Google+

makna Dwi Wara dalam Wariga

Dwi Wara

Dwiwara adalah daur dua harian dalam pawewaran. Unsurnya ada 2, yaitu Menga dan Pepet. Dwiwara ini adalah wewaran imbas, artinya terbentuk dari adanya wewaran lain, yaitu urip pancawara dan saptawara. Karena itu kandungan spiritualnya lebih tinggi dari yang kedua wewaran itu, karena boleh dikatakan merupakan kesimpulan interaktif keduanya.
  1. Menga artinya terbuka, hari ini umumnya baik untuk bersosialisasi. Pekerjaan yang dikerjakan secara kolektif akan menemui hasil yang lebih baik. Tidak baik untuk mengikuti kata hati tanpa mempertimbangkan pendapat orang lain. Yang lahir pada hari ini berkepribadian terbuka, mudah menerima kritik tetapi juga mudah terbawa emosi.
  2. Pepet artinya tertutup. Baik sekali untuk introspeksi. Mendekatkan diri kepada Tuhan dan merenungkan dulu kata-kata yang hendak diucapkan, agar tidak berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain. Pertimbangan hati akan lebih baik dituruti daripada nasehat orang. Kerjakan apa saja yang dapat dilakukan sendiri untuk melatih kemandirian dan kemampuan diri. Yang lahir pada hari ini pandai menyimpan perasaannya. Tidak mudah terombang-ambing dan tegas dalam menyikapi sesuatu
dalam wariga, Uku Sinta dan Sungsang dikatakan yang mengadakan Dwi wara. Sesungguhnya, kita belum mengetahui makna apa sebenarnya yang dimaksud. Sebagai generasi pewaris, ada baiknya belajar untuk mengkaji kembali apa yang dirintis oleh para tetua dahulu. Yang paling utama mesti disadari, bahwa bahasa hakekat ( istilah ) yang dikenal saat ini sejatinya merupakan bahasa yang biasa digunakan pada masa itu. Seiring waktu berjalan, di mana pengetahuan manusia berkembang, yang cenderung menjadikan segala sesuatu yang memang irasional menjadi rasional. Maksudnya, untuk memudahkan memahami sesuatu yang tidak nyata, lalu dinyatakan dengan wujud yang nyata ( seperti kebendaan ). Namun sayang, seringkali di dalam proses alih bahasa ada hal-hal yang sangat penting untuk disertakan justru dilupakan. Pada akhirnya, apa yang sudah diwujud nyatakan dari yang semula tidak nyata ini dijadikan sesuatu yang mutlak. Kemudian, mulai ditambahkan dogma-dogma serta diklaim seolah menjadi milik kaum tertentu, yang pada akhirnya justru menjadikan pengetahuan yang bersifat universal tersebut kurang dipahami makna yang sebenarnya.

Mencermati kata Sinta yang berarti Sintakasih, sesungguhnya merupakan nama lain daripada Matahari ( mittra ). Begitu pula dengan mendengar kata Sungsang yang terbayang adalah kelahiran bayi, di mana bahagian kaki yang keluar terlebih dahulu. Dahulu, sungsang yang dimaksud oleh para Maha Rsi adalah sinar balik matahari setelah terpantul dari bumi ; Prabawati dalam konteks ini juga berarti daya hidup Bumi yang melepaskan keempat unsurnya, yakni : unsur Amretha, Api, Air, dan unsur Hawa. Keempat unsur inilah menjadi salah satu Daya gerak Bumi, yang berputar pada porosnya, serta menyebabkan terjadinya siang dan malam.

Dwi wara ngaran Menga, Pepet. Dalam salah satu sumber menyebutkan, bahwa Sanghyang Rau yang mengadakan wengi ( malam ) dan Sanghyang Ketu mengadakan rahina ( siang ). Menga artinya terbukalah Siang ( Galang ) juga disebut lemah. Dan berarti malam, jika dikaitkan dengan keberadaan siang dan malam, di mana Matahari terbit dari Timur dan terbenam di Barat. Maka Menga urip-nya 5 karena urip Kangin ( Timur ) 5, dan Pepet urip-nya 7, karena urip Kauh ( Barat ) 7. Di sisi lain, ada juga menganggap Menga itu berada di Timur, sedangkan pepet adanya di Utara. Di mana gelap ( simbul Dewa Wisnu ) dan Damuh turun adanya di Utara, di mana urip-nya 4. Maka, Pepet jumlah urip-nya 4, konotasinya Utara. Sumber lain juga ada yang mengartikan bahwa Menge-pepet tersebut bermakna mata atangi lan aturu.

Pengaruh Dwi Wara terhadap Watak Kelahiran

( Prewatekan manut Dwi Wara )

Menge berada di bawah naungan Sanghyang Kalima,

yang mana Sanghyang Kalima berasal dari lima sinar ( dewa/div ). Seseorang yang terlahir kembali pada dina menge, salah satunya menandakan bahwa dia sudah banyak mempunyai tabungan karma yang baik dan benar. Menge urip-nya 5.

Pepet dinaungi Sanghyang Timira. 

Seseorang yang lahir pada dina pepet disinyalir karena saratnya beban duniawi yang dibawanya mati pada kehidupan terdahulu, yang tercatat pada alam bawah sadarnya. Keterikatan duniawi, atau pun melakukan perbuatan di wilayah sapta timira di antaranya menjadi penyebab kelahiran berulang-ulang. Pepet urip 4.

Solusi. Terus tingkatkan segala perbuatan yang baik dan benar pada kesempatan hidup saat ini. Tuntunlah diri dengan suatu penyadaran, bahwa hidup di mayapada ini tidaklah bersifat kekal, dan hanya sesaat. Yakini hal itu, niscaya akan dapat mengurangi kesempatan lahir berulang-ulang ( reinkarnasi ).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar