Google+

Selasa, 04 Juni 2013

makna Sapta Wara dalam Wariga

Sapta Wara

saptawara wewaran
adalah nama dari satu pekan atau minggu yang terdiri dari 7 hari. Memiliki nama yang berbeda dengan hari Masehi, walaupun sistemnya sama dan bisa disejajarkan. Tidak perlu dijelaskan panjang lebar karena sudah mendarah daging dalam hati kita. Konon nama dan sifat-sifatnya diambil dari nama benda-benda langit.
  1. radite-raditya: matahari, Minggu (eng: sun-day; fr: di-manche) - Urip 5
  2. soma: bulan, Senin (eng: moon-day; fr: lun-di) - Urip 4
  3. anggara: mars, Selasa (eng:tues-day; fr: mar-di) - Urip 3
  4. budha: merkurius, Rabu (eng: wednes?-day; fr: mercre-di) - Urip 7
  5. wrespati-bagaspati: jupiter, Kamis (eng: thurs-day; fr: jeu-di) - Urip 8
  6. sukra: venus, Jumat (eng: fri-day; fr: ven-di atau vendre-di) - Urip 6
  7. saniscara: saturnus, Sabtu (eng: satur-day; fr: satur-di) - Urip 9

adapun sifat secara umum dari saptawara yaitu:

  1. Redite Sifatnya seperti surya. Terang terus dan terus terang (seperti iklan). Memberikan penerangan dan kehangatan tanpa menuntut pembalasan.
  2. Soma Sifatnya seperti bulan. Berubah-ubah, menghanyutkan perasaan, indah. Melankolis.
  3. Anggara Sifatnya seperti api. Mungkin betul juga seperti Mars, dewatanya peperangan. Panas, membara, mempralina, membasmi, meluluhkan segala sesuatu.
  4. Buddha Sifatnya seperti bumi. Diam, tenang, berwibawa, menyangga, memuat segala sesuatu, menerima dengan rela.
  5. Wrespati Sifatnya seperti halilintar. Menakutkan, mengerikan? Sepertinya seharusnya menjadi hari pendek karena halilintar juga lambang kecepatan. Lambang PLN juga.
  6. Sukra Sifatnya seperti air. Mendinginkan, segar, tetapi dapat melanda segala sesuatu dan menghanyutkan sampai tandas.
  7. Saniscara Sifatnya seperti angin. Meniupkan kesejukan, kerindangan, nafas baru.

Watak Manusia ditinjau dari Sapta Wara

(Prewatekan manut Sapta Wara)
Dikatakan bahwa, Uku Bala-Megadrawela (mendung) yang mengadakan Sapta Wara. Yang dimaksud Bala, perputaran unsur/zat yang berasal dari Bumi dengan unsur-unsur zat dari Alam Apah dan Langit, yang mana lebih didominasi oleh unsur-unsur yang berasal dari zat Bumi dan Apah. Keadaan ini berakibat sinar Langit terhalang, sebagian besar memantul kembali ke Alam Langit. Dan, ada sebagian kecil berhasil menembus lapisan Megadrawela. Akibatnya, hawa di bawah lapisan tersebut menjadi panas/penat, dan oleh para maha Rsi Agung terdahulu diperingati dengan tanda nama Durga. Namun kebijakan Alam selalu menyertai, di mana akan berakhir menjadi hujan atau berubah menjadi embun. Ini berarti sebagai sumber air tawar bagi kehidupan semua makhluk, atau pun sebagai sumber kesuburan Bumi dan tumbuh-tumbuhan, serta aliran air juga menghanyutkan banyak kotoran yang berserakan di permukaan bumi. Karena penuh dengan kebijakan alam, maka Sapta Wara disebut juga Uriping Pandita.

Lebih lanjut dikatakan, vibrasi Sapta wara di Bhuwana Agung secara kodrati selalu turun ke Bumi, memberi berkah kepada semua yang hidup (sarwa tumuwuh). Kronologisnya :
  1. Radite berada di bawah naungan Hyang Banu, memberi berkah kepada sarwa soca/sarwa mabuku.
  2. Soma di bawah naungan Hyang Candra, memberi berkah kepada sarwa bungkah/umbi-umbian.
  3. Anggara di bawah naungan Hyang Manggala, memberi berkah kepada sarwa daun.
  4. Buda di bawah naungan Hyang Buda, memberi berkah kepada sarwa bunga.
  5. Wraspati di bawah naungan Hyang Wraspati, memberi berkah kepada sarwa wija/Biji-bijian.
  6. Sukra di bawah naungan Bhagawan Sukra, memberi berkah kepada sarwa buah.
  7. Saniscara di bawah naungan Dewi Gori, memberi berkah kepada sarwa me-akah/turus.

Nah, bagaimana keberadaan Sapta Wara di Bhuwana alit ?
lebih cenderung mengarah kepada kodrati hidup, dengan fungsi pokoknya :
  1. Radite ada pada Roma (rama rena, artinya lupa dan ingat),
  2. Soma ada pada Banyu (cairan tubuh),
  3. Anggara ada pada Laku (langkah),
  4. Buda ada pada Rasa dan perasaan,
  5. Wrhaspati ada pada Adegan (jelegan, sosok),
  6. Sukra ada pada Untu (gigi), konotasinya Kala, yang berarti cerdas dan kuat.
  7. Saniscara ada pada Cangkem, merupakan esensi dari Wacika.
Selain itu, Sapta wara yang masuk ke dalam diri manusia turut berperan membentuk jasmani dan rohani (lahir batin). Penjabarannya sebagai berikut :

Raditya/Redite, urip-nya 5, diayomi oleh Sanghyang Bhaskara

Raditya merupakan matahari yang masuk ke dalam diri manusia, menjadi : kedua mata yang ada di kepala, mata hati, dan mata batin (pandangan pikiran). Yang menjadi dasar pandangan tersebut, akibat dari mata melihat sesuatu, karena memikirkan, atau merasakan sesuatu. Di Bhuwana Agung, matahari merupakan mata dari hari, dan menerangi semesta. Sedangkan di dalam diri, mata hati yang menjadi suluh bagi Bhuwana alit. Seseorang yang terlahir pada dina redite/raditya sebagai akibat perilaku pada kehidupan terdahulu lebih banyak meniru dari apa yang dilihatnya. Bukannya dipelajari mau pun dihayati terlebih dahulu.

Soma, urip-nya 4, diayomi oleh Sanghyang Candra

Tindak lanjut dari suatu pandangan sebagai dasar untuk mengungkap, karena manusia punya kemampuan memandang. Dari apa yang dilihatnya, kemudian bisa diungkapkan melalui kata-kata, atau dengan perbuatan (karena keberadaan bayu). Semestinya semua itu diimbangi dengan suatu kesabaran, seperti sifat-sifat Sanghyang Candra itu sendiri sebagai simbol Dewi Kesabaran. Terlahir pada dina Soma, akibat perilaku di masa lalunya bersikap kurang sabar, baik dalam ucapan mau pun perbuatan. Itulah yang menjadi tuduh atas laku dan di-titah kembali ke marcapada.

Anggara, urip-nya 3, diayomi oleh Sanghyang Angkara

Anggara sesungguhnya adalah Rudra yang ada di Bhuwana Agung. Dan setelah masuk ke dalam diri manusia berubah menjadi Ludra, yakni panasnya darah yang dikendalikan oleh Angkara. Angkara sendiri sebagai penyebab amarah (naik darah). Akibat “tertuduh” karena ke-angkara murka-annya yang melingkupi kehidupannya di masa lalu, maka ia saat ini terlahir pada dina anggara.

Budha, urip-nya 7, diayomi oleh Sanghyang Udaka

Udaka artinya sila. Kelahiran seseorang pada dina Budha menandakan bahwa di masa lalunya ia lebih banyak berbuat tidak menuruti aturan, tidak tahu sopan santun.

Wrhaspati, urip-nya 8, diayomi oleh Sanghyang Sukra Guru

Guru dalam konteks ini merupakan suatu catatan dari pengalaman hidup yang pernah dilakoni. Saat ini terlahir pada dina wrhaspati karena dulunya ia tidak pernah belajar dari pengalaman hidupnya, dalam artian tidak mengindahkan nasehat gurunya.

Sukra, urip-nya 6, diayomi oleh Sanghyang Breghu

Sukra merupakan Bhagawan yang mempunyai wewenang sebagai pengatur sifat moha dan loba. Makanya Bhagawan Breghu dipakai simbol “ Dewa judi “. Jadi, sifat moha dan loba tersebut yang mengikatnya di masa lalu, sehingga pada kelahiran saat sekarang ini diberi kesempatan untuk memperbaikinya. Itulah yang melatarbelakangi seseorang dilahirkan pada dina sukra.

Saniscara, urip-nya 9, dewanya Sanghyang Wasu

Saniscara merupakan sifat Durga ( baik dan buruk ) yang dikendalikan oleh Wasu, dimana wasu merupakan bagian dari kedelapan dewa yang dikuasai oleh Dewa Wisnu. Terlahir pada dina saniscara lebih dikarenakan pada masa lalunya ia hidup dipenuhi gejolak suka dan duka ( labil ).

Dalam suatu tinjauan yang berasal dari salah satu sumber lontar koleksi pribadi dikatakan perihal perwatakan sapta wara sebagai berikut :

Redite - Minggu

Kelahiran seseorang pada dina Redite, bisa berasal dari titisan orang laki-laki menjadi wanita, atau sebaliknya dari wanita bisa jadi laki-laki. Jadi, kelahiran tersebut bisa memiliki dualitas sifat, di mana orangnya cenderung pintar, dan bisa melakukan pekerjaan untuk laki-laki mau pun wanita. Bicaranya sering goyah, bisa benar atau bisa salah, bisa serius atau bisa cuek.
  • Dewa Indra sebagai Dewa pengayomnya, berarti mempunyai wawasan yang luas. 
  • Kayu-nya, kayu putih (kayu obat). Terlahir dina redite, seringkali menjadi korban kerabat mau pun teman seperjuangannya, karena ia sendiri kurang waspada. 
  • Manuk-nya Siyung, artinya mudah meniru kata-kata orang lain. Tutur katanya banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar mau pun pergaulannya.
  • Kala-nya, Dora Kala, artinya bersikap apatis terlebih dulu sebelum dilakukan pengamatan dengan benar. Bhuta-nya Catuspata, maksudnya kejiwaannya sering seperti berada di persimpangan jalan ; Orang tersebut merasa seperti maju kena mundur kena, sehingga kemajuannya sering terhambat, apalagi kalau sebelumnya pernah tersandung oleh suatu masalah, dia akan mengalami trauma. 
  • Lintang-nya, Tendas marengreng, kelemahannya sering dengan keputusan tidak perduli, mudah putus asa, dan kwalat. Kurang bakti terhadap leluhur (bapak-ibu, kakek-nenek dari salah satunya). 
Akan menderita sakit yang berawal dari bentrok dengan keluarga/istri sendiri, kemudian ia akan menderita sakit lemayang lemayung, sakit menahun, sakit kepala, sakit ngibuk (ngancuk-ancuk), susah tidur.
Obatnya:
  1. kalau menderita sakit kepala, gunakan daun sirih yang muda dengan sedikit maswi (baca, masuwi), lekatkan pada dahi. 
  2. Kalau ngibuk karena badan panas, gunakan sirih yang tua/sudah kuning, ditambah gamongan, beras yang sudah direndam, kemudian diolah menjadi boreh dan dioleskan ke seluruh tubuh. Sebagai usug-nya dipakai jenis daun-daunan, seperti daun : awar-awar, dadap, pancersona, empag ; kelapanya dibakar, lalu diparut terus disadah, sesudah itu bisa dipakai usug pada seluruh tubuh. Kalau sakitnya tidak mengkhawatirkan seperti sakit ngancuk-ancuk, obatnya : daun juwet, sindrong, diolah menjadi boreh. Pada bagian tulang belakang di-simbuh dengan daun dusakeling, daun jajartanah, temu tis, diramu dengan beras yang sudah direndam, tingkih yang sudah dibakar, bawang metambus pada abu, dan ditambah adas. 
  3. Kalau perutnya terasa sakit ngilut-ngilut, dibuatkan loloh babakan pule, babakan dadap, diisi kelapa yang sudah dibakar, dan sarilungid, lalu di-simbuh-kan pada perut. Kalau sakitnya parah sampai menyebabkan si penderita bingung, obatnya : daun dusakeling, pucuk liligundi ini digiling sampai lumat, lalu diperas dan disaring. Aturan pakai : teteskan pada hidung dan mata.

Soma - Senin

Kelahiran Soma merupakan titisan dari mendiang sang kakek dari pihak keluarga laki-laki, sedikit bicaranya (pendiam). Perasaannya, banyak kasih sayang bagaikan seorang kakek dengan cucunya, juga ramah terhadap lingkungannya.
  • Dewanya : Bhetara Soma / Dewa Bulan. Pengaruh Bulan terhadap orang yang lahir hari soma biasanya berwatak pendiam, 
  • Kala-nya, Kala Jerang yang mempengaruhi sifat dewanya, maka pada waktu ia marah tidak bisa dikendalikan. Tapi marahnya hanya sebatas omongan saja. Kebiasaan negatif lainnya, suka membeberkan di sana sini kejelekan orang yang pernah dimarahi. 
  • Bhutania : ulu kebo, kalau marah bisa sampai pada gelap hati, dan putus asa, 
  • Kayunia : kayu pule, artinya mempunyai watak suka menolong, tetapi suka juga memperhatikan kesalahan orang lain ; dia sendiri jarang mengevaluasi kekurangan atas dirinya. 
  • Wayang-nya : togog, maksudnya pada saat melamun sering membayangkan kemewahan. 
  • Maya-nya : wulan, artinya ingin mendapatkan ketenangan, kedamaian yang menjadi tujuan pokoknya tanpa pernah disadari bahwa hidup itu harus berjuang terus tanpa hentinya, sepanjang tenaga ini masih mendukung. 
  • Lintangnia : naga, artinya sulit diatasi bila tiada bukti atas apa yang dilakukannya itu terbukti salah. Dia harus berbicara berdasarkan fakta.

Penyakit orang-orang kelahiran hari Soma disebabkan oleh bhuta Banaspati. Karena arogansinya, maka sakit yang diderita bisa mengakibatkan anrawang-anruwung perasaannya (sakit hati), tidak enak makan. Badan terasa nyeri, bahkan sampai kesemutan/keram ngancuk-ancuk, nek di hulu hati, puruh, parang, ngibuk, anyang-anyangan. Obatnya,
  • kalau sakit kepala obatnya daun sirih yang masih muda, ditambahkan sedikit maswi (masui). Lolohnya : pucuk kecemcem, isen, bawang putih, air jeruk, cuka tahun, air asaban cendana, bawang metambus pada bara api. Lalu dilumatkan dan diisi air, kemudian disaring lalu diminum. Boreh pada badan, bahan yang diolah berasal dari bunga cempaka putih, sindrong, ditambahkan air asaban cendana. Cara pemakaian : usapkan pada siksikan, daun jambu putih, buah jebug, bawang adas. Boreh pada kaki : serbuk bata jalikan, daun jeruk, daun pule, kasuna dan jangu,

Anggara - Selasa

Watak kelahiran dina Anggara, pintar bicaranya.
  • Dewanya Rudra, artinya berwatak keras kepala. 
  • Wayang-nya cupak, artinya berpenampilan berani, namun kurang hati-hati/agak ceroboh. Besar kemarahannya, bebotoh, dan kalau tidak bebotoh pengeluarannya tidak dihitung-hitung, sama dengan boros. 
  • Kayu-nya pule, artinya suka menolong sahabatnya. 
  • Manuk-nya, burung gagak, mempunyai firasat/filling yang baik. 
  • Mayania luwang, artinya suka mencari kesempatan/peluang. 
  • Lintang-nya celeng, tidak cocok mempunyai usaha beternak babi/hewan berkaki empat, oleh karena dia punya hutang karma berupa kaul babi guling yang belum dibayar pada kehidupan masa lalunya di kamulan. 
  • Bhutanya Banaspatiraja, artinya pada saat dia sedang kalap ia berani mengambil jalan pintas karena tidak peduli. 
karena bhuta Banaspatiraja yang menyakiti, sebab di masa lalunya tidak senang membersihkan diri (melukat) yang menyebabkan sakit pada masa kelahiran sekarang. Penyakitnya sering dialami dalam perjalanan, seperti sakit ngreges, sebuku-buku, batuk-batuk, sakit di bagian perut dan dada.
  • Obatnya; daun miana cemeng, daun pule yang muda, sulasih merik, sumanggi gunung, bungan blingbing buluh, montong isen nyuh metunu, temu tis, sari lungid. Semuanya dilumatkan, diisi air, disaring, untuk diminum. Lainnya, sakit mata, rumpuh, gatal-gatal, sakit pinggang kenyat. Obatnya, boreh yang terbuat dari babakan ancak, pulesai, sindrong, airnya asaban cendana. Boreh pada kaki terbuat dari daun simbukan, hatinya isen, kasuna, dan jangu, airnya asaban cendana.

Buda - Rabu

Yan wadon Dewa-nya Bhetari Uma, yan lanang Dewa-nya Mahedewa dan Wisnu. Wataknya sangat keras pada saat keras hatinya, dan sangat lembut pada saat lembut. Bisa jadi berwatak waria/banci.
  • Wayang-nya Wirun, artinya berpenampilan lugu, suka merendah, namun sering labil, atau sering berbeda dengan kenyataannya (suka jahil). 
  • Kayu-nya bunut, sering ditafsirkan seram. 
  • Manuk-nya Dara, suka pergi jauh. 
  • Sato-nya lembu, artinya tidak bisa dilukai, kalau dilukai bisa kalap. 
  • Kala-nya Anggapati, keinginannya dan juga bercita-cita tinggi – bisa jadi loba-nya juga tinggi. 
  • Mayania Pertiwi, kalau tidak dilukai dia cenderung sabar. 
  • Lintang-nya keris, sakitnya makan hati, juga kalau bicara sering menusuk hati orang dengan halus, dan sering luka, galakin desti, miwah pemali, doyan alih endih. Kesusahannya dalam bentuk financial, punya hutang kaul di kemulan berupa babi guling yang belum terbayar dari kakeknya yang sudah meninggal.

Orang kelahiran Rabu sakitnya ada di kepala, obatnya daun pepe, bawang dan adas. Sakitnya juga pada saluran kencing, obatnya empol pandan, bungan malinjo, bawang dan adas. Sakitnya juga pada perut,
  • obatnya selasih merik, air jeruk, isen ginten cemeng, air asaban cendana. Boreh untuk badannya babakan dadap dan sindrong wayah/jangkep. Boreh pada kakinya terbuat dari babakan pangi, babakan kelor, kasuna dan jangu, abu dapur dan idu bang.

Wraspati - Kamis

Wataknya banyak bicara, cocok sebagai guru, sekalipun dia bodoh tapi masih senang ngajarin orang lain. kadang-kadang lakunya mrekak/congkak dan tegar menghadapi masalah.
  • Wayang-nya semar, artinya dia sebagai abdi kebenaran, semar ini yang menyebabkan dia tabah. 
  • Kayunia bingin, maksudnya menjadi sosok yang aman dan teduh bagi orang-orang yang membutuhkan perlindungan / punya masalah. Dengan kata lain, suka melindungi orang yang menderita. 
  • Manuknya : merak, artinya sedikit suka pamer kemewahan. 
  • Sato-nya macan, artinya bertampang serem, kalau dipaksakan marahnya bersungguh hati. 
  • Kala-nya Anggapati, artinya orang yang bercita-cita tinggi dan agak loba pada sesuatu yang diinginkan (harus bisa atau harus tercapai). 
  • Bhuta-nya Ulusinga yang menyebabkan sakit. 
Bhuta Ulusinga dalam konteks ini maksudnya kelemahannya ingin berkuasa atas diri orang lain, kalau tidak bisa dia akan menyesal, maka sakitnya di perut muntaber (ngutah mising), maag, tuju, pemali, nglempuyeng, buduh, dekah, perot. obatnya:
  • Kalau batuk obatnya padang lepas, tingkih, beras mes, simbuh pada bagian dada. 
  • Kalau sakit perut, simbuh-kan kunyit, musi, daun kepasilan. Loloh-nya akah dadap, akah selegwi, akah sandat, sindrong muda dilumatkan, airnya asaban cendana, di saring lalu di minum. Boreh untuk badannya berasal dari ramuan daun dadap yang sudah kuning, daun bunut kuwang, kulit pohon majegau yang dikerik, dan sindrong wayah, lulurkan pada siksikan empol pandan, pucuk daun malinjo, bawang dan adas. 
  • Kalau kena gangguan jiwa, obatnya air kencing kuda hitam atau kuda putih, telor semut sidem, daun dusakeling, daun jajar tanah, diulek, lalu disaring dengan kain putih. Boreh pada kaki dengan ramuan daun tuju musna, kasuna dan jangu, airnya cuka. Kwalat-nya di kemulan di-tebusin seperangkat pakaian (rantasan saperadeg).

Sukra - Jumat

Dewa-nya Bhetari Sri.
  • Wayang-nya sangut, artinya suka melucu, dan seninya menonjol, banyak akalnya, pintar mencari solusi. 
  • Kayu-nya ancak, artinya pohon obat, memang kelahiran hari jumat suka menolong namun bicaranya agak panas. 
  • Manuk-nya titiran, artinya tutur katanya menarik perhatian orang lain. 
  • Kala-nya Kala Jerang, artinya suka ngomel dan suka menginformasikan kesalahan orang lain. 
  • Maya-nya yeh, artinya pikirannya susah dihentikan, mengalir terus bagaikan air mengalir sehingga membuat dirinya labil, banyak idenya. 
  • Lintang-nya kabutaan, kelemahannya pada kelupaan, pikirannya sering kosong hingga menyebabkan sakit. 
Sakitnya mudah kemasukan energi negatif/kadestiaan. Sakitnya ngibuk/gerah, panas dalam, sakit kepala ngreges, sakit kelamin.
  • Obatnya loloh daun sembung, daun pule, selasih merik, miana cemeng, sindrong, airnya santen dan air jeruk purut, semuanya di kukus. Semburkan pada badannya ramuan daun dusakeling, temutis, daun jajar tanah, tingkih metunu, beras kering, ketumbar, bawang, dan adas. 
  • Kalau sakit kelamin, obati dengan babakan kepah, daun nangka hijau, jebugarum, kasuna dan jangu, semuanya disangrai (dinyanyah) lalu dipakai bubuk. Kwalat-nya pada gedong Sari / linggih Bhetari Tri Upasedana.

Saniscara - Sabtu

Dewania Bhetari Durga ; bawaan kelahirannya bersifat dualitas, di mana sifat buruknya muncul terlebih dahulu atau sebaliknya. Baiknya, suka menolong orang, namun jeleknya berani jahat kalau dilawan. Sulit meredakan amarah, caranya hanya dengan menjauhi masalah, bahayanya kalau diajak berdebat argumentasi, dia tidak akan mau mengalah. Kelahiran orang pada hari sabtu adalah berumur pendek (cendek tuwuh).
  • Wayang-nya Delem, kalau sedang marah tidak perduli ada orang lain, mau pun situasi dan kondisi (ngawur, tidak kepalang tanggung bicara). 
  • Kayu-nya kepuh rangdu, artinya bertampang sadis atau serem. 
  • Manuk-nya tuhu-tuhu. Firasatnya ada pada mata, suka membaca tingkah laku orang lain, pemerhati aksi orang lain. 
  • Kalanya barong, sukanya sebagai penyelamat keluarga dan sahabat. 
  • Maya-nya bianglalah (pelangi) mempunyai kebiasaan menghilang, namun muncul pada saat yang tak pernah diduga. Cendrung labil, artinya sulit ditebak lihainya sebagai pengatur laku, sutradara kelompok/politik. 
  • Bhuta-nya Raksasa, artinya kurang waspada, banyak cerobohnya yang menyebabkan dia sakit, sakit hati dan akan menyesal di belakang hari. 
Lintang-nya lintang Rhu, dialah sebagai penyebab sakit, seperti sakit perut kembung (bengkang) atau melilit, badan menggigil, kepek, pemalinan/ngancuk-ancuk, gatal-gatal, sakit pada kelaminnya.
  • Obat pametuan, loloh-nya (jamu) juwuk purut, juwuk lengis, isen, kapur, temupoh, miana cemeng, Ginten cemeng, selasih miyik, yehnya asaban cendana ; semuanya ditumbuk halus, lalu disaring dipakai loloh. Boreh pada kaki babakan Tibah, tabya bun, suna jangu, dan beras merah, borehkan terutama pada telapak kaki sampai pada pergelangan kaki. 
  • Kalau sakit perut, semburlah pada perutnya dengan don kakap/daun sirih yang sudah tua, buah jebug. Lulurkan boreh ke seluruh tubuh yang dibuat dari : babakan ancak, ketumbah bolong, airnya asaban cendana. 
  • Kalau sakit bagian kelaminnya, gunakan babakan kepah, jebugarum, daun nangka hijau, disangrai (nyanyah) sampai kering, dipakai bubuk/herbal.
Sebagai tambahan, dalam rumus perhitungan wariga pada kalender bali disebutkan pula bahwa
Jejepan ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 6 = sisa
  1. Mina (ikan)
  2. Taru (kayu)
  3. Sato (hewan)
  4. Patra (tumbuhan merambat/menjalar)
  5. Wong (manusia)
  6. Paksi (burung/unggas)
kesimpulannya, Sapta wara terdiri dari 7 dgn wara (hari) pertama Redite berikut Soma, Anggara, Budha, Wrhaspati, Sukra, dan Saniscara yang terakhir. Dengan Sapta Wara. Ini menjadi panjang hari dalam satu wuku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar