Google+
Tampilkan postingan dengan label Jyotisa Wariga Dewasa AYu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jyotisa Wariga Dewasa AYu. Tampilkan semua postingan

Geguritan Ala Ayuning Dewasa

Geguritan Ala Ayuning Dewasa

berikut ini kumpulan pupuh Sinom, geguritan yang menceritakan WARIGA ala ayuning dewasa;
Ada kidung geguritan, tembang sinom dasar gendin, mangapus tatwa carita, pongah juari nguritin, mapi-mapi ngaku ririh, tuara nawang pasuduk, anggah-unguhing wariga, kebatek demen nulis, yan tan manut, ampurayang iwang titian.
Ban manahe lintang sarat, mapawuruk midabdabin, mapitutur ban matembang, apang aluh melajahin, ngapalang sambil magending, prade sida saking halus, awinan mamanah nyurat, ngulati sane kaapti, sida lantur, asing lampah nemu melah.
Ene ada tutur tattwa, magelar baan gending, blibagang rikala senggang, apang eling tatas uning, paindikan dina becik, di wariga ada mungguh, nuturang saanan lampah, ane patut kamarginin, sida anut, sapari polah majalan.

Akibat Mengunakan Dewasa Ala

Akibat Mengunakan Dewasa Ala

semakin maju jaman, semakin berat permasalahan hidup ini, itulah ciri jaman kaliyuga. ada banyak ciri lainnya, salahsatunya adalah melanggar pantangan yang sudah dituliskan.

dibali, meyakini bahwa untuk memulai suatu kegiatan (karya ayu) hendaknya menggunakan hari baik tertentu atau yang lebih dikenal dengan istilah Dewasa Ayu. tetapi belakangan ini, terjadi ketimpangan dalam keyakinan masyarakat bali, dimana karya ayu dilakukan dengan menggunakan dewasa ala atau hari yang buruk. mungkin saja mereka lupa atau sengaja melanggar demi cepat terwujudnya keinginannya. 

berikut ini beberapa akibat melanggar pantangan memurut Lontar Sunari Tiga, pemakaian Dewasa Ala dalam menjalankan karya ayu:

Banten Bayuh saluwirin Dewasa ALA

Banten Bayuh saluwirin Dewasa ALA

banyaknya permintaan tentang Dewasa Perkawinan, membuat bangga kami selaku penulis, karena semeton bali sudah mulai eling dengan budaya bali yang adiluhung dan mulai sadar serta mengesampingkan pemilihan "hari upacara berdasarkan tanggal cantik".

tetapi, dengan banyaknya permintaan tersebut, masih ada juga semeton bali yang "terpaksa" memilih dewasa yang kurang direkomendasikan karena alasan yang cukup kuat. karenanya, untuk mengurangi dampak negatif dari dewasa ala tersebut, diperlukan sebuah ritual khusus, yang biasa disebut dengan "bayuh dewasa".

dengan dilaksanakannya bayuh dewasa, diharapkan agar pelaksana karya yadnya serta pemilik/penyelenggara upacara yadnya terhindar dari efek negatif dewasa yang dipilihnya, dalam melaksanakan kegiatan khususnya upacara yadnya. TETAPI.. hendaknya dipahami, Bayuh Dewasa ini sifatnya hanya menghindari, memperingan efek saja, bagaikan luka parah yang baru ditolong dengan obat-obatan P3K saja, sudah barang tentu efeknya hanya sebatas mengurangi rasa sakit (duka)nya saja. harapan untuk memperoleh yang lebih baik sudah tentu kurang bisa dinikmati karena menghilangkan efek tersebut tidaklah memungkinkan.

Orang Bali Tidak Percaya dengan Wariga Dewasa Ayu

Orang Bali Tidak Percaya dengan Wariga Dewasa Ayu

Wariga dan Dewasa Ayu adalah salah satu lokal jenius yang berdasarkan weda khususnya jyotisa. Orang Bali terutama Umat Hindu mengenal tradisi Padewasan atau Wariga yakni baik-buruk suatu hari. Meskipun zaman sudah mengalami perkembangan yang sudah pesat dan modern, namun terkait mencari hari baik-buruk sebelum melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan tetap dilakoni oleh orang Bali.

Tidak hanya berkaitan dengan upacara adat dan agama, juga mengenai dengan kegiatan-kegiatan zaman kini seperti membeli komputer, meresmikan sebuah supermarket dan sebagainya. Karena itu, banyak yang berkeyakinan dewasa atau wariga di Bali akan senantiasa ajeg kendati pun zaman sudah modern.

namun, belakangan ini ada beberapa kalangan warga bali yang melakukan kegiatan yang agak menyimpang, dimana mereka mencari padewasan (deasa ayu) tetapi sengaja melanggarnya. yang menjadi pertanyaan:

  • apa akibat dari kesengajaan melanggar hukum wariga ini?
  • apa sebab dari pelanggaran tersebut?

Cara Membuat Anak Keturunan yang Suputra

Cara Membuat Anak Keturunan yang Suputra

Tujuan dari sebuah perkawinan adalah untuk memperoleh anak. Sebab, kelak diharapkan anak menjadi penyelamat keluarga, membebaskan leluhur dari api neraka? Karena itulah seorang anak disebut putra, artinya dapat membebaskan orang tua, atau leluhur dari penderitaan alias neraka.
Itulah sebabnya kehadiran seorang anak begitu penting bagi keluarga Hindu, khususnya Bali. 

Mengingat akan pentingnya kelahiran anak yang suputra dalam setiap rumah tangga, maka untuk hal itu diantaranya dapat dilakukan beberapa ritual sebagaimana tertuang dalam Lontar Smara Kriddha Laksana sebagai berikut:

Persiapan Melakukan Hubungan Suami Istri (Senggama)

sebelum melakukan pertemuan suami istri ada beberapa hal yangperlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut:
  • Mantapkan niat, baik fisik maupun non-fisik
  • Haturkan sesuatu ke hadapan Bhetara Kawitan, berupa sesajen di Sanggah Kemulan,
  • Melakukan Persembahyangan bersama, yang kemudian di ikuti dengan Do'a Permohonan untuk memperoleh keturunan,
  • lakukan prosesi yang dibahas di "pertemuan suami-Istri (coitus)"
  • Selama Istri mengandung, suami/istri  pantang untuk membunuh binatang, mengendalikan emosi -ego, dan setiap hari ucapkan mantra "Gayatri" pada pusar istri serta mengucapkan mantra "Om Srikomadewa ya namah".

makna Dwi Wara dalam Wariga

Dwi Wara

Dwiwara adalah daur dua harian dalam pawewaran. Unsurnya ada 2, yaitu Menga dan Pepet. Dwiwara ini adalah wewaran imbas, artinya terbentuk dari adanya wewaran lain, yaitu urip pancawara dan saptawara. Karena itu kandungan spiritualnya lebih tinggi dari yang kedua wewaran itu, karena boleh dikatakan merupakan kesimpulan interaktif keduanya.
  1. Menga artinya terbuka, hari ini umumnya baik untuk bersosialisasi. Pekerjaan yang dikerjakan secara kolektif akan menemui hasil yang lebih baik. Tidak baik untuk mengikuti kata hati tanpa mempertimbangkan pendapat orang lain. Yang lahir pada hari ini berkepribadian terbuka, mudah menerima kritik tetapi juga mudah terbawa emosi.
  2. Pepet artinya tertutup. Baik sekali untuk introspeksi. Mendekatkan diri kepada Tuhan dan merenungkan dulu kata-kata yang hendak diucapkan, agar tidak berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain. Pertimbangan hati akan lebih baik dituruti daripada nasehat orang. Kerjakan apa saja yang dapat dilakukan sendiri untuk melatih kemandirian dan kemampuan diri. Yang lahir pada hari ini pandai menyimpan perasaannya. Tidak mudah terombang-ambing dan tegas dalam menyikapi sesuatu

makna Tri Wara dalam Wariga

Tri Wara

Triwara Wewaran
Triwara adalah siklus tiga harian dalam pawewaran. Unsurnya ada tiga yaitu Pasah, Beteng, dan Kajeng. Sifat ketiga unsur ini lebih nyata dalam kehidupan kita. Unsur keduniawian lebih dominan karena umumnya baik buruknya masih dapat kita kendalikan asalkan dengan kesungguhan.
  1. Pasah atau Dora artinya tersisih. Baik untuk dewa-yadnya. Baik untuk mengerjakan hal-hal yang kaitannya dengan masa depan. Tidak baik mengungkit masa lalu, juga mengadili orang berdasarkan masa lampau. Baik untuk merencanakan pekerjaan besar dan penting. Hindari penghamburan waktu yang berharga karena masa yang akan datang sangat tergantung kepada hari ini. Tingkatkan perhatian kepada keluarga dan saudara dekat, tetapi jangan terlalu memanjakan mereka secara langsung. Baik untuk mengadakan sangkep atau rapat. Tidak baik untuk mengupacarai kematian atau memperingati yang sudah meninggal di masa lalu. Baik untuk memupuk kepercayaan masa datang. Baik untuk berniaga yang tidak memerlukan pembayaran kontan, baik untuk mempertimbangkan rekanan baru. Yang lahir pada hari ini sifatnya riang, harapannya besar dan tidak mudah berputus asa, tetapi kurang dapat menjaga kepercayaan.
  2. Beteng atau Waya artinya makmur. Baik untuk manusa-yadnya. Baik untuk mengerjakan hal-hal yang kaitannya dengan masa lalu, misalnya memperbaiki hubungan yang kurang baik, meluruskan kesalahpahaman dan sebagainya. Baik untuk mencatat dan menganalisa hasil kerja dan situasi diluar. Juga merupakan hari yang baik untuk memperkuat kehandalan diri, belajar dan berdoa. Baik untuk berniaga, utamakan pembayaran kontan dan berhati-hatilah dengan hutang-piutang. Baik untuk mengadakan rapat evaluasi. Tingkatkan perhatian terhadap rekan sekerja serta tetangga. Yang lahir pada hari ini sifatnya tenang, percaya diri dan kasih terhadap orang tua, tetapi kurang dapat menguasai emosi.

makna Catur Wara dalam Wariga

Catur Wara

Caturwara Wewaran
Catur wara adalah nama dari sebuah pekan atau minggu yang terdiri dari 4 hari, dalam budaya Jawa dan Bali. dibali merupakan siklus empat harian dalam wewaran. Unsurnya ada empat yaitu Sri, Laba, Jaya dan Menala.
  1. Sri atau Seri artinya kemakmuran. Hari yang baik untuk para petani atau sektor agro. Hari ini panen dapat diandalkan, bibit akan mudah bersemi dan hama akan mudah ditaklukkan. Ternak lebih gemuk dan daging lebih lembut. Sebaiknya hari ini tidak baik untuk mengolah kayu atau bambu karena serat akan menguat dan logam akan aus serta tumpul. Yang lahir pada hari ini beroleh sifat sopan santun dan ramah tamah. Harus lebih banyak belajar dan rajin mencari pengetahuan baru.
  2. Laba artinya berhasil atau pemberian. Hari yang baik untuk para pedagang dan pengusaha non-agro. Logam dan bahan buatan akan berumur panjang, nampak lebih menarik dan mencapai kemampuan puncaknya. Sebaliknya hari ini tidak baik untuk membuat peralatan karena bahannya akan mengeras dan sulit dibentuk. Yang lahir pada hari ini beroleh sifat pantang menyerah dan dermawan. Harus lebih rendah hati dan membuka diri terhadap kritik dan saran.

makna Panca Wara dalam Wariga

Panca Wara

Pancawara wewaran
adalah nama dari sebuah pekan atau minggu yang terdiri dari 5 hari, dalam budaya Jawa dan Bali. Panca wara juga disebut sebagai hari pasaran dalam bahasa Jawa karena beberapa pasar tradisional pada zaman dahulu hanya buka pada hari tertentu saja, misalkan Pasar Legi dan Pasar Pon di Solo hanya buka pada hari Legi dan Pon saja dalam satu minggu kalender Jawa (siklus 5 hari). 

Dalam sistem penanggalan Jawa dan Bali, terdapat 2 macam siklus waktu: siklus mingguan dan siklus pasaran. Dalam siklus mingguan (Sapta Wara), satu minggu dibagi menjadi 7 hari, seperti yang kita kenal sekarang (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu). Dalam siklus pasaran, satu pekan terdiri dari 5 hari pasaran.

Pancawara adalah siklus lima harian dalam wewaran. 
Unsur-unsurnya adalah Pon, Wage, Kliwon, Umanis dan Paing. 
Sebagai wewaran yang berpengaruh langsung terhadap kehidupan manusia, sifat pancawara ini sangat unik. Nenek moyang kita mengumpamakan sifat hari ini sebagai sifat binatang. Bukan martabat kebinatangannya yang ditekankan disini, tetapi sebagai pencerminan agar yang bersangkutan dapat menganalisa, merenung sifat dan laku masing-masing yang di depan cermin. Asal muasal nama-nama ini sangat misterius. Konon simbolisasi dari posisi (patrap) bulan seperti:

makna Sapta Wara dalam Wariga

Sapta Wara

saptawara wewaran
adalah nama dari satu pekan atau minggu yang terdiri dari 7 hari. Memiliki nama yang berbeda dengan hari Masehi, walaupun sistemnya sama dan bisa disejajarkan. Tidak perlu dijelaskan panjang lebar karena sudah mendarah daging dalam hati kita. Konon nama dan sifat-sifatnya diambil dari nama benda-benda langit.
  1. radite-raditya: matahari, Minggu (eng: sun-day; fr: di-manche) - Urip 5
  2. soma: bulan, Senin (eng: moon-day; fr: lun-di) - Urip 4
  3. anggara: mars, Selasa (eng:tues-day; fr: mar-di) - Urip 3
  4. budha: merkurius, Rabu (eng: wednes?-day; fr: mercre-di) - Urip 7
  5. wrespati-bagaspati: jupiter, Kamis (eng: thurs-day; fr: jeu-di) - Urip 8
  6. sukra: venus, Jumat (eng: fri-day; fr: ven-di atau vendre-di) - Urip 6
  7. saniscara: saturnus, Sabtu (eng: satur-day; fr: satur-di) - Urip 9

adapun sifat secara umum dari saptawara yaitu:

makna Sad Wara dalam Wariga

Sad wara - Wewaran

sad wara wewaran
Siklus enam harian dari wewaran. Ditinjau dari petunjuk harinya, siklus ini rupanya menelaah sifat-sifat buruk yang sedang dominan karena dipengaruhi oleh hawa wewaran ini.

Maksud dari petunjuk ini, agar tindakan kita disesuaikan dengan apa yang sedang terjadi. Agar kita dapat mencegah hal-hal yang dapat merugikan kita, dan kalau bisa memanfaatkannya untuk kemajuan kita. Unsur-unsurnya adalah: Tungleh, Aryang, Urukung, Paniron, Was, Maulu.

adapun arti dari sadwara tersebut antara lain:
  1. Tungleh (Tungle) = tidak kekal. Hari penuh kebohongan, ingkar janji. Waspadalah terhadap kebohongan, hari ini banyak hal-hal yang tidak jujur karena mahalnya keterusterangan. Hati-hati terhadap fitnah. Jangan paksa orang lain jujur tetapi buatlah dia menyesali akibat kebohongan. Jangan ikut-ikutan berbohong dan jangan sampai tertipu.
  2. Aryang = kurus. Harinya orang lupa. Waspadalah terhadap kelupaan dan kepikunan. Buatlah catatan pribadi agar tidak terlalu mengandalkan ingatan. Tuliskan pada secarik kertas jika ingin menyampaikan pesan, dengan demikian kita menolong orang bebas dari kelupaan. Verba volant, scripta manent. Yang dikatakan akan terlupakan, tetapi yang dituliskan akan abadi.

Hari baik Nikah 2013 Dewasa Ayu NGANTEN

Hari baik Nikah 2013 - Dewasa Ayu NGANTEN

prosesi pernikahan
Sehubungan banyaknya permintaan cara memilih dewasa ayu menikah atau dalam bahasa bali disebut dengan “nganten” “makerab kambe” “pawiwahan” untuk tahun 2013, berikut ini saya paparkan secara singkat kapan hari baik untuk melakukan “pawiwahan untuk tahun 2013 dalam artikel Hari baik Nikah 2013 ini. disini penulis tidak lagi mencantumkan hari baik melakukan senggama untuk memperoleh Putra yang suputra lagi karena artikel tersebut sudah dimuat khusus dalam "hari baik berhubungan intim suami istri"

Penulis akan memaparkan wariga dan dewasa ayu untuk perhitungan Hari baik Nikah 2013 secara berjenjang, mulai dari sasih kemudian wuku dan berikutnya dina’nya. Sehingga para semeton yang berkeinginan menikah dapat memilih hari – hari yang dikehendaki.

Alas an penulis memberikan pilihan berjenjang karena adanya permintaan yang mendesak dikalangan masyarakat yang berkeinginan untuk segera menjalankan upacara pernikahan dengan berbagai alasan yang sebenarnya secara wariga cukup berbahaya dan kurang baik dijalankan.

Tetapi apapun yang kami tulis, sudah tentu ada kekurangannya karena banyaknya sumber literature wariga yang mungkin belum kami baca dan cermati. Untuk itu dimohonkan agar dikonsultasikan lagi dengan tetua adat dan para sulinggih surya masing – masing keluarga, karena tulisan ini hanyalah sebagai bahan pertimbangan dalam memilih hari baik nikah 2013 berdasarkan wariga gemat dan wariga gede yang umumnya berlaku di bali.

Berdasarkan perhitungan dewasa ayu “wariga gemet serta wariga agung yang sudah terangkum dalam artikel "Dewasa Ayu NGANTEN, pawiwahan ato pernikahan" dan "Pemilihan Hari Baik Untuk Pernikahan" maka dapat disimpulkan bahwa hari baik nikah 2013 sebagai berikut:
Secara umum pemilihan hari baik Pernikahan menurut Sapta Wara;

  • Redite / Minggu = Buruk
  • Soma / Senin = Menemukan Kebahagiaan
  • Anggara / Selasa = Sengsara
  • Budha / Rabu = Sangat Baik
  • Wrespati / Kamis = Kinasihaning Jana
  • Sukra / Jumat = Berbahagia, Mewah
  • Saniscara / Sabtu = Percekcokan, sengsara

Jadi yang direkomendasiakan adalah hari senin, rabu, kamis dan jumat

Berikut berdasarkan Sasih / BULAN kalender

hari baik, dewasa ayu NGANTEN atau menikah untuk tahun 2011

Hari baik, dewasa ayu NGANTEN atau menikah untuk tahun 2011

dibali, upaca pernikahan / pawiwahan sangatlah di sakralkan. karena dari sinilah seseorang akan memulai kehidupan barunya sesuai dengan tujuan agama dan tujuan pernikahan itu sendiri. berkenaan dengan hal tersebut diperlukan hari baik untuk memperlancar proses pernikahan serta pencapain tujuan yang dimaksud.

adapun hari baik yang biasa digunakan dibali berdasarkan Wariga – Dewasa, dimana ada hari – hari yang sangat baik untuk melaksanakan upacara dan ada juga hari yang harus dihindari dalam pelaksanaan upacara pernikahan tersebut.

Berikut hari baik alias "dewasa ayu" melangsungkan pernikahan (pawiwahan) selama tahun 2011, yang diambil dari kalender bali berdasarkan dewasa Nganten: "Dewasa Ayu NGANTEN, pawiwahan ato pernikahan" dan "Pemilihan Hari Baik Untuk Pernikahan" serta "Cara memilih hari baik ala nak bali" yang telah di post sebelumnya..

Dewasa Ayu NGANTEN, pawiwahan ato pernikahan

Dewasa Ayu NGANTEN, pawiwahan ato pernikahan

setiap orang pasti ingin membangun rumah tangga yang bahagia, memiliki keluarga yang rukun tentram dan memiliki keturunan yang bisa dibanggakan...
tapi untuk mencapai hal tersebut, sangat dipandang perlu persiapan - persiapan untuk menopang hat tersebut, salah satu diantaranya adalah pemilihan hari baik (dewasa Ayu) dalam memulai kehidupan rumah tangga.
orang Bali khususnya sangat mempercayai setiap kekuatan yang ada di alam bali ini, baik hari, waktu, tempat dan sarana upakaranya... untuk penentuan HARI BAIK biasanya orang bali mempercayakan pada para tetua adat atau pendeta, tapi bagai mana ceritanya bilasaja yang dipercayainya tersebut hanya berpedoman pada KALENDER BALI saja, tanpa mengindahkan WARIGA AGUNG.. tentunya akan banyak kekurangan yang akan berakibat pada kurang maksimalnya kualiatas kluarga yang akan terbentuk. untuk itu tidak ada salahnya kita belajar sedikit tentang WARIGA AGUNG dalam hal ini pemilihan hari baik untuk PERNIKAHAN.
berikut ini saya mencoba mempaparkan DEWASA AYU dalam memilih hari baik Pernikahan / pawiwahan / Nganten...

