Google+
Tampilkan postingan dengan label Upacara Dewa Yadnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Upacara Dewa Yadnya. Tampilkan semua postingan

Implementasi Dewa yadnya di era modern di Bali

Implementasi Dewa yadnya di era modern di Bali

Kata Yadnya berasal dari bahasa Sansekerta, akar-akar “Yaj”, yang artinya memuja, mempersembahkan, pengorbanan, menjadikan suci.Prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam Yadnya yaitu keikhlasan, kesucian dan pengabdian tanpa pamrih.
Kata “upacara” berasal dari bahasa Sansekerta artinya “mendekat”. Sedangkan yadnya artinya ikhlas berkorban untuk tujuan yang benar dan suci. Jadi, upacara yadnya adalah upaya spiritual dengan bentuk ritual dengan tujuan mendekatkan diri pada Tuhan dengan landasan bhakti.

Banten Piodalan Madya di Mrajan Alit

Banten Piodalan di Mrajan Alit

setelah sebelumnya mengulas Banten Piodalan Nista ring Merajan alit, kali ini saya akan bagikan sedikit ulasan tentang Piodalan Madya di Mrajan/Sanggah Alit.
sebelumnya, ditegaskan kembali, yang disebut sanggah alit adalah keluarga yang memiliki pelinggih kamulan taksu saja, atau ditambah padma sari. lebih lengkapnya, palinggih di mrajan alit diantaranya: Sanggah Kemulan, Sanggah Taksu, bebaturan Panglurah, dan kadang kala terdapat juga padma sari. apabila palingih sanggahnya sudah melebihi hal tersebut, maka sanggah atau pemerajan tersebut bukan lagi disebut sanggah alit.

Banten Piodalan Madya di Mrajan Alit 

berikut ini Banten Piodalan Madya di Mrajan Alit atau sering disebut Piodalan Tumpeng 11, Maude kurenan. adapun bantennya:

Upacara Dewa Yadnya berdasarkan Wewaran

Upacara Dewa Yadnya berdasarkan Wewaran

Seperti telah diketahui bahwa Sapta Wara adalah istilah lain dari nama hari-hari masehi seperti Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu. Sapta Wara itu terdiri dari Redite, Soma, Anggara, Buda, Wrespati, Sukra, Saniscara. Sedangkan untuk Panca Wara terdiri Umanis, Pahing, Pon, Wage, Kliwon.
Rerahinan yang berdasarkan pertemuan antara Panca Wara dengan Sapta Wara antara lain :

  1. Anggara Kliwon yang disebut Anggarkasih, pada hari ini adalah payogan Bhatara Ludra unutk melenyapkan kejahatan. Umat Hindu hendaknya melakukan penyucian diri dan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widi.
  2. Buda Kliwon, pada hari ini adalah pasucian Sang Hyang Ayu. Hendaknya melakuka pemujaan di pamerajan atau diatas tempat tidur memuja dan mohon keselamatan kepada Sang Hyang Nirmala Jati di sertai dengan canang harum kembang payasan.
  3. Saniscara Kliwon yang disebut dengan Tumpek. Nama dari Tumpek ini disesuaikan dengan nama wuku, misalnya Tumpek yang jatuh pada wuku Landep maka disebut Tumpek Landep sebagai hari untuk melakukan pemujaan kepada Sang Hyang Parama Iswara.
  4. Buda Wage yang disebut Buda Cemeng merupakan hari payogan Hyang Manik Galih yang menganugrahkan amerta di dunia.

Upacara Dewa Yadnya Berdasarkan Pawukon

Upacara Dewa Yadnya Berdasarkan Pawukon

Adapun hari raya berdasarkan Pawukon, yaitu

1. Wuku Sinta


  • Banyupinaruh Hari suci ini jatuh pada Redite Pahing. Banyu pinaruh merupakan rangkaian dari hari raya Saraswati. Pada hari ini umat Hindu melakukan pensucian (melukat) dengan mandi di pantai atau sumber air yang dianggap suci. Hal ini sebagai simbolis untuk mendapatkan kesucian secara lahiriah yang kemudian hendaknya diharapkan bisa berlaksana yang suci pula.
  • Soma Ribek Hari suci ini jatuh pada Soma Pon. Hari ini adalah khusus untuk memuliakan Dewi Sri sebagai sakti dari Dewa Wisnu yang dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Tri Pramana. Upacara ini dilakukan di tempat penyimpanan padi atau beras dengan mengahaturkan Nyahnyah Gringsing, Biu mas, canang ajuman dengan wewangian. Demikian pula persembahyangan dilakukan parhyangan. Pada hari suci ini umat Hindu khususnya petani melakukan pebrataan dengan tidak menjual padi atau beras, tidak menurunkan padi dari lumbung, karena Dewi Sri adalah Dewi yang dipuja dan disucikan oleh kaum petani.
  • Sabuh Mas Hari suci ini jatuh pada Anggara Wage sebagai hari-hari pemujaan kepada Sang Hyang Rambut Sedana yang dipuja sebagai Dewa harta benda yang dipuja sebagai emas dan perak. Hari suci ini juga disebut Sabuh Pipis. Pada hari ini umat Hindu melakukan brata dengan tidak melakukan transaksi hutang piutang, apalagi menjual emas.
  • Pagerwesi Hari suci ini jatuh pada Buda Kliwon sebagai hari turunnya Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam manifestasiNya sebagai Sang Hyang Pramestiguru untuk memberikan anugrah kepada manusia berupa kekuatan iman, kerahayuan, dan kedirgayusan. Selain melakukan persembahyangan di tempat-tempat suci umat Hindu melaksanakan upacara persembahan kepada Pitara atau Leluhur baik di paibon maupu di setra (kuburan). Hal tersebut menunjukkan adanya ikatan antara anak (sentana) dengan leluhur (Guru Rupaka).

Upacara Dewa Yadnya Pada Hari Purnama dan Tilem

Upacara Dewa Yadnya Pada Hari Purnama dan Tilem

Purnama dan Tilem adalah hari suci bagi umat Hindu, dirayakan untuk memohon berkah dan karunia dari Hyang Widhi. 
Hari Purnama, sesuai dengan namanya, jatuh setiap malam bulan penuh (Sukla Paksa). 
Hari Tilem dirayakan setiap malam pada waktu bulan mati (Krsna Paksa). 
Kedua hari suci ini dirayakan setiap 30 atau 29 hari sekali. Pada hari Purnama dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Chandra, sedangkan pada hari Tilem dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Surya. Keduanya merupakan manifestasi dari Hyang Widhi yang berfungsi sebagai pelebur segala kekotoran (mala). Pada kedua hari ini hendaknya diadakan upacara persembahyangan dengan rangkaiannya berupa upakara yadnya.

Pada hari Purnama dan Tilem ini sebaiknya umat melakukan pembersihan lahir batin. Karena itu, disamping bersembahyang mengadakan puja bhakti kehadapan Hyang Widhi untuk memohon anugrah-Nya, umat juga hendaknya melakukan pembersihan badan dengan air. Kondisi bersih secara lahir dan batin ini sangat penting karena dalam jiwa yang bersih akan muncul pikiran, perkataan dan perbuatan yang bersih pula. Kebersihan juga sangat penting dalam mewujudkan kebahagiaan, terutama dalam hubungan dengan pemujaan kepada Hyang Widhi.

Upakara dan Upacara Dewa Yadnya

Upakara dan Upacara Dewa Yadnya

Upacara dewa yadnya merupakan bagian dari Panca Yadnya, adalah upacara pemujaan dan persembahan sebagai wujud bakti kehadapan Hyang Widhi dan segala manifestasi-Nya, yang diwujudkan dalam bermacam-macam bentuk upakara. Upacara ini bertujuan untuk pengucapan terima kasih kepada Hyang Widhi atas kasih, rahmat dan karunia-Nya sehingga kehidupan dapat berjalan damai.
Dewa yadnya sejatinya sebagai tanda bahwa kita sudah menjalani prosesi ritual untuk Dewa Rna
Upacara dewa yadnya umumnya dilaksanakan di sanggah-sanggah, pamerajan, pura, kayangan dan tempat suci lainnya yang setingkat dengan itu. Upacara dewa yadnya ada yang dilakukan setiap hari dan ada juga yang dilakukan secara periodik atau berkala. 
"Brahma rpanam brahma havir,
brahmagnau bahmana hutam,
brahmai va tena gantavyam,
brahma karma samadhina" (Bhagawad Gita IV.24)
"Dipujanya Brahman, persembahannya Brahman, 
oleh Brahman dipersembahkan dalam api Brahman,
dengan memusatkan meditasinya kepada Brahman,
dalam kerja ia mencapai Brahman"