Google+
Tampilkan postingan dengan label Ayur Veda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ayur Veda. Tampilkan semua postingan

Gangguan Pada Unsur Tri Dosha Pitta dan Klasifikasi Penyakit

Gangguan Pada Unsur Tri Dosha Pitta dan Klasifikasi Penyakit

Unsur tri dosha yang dapat terganggu tidak hanya unsur vatta saja, tetapi unsur pittu-pun dapat terganggu. Keadaan ini disebut pittaja. Penyebab utama terjadi pittaja atau gangguan pada unsur pitta antara lain adalah:

  1. Gangguan emosi, seperti marah, sedih, takut, ngeri, dsb.
  2. Bekerja terlalu keras sehingga kepayahan.
  3. Bersanggama atau melakukan hubungan seksual yang berlebihan. Pada laki-laki yang banyak mengeluarkan sperma atau air mani, baik akibat bersanggama maupun onani, dapat mengakibatkan pula pittaja.
  4. Makan dan minurnan dapat juga menyebabkan pittaja. Misalnya, makan tak teratur, melakukan puasa tak terkendali, makan dan minum yang rasanya asam (amla), asin (lavana), pedas (katu), panas (usna), bersifat ringan (laghu), diet berlebihan, makan makànan yang banyak mengandung minyak sesam, minyak jajan, daging ikan guana, daging kambing, biri-biri, dadih susu, mentega susu, air dadih, fermentasi air gandum (untuk bir), buah asam, cairan fermentasi (air tape), dan sebagainya.

Selain itu hendaknya diwaspadai bahwa unsur pitta mudah sekali terganggu oleh suhu panas, cuaca di musim panas dan musim gugur, pada tengah hari (tengai tepet), dan tengah malam (tengah lemeng) , atau oleh makanan yang sedang dicerna. 

Ramuan Obat Menurut Ayurveda

Ramuan Obat  Menurut Ayurveda

Ayurveda membagi makhluk hidup yang ada di dunia ini berdasarkan atas yoni atau sumber asalnya dalam 4 tipe, yaitu

  1. jarayuja, makhluk hidup yang dibungkus oleh selaput tipis amnion ketika berada dalam kandungan,
  2. andaja, makhluk yang lahir atau hasil penetasan dan telur,
  3. svedaja, makhluk hidup yang mengeluarkan keringat,
  4. audbhija, makhluk yang muncul ke luar menembus tanah, 
Tiga tipe pertama ini terdiri atas makhluk hidup yang berupa binatang sedangkan tipe yang keempat, yakni audbhidja berupa makhluk hidup berwujud tumbuh-tumbuhan.

Pengobatan terhadap suatu vyadhi, abadha, roga atau penyakit pada umumnya mempergunakan ramuan obat yang terdiri dan bahan makhluk hidup, baik yang berasal dan binat ang jarayuja, andaja, svedaya maupun yang berasal dan audbhidja atau tumbuh-tumbuhan.

Rakta Moksha Pengeluaran Darah

Rakta Moksha  Pengeluaran Darah

Ada beberapa penyakit yang tidak hams ditangani melalui salya atau pembedahan berupa daha, baik secara ksara (larutan alkali) maupun agni (pembakaran). Pada penderita bisul, pembesaran kelenjar limpa, radang di berbagai tempat di bawah kulit tubuh, sering pengobatannya tidak dilakukan secara pembedahan atau salya, tetapi dengan cara mengeluarkan darah yang ada di tempat tersebut. Cara ini disebut rakta moksha. Pengobatan jenis rakta moksha ini dilakukan dengan memanfaatkan binatang lintah (varddhusa). Dengan menempelkan binatang lintah ini pada bisul misalnya, darah atau rakta cepat diisap tanpa menimbulkan rasa sakit. Memanfaatkan pengobatan ini terutama dipergunakan pada bayi dan orang yang sudah tua atau pada mereka yang berbakat penakut, pasien terlalu lemah untuk dilakukan tindakan bedah atau operasi.

Bagian tubuh yang akan dilekati lintah, digosok terlebih dahulu dengan campuran abu dan tahi sapi yang masih baru, Binatang warddhusa atau lintah yang akan dipergunakan sebagai penyedot darah, dicelupkan terlebih dahulu ke dalam air yang berisi ramuan biji mostar (tumbuhan untuk obat kompres) dan bubuk kunir (haridra). Kemudian lintah dilekatkan pada bagian tubuh yang akan dikeluarkan darahnya. Bila lintah tidak mau menempel, iris sedikit tempat tersebut, sehingga ke luar darah. Selama lintah mengisap darah pasien, agar selalu tubuh lintah dibasahi dengan air, supaya binatang ini kuat mengisap darah atau rakta.

Jihva Pariksha Pemeriksaan Lidah

Jihva Pariksha  Pemeriksaan Lidah

Lidah atau jihva adalah bagian dan tubuh yang terletak di rongga mulut. Lidah ini terdiri atas otot tetapi tidak ada tulang di dalamnya. Dia mampu bergerak sendiri, tidak seperti lengan atau tungkai yang ada tulangnya. Lidah merupakan salah satu dan panca indera. Berfungsi sebagai alat untuk mengecap, dan juga untuk berbicara. 

Menurut Ayurveda, lidah ini erat sekali kaitannya dengan organ tubuh bagian dalam. Oleh karena organ bagian dalam sulit dilihat dan diperiksa dan luar, maka dengan memeriksa lidah ataü jihva dapat juga membantu menegakkan diagnosis yang tepat. Hal ini dimungkinkan karena prana, elan vital atau energi vital berada serta bergerak pula di seluruh bagian lidah. 

Gerakan prima ini sesuai dengan keadaan organ di bagian dalam tubuh. Perubahan warna, penebalan atau penipisan bagian tertentu dan lidah menunjukkan adanya kelainan atau gangguan pada organ tertentu dalam tubuh. Jika dilihat dan segi bentuk, maka ujung lidah merupakan cerminan keadaan di tubuh bagian atas. Bagian tengah dan pangkal lidah sebagai refleksi tubuh bagian yang lebih di bawahnya. 

Salya Tantra Ilmu Pengobatan Bedah Menurut Ayurveda

Salya Tantra Ilmu Pengobatan Bedah Menurut Ayurveda

Di dalam kitab Sushruta Samhita dikatakan bahwa salya atau pembedahan merupakan terapi atau chikitsa yang paling baik, cepat dan berhasil untuk menanggulangi penyakit tertentu yang memerlukan pengangkatan atau menghilangkan bagian tubuh yang menyebabkan terjadinya penyakit. Menurut istilah Ayurveda, pengobatan dengan cara pembedahan dilakukan terhadap penyakit yang diakibatkan oleh penumpukan unsur tri dosha, dhatu dan mala di dalam tubuh. Dengan cara dibedah akan memberikan kesempatan kepada tubuh untuk mencapai keseimbangan dan keharmonisannya kembali. Salya atau pembedahan tidaklah hanya menyangkut pembedahan atau operasi saja, tetapi termasuk juga bagairnana menegakkan diagnosis, persiapan mengenal metode yang dipergunakan, ukuran, operasi, alat bedah, metode penanganan pasca bedah, dan mengembalikan kesehatan agar kesehatan kembali normal kembali. 

Cara yang biasa dipergunakan dalam pembedahan menurut Ayurveda adalah: dengan cara dibedah akan memberikan kesempatan kepada tubuh untuk mencapai keseimbangan dan keharmonisannya kembali. Salya atau pembedahan tidaklah hanya menyangkut pembedahan atau operasi saja, tetapi termasuk juga bagairnana menegakkan diagnosis, persiapan mengenal metode yang dipergunakan, ukuran, operasi, alat bedah, metode penanganan pasca bedah, dan mengembalikan kesehatan agar kesehatan kembali normal kembali. 

Rasa, Wirya, Wipaka dan Dhatu dalam Pengobatan

Rasa, Wirya, Wipaka dan Dhatu dalam Pengobatan

Menurut Ayurveda, sari makanan tidak hanya terletak pada mudahnya dibakar (metabolisme) untuk menghasilkan energi atau substansi vital, tetapi juga di dalam hal kualitasnya. Kualitas ini menyangkut masalah rasa, virya, vipaka dan dhatu. Masalah kualitas ini perlu diketahui secara mendalam oleh para vaidhya atau balian untuk memudahkan memahami efek sebuah obat atau makanan di dalam tubuh yang diberikan kepada pasien. Ada empat hal yang perlu mendapat perhatian, yakni rasa, wirya, wipaka, dan dhatu.

Rasa

Rasa ini berada di dalam tumbuhan, yang dapat dirasakan atau diketahui melalui panca indera lidah. Dikenal ada enam buah rasa yang dapat diindera oleh lidah. Keenam, rasa tersebut adalah manis (swadu), asin (lawana), pedas (kaktu), masam (amla), sepet (ksaya, kasaya), dan pahit (tikta). Masing-masing dari rasa ini memiliki tingkatan atau kualitas dalam hal rasanya. Dalam menentukan kualitas atau tingkatan rasa ini amat tergantung kepada pengalaman masing-masing individu. Kualitas dan rasa ini amat tergantung kepada pengalaman masing-masing individu. Kualitas dan rasa ini diperoleh melalui nasa atau kecap oleh lidah, sebagai indra pengecap. Kualitas nasa manis (swadu) pada sebuah jeruk ditentukan sekali oleh pengalaman kita dalam mencicipi beberapa rasa buah jeruk sebelumnya.

Logam atau Dathu dalam Usadha - Sebagai Bahan Ramuan OBAT

Logam atau Dathu dalam Usadha - Sebagai Bahan Ramuan OBAT

kandungan logam untuk obat
Sebagai telah diketahui bahan ramuan obat selain berasal dari makhluk hidup seperti tumbuhan dan binatang, ada juga yang berasal dari makhluk yang tidak hidup. Di dalam kitab Ayurweda sebagai kitab kedokteran Hindu tertua di dunia, diuraikan tentang bagaimana cara memanfaatkan dhatu (logam) dan upadhatu (mineral) untuk dipergunakan sebagai bahan obat-obatan. Benda mati yang paling sering dipergunakan sebagai bahan ramuan obat terdiri atas logam, non-logam, mineral serta air yang diambil dari bumi atau perthivi.

Kita tidaklah dengan mudah dan seenaknya mengambil logam besi, perak, mas kuningan, untuk dicampur dalam ramuan obat. Logam atau mineral yang belum diolah jika diminum akan berefek sebagai racun. Oleh sebab itu setiap logam atau mineral sebelum dipergunakan sebagai bahan ramuan obat harus melalui suatu proses pengolahan khusus, sehingga menjadi bentuk bhasma. Bhasma ini merupakan bentuk dari logam dan mineral yang telah terbebas sari racun, dan bhasma inilah yang siap dipergunakan sebagai bahan ramuan obat. Dalam Ayurweda cara untuk menetralkan efek racun dari logam dan mineral ini disebut sodhana (pemurnian) dan marana (pembasmian, pembunuhan). Proses Sodhana dan Marana dilakukan dengan cara merebus dalam air yang telah dibubuhi ramuan dan tanaman tertentu tergantung jenis logam atau mineral yang akan dihilangkan efek racunnya. Melalui proses perebusan ini efek racunnya akan hilang serta mudah diserap di dalam alat pencernaan dan amat efektif sebagai obat.

Pustaka Suci Weda

Pustaka Suci Weda

Photobucket

Secara harfiah Veda berarti pengetahuan. Veda berasal dari dan disabdakan oleh Tuhan Yang Maha Esa sendiri. Sebagaimana disampaikan dalam Brhad-Aranyaka Upanisad 2.4.10; 
“ Rg. Yajur, Sama dan Atharva Veda dan Itihasa semuanya keluar dari nafas kebenaran mutlak, Tuhan Yang Maha Esa”. 
Hal serupa juga disampaikan dalam Bhagavad Gita 3.15; 
“Brahmaksara-samudbhavam, pengetahuan Veda langsung diwejangkan oleh Tuhan Yang Maha Esa”. 
Karena itu, Veda bersifat mutlak (absolut), benar dengan sendirinya (self-authoritative), apauruseya (bukan buatan manusia) dan berhakekat mengatasi hal-hal duniawi (transendental). 
Veda disabdakan oleh Tuhan, Sri Krishna kepada Brahma sebelum alam mateterial tercipta (Yo brahmanam vidadhati purvam yo vai vedam ca gapayati sma krsnah – Atharva-veda. Tene brahma hrdaya adi kavaye – Bhagavata Purana 1.1.1).
Kemudian Brahma mengajarkan Veda tersebut kepada putra-putranya yakni para Rishi. Selanjutnya melalui proses menurun (deduktip) yang disebut parampara dalam garis perguruan (sampradaya) resmi, para Rsi itu mengajarkan Veda kepada murid-muridnya (perhatikan Bhagavad Gita 4.2). Demikianlah melalui proses deduktip (parampara) pengetahuan Veda akhirnya menyebar di masyarakat manusia.