Google+

Lahirnya Gusti Gde Pasekan trah I Gusti Ngurah Jelantik VI - Babad Balhbatuh

Lahirnya Gusti Gde Pasekan

Alkisah setelah beberapa keturunan berlalu, disebutlah seorang dari keturunan Sri Nararya Kapakisan / I Gusti Nyuh Aya, yang bergelar I Gusti Ngurah JelantikVI, menjabat sebagai Panglima Perang yang dihandalkan oleh raja yang bergelar Dalem Sagening yang istana dan pemerintahannya telah berpindah dari Samprangan ke Gelgel. I Gusti Ngurah Jelantik beristana di puri Jelantik - Swecalinggarsapura, tidak jauh dari istana raja di Gelgel.

Di puri Jelantik, banyak para abdi laki-laki dan perempuan yang berasal dari berbagai tempat. Di antara para abdi ada seorang perempuan pelayan (pariwara) yang sehari-harinya bertugas sebagai penjaga pintu, bernama Ni Pasek Gobleg. Pada suatu hari, I Gusti Ngurah Jelantik pulang dari bepergian. Pada saat beliau melangkahkan kaki masuk halaman puri, waktu itu sang pariwara Ni Pasek Gobleg baru saja selesai membuang air kecil (angunyuh). I Gusti Ngurah Jelantik terkejut ketika beliau menginjak air yang dirasa hangat di telapak kakinya. Beliau meyakini air itu tidak lain adalah air kencing Ni Pasek Gobleg, pelayan dari desa Panji wilayah Den Bukit itu.Timbul gairah birahi I Gusti Ngurah Jelantik kepada Ni Pasek Gobleg dan serta merta menjamahnya. Hubungan cinta kasih yang melibatkan I Gusti Ngurah Jelantik dengan pelayannya tidak diketahui oleh isterinya, I Gusti Ayu BrangSinga.

Dari larutnya hubungan itu, tidak berselang lama Ni Pasek Gobleg mengandung dan sampai pada waktunya, lahir seorang bayi laki-laki yang sempurna yang diberi nama I Gde Pasekan. Nama itu diambil dari pihak sang ibu yang berasal dari trah Pasek.


Beberapa waktu kemudian, sang pramiswari, I Gusti Ayu BrangSinga, setelah kehamilannya cukup waktunya, juga melahirkan seorang bayi laki-laki, yang diberi nama I Gusti Gde Ngurah. I Gusti Gde Pasekan lebih tua dari I Gusti Gde Ngurah.

Disebutkan, bahwa dari ubun-ubun I Gde Pasekan muncul berkas sinar, tambahan lagi lidahnya berbulu. Melihat keistimewaan I Gde Pasekan, muncul perasaan was­was I Gusti Ayu BrangSinga, bilamana di kemudian hari nanti, I Gde Pasekan akan lebih disayang oleh I Gusti Ngurah Jelantik. Lagi pula akan bisa mengalahkan kedudukan I Gusti Gde Ngurah, putranya sendiri yang lebih berhak atas segala warisan. 
Ujar Ni Gusti Ayu Brang-singa: "Kakanda Gusti Ngurah, dari manakah asal-usul anak bayi ini, kakanda?"
Dijawab oleh I Gusti Ngurah Jelantik: "Baiklah adinda, bayi itu asalnya dari kakanda sendiri, dilahirkan dari seorang pariwara bernama Ni Pasek Gobleg, berhubungan hanya sekali".
Menyahut Ni Gusti Brang-Singa dengan air muka sedih: "Kalau begitu baiklah. Tetapi bila bayi ini tetap berada disini, maka masalah ini membuat adinda akan menentang. Bilamana anak ini memiliki hak di Puri Jelantik". 
Demikian kata-kata sang isteri kepada Ki Gusti Ngurah Jelantik yang langsung menjawab: "Jangan merasa gundah, adinda. Anak itu bersama ibunya akan meninggalkan tempat ini dan pergi ke Ler Gunung".
Mendapat jawaban demikian wajah Ni Gusti Ayu Brang- Singa kembali tampak berseri.

Sampailah diceritakan, seseorang bernama I Wayahan Pasek dari desa Panji, dalam perjalanan telah sampai ke puri Jelantik, menjenguk Ni Pasek Gobleg, ibu I Gusti Gde Pasekan. Ki Wayahan Pasek adalah saudara mindon Ni Pasek Gobleg. Di dalam puri, I Gusti Ngurah Jelantik sudah siap menanti. 
Sabda Ki Gusti Ngurah: ,,E, kita Wayahan Pasěk, anakta Ki Gĕde Pasĕkan ajakĕn mara marêng Ler-Gunung. Manirâweh i kita,kitânggen gusti ring kana. Sadene sira angupakāra; aywa koruban acamah, apan agawe n manira jāti”. Matur ki Wayahan Pasěk:,,Inggih, kawulânuhun wacana n I gusti. Sampun anangçayêng twas”.
Demikian sabda I Gusti Ngurah Jelantik: "Wahai engkau Wayahan Pasek. Bawalah olehmu I Gde Pasekan ke Ler Gunung. Perintahku kepadamu, agar engkau memandang dia sebagai gusti- mu di sana. Lagi pula di dalam tata laksana upakara terhadapnya jangan dicemari (carub), karena dia adalah sejatinya berasal dari aku".
Sembah atur I Wayahan Pasek: "Baiklah, hamba junjung tinggi wacanan Gusti. Semuanya sudah jelas bagi hamba."

I Gusti Gde Pasekan sudah berumur 12 tahun. Sebelum perjalanan dimulai, beliau dibekali sebuah pusaka oleh sang ayah, I Gusti Ngurah Jelantik, berbentuk sebilah keris. Disamping itu diberikan juga pusaka leluhur berupa tombak-tulup bernama Ki Pangkajatattwa atau Ki Tunjungtutur. Setelah semuanya siap, perjalanan ke Ler Gunung dimulai. Disamping ibunya, Ni Pasek Gobleg dan pamannya, I Wayan Pasek, I Gusti Gde Pasekan diiringi oleh 40 orang pengawal, dipimpin oleh Ki Dumpyung dan Ki Dosot.

Di saat mulai melangkah, I Gusti Gde Pasekan merasa sedih meninggalkan tempat kelahirannya, teringat kembali akan pesan-pesan ayahnya. Teman-teman sepermainannya akan segera ditinggalkan menuju tempat jauh di Ler Gunung. Perasaanya penuh tanya dan keraguan. Terdengar suara seperti berasal dari keris pusaka: "Ih, aywa semang" yang artinya “ Ih, jangan ragu”. I Gusti Gde Pasekan tersentak heran, namun akhirnya senang karena keris pusaka yang diberikan ayahandanya mampu berbicara.

Perjalanan pun dimulai. Pertama mengarah Barat selama sehari. Esoknya perjalanan berbelok mengarah ke Utara. Jalan yang dilintasi mulai menanjak dan berkelok- kelok. Rasa lelah mulai dirasakan oleh anggota rombongan, tetapi karena hawa mulai dirasakan makin sejuk.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar