Google+

Rasa, Wirya, Wipaka dan Dhatu dalam Pengobatan

Rasa, Wirya, Wipaka dan Dhatu dalam Pengobatan

Menurut Ayurveda, sari makanan tidak hanya terletak pada mudahnya dibakar (metabolisme) untuk menghasilkan energi atau substansi vital, tetapi juga di dalam hal kualitasnya. Kualitas ini menyangkut masalah rasa, virya, vipaka dan dhatu. Masalah kualitas ini perlu diketahui secara mendalam oleh para vaidhya atau balian untuk memudahkan memahami efek sebuah obat atau makanan di dalam tubuh yang diberikan kepada pasien. Ada empat hal yang perlu mendapat perhatian, yakni rasa, wirya, wipaka, dan dhatu.

Rasa

Rasa ini berada di dalam tumbuhan, yang dapat dirasakan atau diketahui melalui panca indera lidah. Dikenal ada enam buah rasa yang dapat diindera oleh lidah. Keenam, rasa tersebut adalah manis (swadu), asin (lawana), pedas (kaktu), masam (amla), sepet (ksaya, kasaya), dan pahit (tikta). Masing-masing dari rasa ini memiliki tingkatan atau kualitas dalam hal rasanya. Dalam menentukan kualitas atau tingkatan rasa ini amat tergantung kepada pengalaman masing-masing individu. Kualitas dan rasa ini amat tergantung kepada pengalaman masing-masing individu. Kualitas dan rasa ini diperoleh melalui nasa atau kecap oleh lidah, sebagai indra pengecap. Kualitas nasa manis (swadu) pada sebuah jeruk ditentukan sekali oleh pengalaman kita dalam mencicipi beberapa rasa buah jeruk sebelumnya.


Kita dapat membandingkannya apabila sudah pernah merasakan rasa manis buah jeruk tersebut. Apabila kita mengatakan bahwa mangga arum manis lebih manis dan mangga manalagi, berarti kita sudah pernah mencicipi kedua buah mangga tersebut. Berdasan pengalaman tensebut, kita dapat mernbandingkannya dan berani mengatakan bahwa mangga arum manis lebih manis dari mangga manalagi. Jika kita tidak pernah mencicipi salah satu atau kedua mangga tersebut tentunya tidak mungkin untuk menarik simpulan dalam perbandingan kualitas rasa manisnya kedua buah mangga tersebut. Demikian pula halnya dengan nasa tikta atau pahit pada daun sambiloto dibandingkan dengan pahitnya rasa buah paya (priya). Rasa pahit pada daun sambiloto lebih tinggi kualitasnya dan pahitnya buah paya. Daun sotong atau jambu biji rasanya lebih kasaya atau sepet dari buah pisang mentah. Inilah yang dimaksudkan dengan kualitas dari rasa tersebut. Jenis “sari kecap”, inti sari rasa pengecapan seperti ini di dalam Ayurweda disebut rasa.

Rasa merupakan pengalaman yang did apat melalui pengeca pan yang dirasakan di lidah. Keadaan ini dapat disamakan dengan efek obat di dalam tubuh pemakainya. Berbagai obat memiliki efek atau kualitas tertentu setelah masuk ke dalam tubuh manusia. Kualitas efek dari obat panas (anget) yang satu akan berlainan efeknya

Wipaka

dibandingkan dengan kualitas obat panas lainnya. Demikian pula dengan efek berbagai obat lainnya erhadap kemampuan tubuh manusia. Ada orang yang tubahnya mudah dapat mcnerima kualitas efek obat walaupun kandungan rasanya rendah, sehingga cepat sernbuh. Tetapi ada pula orang yang agak lambat dalam menerima kualitas efek obat setelah masuk ke dalam tubuhnya, sehingga agak terlambat pula proses penyembuhannya.

Wirya

Wirya adalah potensi obat yang berada di dalam tubuh manusia. Misalnya kemampuan untuk memanaskan tubuh, mendinginkan tubuh, menurunkan unsur tn dosha (vatta, pitta, kapha), merangsang pencernaan, melawan pernyakit, dan sebagainya. Kemampuan obat setelah berada di dalam tubuh manusia ini disebut wirya. Berdasarkan atas banyaknya kandungart potensinya, menurut kitab Ayurveda dikenal ada dua tipa wirya atau potensi yang ada di dalam obat, yakni wirya 2- tipe dan wirya 8-tipe.

  1. Wirya 2 - tipe, terdiri atas : 1). panas (usna), dan 2) dingin (sita)
  2. Wirya 8 - tipe, yaitu: 1). dingin (sita), 2). panas (usna), 3). berlemak (snigdha), 4) kering (ruksa), 5) berat (guru), 6). ringan (laghu), 7). lamban (manda), dan 8). tajam (tiksna).

Wirya atau potensi inilah yang merupakan sifat paling aktif yang berada di dalam obat. Kuat lemahnya efek suatu obat tergantung sekali pada wirya yang dikandungnya. Berbagai jenis obat untuk mengobati satu jenis penyakit, ampuh tidaknya ditentukan oleh besar kecilnya kandungan wirya atau sifat aktif yang terdapat di dalam masing-masing obat tersebut.

Wipaka adalah “rasa yang muncul setelah dicerna”. Selama proses pencernaan berlangsung di saluran pencernaan, mulai dan mulut, lambung sampai di usus, makanan mengalami perubahan melalui tiga tahapan, akibat adanya reaksi dan enzim (agni) yang ada di dalam saluran alat pencernaan.

Produk pada tahap I adalah manis (svadu).

Nasi yang dikunyah di dalarn mulut yang semula rasanya hambar, kemudian menjadi manis (svadu). Unsur karbohidrat yang berada di dalam nasi, yang semula rasanya hambar setelah diubah oleh enzim (agni) di dalarn mulut menjadi glukose yang rasanya manis.

Produk pada tahap II adalah masam (amla).

Setelah nasi tersebut ditelan, maka di dalam lambung akan mengalami proses pencernaan lagi. Di dalam lambung terdapat agni atau enzirn asam. Produk yang dihasilkan dan proses pencernaan ini rasanya adalah asam (amla).

Produk pada tahap III adalah pedas (katu)

Dan lambung nasi tersebut yang telah menjadi asam akan masuk ke dalam usus. Di usus akan mengalami proses pencernaan lagi, dan rasanya menjadi pedas (katu).
Ketiga rasa ini dapat dikecap atau dirasakan ketika kita muntah. Ada rasa manis, asam dan pedas dan muntahan tersebut. Rasa ini muncul akibat adanya agni atau enzim dalam tubuh dan perubahan yang terjadi pada makanan.

Pada uraian terdahulu dapat aisimak bagaimana hiibungan antara rosa, mahabhula, tri dosha, efek metabolik, wirya (kedua tipe) dan wipaka. Di dalam kaitan ini dapat dilihat, ada dua unsur mahabhuta bersatu atau membuat suatu ikatan, sehingga menghasilkan masing-masing sebuah rasa (sad rasa = enam rasa). Misalnya :

  1. manis / svadu = prthiwi + jala
  2. masam / amla = jala + teja
  3. asin / lavana = prthiwi + teja
  4. pedas / katu = wayu + teja
  5. pahit / tikta = wayu + akasa
  6. sepet / kasaya = wayu + prthiwi

Rasa manis atau svadu timbul atau muncul akibat persenyawaan antara dua unsur panca mahabhuta, yakni unsur prthiwi (tanah) dengan jala (air). Rasa manis (svadu), asin (lavana), dari sepet (kasaya) mengandung unsur prthiwi. Unsur prthiwi (tanah) berada di dalam ketiga rasa tersebut.

Dhatu

Dhatu bermakna : “sesuatu yang masuk ke dalam formasi struktur dasar tubuh secara keseluruhan” atau yang mempertahankan tubuh. Dhatu inilah yang menjadikan adanya kekuatan di dalam kulit, otot, tulang, otak, saraf, paru, jantung, hati, ginjal, darah dan seterusnya. Dengan adanya dhatu, kulit menjadi hidup dan dapat berfungsi sebagai alat peraba panas dingin, kasar halus, sakit atau tidak. Otot dapat berkontraksi dan berelaksasi sehingga manusia dapat bergerak. Dhatu di dalam saraf menyebabkan saraf dapat menyalurkan informasi dan luar ke otak atau sebaliknya dan otak ke bagian tubuh. Berdasarkan hal ini, maka dhatu dikenal sebagai dasar elemen jaringan. Disebut juga sapia dhatu atau tujuh unsur elemen tubuh yang berada di dalam tubuh manusia. Ketujuh dhatu itu terdiri atas kelima unsur mahabhuta (akasa, teja, bayu, apah perthiwi). Tetapi di dalam hal unsur tri dosha, hanya ada satu atau dua unsur mahabhuta yang dominan pada salah satu dhatu. Dhatu tersebut berfungsi untuk memelihara serta mempertahankan tubuh. Seluruh tubuh terdiri atas dhatu.

Dengan mengenal rosa, wirya, wipaka, serta dhatu yang ada di dalam makanan maupun obat akan lebih memudahkan dalam memilih dan memilah makanan atau obat apa yang harus dikonsumsi agar badan tetap sehat dan berumur panjang (swashtya). WHD No. 511 Juli 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar