Google+

Upacara Dewa Yadnya berdasarkan Wewaran

Upacara Dewa Yadnya berdasarkan Wewaran

Seperti telah diketahui bahwa Sapta Wara adalah istilah lain dari nama hari-hari masehi seperti Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu. Sapta Wara itu terdiri dari Redite, Soma, Anggara, Buda, Wrespati, Sukra, Saniscara. Sedangkan untuk Panca Wara terdiri Umanis, Pahing, Pon, Wage, Kliwon.
Rerahinan yang berdasarkan pertemuan antara Panca Wara dengan Sapta Wara antara lain :

  1. Anggara Kliwon yang disebut Anggarkasih, pada hari ini adalah payogan Bhatara Ludra unutk melenyapkan kejahatan. Umat Hindu hendaknya melakukan penyucian diri dan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widi.
  2. Buda Kliwon, pada hari ini adalah pasucian Sang Hyang Ayu. Hendaknya melakuka pemujaan di pamerajan atau diatas tempat tidur memuja dan mohon keselamatan kepada Sang Hyang Nirmala Jati di sertai dengan canang harum kembang payasan.
  3. Saniscara Kliwon yang disebut dengan Tumpek. Nama dari Tumpek ini disesuaikan dengan nama wuku, misalnya Tumpek yang jatuh pada wuku Landep maka disebut Tumpek Landep sebagai hari untuk melakukan pemujaan kepada Sang Hyang Parama Iswara.
  4. Buda Wage yang disebut Buda Cemeng merupakan hari payogan Hyang Manik Galih yang menganugrahkan amerta di dunia.


Upacara Dewa Yadnya Pada Hari Lainnya

Upacara Dewa Yadnya pada hari lainnya juga dilaksanakan pada hari tertentu atau berkaitan dengan tempat suci dan waktu yang khusus. Adapun upacara Dewa YAdnya yang terkait dengan tempat suci, yaitu:

  • Pamelaspas, upacara ini adalah upacara penyucian terhadap tempat suci yang biasanya tempat atau bangunan-bangunan suci tersebut baru selesai dibuat atau diperbaiki. Biasanya upacara ini di dahului dengan pemilihan tempat, dilanjutkan dengan upacara Pangruwakan dan Pacaruan.
  • Pujawali, upacara ini adalah sebagai hari jadi dari tempat suci tersebut. Pada saat Pujawali, umat penyungsung Pura itu melakukan upacara yadnya.
  • Piodalan, upacara ini bias dilakukan tidak secara tepat pada waktu yang berkala. Piodalan biasanya dilakukan di sanggah jajaran, Pamerajan Agung, Sanggah Dadia atau sejenisnya, dan pelaksanaannya tergantung pada situasi dan kondisi atas kesepakatan karma penyungsung disamping pula pelaksanaan piodalan tidak terlepas dari Desa, Kala, Patra.

Selanjutnya terdapat pula upacara Dewa Yadnya yang dilaksanakan pada waktu yang khusus, yaitu:

Ngusaba

Upacara Ngusaba adalah suatu upacara pemujaan yang berkaitan erat dengan masalah pertanian atau subak. Upacara Ngusaba cenderung melibatkan masyarakat yang berprofesi sebagai petani. Upacara Ngusaba terdiri dari 2 bagian, yaitu :

  1. Ngusaba Nini, adalah upacaraselamatan unutk lahan pertanian yang basah terutama yang menghasilkan padi.
  2. Ngusaba Desa, adalah upacara selamatan untuk lahan kering seperti lading dan kebun. Pada dasarnya upacara Ngusaba ini dilaksanakan bertujuan agar kegiatan pertanian dapat berjalan dengan baik dan member hasil melimpah yang baik pula serta memohonkan agar lahan pertanian beserta tanamannyatidak diganggu oleh segala macam hama dan penyakit yang dapat merugikan pertanian. Dapat pula diartikan sebagai upacara penyucian terhadap karang desa pakraman. Untuk upacara Ngusaba yang di pujaadalah Dewa Wisnu dan Dewi Sri sebgaai penguasa kesuburan dan kemakmuran.

Ngaci-aci

Aci-aci adalah upacara ritual keagamaan yang berfungsi sebagai persembahan kehadapan Dewi Sri, Dewi Uma, dan Dewi Parwati. Pada prinsipnya upacara ini sama dengan upacara Ngusaba Nini. Masyarakat khususnya para petani melakukan pemujaan dan memohon tirtha amertha yang kemudian dipercikkan di sawah agar Dewi Sri (Dewi Uma) sebagai Dewi kesuburan dan kemakmuran memberikan wara nugraha sehingga tanaman padi atau tanaman sawah dapat hidup dengan baik tidak di ganggu oleh hama dan penyakit sehingga bias member hasil yang baik dan melimpah.

Melasti

Upacara Melasti disebut juga Mekiis atau Melis. Upacara Melasti ini mempunyai makna untuk menyucikan berbagai sarana yang terkait dengan pelaksanaan upacara di suatu Pura atau tempat suci seperti misalnya arca, pratima, pralingga dan perlengkapan upacara lainnya. Selain itu upacara Melasti ini juga memiliki makna nganyud sarwa mala ring gumi supaya Bhuana Agung dan Bhuana Alit bersih dan suci. Sekaligus dalam upacara Melasti melakukan pemujaan untuk memohon tirtha suci. Upacara Melasti ini dilaksanakan di tepi laut atau pantai, bias juga di mata air terdekat yang dipandang suci seperti danau, sungai, da yang lainnya yang sesuai dengan tradisi setempat. Setelah upacara Melasti dilaksanakaan barulah Ida Bhatara-Bhatari yang disimbolkan dengan Nyasa-nyasa diistanakan di pelinggih tempat suci. Demikianlah uraian singkat mengenai pelaksanaan Dewa Yadnya.
Demikianlah sekilas tentang Upacara Dewa Yadnya berdasarkan Wewaran, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar