Google+

Ida Bang Manik Angkeran bertemu Dukuh Sakti Blatung

Ida Bang Manik Angkeran bertemu Dukuh Sakti Blatung

Kembali diceriterakan keberadaan Ida Bang Manik Angkeran di Besakih. Beliau membuat pasraman di sebelah Utara Gua, sekitar 300 depa jaraknya dari Gua itu. Pekerjaan beliau sehari-hari melaksanakan tapa brata yoga samadhi, serta menjaga kebersihan dan kesucian kawasan Pura Besakih. Tak sekalipun beliau Ialai. Prilaku beliau berbeda benar jika dibandingkan dengan sebelum beliau wafat dibakar oleh Ida Bhatara Nagaraja. Beliau melaksanakan Kadharman, mengikuti ajaran dan prilaku seorang pendeta pura yang suci. Setiap hari beliau menggelar Surya Sewana, memuja Sanghyang Parama Wisesa.

Suatu ketika tatkala hari suklapaksa-pananggal - menjelang purnama, beliau bermaksud untuk membersihkan diri dengan mandi di Toya Sah, Besakih. Setelah membersihkan diri, berkeinginan beliau berjalan-jalan meninjau kawasan Besakih. lalu terlihat oleh beliau seorang Iaki-Iaki tua sedang bekerja di Iadang, member­sihkan padi gaga, membersihkan rumput dan menyiangi. Orang tua itu bernama Ki Dukuh Belatung yang demikian saktinya, namun tindak-tanduknya bagaikan anak kecil, senang dipuji serta senang pamer. Baru dilihat seseorang datang ke tempat beliau dan menyaksikan beliau bekerja, keluarlah keisengannya untuk pamer, sengaja berhenti bekerja kemudian menaruh alat siangnya dan melompat, duduk di atas alat itu seraya mengambil sirih dan melumatkan sirih itu di atas alat siang tadi.


Pikir Ki Dukuh ingin supaya yang baru datang menjadi kagum. Namun Sang Bang Manik Angkeran malahan menjadi sangat jengkel melihat aksi pamer Ki Dukuh, karena jelas maksudnya untuk mencoba diri beliau. lalu, dihampirinya Ki Dukuh seraya berkata : 
”Ih Bapak, kalau begini cara Bapak bekerja, sepertinya bermain-main, sebanyak apa yang bisa Bapak hasilkan?”.
Lalu berkata Ki Dukuh sedikit gugup : 
”Siapa pula anda yang bertanya ? Kok rasanya Bapak tidak tahu ?”.
Berkata Ida Bang Manik Angkeran : 
”Ah saya ini Sang Bang Manik Angkeran, putra beliau Mpu Bekung dari tanah Jawa. Namun saya ini sekarang menghamba kepada Ida Bhatara di Besakih, menjadi tukang sapu”.
Berkata Iagi Ki Dukuh : 
”Tidak mengerti saya, kalau demikian halnya. Sebab janggal keberadaan sang brahmana seperti itu. Baru sekarang saya mendengar orang bekung (tidak punya anak) memiliki putera. Dan Iagì ada brahmana menjadi tukang sapu, kalau tidak anda ini brahmana hina”.
Sedikit marah Sang Bang berkata : 
”Ih Bapak, jangan berbicara sembarangan! Ayah saya memang bekung, namun karena kesaktian beliau, berhasil beliau mengadakan putera. Saya ini memang benar putra seorang Mpu, bukan brahmana hina. Serta saya berhak diperintah oleh Ida Bhatara, walaupun pekerjaan yang diperintah­kan itu menyapu, itu juga pekerjaan utama, kalau sudah Ida Bhatara yang memerin­tahkan. Sekarang saya balik bertanya. Kakek ini siapa, serta dari golongan apa ?”
Berkata Iagi Sang Bang, masih perasaannya jengkel : 
“Ih Bapak Dukuh, saya bertanya Iagi. Itu ada sampah bertimbun. Akan Bapak bagaimanakan ? Tidak akan Bapak bersihkan ?”
Ki Dukuh menjawab agak marah, 
“Wah, ini benar-benar brahmana aneh”
“Apa Iagi dipakai membakar, kalau bukan api. Lalu kalau Ida Bagus apa yang dipakai mem­bakar ?”.
Sang Bang menjawab seperti mencibir,
 “Wah...., kalau Bapak Dukuh masih membakar sampah dengan memakai prakpak – daun kelapa kering- jelas tidak benar Bapak Dukuh tahu dengan falsafah pengetahuan Tri Agni, yang berada di dalam diri sebenarnya. Kalau saya, melalui air kencing saya saja sampah ini akan terbakar tidak bersisa”.

Tatkala didengarnya kata Ida Sang Bang demikian itu, menjadi terhenyak Ki Dukuh, berdiam diri, seraya Iama termenung, kemudian menghaturkan sembah : 
“Singgih, Ratu Sang Bang, kalau benar seperti perkataan I Ratu, bisa membakar sampah ini dengan air kencing I Ratu, hamba akan menghaturkan diri, serta semua milik hamba beserta rakyat, serta pula anak hamba akan hamba serahkan semuanya kepada Cokor I Ratu “.

Usai Sang Bang mendengar hatur Ki Dukuh, menjadi pulih kembali perasaan beliau. lalu beliau berkata perlahan : 
“Nah, kalau benar seperti perkataan Bapak, saya akan memperlihatkan bukti. Namun agar semuanya sanggup datang dan hadir, serta disaksikan oleh Ida Sanghyang Triyodasa Saksi”.
“Jangan sekali-kali I Ratu ragu. Memang dari Iubuk hati hamba yang ihklas, tidak akan ingkar dengan janji”. 
menjawab ida bang:
“Nah, kalau begitu, ke sana Bapak pulang, beritahu sanak keluarga serta rakyat Bapak agar datang manakala saya memberikan bukti di hadapan Bapak” 
Demikian perjanjian Ida Sang Bang Manik Angkeran.

Setelah selesai janji itu, Ki Dukuh Ialu memberitahukan kepada anak, isteri serta keluarganya, perihal janjinya kepada Ida Bang Manik Angkeran, serta imbalan yang dimasukkan ke dalam janji itu sebagai taruhan. Yang mendengar semuanya sama-sama paham di dalam hatinya menjadi taruhan.

Tersebutlah pada hari yang telah disepakati, pagi-pagi hari Ida Sang Bang sudah membersihkan diri dengan mandi di Tirtha Mas, serta kemudian melakukan yoga samadhi memuja Sanghyang Agni agar memberikan anugrah. Setelah melaku­kan yoga dan samadhi, Ialu beliau berjalan menuju tempat tinggal Ki Dukuh.

Setelah dekat dengan tempat Ki Dukuh, nampaknya semuanya Iengkap hadir, Ki Dukuh dengan isterinya, keduanya memakai pakaian putih-putih, ditemani dengan anak dan kerabatnya, hanya tinggal menunggu kedatangan Ida Sang Bang. Setelah tepat benar matahari di atas kepala, Ialu beliau menuju tempat sampah yang ber­timbun, di sana beliau mengheningkan cipta-mamusti, menyatukan pikirannya, men­egakkan keteguhan bathin Iaksana Gunung Mahameru. Tidak berapa Iama, matang sudah yoga beliau, seraya mengeluarkan air kencing di sampah itu. Dan sekejap air kencing itu menjadi api yang menyala-nyala, berkobar. Terbakar semua sampah kebun di tempat itu, hampir-hampir terbakar seluruh hutan di sana.

Keadaan itu dilihat oleh Ki Dukuh serta semua iringannya, sangat kagum mereka pada kesaktian Ida Sang Bang. Ki Dukuh merasa kalah, namun sekaligus merasa untung, karena merasa mendapatkan jalan baik untuk pulang ke Sorgaloka. Tatkala api itu bekobar, saat itu pula Ida Sang Bang Manik Angkeran membelokkan ujung api itu ke arah timur Iaut. lalu beliau berkata kepada Ki Dukuh : 
”Bapak Dukuh, saya memberi bekal Bapa dengan ganten. Turuti asap itu ke arah timur laut”.

Saat itu Ki Dukuh menemukan jalan baik seraya melihat ada Meru berting­kat II (sebelas). Ki Dukuh menuju api itu serta mengheningkan cipta dengan sikap angeranasika-mengheningkan cipta dengan melihat hidung, Ialu beliau melompat ke tengah-tengah api yang sedang memuncak kobarannya itu. Ki Dukuh naik moksa seiring dengan asap yang mengepul tinggi itu serta kemudian tidak nampak Iagi. Keadaan itu diikuti oleh isteri Ki Dukuh yang memakai kerudung dan berkain putih, kemudian mamusti, selanjutnya melompat juga ke api, sebagai tanda setia bhakti kepada suami serta berkeinginan juga menemui jalan terbaik menuju Sorga. Beliau berdua pulang ke Nirwana, melalui jalan ke Sorgaloka yang utama, serta juga ber­dasarkan sasupatan-penyucian oleh Ida Bang Manik Angkeran, yang telah men­jadi pendeta yang bijak. 
Sejak saat itu Ki Dukuh Sakti dikenal dengan gelaran Dukuh Lepas atau Dukuh Sorga
Lama kelamaan tempat Ida Sang Bang Manik Angkeran bersengketa dengan Ki Dukuh Sakti itu dinamai Gumawang.

Sekarang diceriterakan yang masih hidup. Sesudah Ki Dukuh Sakti meninggal, semua milik Ki Dukuh serta rakyat se-kawasan Desa Bukcabe, diserahkan kepada Ida Sang Bang, termasuk putri beliau yang merupakan seorang dara yang bijak, cantik tiada bandingnya, bernama Ni Luh Warsiki

Kedua beliau itu sama-sama saling men­cintai, disebabkan yang satunya merupakan seorang jejaka yang tampan bersanding dengan seorang dara yang jelita. Kemudian diselenggarakan Upacara Perkawinan. Setelah upacara selesai, lalu keduanya kembali ke Pasraman di Besakih. Sesampai di Tegehing Munduk-tempat ketinggian, Ni Luh Warsiki menoleh ke tempat bekas sampah dibakar, terhenyak beliau, lalu menangis, teringat akan ayah ibunya yang sudah berpulang. Beliau tidak mau melanjutkan perjalanan sebelum pulih perasaan beliau. Rakyat beliau kemudian membuatkan tempat beristirahat di sana. Lama kelamaan tempat itu dikenal dengan nama Munduk Jengis.

Diceriterakan kemudian rakyat semuanya sangat gembira pada perasaan mereka, disebabkan sekarang mereka memiliki pujaan yang tampan serta sakti, pintar, bijaksana serta dibya caksu-memiliki kesaktian bisa melihat kejadian tanpa melihat Iangsung.

Setelah Iama beliau berdua bersuami isteri saling mencita, saling mengasihi, maka Iahirlah seorang putra Iaki-Iaki, rupanya tampan serta memiliki prabawa yang agung dinamai Ida Wang Bang Banyak Wide.

Artikel terkait Ida Manik Angkeran:
demkianlah sekilas tentang Ida Bang Manik Angkeran bertemu Dukuh Sakti Blatung, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar