Google+

Panji Sakti Menyelamatkan I Gusti Ngurah Jelantik

Menyelamatkan I Gusti Ngurah Jelantik

Entah berselang berapa lama, ada terdengar berita, oleh I Gusti Anglurah Panji, bahwa cucunya I Gusti Ngurah Jelantik, sudah lama berada kembali ke Gelgel karena diperlukan Dalem di Gelgel. Namun I Gusti Ngurah Jelantik mendapatkan posisi dirinya dalam keadaan yang dirasakan sangat sulit, karena mengingat keadaan sekarang sudah tidak seperti dulu lagi. Kalau saja tidak karena dipanggil oleh Dewa Agung Jambe, mungkin beliau masih berada di Selantik, wilayah Mengwi. Untuk mengembalikan wibawa kerajaan Gelgel kembali seperti dulu sangat sulit. Tugas yang diembannya dirasakan sungguh berat terutama beban pikiran. Apalagi kalau diingat pengalaman kakeknya di Gelgel dahulu, yang penuh pengorbanan dan penderitaan oleh kedengkian I Gusti Agung Maruti masih terngiang. Yang menjadi pikirannya sekarang hanyalah untuk minta bantuan kepada I Gusti Ngurah Panji, kakeknya, di Buleleng (Den Bukit) untuk melepaskan diri dari tekanan perasaan seperti sekarang ini.

Oleh karena demikian keadaannya, I Gusti Ngurah Jelantik melayangkan selembar surat ke Den Bukit minta bantuan kakek beliau, tak lain adalah I Gusti Ngurah Panji. I Gusti Ngurah Panji segera pergi ke puri Jelantik diwilayah Gelgel lengkap dengan pasukan inti Teruna Gowak untuk berjaga-jaga. Didapatkan orang-orang yang berada dalam istana sangat sedih dalam hati, terutama Ki Gusti Ngurah Jelantik, menceriterakan kesusahannya, Setelah selesai daya upayanya, akhirnya atas perintah I Gusti Anglurah Panji, mereka serempak pergi dari daerah Gelgel, mencari tempat menuju ke desa Tojan daerah Blahbatuh.


I Gusti Ngurah Panji selanjutnya memandu di perjalanan, lalu beristirahat di daerah utara desa Beng Gianyar, ada tanaman-tanaman penduduk di sana berupa kacang tanah, dimakan oleh gajah tunggangan beliau I Gusti Ngurah Panji, karenanya ada wilayah yang bernama Kacang Bedol, sampai sekarang, oleh karena gajah tunggangan beliau memakan kacang yang ada di sana, tidak diceritakan perjalanan beliau yang mengungsi, lalu tiba di daerah Tojan, dijemput oleh Ki Bendesa Wayan Karang. Sesampai di Tojan, I Gusti Ngurah Panji berkata kepada cucunya, I Gusti Ngurah Jelantik:
"Singgih, gusti ngurah, ki bendeça puniki prēsiddha mūla pra menak ing Bali: ipun siddha pagamĕlin manira angibukin gūmi n i gusti iriki. Munggw ing mangkin i gusti jumĕnĕng iriki, i gusti andrĕweni sadagingipun ....''
(Artinya: Demikian gusti ngurah, ki bendesa Wayan Karang adalah berasal dari pra menak di Bali yang aku beri memegang wilayah untuk i gusti di sini. Sekarang, i gusti tinggal menetap di sini dan memiliki segala isinya...")

I Gusti Ngurah Panji memberikan kekuasaan berpenduduk 14000 orang, meliputi daerah Batur, Tihing Ambwa, Sekar-Mukti, Bon Manuk, Trunyan, Songan, Bayung, Sekar Dadi, Catur dan Batur seisinya.

Selanjutnya I Gusti Ngurah Panji membangun puri lengkap dengan pura.Gajah tunggangan beliau, digembalakan di daerah bagian barat laut daerah Tojan, itulah sebabnya bernama daerah Angon Liman, Bangun Liman nama lainnya sampai sekarang, dan di bagian timurnya ada semak belukar, tempat beliau I Gusti Anglurah Panji berburu, dinamakan desa Buruwan sampai sekarang.

I Gusti Ngurah Jelantik membentuk laskar Truna Tojan dengan 200 orang yang berada di Blahbatuh. Kedudukan I Gusti Ngurah Jelantik sudah menetap di Blahbatuh didampingin oleh I Gusti Nyoman Tusan yang membangun puri di Bona, sedangkan I Gusti Pring di wilayah Blahbatuh.

Pusaka Ki Pangkaja Tattwa Dihadiahkan Ke Blahbatuh

Dalam seuatu upacara piodalan di Pura Gedong Blahbatuh, I Gusti Ngurah Panji secara khusus melalukan persembahyangan. Hal itu dilakukannya mengingat usia beliau yang uzur mendekati seratus tahun. Beliau sudah menekuni hal spiritual, kekuasaan duniawi sudah dilepaskan dan dilimpahkan kepada para sentana. Entah berapa hari beliau Ki Gusti Ngurah Panji Sakti berada di Blahbatuh, oleh karena sudah handal kedudukan Ki Gusti Ngurah Jelantik, bukan main senangnya beliau berdua dalam hubungan keluarga, sama-sama memperingatkan perjanjian saling mengadakan pengakuan, paprasan, sehingga tidak luntur rasa cinta kasih dan keteguhan ikatan kekeluargaannya, serta keturunannya, suatu kedudukan untuk cucunya kemudian. Sesudah sama-sama menyepakati ikrar itu, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, menunjukkan kebesarannya, dengan menghadiahkan tombak Ki Pangkajatatwa*), kepada cucunya, Ki Gusti Ngurah Jelantik, sebagai pemberian resmi kepada cucu, tujuannya sebagai tanda sampai di kemudian hari. Setelah beliau selesai memberikan wejangan kepada anak cucunya tentang ajaran Kamahayanikan, serta tata cara memimpin wilayah, I Gusti Anglurah Panji memberikan beberapa cincin di antaranya sebuah cincin bermata ratna kastubha. Setelah seluruh rangkaian upacara selesai, I Gusti Ngurah Panji Sakti kembali pulang ke Buleleng (Den Gunung). Beliau moksa di puri Panji Buleleng, demikian ceritanya.
Keterangan *). Ki Pangkajatatwa juga disebut dengan nama Ki Tunjungtutur adalah sebuah sumpitan, pipa dengan anak panah yang ditiup. Bahasa Belanda "blaasroer" atau "blaaspijp".

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar