Google+

Senin, 03 Desember 2012

sejarah Rsi Markadeya

sejarah Rsi Markadeya

Masa sejarah Bali dapat dilihat kembali berawal dari abad ke 8 masehi, pada saat Rsi Markandeya menginjakkan kakinya di Pulau Bali ini. Rsi Markandeya adalah seorang pendeta Hindu Siwa Tattwa yang merupakan aliran yang diyakini oleh mayoritas masyarakat India pada saat itu terutama di tempat asal beliau yaitu di India Selatan. Dalam catatan perjalannya (Markandeya Purana), dapat diketahui bahwa Rsi Markandeya pertama kali menetap di Gunung Dieng yang termasuk Kerajaan Mataram Kuno (Jawa Tengah) yang pada saat itu di bawah pemerintahan Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu melanjutkan pemerintahan Wangsa Syailendra yang beragama Buddha.

Kemungkinan pada masa itu terjadi suatu peristiwa (alam) yang luar biasa yang memaksa pusat kerajaan Mataram ini di pindah ke wilayah Jawa Timur sekarang, ada dugaan kuat pada masa tersebut terjadi letusan Gunung Merapi yang sekaligus juga menimbun candi Borobudur dan juga candi Prambanan. Rsi Markandeya juga berpindah ke arah timur, mengikuti pergerakan penganut agama Hindu ke arah Jawa Timur yang kelak membentuk Kerajaan Medang Kemulan yang didirikan oleh Mpu Sendok.

Setelah beberapa saat bemukim di Gunung Rawang, sekarang dikenal sebagai Gunung Raung (Jawa Timur), Rsi Markandeya kemudian tertarik untuk melanjutkan perjalannya ke timur.


Pada masa itu Pulau Bali belum dikenal sesuai namanya sekarang. Pulau ini masih belum banyak diketahui, sebagian pelaut mengira Pulau Bali merupakan sebuah pulau yang memanjang yang menyatu dengan apa yang kita kenal sekarang sebagai Kepulauan Nusa Tenggara. Jadi pada masa itu Pulau Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara dianggap merupakan sebuah pulau yang sangat panjang yang disebut dalam Markandeya Purana sebagai Nusa Dawa/Pulau Panjang.

Dikisahkan pula Rsi Markandya bertapa di daerah Demalung sekitar Gunung Dieng, dari sini Beliau menuju ke timur dan bertapa di Gunung Raung Jawa Timur dengan di iringi 400 orang pengikut, lalu Beliau pergi ke Bali untuk menyelamatkan Pulau Bali. Pada saat kedatangannya yang pertama dengan menyeberang Segara Rupek (selat Bali) Rsi Markandeya setelah tiba di Bali, Perjalanan Beliau ke Bali pertama menuju Gunung Agung.

Di sanalah maha Rsi dan murid-muridnya membuka hutan untuk pertanian. Misi beliau mengalami kegagalan dimana sebagian besar pengikutnya mengalami kematian ataupun sakit secara misterius. Beliau merasakan aura misterius yang sangat kuat menguasai pulau ini sehingga dia kemudian memutuskan untuk kembali ke Gunung Raung dan bermeditasi/puja wali untuk meminta petunjuk agar bisa selamat dalam perjalanan ke Bali berikutnya.

Dari hasil yoga beliau mendapat pawisik bahwa terjadinya bencana itu adalah karena Beliau tidak melaksanakan upacara keagamaan sebelum membuka hutan itu.

Pura Basukih

Setelah mendapat pawisik, Maharsi Markandya pergi kembali ke Bali. Kali ini mengajak serta pengikut sebanyak 400 orang. Sebelum mengambil pekerjaan, terlebih dahulu menyelenggarakan upacara ritual, melakukan upacara suci/Pecaruan untuk keselamatan mereka selama berada di Bali.

Beliau memutuskan untuk mengadakan upacara suci tersebut ditempat yang tertinggi di pulau ini yang juga diyakini sebagai tempat yang paling keramat. Mereka kemudian mendaki Gunung Agung yang pada saat itu dikenal dengan nama Toh Langkir. Di kaki gunung itu mereka mengadakan upacara suci yang aktifitas utamanya berupa penanaman Panca Datu, 5 unsur logam yang dianggap paling penting pada masa itu (emas, perak, perunggu, tembaga dan besi). Demikianlah akhirnya semua pengikutnya selamat.

Pada saat berada di ketinggian Toh Langkir tersebut Rsi Markandeya menyadari bahwa ternyata Pulau Bali hanya pulau kecil sehingga beliau menganggap bahwa nama Pulau Panjang kurang tepat dan menggantinya dengan nama Pulau Bali. Kata "bali" memiliki akar kata "wali" yang berasal dari bahasa Palawa yang berkembang di India selatan. Bali (wali) kurang lebih berarti persembahan, mengingat untuk mendapatkan keselamatan Rsi Markandeya harus mengaturkan persembahyangan/upacara suci terlebih dahulu dalam perkembangan selanjutnya Bali kurang lebih sama artinya dengan Banten pada masa sekarang ini.

Selanjutnya beliau mengembangkan daerah Toh Langkir menjadi areal pura (tempat suci) yang dianggap sebagai Pura Utama di Bali. wilayah ini lalu dinamai Besuki, kemudian menjadi Besakih, yang artinya selamat. Tempat maharsi menanam Panca dhatu, lalu menjadi pura, yang diberi nama Pura Besakih. Pura lainnya yang erat kaitannya dengan Rsi Markandeya adalah Pura Silawanayangsari di Gunung Lempuyang.

Desa Puakan dan Taro

Dalam perkembangan selanjutnya Rsi Markandeya memutuskan untuk menetap di Bali dan menyebarkan agama Hindu. Entah berapa lamanya Maharsi Markandya berada disana, lalu Beliau pergi menuju arah Barat dan sampai di suatu daerah yang datar dan luas, di sanalah lagi merabas hutan. Maharsi Markandeya mengajak pengikut orang Aga guna diajak merabas hutan dan membuka lahan baru.

Wilayah yang datar dan luas ini lalu diberi nama Puwakan.
Setelah berhasil menunaikan tugas (merabas hutan), maka tanah lapang itu dibagi-bagikan kepada pengikutnya guna dijadikan sawah, ladang, serta sebagai pekarangan rumah.
Kini lokasinya di Desa Puwakan, Taro Kaja, Kecamatan Tegallang, Kabupaten Gianyar. 
Kemungkinan dari kata Puwakan ini lalu menjadi Swakan dan terakhir menjadi subak. Di tempat ini Rsi Markandya menanam jenis-jenis bahan pangan. Semuanya bisa tumbuh dan menghasilkan dengan baik. Oleh karenanya tempat itu juga disebut Sarwada yang artinya serba ada.

Keadaan ini bisa terjadi karena kehendak Sang Yogi. Kehendak bahasa Balinya kahyun atau adnyana. Dari kata kahyun menjadi kayu. Kayu bahasa Sansekertanya taru, kemungkinan menjadi Taro. Taro adalah nama wilayah ini kemudian. Di wilayah Taro ini Sang Yogi mendirikan sebuah pura, sebagai kenangan terhadap pasraman Beliau di Gunung Raung. Puranya sampai sekarang disebut Pura Gunung Raung.

Tentang pembagian tanah dan kehadiran maha Rsi di Bali, dalam Markandya Purana ada dijelaskan:
"Saprapta ira sang Yoghi Markandya maka di watek pandita Adji, mwah wadwan ira sadya ring genahe katuju, dadya ta agelis sang Yoghi Markandya mwang watek Pandita prasama anangun bratha samadhi, anguncar aken wedha samadhi, mwah wedha pangaksamaning Bhatara kabeh, sang Pandita aji anguncar aken wedha panulaks arwa marana, tarmalupeng puja samadhi, Dewa yajna mwang Bhhutayajna, Pratiwi stawa. Wus puput ngupacaraning pangaci aci, irika padha gelis wadwan ira kapakon angrabas ikangwana balantara, angrebah kunang taru-taru, ngawit saking Daksina ka Utara.
Reh sampun makweh olih ngrabas ikang wana balantara, mwah dinuluran swecaning Hyang tan hana manggih pasangkalan, Sang Yoghi Markandya anuduh akenwadwan ira araryanrumuhun angrabas wana ika, tur wadwan ira sadaya, angangge sawah mwang tegal karang paumahan.....,
"
Artinya:
Setibanya Sang Yoghi Markandya seperti juga para Pandita Aji, bersama rakyatnya semua di tempat yang di tuju, maka segera Sang Yoghi Markandya dan para pandita semuanya melakukan bratha samadi, dengan mengucapkan wedha samadi, serta weda memohon perkenan Ida Batara semua, Sang pandita Aji mengucapkan weda penolakan terhadap semua jenis hama dengan tak melupakan puja samadhi, menyelenggarakan upacara Dewayajnya dan Bhutayajnya, serta memuja Pertiwi. Setelah selesai melakukan pangaci-aci (melakukan upacara), maka seluruh rakyatnya diperintahkan merabas hutan belantara tersebut, menebang kayu-kayu, di mulai dari selatan setelah itu baru ke utara.
Atas perkenan Tuhan Hyang Maha Kuasa, proses perabasan hutan tak mendapat halangan. Karena sudah luas, maka Sang Yoghi Markandya memerintahkan rakyatnya untuk berhenti melakukan perabasan hutan. Yoghi Markandya kemudian membagi-bagikan lahan itu kepada pengikutnya untuk dijadikan sawah, tanah tegalan, serta pekarangan rumah,.....

Ubud

Setelah berhasil merabas hutan di Besakih, Rsi Markandeya kemudian bersemadi. Dalam semadinya menemukan satu titik sinar terang. Selanjutnya Rohaniwan ini menelusuri sinar yang ditemukan dalam beryoga, hingga sampai pada satu tempat agak tinggi ditumbuhi hutan lebat. Pada lokasi dimaksud Rsi Markandeya melakukan yoga semadi. di tempat Maharsi beryoga itulah selanjutnya berdiri Pura Pucak Payogan. Dataran perbukitan yang dipenuhi dengan pohon-pohon besar dan lebat, sehingga menjadikan tempat itu sangat baik untuk melakukan yoga dan semadi. Kautamaan Tanah di sekitar Pura Pucak Payogan, membuat Sang Maha Rsi lama berdiam di Payogan, mengajarkan banyak ilmu tentang alam dan spiritual tinggi.

Dalam perjalanan sejarah Guru Suci Rsi Markandya dari Gunung Raung Jawa ke Bali, dalam proses penyebaran Agama Hindu beliau tiba disebuah lereng atau bukit kecil yang memanjang kearah utara dan selatan. Bukit ini diapit oleh dua buah sungai yang berliku yang mirip seperti dua ekor naga. Sungai yang berada disebalah barat bernama Sungai Wos Barat, sedangkan yang berada disebelah timur Sungai Wos Timur.

Kedua sungai Wos barat dan Wos Timur bertemu menjadi satu disebuah lokasi yang disebut dengan campuhan. Di Campuhan inilah Rsi Markendya mengadakan tempat pertapaan dan beliau mulai merambas hutan untuk membuat pemukiman dan membagikan tanah pertanian bagi pengikutnya. Dengan demikian sempurnalah Yoga Sang Resi, dengan ditandai dengan mulainya kehidupan masyarakat di Desa ini dengan dianugrahinya tanah untuk pertanian sebagai sumber kehidupan.

Sebutan Wos untuk kedua sungai yang telah bercampur dan melekat menjadi nama desa/pemukiman pada jaman itu. Sedangkan nama sungai ini sesuai dengan maknanya. Sesuai dengan isi lontar Markandya Purana, Wos ngaran “Usadi”, Usad ngaran “Usada”, dan Usada ngaran “Ubad”. Dari kata ubad ini ditranskripsikan menjadi UBUD.

Tepatnya di Campuhan Ubud, Rsi Markandeya mendirikan tempat suci Pura Gunung Lebah. Pura ini dibangun sebagai tempat sang yogi melakukan penyucian diri dari segala mala petaka atau tempat panglukatan dasa mala. Dalam Bhuwana Tatwa Maharsi Markandeya ada ditegaskan:
"Mwah ri pangiring banyu Oos ika hana Wihara pasraman sira rsi Markandya iniring para sisyan ira, makadi kula wanduan ira sira sang Bhujangga Waisnawa....” 
Artinya :
di pinggir sungai Oos itu terdapat sebuah Wihara sebagai pasraman Ida Maharsi Markandeya disertai oleh muridnya, seperti sanak keluarga sang Bhujangga Waisnawa.

Berikutnya Rsi Markandya pergi ke Barat dari Payogan itu, dan sampai di sana juga membangun sebuah pura yang diberi nama Pura Murwa dan wilayahnya diberi nama Pahyangan, yang sekarang menjadi Payangan. Orang-orang Aga, murid Sang Yogi, menetap di desa-desa yang dilalui. Mereka bercampur dan membaur dengan orang-orang Bali Asli. Mereka mengajarkan cara bercocok tanam yang baik, menyelenggarakan yajna seperti yang diajarkan oleh Rsi Markandya. Dengan demikian Agama Hindu pun dapat diterima dengan baik oleh orang-orang Bali Asli itu.

Dari tinjauan sejarah tidak banyak peninggalan tertulis dari Resi Markandeya selain dari pada Lontar Markandeya Purana tersebut dan pura-pura peninggalan beliau.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Poskan Komentar