud dan tujuan pengucapan mantra tersebut.
mohon dicermati.

berikut ini tata cara mengucapkan mantra bali

Kanda Mantra / Tingkahing Mamantra :
Salewiring mantrayang, yen dereng nyarik, awya mangkana, sidi mantran (tatwan nira) yan mangkana.
Mamantra :

JAPA - Menyebut Nama Tuhan

JAPA - Menyebut Nama Tuhan

JAPA MALA RUDRAKSA (TASBIH GENITRI) Menyebut Nama Tuhan

Manusia diciptakan memiliki unsur pembentuk yang sama dengan makhluk lainnya, baik dengan tumbuhan maupun hewan, bahkan dengan mahkluk terkecil sekalipun. Semua mahkluk dibentuk oleh 5 (lima) unsur utama ; Tanah, Air, Api, Udara dan Akasa (ruang hampa), sama persis dengan unsur2 utama yang membentuk alam semesta.

Lalu apa yang membedakan manusia dari mahkluk lainnya?

hanya satu kelebihan manusia, yaitu dilengkapi dengan tenaga hidup - Hati Nurani (Budhi). Tumbuhan hanya memiliki satu tenaga yaitu Bayu, tenaga untuk tumbuh dan berkembang secara biologis. Binatang dianugrahi Tenaga Bayu dan Suara (sabda). Suara yang membuat binatang mampu berkomunikasi satu sama lainnya. Hanya manusia yang memiliki Budhi. Dengan budhi manusia memiliki kebebasan luas untuk mengetahui dan menetapkan baik dan kurang baik. Dengan budhi pula manusia mampu meningkatkan spiritualitas mendekati kesempurnaan, tapi sekaligus budhi yang tertutup membuat manusia jatuh pada jurang kenestapaan lahir dan bathin.

Dewi Gayatri; Ibu segala mantra

Dewi Gayatri; Ibu segala mantra

Semua literatur kitab Weda menyatakan bahwa Gayatri merupakan Dewi segala mantra. Namun keberadaan sang Dewi belumlah tenar di lingkungan masyarakat Hindu Bali, sebab untuk membentuk personalitas serta siapa dan bagaimana Beliau, serta dalam hal apa saja Beliau dipuja, masyarakat Hindu Bali belum banyak yang paham. Untuk itulah melalui artikel ini mencoba membedah Dewi Ilmu ini dengan sedikit ulasan yang terkesan back to India.

Ada banyak Dewi dalam ikonografi Hindu yang mewakili Ilmu Pengetahuan dan mantra suci. Kesemuanya memegang banyak atribut yang melambangkan hal tersebut. Namun dari sekian banyak Dewi, Gayatri adalah yang utama. Bergesernya Beliau sebagai Dewinya Ilmu Pengetahuan secara murni oleh Bhatari Hyang Aji Saraswati, mungkin disebabkan karena Gayatri lebih menekankan pada aspek Ilmu Pengetahuan secara apuruseya, mantra Weda yang transcendental. Sedangkan untuk Dewi Saraswati, Beliau meramu seluruh Ilmu yang ada, baik para widya dan apara widya.

Dewi Gayatri banyak dipuja di bharatawarsa dan lengkap dengan segala bentuk sadhana yang khusus ditujukan untuk menghormati Beliau. Dalam wujud Dewi Gayatri sering terlihat berkepala lima dan dengan mengenakan mahkota yang berkilauan. Namun mahkota yang tengah-tengah berhiaskan bulan sabit sangat mirip dengan bulan sabit yang dikenakan oleh Bhtara Siwa.

Beliau terlihat dengan sepuluh tangan yang masing-masing memegang; sankha kala, kapak cemeti, genitri, cakra, bunga padma, sakhu kamandalu, gada, sedangkan dua tangan yang berada di depan terlihat dengan posisi abhaya mudra, memberkati setiap pemuja-NYA dengan lembut dan penuh kasih. Beliau duduk di atas bunga padma berwarna merah, dan kepala Beliau yang paling depan ditengah-tengah tepatnya di selaning lelata (antara alis) Beliau terdapat mata ketiga layaknya mata Bhatara Siwa. Dewi Gayatri juga sering terlihat dengan sekelompok angsa yang mengitari.

Inilah mhamantra Gayatri yang pertama kali diturunkan…
Om bhur, Om bhvah, Om svah,
Om maha, Om janah, Om tapah, Om satyam,
Om tatsavitur varenyam,
Bhargo devasya dhimahi,
Dhiyo yo nah pracodayat,
Om apo jyotih,
Raso mritam brahma,
Bhur bhuah svah Om
.

Mantra ini awalnya terdapat di dalam kitab Reg Veda Samhita III. 62. 10. setelah itu pada kitab Yayur Veda Samhita dan Sama Veda Samhita. Dewi Gayatri sering disamakan dengan Dewi Savita yang secara harafiah memiliki arti matahari. Ini sebuah hal yang menunjukan bahwa Tuhan adalah bersinar dan Dewi Gayatri adalah Dewinya mantra yang memberikan kecemerlanghan pikiran.

Namun secara umum, mantra Gayatri yang diterima dewasa ini adalah hanya diucapkan sampai kata bhur, bvah, svah, kata maha, janah, tapah, satyam tidak dikumandangkan sama sekali. Secara terperinci ada banyak mantra Gayatri untuk setiap Dewata yang berbeda. Dengan demikian, ini menunjukan bahwa Dewi Gayatri adalah Dewi yang merangkum semua mantra pujian untuk setiap Dewata. Maka ini juga yang menjadikan bahwa Dewi Gayatri desebut dengan Dewinya mantra Weda.

Dalam beberapa pujian untuk Beliau disebutkan;
Ya sandhyamandalagata ya tri murti-svarupini
Sarasvati ya savitri tam vande veda mataram
.
Artinya;
“oh Dewi yang berada pada lingkaran sinar matahari, yang adalah berbentuk Tri Murti, yang adalah Saraswati ataupun Sawitri, hamba menghaturkan sembah kepada Gayatri, Ibu segala macam Weda”.

Jika Dewi Gayatri dikatakan sebagai Ibunya Weda, maka secara otomatis Dewi Gayatri merupakan sang Dewi jagat raya, sebab Weda sendiri adalah tidak berbeda dengan dunia nyata dan yang tidak nyata. Ini dibenarkan sebab dalam sebuah peristiwa, pernah suatu kali; Dewa Brahma, Wisnu dan Siwa mengambil rupa sebagai bayi mungil untuk mendapatkan kasih dari Dewi Gayatri.

Bayi-bayi tri murti ini menangis keras dan membuat sang Dewi kembali. Anak Ilahi ini ditidurkan dalam sebuah ayunan yang talinya tergantung di angkasa luar. Jadi tidak salah jika terdapat salah satu mantra yang digunakan untuk mengagungkan Dewi Gayatri seperti berikut;
Ya visva janani devi ya tri murti svarupini
Gayatri-rupini ya hi tan vande sapta matrkam
“oh sang Dewiyang merupkan Ibunya jagat raya, yang adalah berbentuk Tri Murti yang merupakan Gayatrio, hamba menghaturkan sembah sujud yang berbentuk tujuh Ibu”.

Menguak Misteri GAYATRI MANTRA melalui Meditasi

Menguak Misteri GAYATRI MANTRA melalui Meditasi

Om bhur bhuvah svah,
tat savitur varenyam,
bhargo devasya dhimahi,
dhiyo yo nah pracodayat
.(regveda - 3,62)


artinya:
O cahaya bersinar yang telah melahirkan semua loka atau dunia kesadaran, O Tuhan yang muncul melalui sinarnya matahari sinarilah budi kami.


Inilah makna dari mantra yang memiliki semua bija-mantra yang kesemuanya melambangkan dari kekuasaan Brahman dalam cahaya suciNya.
  • Om melambangkan Tuhan, 
  • Bhur mewakili bumi, 
  • Bhuvah melingkupi semua bagian dari daerahnya dewata-dewata dan setengah dewata sampai kepada matahari. 
  • Svah mewakili dimensi alam ketiga yang diketahui dengan nama svargaloka dan semua loka-loka yang cemerlang dia atasnya.

Gayatri mantra ini mempunyai getaran sangat kuat sehingga seseorang dalam pencaran rohaninya apabila tulus mengucapkan Gayatri mantra ini akan membawa kepada pencerahan bathin. Banyak buku yang mengulas bagaimana kehebatan dari Gayatri mantram tersebut, namun tidak ada guru yang bisa memberikan pelajaran secara sistematis sehingga tidak ada pegangan yang kuat bagi murid-murid untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi.

Gayatri mantram pada dasarnya bekerja secara otomatis dalam kesadaran rohani manusia. Ini di sebabkan mantram tersebut mewakili dari setiap elemen dasar manusia dan alam.

Manusia memiliki tiga bagian badan yaitu badan fisik, badan energy (aura atau cahaya) dan badan roh (atma) ketiga bagian badan ini saling terkait satu sama lainnya. Badan fisik berhubungan dengan napas dan prana, dan badan roh berhubungan dengan kesadaran Brahman.

Dijaman yang serba tidak pasti ini, banyak sekali bermunculan suatu masalah dalam kehidupan seperti contoh agama, ekonomi, sosial dan lain-lain dan yang lebih parah lagi adalah banyaknya kasus penyakit. Tidak bisa disangkal lagi bahwa jaman ini materi menjadi tujuan yang paling utama, karena materi bagi seseorang menjajanjikan sebuah kebahagiaan.

Karena pencitraan yang sangat kuat ini, banyak orang pada jaman sekarang melakukan perbuatan yang berorientasi pada harta, segala cara pun dilakukan asalkan terpenuhi nafsunya serta ambisinya. Tidak di dunia ekonomi saja terjadi seperti itu, di dunia energy pun banyak orang menggunakan kekuatan mistik hitam untuk mencelakai secara halus, ini terlepas dari percaya atau tidak dengan hal ilmu hitam. Banyak bermunculan dukun - dukun serta paranormal yang menjajanjikan serta menjual berbagai macam kebolehan serta asesories untuk kedigjayaan atau kesaktian. Apabila tidak kuat iman, bisa dipastikan jaman sekarang akan menjadi budak dari sekian pencitraan yang mencekam dalam kehidupan ini.

Lalu haruskah kita lari dari kehidupan ini dan mengasingkan diri untuk pergi ke hutan atau gua dan apakah kita mengambil jalan singkat bunuh diri?
Kedua-duanya adalah jalan yang konyol, kita harus menghadapi gelombang badai tersebut, namun dengan cara yang sangat halus serta bijak.

Apa yang disebut dengan suara karena kita mempunyai otak serta indra mata. Anadaikan saja seseorang buta dan tuli sejak lahir pasti baginya dunia ini tidak ada, inilah yang disebut dengan ikatan indra dengan alam sementa. Untuk bisa terhindar dari masalah tersebut, tidada jalan lain kecuali mencari masalah itu jauh ke dalam hati dan pikiran sebab di sanalah kemelut itu bercokol.

MEDITASI DENGAN GAYATRI MANTRA

Sudah dikatakan Gayatri mantram mempunyai vibrasi sangat kuat terhadap otak dan batin asalkan tahu bagaimana cara menggunakan mantra tersebut. Meditasi pada hakekatnya berhubungan dengan pikiran, kesadaran, serta spirit dan sangat dibutuhkan guru yang khusus. Apabila anda ingin menjadikan Gayatri Mantra sebagai bagian dari meditasi anda harus melakukan puasa putih(tanpa garam, dan tidak minum susu) selama dua hari untuk memohon berkat kepada Maha Dewi.

Lakukan puasa mulai hari Rabu (pagi) sampai Jumat (pagi) hanya makan nasi putih dan air putih saja dan lakukan puja Gayatri setiap pagi menghadap matahari terbit, siang hari, dan malam hari. Dalam mengucapkan Gayatri mantra enam kali untuk pagi hari, empat kali untuk siang hari, dan dua puluh sembilan kali untuk
malam hari. Lakukan puasa dan puja Gayatri dengan ketulusan hati jangan memohon suatu daya-daya sakti tertentu sebab belum tentu keinginan anda akan terpenuhi. Setelah melakukan puasa dan puja gayatri selama dua hari barulah anda di perkenankan untuk melakukan meditasi ternadap Gayatri mantra sebab api spirit anda sudah menyala.

Tambahan:
Dalam penjelasannya puasa putih ini dapat dilakukan sehari saja tapi harus pada hari kelahirannya. Misalnya lahir hari Senen, maka puasa dilakukan pada Senen pagi hingga Selasa pagi.

TEORI MEDITASI

Sebelum meditasi cucilah muka, tangan, serta kaki, atau anda mandi untuk membersihkan badan dari kotoran sekaligus membuat badan menjadi segar. Duduklah dengan memakai alas dari kain, tikar, atau selimut, posisi punggung tegak lurus dan tangan diletakkan dipangkuan dalam posisi relek. Pejamkan mata, serta tenangkan pikiran berberapa detik, setelah itu ucapkan mantra

"OM Bhur, OM Bhuvah, OM Svah"

ucapkan dengan suara lambat serta santai jangan tergesa-gesa sebanyak lima kali, ini bertujuan untuk membersihkan lapisan pikiran.

Pada saat mengucapkan mantra ini arahkan pikiran pada mantra dan suara bukan pada bayangan pikiran. Setelah baca mantra selesai tutuplah mulut serta tenangkan pikiran lalu ucapkan Gayatri mantram

" OM Bhur, Bhuvah, Svah, tat savitur varenyam, bhargo devasya
dimahi, dhiyo yo nah pracodayat
"


dengan lambat dan tenang di dalam hati. Arahkan pikiran serta getaran suara mantra pada jantung, anda cukup meniatkan saja bukan membayangkan.

Meditasi dengan Gayatri mantram sangat efektif untuk berbagai macam keperluan seperti melindungi diri dari energy negatif, kecantikan, kekuatan batin, kecerdasan dan lain-lain. Kekuatan Gayatri mantra tidak bisa berfungsi apabila disertai niat kurang baik. Meditasi Gayatri mantra apabila dilakukan dengan baik serta tulus akan banyak muncul keajaiban-keajaiban yang tidak bisa kita sangka. Gayatri mantra bukan bekerja pada maksud si meditator namun, karunia, energy, rahmat, dari Maha Devi Gayatri yang berhak menentukan. Bagaikan mobil, sang supirlah yang tahu kemana tujuan dari mobil itu, bukan tujuan dari mobil tersebut yang dituruti sang supir.

Energy Gayatri masuk dari ubun-ubun melalui tulang belakang serta menyebar keseluruh tubuh fisik, tubuh energy, dan atma. Banyak guru-guru suci yang tercerahkan mengatakan "pencerahan akan kalian dapatkan pada Gayatri mantra. Pada jaman kali yuga ini tiada yang mampu melepaskan lapisan kekotoran pikiran selain getaran halus dari Gayatri mantra.

TIPS

Apa bila anda merasa ada sakit yang disebabkan oleh ulah niat jahat seseorang, dan kalau percaya dengan hal ini anda bisa menggunakan cara berikut ini. Sediakan air bersih , higienis, untuk diminum, lalu jemurlah air tersebut pada cahaya matahari serta cahaya bulan di malam hari. Setelah air tersebut dijemur oleh kedua unsur cahaya tersebut berdoalah pada Tuhan sambil membaca Gayatri mantram 11 kali, setiap habis membaca gayatri mantram tiupkan nafas anda pada air tersebut. Air tersebut bisa diminum atau dipakai campuran obat, mandi dan lain-lainnya. Dengan kekuatan ini segala macam bentuk energy jahat dari seseorang akan hancur oleh kekuatan dari mantra tersebut, hal ini sering terbutkti di daerah-daaerah terpencil. Ada banyak lagi cara-cara yang bisa dijadikan renungan, betapa Gayatri mantra mempu untuk menghadapi dilema dalam hidup ini.

Posted by Mahendra , iloveblue. com
Diposkan kembali di http://cakepane.blogspot.com

Tentang Gayatri Mantram

Tentang Gayatri Mantra

Stuta maya varada vedamata pracodayantam pavamani dvijanam. Ayuh pranam prajam pasum kirtim dravinan brahmawarcasam, Mahyam dattwa vrajata brahmalokam. (Atharvaveda XIX.71.1)
Gayatri mantram yang diakhiri dengan kata pracodayat, adalah ibunya dari empat veda (Rgveda, Yayurveda, Samaveda, Atharwaveda) dan yang mensucikan semua dosa para dvija. Oleha karena itu saya selalu mengucapkan dan memuja mantram tersebut. Gayatri mantram ini memberikan umur panjang, prana dan keturunan yang baik, pelindung binatang, pemberi kemasyuran, pemberi kekayaan, dan memberi cahaya yang sempurna. Oh Tuhan berikanlah jalan moksa padaku.

Mantra tersebut adalah mantra dari Atharwaveda. Veda secara luas dianggap sebagai sumber dari segala pengetahuan sejati, kata “Veda” itu sendiri berarti “Pengetahuan”. Di situ dijelaskan Gayatri mantra. Gayatri Devi juga memberikan “Mantra Gayatri” kepada umat manusia yang juga dikenal sebagai “Mantra Guru”atau “Mantra Savitri”, mantra terdapat dalam veda dan mantra ini adalah paling suci diantara mantra. Veda, Upanisad, purana dan Bhagawad gita, selalu mengatakan bahwa gayatri mantra paling suci dan penting, mantra ini perlu dan harus diucapkan setiap orang yang ingin mendapatakan kebahagiaan dunia dan moksa, begitu pentingnya gayatri mantra sehingga tuhan menurunkan mantra dalam atharwaweda untuk penjelasan gayatri. Gayatri Mantram adalah salah satu mantra tertua, dan umumnya dianggap sebagai mantra tertinggi dan paling kuat diantara semua mantra. Oleh karena itu, mantra ini sering disebut sebagai “Bunda Weda”. Dalam Bhagavad Gita X.35, Sri Krishna telah menyatakan kepada Arjuna – “Diantara semua mantra, Akulah Gayatri”.

Puja Tri Sandhya bukan karangan

Puja Tri Sandhya bukan karangan

Tri Sandhya, tepatnya bukan "dikarang" tetapi "disusun". Menurut Svami Sathya Narayana, guru kerohanian Weda di India, Trisandhya adalah persembahyangan tiga kali sehari yaitu pagi hari disaat matahari terbit disebut "Brahma Muhurta" bertujuan menguatkan "guna Sattvam" menempuh kehidupan dari pagi hingga siang hari. Siang hari sebelum jam 12 sembahyang bertujuan untuk mengendalikan "guna Rajas" agar tidak menjurus ke hal-hal negatif. Sore hari sebelum matahari tenggelam sembahyang bertujuan untuk mengendalikan "guna Tamas" yaitu sifat-sifat bodoh dan malas. Jadi Puja Trisandhya adalah persembahyangan pada saat pergantian waktu (pagi-siang-malam) yang bertujuan untuk menghilangkan aspek-aspek negatif yang ada pada manusia.

Puja Trisandhya terdiri dari enam bait.

Bait pertama Tri Sandhya

atau sebagai Sandya Vandanam (awal) diambil dari Gayatri atau Savitri Mantram (Rg Veda, Sama Veda dan Yayur Veda). Gayatri Mantram terdiri dari tiga unsur mantram yaitu :
  • Pranawa (OM),
  • Vyahrti (BHUR BHUVAH SVAH), dan
  • Tripada (TAT SAVITUR VARENYAM, BHARGO DEVASYA DIMAHI, DHYO YONAH PRACODAYAT).

Makna Universal Om Swastyastu

Makna Universal Om Swastiastu

UMAT Hindu di Indonesia, kalau saling berjumpa dengan sesamanya, umumnya mengucapkan Om Swastyastu.

Selanjutnya perlu kita pahami bersama makna apa yang berada di balik ucapan Om Swastyastu tersebut. Umat Hindu di India umumnya mengucapkan Namaastu kalau bertemu dengan sesamanya. Bahkan, ucapan itu dilakukan secara umum oleh masyarakat India. Para pandita maupun pinandita dalam memanjatkan pujastawa sering kita dengar menutup pujastawanya dengan Om naamo namah. Inti semua ucapan itu pada kata naama, yang dalam bahasa Sansekerta artinya menghormat. Dalam bahasa Jawa Kuno disebut dengan sembah.

Kata sembah dalam bahasa Jawa Kuno memiliki lima arti. Sembah berarti menghormati, menyayangi, memohon, menyerahkan diri dan menyatukan diri. Karena itu, umat Hindu di Bali mengenal adanya Panca Sembah yang diuraikan dalam lontar Panca Sembah. Dalam tradisi Hindu di Bali ada sembah ke bhuta, ke manusa, ke pitra, ke dewa dan Hyang Widhi.
  • Kalau menyembah bhuta atau alam semesta tangan dicakupkan di pusar. Sembah seperti itu berarti untuk mencurahkan kasih sayang kita pada alam untuk menjaga kelestariannya.
  • Menyembah sesama atau pitra, mencakupkan tangan di dada. Sembah seperti itu adalah untuk menghormati sesama manusia.
  • Menyembah dewa tangan dicakupkan di selaning lelata yaitu di antara kening di atas mata. Hanya menyembah Tuhanlah tangan dikatupkan dengan sikap anjali di atas ubun-ubun. Ini artinya hanya menyembah Tuhanlah kita serahkan diri secara bulat dan satukan diri sepenuh hati.