Google+

Rabu, 02 Januari 2013

Odalan Mrajan atau Sanggah Alit Kubayan di Guwang Sukawati

Odalan Mrajan / Sanggah Alit Kubayan di Guwang Sukawati

secara umum, Odalan merupakan sebuah upacara keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat hindu bali untuk memperingati hari kelahiran pura/tempat suci semacam perayaan ulang tahun kalau pada manusia, atau mengenang hari pertamakali orang suci membuat asram/rumah yang sekaligus membuat mrajan / sanggah (tempat suci untuk rumah pribadi). Upacara Odalan ada dua macam, upacara enam bulanan dan upacara satu tahunan. Semakin tinggi tingkat puranya, upacara yang diadakan semakin meriah. Biasanya, upacara odalan satu tahunan lebih besar dan meriah. Odalan tahunan pura desa dirayakan lengkap dengan tarian sepanjang malam.

Odalan berasal dari kata “Wedal” atau lahir; hari Odalan = hari wedal = hari lahir = hari di-stanakannya Ida Bethara di Pura dan Sanggah Pamrajan. Yang menjadi patokan adalah hari upacara Ngenteg Linggih yang pertama kali. Istilah lain yang digunakan untuk hari Odalan adalah hari: 

  • Petirtaan (karena di saat itu kepada Ida Bethara disiratkan tirta pebersihan dan dimohonkan tirta wangsuhpada), 
  • Petoyaan (sama dengan Petirtaan), 
  • Pujawali (karena di saat itu diadakan pemujaan “wali” = kembali di hari kelahiran = wedal).

Hari odalan ada dua cara :

  • Menurut perhitungan wuku (berarti dalam setahun mengadakan 2 x odalan).
  • Menurut perhitungan sasih (berarti dalam setahun hanya mengadakan odalan sekali)

Hari-hari menurut pawukon yang digunakan sebagai hari odalan (enam bulan sekali) adalah:

  1. Buda Kliwon: Sinta, Gumbreg, Dungulan, Pahang, Matal, Ugu
  2. Tumpek (saniscara kliowon): Landep, Wariga, Kuningan, Krulut, Uye, Wayang.
  3. Buda Wage: Ukir, Warigadean, Langkir, Merakih, Menail, Klawu
  4. Anggarakasih: Kulantir, Julungwangi, Medangsia, Tambir, Prangbakat, Dukut.
  5. Saniscara Umanis: Tolu, Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung.

Hari-hari menurut Sasih yang digunakan sebagai hari odalan (setahun sekali) adalah:

  1. Purnamaning sasih kapat
  2. Purnamaning sasih keLima
  3. Purnamaning sasih keDasa, dll

Arti Mrajan dan Sanggah


  • Sanggah berasal dari Bahasa Kawi: “Sanggar”, berarti tempat untuk melakukan kegiatan (pemujaan suci);
  • Pamrajan atau Mrajan berasal dari Bahasa Kawi: “Praja”, yang berarti keturunan atau keluarga.

Dengan demikian Sanggah Pamrajan dapat diartikan sebagai tempat pemujaan dari suatu kelompok keturunan atau keluarga.

Dalam Lontar Siwagama disebutkan bahwa Palinggih utama yang ada di Sanggah Pamrajan adalah Kamulan sebagai tempat pemujaan arwah leluhur. Untuk menguatkan kedudukan Kamulan, dibangun Palinggih-Palinggih lain sebagai berikut:
  1. Taksu: palinggih Dewi Saraswati, sakti (kekuatan) Dewa Brahma dengan Bhiseka Hyang Taksu yang memberikan daya majik agar semua pekerjaan berhasil baik.
  2. Pangrurah: palinggih Bhatara Kala, putra Bhatara Siwa dengan Bhiseka Ratu Ngurah yang bertugas sebagai pecalang atau penjaga Sanggah Pamrajan.
  3. Sri Sedana atau Rambut Sdana: palinggih Dewi Sri dengan Bhiseka Sri Sdana atau Limascatu, yaitu sakti (kekuatan) dari Dewa Wisnu sebagai pemberi kemakmuran kepada manusia.
  4. Padma: palinggih Ida Sanghyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa dalam wujud sebagai Siwa Raditya.
  5. Manjangan Salwang: palinggih Dewa Rsi Mpu Kuturan dengan Bhiseka Limaspahit, penyebar dan penyempurna Agama Hindu di Bali, abad ke-10 M
  6. Gedong Maprucut: palinggih Danghyang Nirarta dengan Bhiseka Limascari, penyebar dan penyempurna Agama Hindu di Bali, abad ke-15 M.
  7. Gedong Limas atau Meru tumpang satu, tiga, lima: palinggih Bhatara Kawitan, yaitu leluhur utama dari keluarga.
  8. Bebaturan: palinggih Bhatara Ananthaboga dengan Bhiseka Saptapetala, yaitu sakti Sanghyang Pertiwi, kekuatan Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam menguasai bumi.
  9. Bebaturan: palinggih Bhatara Baruna dengan Bhiseka Lebuh, yaitu sakti Bhatara Wisnu, kekuatan Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam menguasai lautan.
  10. Bebaturan: palinggih Bhatara Indra dengan Bhiseka Luhuring Akasa, yaitu sakti Bhatara Brahma, kekuatan Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam menguasai angkasa.
  11. Gedong Limas: palinggih Bhatara Raja Dewata dengan Bhiseka Dewa Hyang atau Hyang Kompiang, yaitu stana para leluhur di bawah Bethara Kawitan yang sudah suci.
  12. Pengapit Lawang (dua buah di kiri-kanan Pamedal Agung): palinggih Bhatara Kala dengan Bhiseka Jaga-Jaga, yaitu putra Bhatara Siwa yang bertugas sebagai pecalang.
  13. Balai Pengaruman: palinggih Bhatara-Bhatari semua ketika dihaturi Piodalan atau ayaban jangkep (harum-haruman). Sering juga disebut sebagai Balai Piasan (Pahyasan) karena ketika dilinggihkan di sini, Pralingga-pralingga sudah dihias.

Catatan:
Di beberapa Sanggah Pamrajan sering dijumpai beberapa Gedong Limas kecil-kecil yang merupakan palinggih tambahan. Menurut sejarah para leluhur terdahulu yang kebanyakan didirikan untuk menyatakan terima kasih dan bhakti, misalnya ketika sakit memohon penyembuhan dari Ida Bhatara di Pulaki; setelah sembuh lalu mendirikan pengayatan Beliau di Sanggah Pamrajan, demikian selanjutnya berkembang dengan berbagai kejadian, sampai akhirnya ada yang mencapai jumlah puluhan palinggih.

Kubayan /kebayan merupakan trah atau warga yang mempuyani tugas pokok untuk menyayomi umat, dimana tugas ini di aplikasikan dengan menjadi pengemong pura - pura besar dibali, baik di Pura Batur Bangli, Gunung Raung desa Taro Payangan Gianyar, di Pura Batukaru Tabanan, di Pura Puncak Penulisan Kintamani Bangli dan di beberapa pura besar di Bali. itu semua tersirat dalam Raja Purana Pura Batukaru yang berbunyi "Lwir ring Pura Luhur Watukaru samana anabdab kahyangan lawan pada khubayan ing kana" yang maksudnya di Pura Batukaru warga/trah Khubayan yang bertanggung jawab dan juga sebagai "pengenter" di desa, bahkan di Pura Puncak Penulisan ada beberapa sumber mengatakan kalau di Pura Puncak Penulisan wewenang spiritual paling tinggi memang dipegang “pejabat warga” yang dinamakan Jero Kubayan. Termasuk saat berlangsung upacara besar, tak mempergunakan pandita atau sulinggih layaknya di beberapa pura sad kahyangan di Bali. mengingat tanggung jawab dari isi purana tersebut, hendaknya treh kubayan sajebag jagat bali memberi contoh pelaksanaan upacara yang terbaik mendekati kesempurnaan sesuai dengan kemampuan dari pelaksana yadnya masing-masing.

untuk Mrajan / Sanggah Alit Kubayan Diguwang terdapat beberapa pelinggih, diantaranya:
Pelinggih di tengah- tengah sanggah adalah

  • Balai Pengaruman atau arip-arip

di sebelah Timur, dari sisi utara ke selatan:

  • Padmasana
  • Pelinggih Bagia Pula Kerthi
  • Limas Catu
  • Limas Sari
  • Sanggar Kemulan
  • Gedong Limas Peliyangan / Dewahyang
  • Manjangan Salwang
  • Panglurah

di sisi utara, dari timur kebarat:

  • Sri Sedana atau Rambut Sdana
  • Limas
  • Limas
  • Taksu
  • Bebaturan

di sisi barat terdapat Balai Pengiyas
di depan Pemedal Sanggah terdapat dua pelingih Pengapit Lawang
di tengah Rumah terdapat Pelinggih Hyang Siwa Raksa (silahkan baca Panca Raksa)
di utara siwaraksa, disebelah timur Bale Daja terdapat Pelinggih Pitra.
di sisi Barat laut Rumah terdapat Pelinggih Pengunggun/sedahan Pengijeng Karang
di sisi luar rumah terdapat
  • Anggul-angkul dengan apit lawangnya
  • Pemedal Agung dengan apit lawangnya
  • Pelinggih Indrablaka
Padmasana (tengah) 

Linggih Bagia Polokerthi
Lingih Limas Catu dan Limas Sari
Linggih Kemulan

Linggih Gedong Limas Dewahyang
Pelinggih Manjangan Salwang
Bebaturan Panglurah Agung

Linggih Lumbung Sari
Pelinggih Pengaruman
Limas Lepitan, Limas Paibon dan Sri Sedana
Bebaturan Pengapit dan Pelinggih Taksu 
apit lawang Pemedal sanggah
Pelinggih Hyang Siwa Raksa
Pelinggih Ratu Ngurah Pengijeng Karang
Angkul - angkul
Indrablaka dan Pamedal agung

 Odalan Sanggah Alit trah Kubayan di Guwang 

bertepatan dengan Rahina Budha Umanis Dukut, dimana tingkat odalan adalah Dewa yadnya tingkat madya, yaitu odalan Pamereman, untuk mengimbangi odalan tersebut, dipilihlah titimamah ida betara menggunakan Butha yadnya 

  • Caru Panca Sata di Mrajan, 
  • Caru Eka Sata ayam Brumbun di Halaman rumah dan 
  • Caru Eka Sata ayam Biying di lebuh (angkul - angkul / pintu masuk rumah)

adapun banten yang digunakan antara lain, banten Pamereman:
  • Padmasana Munggah:
  • Pelinggih Bagia Pula Kerthi Munggah:
  • Sanggar Surya Munggah:
  • Limas Catu Munggah:
  • Limas Sari Munggah:
  • Sanggah Kemulan Munggah:
  • Gedong Limas Peliyangan / Dewahyang Munggah:
  • Manjangan Salwang Munggah:
  • Panglurah Munggah:
  • Sri Sedana atau Rambut Sdana Munggah:
  • Limas Paibon Munggah:
  • Limas Lepitan Munggah:
  • Taksu Munggah:
  • Bebaturan Pengapit Munggah:
  • Balai Pengiyas Munggah:
  • Pemedal Sanggah terdapat dua pelingih Pengapit Lawang Munggah:
  • Pelinggih Hyang Siwa Raksa Munggah:
  • Palinggih Pitra munggah:
  • Pelinggih Pengunggun/sedahan Pengijeng Karang Munggah:
  • Angkul-angkul Munggah:
  • Pemedal Agung Munggah:
  • Pelinggih Indrablaka Munggah:
adapun dudonan acaranya:
  • Anggara Kasih Dukut, ngemedalin Bethara, ngiyas tur ngelingihang ring Pengaruman
  • Budha Umanis Dukut, ngaturan Pecaruan dan Puncak Piodalan ngaturan Pamereman
  • Wrespati Paing Dukut, Ngayarin dan Mesineb.
demikian gambaran singkat tentang Odalan Mrajan atau Sanggah Alit Kubayan di Guwang Sukawati, semoga informasi ini berguna bagi yang memerlukan. suksma

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar