Google+

Senin, 16 Juli 2012

Kembalinya Putera Pewaris Kerajaan Sukawati - Babad Dalem Sukawati

Pemerintahan Kolektif di Kerajaan Sukawati

Setelah situasi dapat dipulihkan Dewa Agung Gede didaulat untuk menduduki tahta Puri Agung Sukawati, sementara Dewa Agung Made beristana di Puri Agung Peliatan. Namun Dewa Agung Gede tidak suka beristana di Puri Agung, beliau mendirikan Puri baru di sebelah Timur Puri yang lama. Sebagai tanda hubungan yang baik antara Dewa Agung Gede dan Dewa Agung Made, salah seorang putera dari Dewa Agung Made yang bernama Dewa Agung Mayun yang beribu dari Pejeng dititahkan untuk mekandelin Dewa Agung Gede.

Putera-putera Dewa Agung Made yang lain seperti: Cokorda Putu Kandel mendirikan Puri Mas (sebelum ke Ubud), Cokorda Raka berpuri di Bedulu, dan Cokorda Perasi berpuri di Keliki Tegallalang. Sedangkan Dewa Agung Batuan tinggal bersama ayahnya di Puri Agung Peliatan. Adapun putera dari Dewa Agung Gede bernama Dewa Agung Ratu membuat Puri di sebelah Barat Pura Penataran Agung, di sebelah puri Kaleran.


Demikianlah kerajaan Sukawati diperintah secara kolektif oleh 2 saudara dari 2 Puri, Puri Agung Sukawati dan Puri Agung Peliatan,  Dewa Agung Gede dan Dewa Agung Made beserta dengan para putera. Setelah berdua sama – sama lanjut usia Dewa Agung Gede wafat, kemudian tidak lama disusul oleh Dewa Agung Made.

Dewa Agung Putera Dibunuh di Mengwi

Setelah wafatnya Dewa Agung Gede dan Dewa Agung Made,maka kedudukan beliau digantikan oleh para putera-puteranya. Dewa Agung Batuan bertahta di Puri Agung Peliatan, dan Dewa Agung Putera bertahta di Puri Agung Sukawati.

Angin fitnah berhembus, Dewa Agung Putera yang bertahta di Puri Agung Sukawati dituduh memperkosa isteri dari Dewa Agung Mayun, dituduh tidak waras, tidak cocok menjadi raja. Demikianlah fitnah tersebut semakin hari semakin santer.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan Dewa Manggis di Puri Gianyar menawarkan Dewa Agung Putera pindah ke Gianyar. Tetapi setelah berada di Gianyar, Dewa Manggis merasa tidak nyaman, lalu mengajak Dewa Agung Putera ke Puri Mengwi. Dewa Agung Putera mengerti maksud Dewa Manggis, dan beliaupun bermaksud melepas keduniawian untuk mencapai Nirwana.

Akhirnya belakangan Dewa Agung Putera menyadari semua ini adalah akibat dari rekayasa Dewa Agung Batuan. Dewa Agung ditikam di setra Mengwi oleh Dewa Elot utusan dari Dewa Manggis Jorog dari Puri Gianyar. Sukma dari Dewa Agung Putera distanakan di pelinggih Meru Tumpang 3 di Pura Gunung Lebah Campuan Ubud.

Setelah wafatnya Dewa Agung Putera, tersiar lagi fitnah yang menyatakan adik Dewa Agung Putera akan membalas dendam kepada Dewa Agung Batuan. Menanggapi berita tersebut, Dewa Agung Batuan mengusir Dewa Agung Ratu serta isteri dan anak-anak dan cucunya yang masih bayi ke Lombok. Namun baru sampai di Klungkung dicegat oleh Dewa Agung Klungkung, yang menaruh kasihan karena masih bayi sudah menerima hukuman. Dewa Agung Klungkung menitahkan agar bayi itu dikembalikan ke Sukawati. Bayi ini setelah besar bernama Cokorda Samba, putera dari Cokorda Raka, cucu dari Dewa Agung Ratu,  yang kemudian menurunkan para Agung di Puri Kaleran Sukawati.

Perwalian dan Racun Fitnah

Diceritakan sekarang Dewa Agung Batuan setelah lanjut usia menderita sakit-sakitan, dan wafat tahun 1820 M. Putera beliau yang beribu puteri dari Dewa Manggis Geredeg, adik dari Dewa Manggis Jorog masih kecil. Atas prakarsa Dewa Manggis Jorog, maka para semeton Puri Agung Peliatan menyetujui Cokorda Raka di Puri Bedulu pulang menjadi wali di Puri Agung Peliatan.

Berselang beberapa lama Cokorda Raka menjadi wali, bertahta di Puri Agung Peliatan, berhembuslah angin fitnah yang menyatakan beliau hendak memperisteri ipar beliau, yaitu janda Dewa Agung Batuan. Beliau lalu diusir ke Klungkung, kemudian pindah ke Bangli untuk menjaga keamanan beliau. Sementara Puri beliau di Bedulu dikuasai oleh Dewa Manggis Jorog. Demikian juga adik beliau Cokorda Putu Kandel di Mas, dikuatirkan membalas dendam diusir.

