Google+

Pangeran Nyuh Aya

Pangeran Nyuh Aya bersaudara dengan Pangeran Asak, keduanya putra dari Sira Arya Kepakisan. Sira Arya Kepakisan adalah anak dari Sira Aryeng Kediri, sedangkan beliau adalah cucu dari Airlangga.

Putra pertama dari Arya Kepakisan (Arya Nyuh Aya), Pangeran Nyuh Aya mempunyai putra 7 orang yaitu
  1. Arya Petandakan,
  2. Arya Satra,
  3. Arya Pelangan,
  4. Arya Akah,
  5. Arya Kloping,
  6. Arya Cacaran,
  7. Arya Anggan,
  8. Winiayu Adi, kemudian dipersunting oleh Arya Klapodiayana  (Arya Kebon Tubuh) putra Arya Kutawaringin.
Pada pemerintahan Dalem Sri Semara Kepakisan ada seekor Harimau Hitam (Macan Selem) yang sangat ganas dan sakti mengganggu kehidupan penduduk di Blambangan (Banyuwangi). Karena Harimau Hitam (Macan Selem) sangat mengganggu kehidupan penduduk setempat, maka  Pangeran  Nyuh Aya sebagai Patih Agung yang telah mengantikan Arya Kepakisan (Arya Nyuh Aya), diutus oleh Dalem Sri Semara Kepakisan ke Blambangan (Banyuwangi) untuk membunuh Harimau Hitam (Macan Selem). Beliau menyusul Arya Kubon Tubuh, yang telah lama berangkat dengan tujuan yang sama, untuk membunuh Harimau Hitam (Macan Selem). Pangeran  Nyuh Aya berhasil membunuh Harimau tersebut, kemudian dibawalah kepala Harimau tersebut kehadapan Dalem Sri Semara Kepakisan sebagai bukti.

Tidak berselang lama maka datanglah Arya Kebon Tubuh yang menyatakan juga telah membunuh Harimau tersebut.  Untuk menghindari kesalahpahaman maka  Dalem Sri Semara Kepakisan memberikan anugerah yang sama kepada Pangeran  Nyuh Aya dan  Arya Kebon Tubuh. Anugerah itu berupa Piagam yang berisi catatan hak penghormatan dan penghargaan serta tata cara upakara dan upacara pelaksanaan semasa masih hidup hingga upacara kematian untuk turun-temurun.

Selaku penghargaan pula atas jasa Pangeran  Nyuh Aya dan Arya Kebon Tubuh, maka baginda raja Bali memberikan tugas masing-masing antara lain: kepada Arya Kebon Tubuh, Dalem Sri Smara Kepakisan menyerahkan sebuah pura Kahyangan "Dalem Tugu", dan Pangeran  Nyuh Aya, berkewajiban menyimpan "Aji Purana" dengan catatan setiap upacara piodalan di Pura Dalem Tugu harus diusung ke Dalem Tugu untuk diupacarai. Bila upacara telah selesai, "Aji Purana" itu disimpan kembali oleh Pangeran  Nyuh Aya. Namun karena sesuatu hal, kini Aji Purana tersebut tidak lagi "katuran"  ke Pura Dalem Tugu. Dan Ida Bhatara berupa "Aji Purana" tersebut tersimpan di Pura Kawitan Arya Kepakisan (Arya Nyuh Aya),  di Banjar Sidayu Nyuhaya, Desa Takmung, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung.

Selain itu,  keturunan Arya Kepakisan (Arya Nyuh Aya) dan Arya Kubon Tubuh bila meninggal dunia, diaben, boleh menggunakan bade tumpang pitu, berhiaskan kapas 9 warna, balai silunglung, kajang kawitan, balai lunjuk tiga undag, petulangan berbentuk harimau hitam (Macan Selem). Benda pusaka yang dihadiahkan kepada beliau berupa sumpitan (tulup) yang digunakan membunuh harimau di Blambangan itu. Sumpitan itu bernama Ki Macan Guguh

7 komentar:

  1. Arya Kepakisan (Arya Nyuh Aya)5 Agustus 2012 06.30

    Maaf klo boleh kami koreksi...bahwa sesuai dengan pamencangah yang tersimpan di Pura Kawitan Arya Kepakisan (Arya Nyuh Aya)... beliau hanya disebut Arya Kepakisan karena Beliau Bertempat Di Desa Nyuh Aya maka beliau disebut juga Arya Nyuh Aya....shg hanya dikenal Arya Kepakisan...bukan Sri Nararya Kresna Kepakisan atau Nararya Kepakisan atau Nararya Kresna Kepakisan... Gelar Sri Nararya Kresna Kepakisan diberikan oleh Prati Sentana Beliau stelah Beliau tiada... bukan karena kehendak bliau... Seperti yang dikutip dari Buku Babad Arya (Kisah perjalanan Para Arya) oleh Drs KM Suhardana
    Pada Halaman 58... Setelah ditundukkan oleh Majapahit semua mantan Raja Kediri dan keturunannya termasuk Sri SastraJaya di turunkan gelar SRI nya menjadi Arya atau Ksatria maka beliaupun memperoleh julukan Ariyeng atau Ksatriyeng Kadiri. Beliau inilah yang kemudian menurunkan Arya Kepakisan yang pada tahun 1352 M ditunjuk sebagai Perdana Menteri atau Patih Agung Raja Bali yang bernama Sri Aji Kresna Kepakisan.
    Arya Kepakisan menurunkan 2 orang putra yaitu :
    1. Pangeran Nyuhaya dan
    2. Pangeran Made Asak
    Dan seterusnya.....................

    Pada halaman 59 ..... Keturunan Arya Kepakisan di Bali sudah cukup banyak jumlahnya. Untuk menghormati leluhurnya sebagai bekas Raja Kediri, maka keturunan beliau di Bali telah bersepakat untuk memberikan gelar Sri Nararya Kresna Kepakisan dst.......

    dengan demikian..penghormatan gelar ini bukan karena kehendak Beliau... saran tiang janganlah merubah sebutan/nama tanpa dasar yang kuat...suksma

    BalasHapus
    Balasan
    1. inggih.. suksma masukannya...

      Hapus
    2. Mantap.. spy jgn terlalu berlebih2an dan memada2i dgn Raja Bali sendiri d saat itu yg sdh bergelaR SRI

      Hapus
  2. Tabik pekulun tityang, _/|_ .....
    Pada kutipan di atas tertulis,
    "Selaku penghargaan pula atas jasa Pangeran Nyuh Aya dan Arya Kebon Tubuh, maka baginda raja Bali memberikan tugas masing-masing antara lain: kepada Arya Kebon Tubuh, Dalem Sri Smara Kepakisan menyerahkan sebuah pura Kahyangan "Dalem Tugu", dan Pangeran Nyuh Aya, berkewajiban menyimpan "Aji Purana" dengan catatan setiap upacara piodalan di Pura Dalem Tugu harus diusung ke Dalem Tugu untuk diupacarai. Bila upacara telah selesai, "Aji Purana" itu disimpan kembali oleh Pangeran Nyuh Aya. Namun karena sesuatu hal, kini Aji Purana tersebut tidak lagi "katuran" ke Pura Dalem Tugu,yang artiya tugas Dalem Raja Bali tidak lagi dilaksanakan Dan Ida Bhatara berupa "Aji Purana" tersebut tersimpan di Pura Kawitan Arya Kepakisan (Arya Nyuh Aya), di Banjar Sidayu Nyuhaya, Desa Takmung, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung.
    Pertanyaan saya : Apakan Pura tempat menyimpan Aji Purana itu yg berhubungan erat dgn Pangeran Nyuh Aya
    juga merupakan Pura Pangeran Nyuh Aya yg juga menstanakan Ajin Ida Sira Arya Kepakisan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mengenai hal itu tyg belum berani berpendapat jelas...
      tp yg namanya kewajiban tetaplah kewajiban...
      andai keturunan ingkar thd kewajiban yg dibebankan, itu akan berimplikasi pd kehidupupannya kedepan... biarlah yg memberi kewajiban tsb menilai, kita sbg penerus (tyg) hny bs memberikan gambaran dijaman itu saja
      suksma, mogi rahayu

      Hapus
  3. menurut tetua saksi sejarah masa lalu pernah terjadi kesalahpahaman dimana pernah ada upaya untuk mewacen pamancangah tersebut dan dibuat duplikat tanpa siijin pengempon dari sidayu shg terjadi kesurupan masal untuk menjemput pamancangah tersebut di Pura Dalem Tugu , perlu diketahui bahwa setiap katuran di pura tersebut selalu tidak disertai oleh warga pengempon dari sidayu , itu sudah menjadi kebiasaan turun temurun

    BalasHapus
  4. Yenning Wenten sumber sastra lontar durusan dishare. Napi Daging Aji Purana punike ??
    Matur Sukseme

    BalasHapus