Kawin Lari, salah satu alaternatif pernikahan Adat Bali

Kawin Lari, salah satu alaternatif pernikahan Adat Bali

Umat Hindu mempunyai tujuan hidup yang disebut Catur Purusa Artha yaitu Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Hal ini tidak bisa diwujudkan sekaligus tetapi secara bertahap. Tahapan untuk mewujudkan empat tujuan hidup itu disebut dengan Catur Asrama. Pada tahap Brahmacari asrama tujuan hidup diprioritaskan untuk mendapatkan Dharma. Grhasta Asrama memprioritaskan mewujudkan artha dan kama. Sedangkan pada Wanaprasta Asrama dan Sanyasa Asrama tujuan hidup diprioritaskan untuk mencapai moksa.

Perkawinan atau wiwaha dalam adat Hindu di Bali merupakan upaya untuk mewujudkan hidup Grhasta Asmara, tugas pokoknya menurut lontar Agastya Parwa adalah mewujudkan suatu kehidupan yang disebut "Yatha sakti Kayika Dharma" yang artinya dengan kemampuan sendiri melaksanakan Dharma.

Jadi seorang Grhasta harus benar-benar mampu mandiri mewujudkan Dharma dalam kehidupan ini. Kemandirian dan profesionalisme inilah yang harus benar-benar disiapkan oleh seorang Hindu yang ingin menempuh jenjang perkawinan

Pernikahan menurut pandangan Hindu Bali

Pernikahan menurut pandangan Hindu Bali

Tahapan Hidup ke dua menurut Agama Hindu Bali (Catur Asrama) adalah tahap berumah tangga atau lebih dikenal dengan Grahasta Asrama. untuk mengawali tahap grahasta Asrama ini tentunya harus diawali dengan melangsungkan upacara perkawinan, sering juga disebut "pawiwahan", orang bali lebih lumrah dengan istilah "Nganten".
mengenai perkawinan dalam pandangan hindu didasari oleh beberapa sloka berikut ini:

Sam jaaspatyam suyamam astu devah (Rgveda X. 85. 23)
Hyang Widhi, semoga kehidupan pernikahan ini tenteram dan bahagia.

Asthuuri no gaarhapatyaani santu (Rgveda VI. 15. 19)
Semoga hubungan suami-istri ini tidak pernah putus dan berlangsung selamanya.

Ihaiva stam maa vi yaustam, Visvaam aayur vyasnutam, kriidantau putrair naptrbhih, modamaanau sve grhe (Rgveda X. 85. 42)
Semoga pasangan suami-istri ini tetap erat dan tak pernah terpisahkan, mencapai kehidupan yang penuh kebahagiaan, tinggal di rumah dengan hati gembira, dan bersama bermain dengan anak-anak dan cucu-cucu.

Pernikahan atau wiwaha dalam Agama Hindu adalah yadnya dan perbuatan dharma. Wiwaha (pernikahan) merupakan momentum awal dari Grahasta Ashram yaitu tahapan kehidupan berumah tangga. dalam adat Hindu di Bali merupakan upaya untuk mewujudkan hidup Grhasta Asmara, tugas pokoknya menurut lontar Agastya Parwa adalah mewujudkan suatu kehidupan yang disebut „Yatha sakti Kayika Dharma“ yang artinya dengan kemampuan sendiri melaksanakan Dharma. Jadi seorang Grhasta harus benar-benar mampu mandiri mewujudkan Dharma secara profesional haruslah dipersiapkan oleh seorang Hindu yang ingin menempuh jenjang perkawinan.

Hari Baik Berhubungan Intim (Senggama)

Hari Baik Berhubungan Intim (senggama - Seks)

Dalam ajaran agama Hindu, ada empat tujuan hidup manusia yang disebut ‘Catur Purusa Artha’ yaitu:

  • dharma (kebenaran; dalam kontek lebih luas dapat diartikan sebagai pengetahuan),
  • artha (kekayaan),
  • kama (keinginan, nafsu, seksual), dan
  • moksa (pelepasan dari ikatan lahir-hidup-mati, kebebasan).

Seks merupakan salah satu kebutuhan biologis bagi mahkluk hidup, khususnya oleh mahkluk yang berkaki dua, memiliki hidung, bertangan dua, berjalan dengan berdiri, memiliki pikiran, yang disebut manusia.

Hubungan seks dianggap surganya bagi pasangan suami-istri, tak jarang membuat seseorang tenggelam dalam kesenangan dunia material. Hubungan seks (kama) merupakan salah satu tujuan hidup manusia setelah kekayaan (artha), akan tetapi untuk mencapai tujuan tersebut harus berlandaskan pada dharma (kebenaran, aturan, hukum). Demikian halnya melakukan hubungan badan (bersanggama, hubungan intim) memiliki tata kramanya sendiri.

Adapun untuk “Asanggama (berhubungan badan)” haruslah dipilh juga hari baiknya, ini bertujuan untuk menurunkan putra yang “Suputra Mahotama” , penurut, pintar, berbakti pada orang tua, murah rejeki dan berwibawa. bila tidak maka keturunan yang akan terlahir akan menyebabkan kesusahan bagi keluarga dan lingkungannya.

Secara umum berkaitan dengan masalah tata krama senggama, sebaiknya anda tidak melakukan senggama itu pada saat hari-hari berikut ini : 
  1. Hari-hari suci atau rerahinan jagat, 
  2. Bulan purnama/tilem, 
  3. Tanggal ke 14 (prawani) sehari sebelum purnama/tilem,
  4. Purwanin dina dan purwanin asih,
  5. Weton suami atau istri,
  6. Pada saat menstruasi untuk masa empat hari. 

Pemilihan Hari Baik Untuk Pernikahan

Pemilihan Hari Baik Untuk Pernikahan


dibali, upaca pernikahan / pawiwahan sangatlah di sakralkan. karena dari sinilah seseorang akan memulai kehidupan barunya sesuai dengan tujuan agama dan tujuan pernikahan itu sendiri. berkenaan dengan hal tersebut diperlukan hari baik untuk memperlancar proses pernikahan serta pencapain tujuan yang dimaksud.

adapun hari baik yang biasa digunakan dibali berdasarkan Wariga – Dewasa, dimana ada hari – hari yang sangat baik untuk melaksanakan upacara dan ada juga hari yang harus di.hindari dalam pelaksanaan upacara pernikahan tersebut.

untuk lebih cepat dalam pemilihan Hari Baik Untuk melakukan upacara (rutual) Pernikahan, bisa dengan cara mencarinya langsung di kalender bali. adapun tips cepat mendapatkan Hari Baik Untuk Pernikahan atau oleh orang bali sering disebut dengan Dewasa Ayu Nganten, dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini:
Langkah Pertama, Perhatikan WUKU dari kalender bali tersebut. Wuku yang baik untuk melakukan/melangsungkan upacar pernikahan adalah Wuku: 
Langkah kedua, perhatihan HARInya. sesuai wariga, hari yang direkomendasikan (harus) untuk melangsungkan upacara pernikahan adalah Hari: Senin, Rabu, Kamis dan Jumat. selain itu dilarang.
Langkah ketiga, perhatikan penanggalnya. Penanggal merupakan perhitungan hari yang dimulai setelah Tilem, sehingga setelah Tilem merupakan penanggal 1 dan seterusnya, dan berakhir pada Purnama (Penanggal ping 15). untuk upacara Pawiwahan/Nganten, diharuskan dilangsungkan pada tanggal 1, 2, 10 dan 13. 
Langkah keempat, perhatikan "SASIH"nya atau Bulan. yang direkomendasikan untuk acara manusa yadnya dalam hal ini upacara pernikahan adalah di Sasih Ketiga, Kapat, Kalima, Kapitu dan Kedasa.
bila terjadi atau dalam keadaan mendesak, sehingga sulit menentukan hari (dewasa ayu) terbaik, maka:

Pilihlah Dewasa Ayu yang Terbaik diantara yang terburuk

untuk pertimbangan lebih lanjut, silahkan baca beberapa hal berikut ini:

Cara memilih hari baik ala nak bali

Cara memilih hari baik ala nak bali

kalender bali wariga
kalender bali
Cara memilih hari baik menurut tradisi di bali didasarkan pada perhitungan wariga dan dewasa. adapun perhitungannya lumayan rumit, sehingga jarang masyarakat bali yang hafal cara menggunakan wariga dan dewasa tersebut. tapi untunglah, dengan kelihaian seseorang dalam perhitungan wariga dan dewasa beliau menyusun wariga yang dimodifikasi kalender internasional yang kemudian dikenal dengan kalender bali yang sering dipakai masyarakat bali saat ini. orang tersebut adalah (alm.) Bambang Gde Rawi, kelahiran desa cemengon, yang penyusunan kalender tersebut diwariskan kepada keluarga beliau.
dalam setiap bulannya, kalender bali umumnya terdiriatas beberapa bagian penting, diantaranya;
  1. bagian kepala; yang berisi Nama Bulan dan Tahun (seperti normalnya kalender internasional) 
  2. badannya; berisikan tanggalan (seperti kalender internasional) dan beberapa tanda, diantaranya; Titik merah artinya Bulan Purnama, Titik Hitam artinya Bulan Tilem/Mati; lingkaran merah artinya hari raya besar agama hindu dan tanggal merah untuk hari libur nasional. 
  3. bagian lengan kanan; berisikan daftar istilah wariga berdasarkan tanggal, yang berisikan juga keterangan hari-hari baik melakukan kegiatan/usaha/yadnya. 
  4. bagian lengan kiri; berisikan nama-nama hari 
  5. bagian kaki; berisikan daftar hari raya agama, daftar Odalan/upacara pura-pura besar di bali serta beberapa hari baik lainya.

dengan adanya kalender bali tersebut, orang bali tidak akan susah untuk menentukan hari baik berdasarkan wariga dan dewasa ayu. tetapi apabila ingin mempelajari secara manual, tentu ada rumus baku untuk wariga tersebut. dibawah ini akan diberikan sekilas perhitungannya, dan bila ingin mendalaminya tentu memerlukan materi yang lebih mendalam. dibawah ini hanya kulit luarnya saja, tapi sudah bisa digunakan untuk kegiatan sehari – hari. adapun cara mempelajarinya adalah sebagai berikut;

PEDEWASAN,
mula – mulanya dapat dibagi dua bagian antara lain;

Wariga dan Dewasa, merupakan Ilmu astronomi ala Bali

Wariga dan Dewasa, merupakan Ilmu astronomi ala Bali

Wariga dan dewasa adalah dua istilah yang paling umum diperhatikan oleh umat hindu khususnya di bali bila ingin mencapai kesempurnaan dan keberhasilan. Kedua ilmu itu merupakan salah satu cabang ilmu agama yang dihubungkan dengan ilmu astronomi atau “Jyotisa Sastra” sebagai salah satu wedangga. Walaupun kedua ilmu tersebut sebagai salah satu cabang ilmu weda, namun pendalamannya tidak banyak diketahui kecuali untuk tujuan praktis pegangan oleh para pendeta dalam memberikan petunjuk baik buruknya hari dalam hubungannya untuk melakukan usaha agar supaya berhasil dengan mengingat hari atau waktu dalam sistim sradha hindu yang dipengaruhi oleh unsur kekuatan tertentu dan planet-planet itu.

Dalam lontar yang disebut “Keputusan Sunari” mengatakan bahwa kata wariga berasal dari dua kata, yaitu “wara” yang berarti puncak/istimewa dan “ga” yang berarti terang. Sebagai penjelasan dikemukakan “….iki uttamaning pati lawan urip, manemu marga wakasing apadadang, ike tegesing wariga”. dari penjelasan ini jelas bahwa yang dimaksud dengan wariga adalah jalan untuk mendapatkan ke’terang’an dalam usaha untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan hidup matinya hari.

Disamping masalah itu, penentuan hari baik berdasarkan perhitungan menurut wariga disebut padewasan (dewasa). Jadi dewasa tidak lepas dari ilmu wariga dimana di dalam wariga, urip hari telah terperinci secara baku. Ini harus dipegang sebagai keyakinan kepercayaan. Dasarnya adalah percaya adan inilah agama.

Kata “dewasa” terdiri dari kata; “de” yang berarti dewa guru, “wa” yang berarti apadang/lapang dan “sa” yang berarti ayu/baik. Dengan demikian jelas bahwa dewasa adalah satu pegangan yang berhubungan dengan pemilihan hari yang tepat agar semua jalan atau perbuatan itu lapang jalannya, baik akibatnya dan tiada aral rintangan.