Beliau pergi ke desa Lebih kemudian pindah ke desa Tumbak Karsa wilayah Tegallalang. Sementara Purinya di Mas diserahkan oleh Dewa Manggis Jorog kepada Cokorda Nagi dari Guwang. Dengan demikian kembali tathta Puri Agung Peliatan kosong. Atas kesepakatan antara para Manca dan Perbekel didaulat Cokorda Anom Perasi adik tiri Dewa Agung Batuan. Cokorda Anom Perasi tidak lama menjadi wali karena juga tidak luput dari fitnah dituduh membunuh keturunan Dewa Agung Batuan, agar keturunan beliaulah yang berkuasa.
           

Dewa Agung Mayun Raja Terakhir Sukawati

Sementara itu Dewa Agung Mayun, putera almarhum Dewa Agung Made yang ditugasi oleh ayahnya mekandelin (mendampingi) Puri Agung Sukawati tinggal seorang diri. Menilik dari waris Purusa sebenarnya memang berhaklah beliau menduduki tahta Sukawati, apalagi tahta Peliatan, karena Dewa Agung Batuan adalah kakak beliau, sama-sama putera dari Dewa Agung Made.

Beliaupun tidak luput dari berita fitnah, dituduh mengganggu isteri – isteri bawahan dan tuduhan – tuduhan lainnya yang lebih keji, yang membuat beliau merasa malu. Beliau akhirnya pergi dari bumi Sukawati menuju daerah Pecatu, Jimbaran. Di Pecatu beliau mempunyai putera yang diberi nama Anak Agung Gede Pecatu. Dari Pecatu beliau pindah ke Klungkung menghamba kepada Dewa Agung Klungkung. Dengan demikian Dewa Agung Mayun adalah raja terakhir di Puri Agung Sukawati.

Pengisian Kekosongan Pemerintahan Sukawati

Untuk mengisi tahta Puri Agung Sukawati, Dewa Manggis Jorog menitahkan putera beliau Dewa Made Rai, yang kemudian diganti oleh Dewa Gede Oka cucu dari Dwa Manggis Jorog. Sementara itu Cokorda Putu Kandel yang bersembunyi di desa Tumbak Karsa Tegalllalang disuruh kembali pulang dan kesalahannya diampuni. Cokorda  Putu Kandel bersedia pulang, beliau berkedudukan di Ubud. Sedangkan di Puri Agung Peliatan diisi oleh Dewa Agung Jelantik putera dari Dewa Agung Batuan pada tahun 1823 M, yang dinikahkan dengan salah seorang puteri dari I Gusti Ngurah Jelantik dari Blahbatuh.

Dewa Agung Jelantik memerintah  dalam keadaan terjepit oleh dominasi Dewa Manggis dari Gianyar. Beliau wafat dalam usia muda tahun 1835 M, meninggalkan 2 orang putera laki-laki yang masih kecil, yaitu: 
  1. Dewa Agung Bungbungan beribu dari permaisuri puteri Blahbatuh
  2. Cokorda Rai beribu dari penawing.

Dewata Mantuk Ring Bale Tengah

Setelah kedua orang putera Dewa Agung Jelantik cukup dewasa, masing-masing angalap rabi. Dewa Agung Bungbungan beristrerikan puterinya Dewa Manggis Rangki, sedangkan Cokorda Rai beristerikan puterinya Dewa Kendran. Tidak diketahui sebabnya, Cokorda Rai mendapat hukuman selong dibuang ke Nusa Penida sampai wafat di sana. Isterinya Dewa Ayu Kendran mesatya sewaktu pelebon suaminya.

Dewa Agung Bungbungan nampak kebingungan setelah peristiwa ini, sering beliau termenung, tiada nafsu makan, kadang-kadang marah tanpa sebab. Pada suatu hari beliau marah tanpa sebab hingga memuncak sampai membunuh neneknya di Puri Gianyar. Kemudian beliau pulang dari Puri Gianyar ke Puri Peliatan. Dalam perjalanan beliau sempat memutuskan jembatan sungai Petanu, dan langsung ke Puri menuju Balai Tengah. Kemudian dengan keris terhunus penuh dengan darah, beliau memanggil patih Dewa Gede dari Banjar Bucu Peliatan, seraya menitahkan agar menikam diri beliau dengan keris tersebut. Patih Dewa Gede Banjar bucu dengan berat hati melaksanakan tugas tersebut. Dewa Agung Bungbungan akhirnya wafat di Balai Tengah tahun 1850 M.

Sampai generasi ini, Puri Gianyar mendominasi Puri Agung Sukawati dan Puri Agung Peliatan, menggeser kedudukan putera – putera keturunan Sri Aji Maha Sirikan, pendiri kerajaan Dhalem Sukawati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar