Google+

Babad Ki Patih Wulung

Babad Ki Patih Wulung

bagi pecinta babad bali, pasti pernah mendengar kebesaran nama dari Ki Patih Wulung atau Patih Ulung. teapi sangat sedikit literatur yang menerangkan keberadaan beliau dan keturunannya. untuk itu, memalui artikel ini mencoba mengungkap siapa sebenarnya sosok Ki Patih Wulung tersebut. sudah tentunya, tulisannya ini masih banyak kekuarangannya, karena itu masukan dari para semeton bali pecinta babad bali sangatlah diperlukan.

Riwayat Singkat Ki Patih Wulung

Nama Sebelumnya Mpu Jiwaksara Putra dari Mpu Dwijaksara.
  • Sampai tahun 1343 : menjadi patih Amangkubumi Sri Tapohulung sehingg di sebut Ki Patih Ulung
  • 1343-1351 dianugrahi Oleh Mahapatih Gajah Mada Sebagai Raja Bali (caretaker) dengan Gelar Kiyai Gusti Agung Pasek Gelgel (I)
  • 1351-1358 kembali menjadi Patih (patihnya Sri Krena Kepakisan ) dengan pangkat Patih Amangkubumi dengan Gelar Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel (I)
  • 1358 : Karena ada intrik politik diantara para pejabat Keadipatian Bali, dimana para Arya dari Jawa menginginkan jabatan patih Amangkubumi dijabat olehnya maka Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel (d/h Ki Patih Ulung) mengundurkan diri dari patih Amangkubumi dan memilih menjadi Bendesa (pemimpin wilayah desa/prebekel) di Desa Mas dengan gelar Kyayi Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas (I)

Patih Ulung, adalah seorang Patih yang sangat berperan pada masa transisi pemerintahan di Bali yaitu pada masa pemerintahan Raja Sri Astasura Ratna Bumi banten ke Masa Majapahit. Patih Ulung sebelumnya adalah seorang Mpu bernama Mpu Jiwaksara - Putra Mpu Dwijaksara/ kelurga Mahagotra Pasek Sanak Sapta Rsi dari garis keturunan Mpu Witadharma).

Mpu Jiwaksara datang ke Bali menyertai Ayahandanya Mpu Dwijaksara yang diutus oleh Gajah Mada atas perintah Raja Kalagemet/Jayanegara (1309-1328 M) dari Majapahit, untuk mengatur parahyangan-parahyangan di Bali, terutama di Besakih, Lempuyang, Silayukti, dan Gelgel. Mpu Jiwaksara bersama Ayahandanya yaitu Mpu Dwijaksara berasrama di Gelgel. ditempat pasramannya Mpu Gana.

Pada Masa pemerintahan Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten di Bali, Mpu Jiwaksara diangkat menjadi patih dengan gelar Ki Patih Ulung (Patihnya Sri Tapohulung) berkedudukan di Gelgel. Semua senopati perang dari Sri Tapohulung takluk kepada Gajah Mada dan Arya Damar dari Majapahit. Para Senopati Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten ada yang mati di medan perang ada yang ditangkap kemudian ditawan.

Setelah Kerajaan Bali takluk kepada Majapahit maka Kepemimpinan Bali diserahkan kepada para Arya Majapahit yang ikut memenangkan perang.

Bahwa di Bali ada berapa kawasan yang sangat disucikan dan dijaga / dihindarikan dari daerah komplik. Kawasan tersebut adalah Besakih, Padang-Silayukti, Desa Bisbis-Lempuyang dan Gelgel. Kawasan tersebut adalah kawasan suci yang dibangun oleh para Mpu dijaman dahulu.

Gajah Mada seorang patih yang sangat memperhatikan keberadaan tempat-tempat suci umat Hindu. Sehingga menghindari komplik didaerah tersebut. Oleh karena itu, saat terjadinya komplik terbuka antara raja Bedahulu dengan Majapahit, maka Gelgel bebas dari daerah peperangan.

Sejarah Perjalanan Hidup Ki Patih Wulung (Ulung)

Pada tahun 1222 terjadi perseteruan antara Kertajaya atau disebut juga Dandang Gendis raja Kadiri/Daha dengan kaum Brahmana (anak cucu Mpu Gnijaya). Anak cucu Mpu Gnijaya lalu pergi meninggalkan Kediri, ada yang ke Tumapel dan ada yang ke Pasuruan.

Pada saat terjadinya komplik/perang antara Dangdang Gendis atau Kertajaya dengan Ken Arok, para Brahmana anak cucu Mpu Gnijaya menggabungkan diri dan mendukung Ken Arok-suami Ken Dedes (Generasi ke 4 Mpu Gnijaya).

Pada tahun itu juga (1222) Perang antara Tumapel - dibawah Ken Arok melawan Kediri - dibawah Dangdang Gendis meletus di desa Ganter yang dimenangkan oleh pihak Tumapel. Pada perang ini pihak Kediri ditaklukan oleh Ken Arok (Tumapel). Ken Arok kemudian memproklamasikan berdirinya kerajaan baru yang diberi nama Singhasari.

Dengan kekalahan Dangdang Gendis/ Kertajaya maka berakhirlah kekuasaan dinasti Isyana/Warma di Jawa dan diganti oleh dinasti yang didirikan oleh Ken Arok-Ken Dedes dengan nama dinasti Rajasa.

Jatuhnya Kediri oleh Singhasari juga berimplikasi secara politik sampai ke Bali, karena raja-raja Bali adalah berasal dari dinasti Warma - masih satu dinasti dengan raja-raja Kediri-keturunan Airlanga. Pada Tahun 1267 Mpu Dwijaksara (I) tiba di Gelgel dan mulai membenahi dan membangun Pura Dasar Buwana Gelgel. Tetapi akibat situasi politik yang memanas akibat pertentangan Raja Bali yang masih setia dengan dinasti Isyana/Warma dengan Raja Singhosari (dinasti Rajasa), maka pembangunan tersebut tidak bisa dilaksanakan sampai selesai.

Pada th Saka 1208/1286 M Prabhu Kerthanegara - Raja Singhasari ( dinasti Rajasa ) menyerang Pulau Bali yang dikuasai dinasti Warma. Pada perang tersebut raja Bali takluk. Sehingga kerajaan Bali berada dibawah kontrol Sighasari (dinasti Rajasa). Raja Kertanegara kemudian mengangkat penguasa di Bali dibawah kontrol kekuasaan Singhasari diantaranya :
  1. Kryan Demung Sasabungalan (Saka 1206/1284M)
  2. Kebo Parud Makakasir (Saka 1206-1246/1284-1324M),
Pada masa ini maka para Arya dari Singhasari dan Brahmana Sanak Sapta Resi, bersama Bhujangga Waisnawa ikut dikirim ke Bali sebagai penguasa dan pelaksana tugas kerajaan Singasari di Bali. Dan Kedudukan Mpu Dwijaksara (I) diperkuat sebagai Bhagawanta Raja Singhasari di Bali.

Tahun 1292 terjadi kudeta di kerajaan Singhasari yang dilakukan oleh Jayakatwang dari dinasti Warma (Kediri) dan pada tahun 1293 Jayakatwang berhasil dikalahkan oleh Raden Wijaya (dinasti Rajasa).

Untuk mewujudkan cita-citanya mendirikan Kerajaan baru yang kuat, solid dan kokoh, Raden Wijaya mengumpulkan seluruh Anak cucu keturunan Mpu Gnijaya - kerabat Ken Dedes – buyut Raden Wijaya yang tersebar di wilayah Tumapel, Pasuruan dan Majapahit dan menghimpun-nya dalam suatu organisasi bernama Sanak Pitu, sejak itulah Organisasi Sanak Pitu mulai ada. (I Gusti Bagus Sugriwa, Babad Pasek, Balimas, Denpasar, 1990).

Pada Purnama Sasih Kapat (Kartika) tahun 1293 M. Raden Wijaya memproklamsikan berdirinya kerajaan Majapahit. Dan pada saat yang bersamaan juga disahkan berdirinya Organisasi Sanak Pitu di Majapahit guna mendukung kelancaran tugas-tugas kerajaan.

Dengan jatuhnya Kertarnegara (Singasari) oleh Jayakatwang (Kediri) dan Jayakawang (Kediri) kemudian dikalahkan oleh Raden Wijaya (Majapahit) , maka kontrol atas wilayah kekuasaan kediri dan Singhasari otomatis digantikan oleh kerajaan Majapahit. Adapun yang diangkat menjadi raja di Bali saat itu adalah raja-raja dari dinasti Warma dibawah kontrol Majapahit, ini adalah suatu tradisi dikalangan Raja-raja Hindu sejak dahulu kala, dimana raja yang kalah tetap diberikan kedudukan tetapi barada dibawah kontrol kekuasaan Raja yang menang. Adapun Raja-raja Bali dari dinasti Warma yang diangkat sebagai raja Bali dibawah kontrol Majapahit adalah :
  1. Bethara Çri Maha Guru (Saka 1246/1324M)
  2. Çri Walajaya Krethaningrat (Saka 1250-1259/1328-1337M)
Pada saat Kalagemet atau nama lainnya Jayanagara naik tahta Majapahit (1309-1328 M) , beliau mendengar keadaan para Brahmana di pulau Bali yang banyak meninggalkan sasana ke-Brahmanaan- nya, sehingga ada yang menjadi Arya, ada yang hanya menjadi Dukuh atau Dukun, sehingga beliau Raja Kalagemet memerintahkan Patih Gajah Mada supaya membuat dan mengatur tatatertib di Bali, yaitu tentang kewajiban orang-orang Ksatrya dan orang Brahmana supaya datang ke Bali. (Babad pasek oleh I Gusti Bagus Sugriwa-penerbit Toko buku & alat tulis Balimas, Denpasar 1990).

Pada waktu menjelang sasih 6,7,8,9 dan 10 ( antara 1309-1328 M) Krian Patih Gajah Mada memohon Mpu Dwijaksara (II) supaya turun ke Bali untuk menyelesaikan kewajiban terhadap puja wali Bhatara di Besakih, Gelgel, Silayukti, dan Lempuyang supaya pulau Bali mendapat keselamatan.

Mpu Dwijaksara (II) berangkat ke Bali diikuti oleh anak dan cucu-cucunya. Mpu Dwijaksara diangkat menjadi Bhagawanta dalem yang memerintah di pulau Bali seluruhnya. Sedangkan anaknya yang bernama Mpu Jiwaksara diangkat menjadi Patih mendampingi raja Bali. (baca Catatan kaki 1)

Pada tahun 1328 – 1350 Ratu Tribhuwana Tunggadewi naik tahta Majapahit menggantikan Kalagemet. Dan pada tahun 1336 Patih Gajah Mada naik pangkat menjadi Mahapatih (sampai tahun 1359 M), saat pengangkatannya tersebut Mahapatih Gajah Mada bersumpah yang dikenal dengan sumpah palapa adapun bunyi sumpahnya sbb :
Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa
bila dialih-bahasakan mempunyai arti [15] :
“Beliau, Gajah Mada sebagai patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa, Gajah Mada berkata bahwa bila telah mengalahkan (menguasai) Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa, bila telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”

Pada tahun 1337 Sri Astasura Ratna Bumi Banten atau disebut juga Sri Tapohulung naik tahta sebagai Raja Bali dan Mpu Jiwaksara diangkat sebagai patih Amangkubumi-nya Sri Tapohulung sehingga disebut Ki Patih Ulung. Dengan demikian maka turunlah derajat wagsa Mpu Wijaksara dari seorang Brahmana menjadi Ksatrya/Patih.

Sri Astasura Ratna Bumi Banten/Sri Tapohulung, tidak mau mengakui kekuasaan Majapahit dan menunjukkan sikap menentang kebijakan pemerintahan Raja Majapahit yang ingin mempersatukan wilayah Nusantara menjadi satu kesatuan. Sehingga Sri Astasura Ratna Bumi Banten/Sri Tapohulung disebut juga Raja Bedahulu/Bedamuka/ menentang kebijakan pemerintah Pusat.

Untuk memperkokoh kedudukannya sebagai penguasa/Raja Bali yang berani menentang pemerintah pusat maka Sri Tapohulung mengangkat para senopati perang yang sakti mandraguna diantaranya :
  1. Senopati Ki Pasung Grigis di Tengkulak.
  2. Ki Kebo Iwa di Blahbatuh.
  3. Pangeran Tambyak di Jimbaran.
  4. Ki Kalung Singkal di Taro.
  5. Ki Tunjang Tutur di Tenganan.
  6. Ki Tunjung Biru di Tianyar.
  7. Pangeran Topang di Seraya.
  8. Ki Buahan di Batur.
  9. Dan Mpu Wijaksara sebagai Patih Amangkubumi dengan gelar Ki Patih Ulung. Sebagai orang sipil tidak ikut berperang, hanya mengurusi diplomasi politik - berkedudukan di Gelgel.

Tahun 1343 Raja Tribuwana Tungga Dewi-Ratu Majapahit memerintahkan Mahapatih Gajah Mada dan Arya Damar menyerang raja Bedahulu/Sri Astasura Ratna Bumi Banten. Penyerangan dilakukan dari 3 arah yaitu dari arah timur, dari arah utara dan selatan.

Laskar Majapahit yang menyerang Bali dari arah timur dipimpin langsung oleh Gajah Mada disertai para patih keturunan Mpu Witadharma (keluarga Sanak Pitu-pen), mereka mendarat di Toya Anyar/Tianyar. (baca Babad kaba-kaba - dinas kebudayaan Prop Bali 2002, hal. 4-5). Para Arya Keluarga Pasek Sanak Sapta Rsi yang ikut Maha Patih Gajah Mada menyerang Bali dari arah timur diantaranya:
  1. Arya Pemacekan disebut juga Arya Pacekan
  2. Arya Kepasekan
  3. Kiyai Agung Padang Subadra
  4. Kiyai Gusti Tohjiwa.

Sedangkan Mpu Wijaksara yang sudah menjadi Patih Ulung sudah lebih dahulu dikirim ke Bali, menyertai orang tuanya (Mpu Dwijaksara (II) saat Raja Majapahit masih diperintah oleh Kalagemet/ Jayanegara (1309-1328 M).
Dalam Babad Kaba-kaba terbitan Dinas kebudayaan Propinsi Bali 2002 halaman 4-5 ditulis :
"Ri tlas ta saking ghosana kala dina rahayu, umangkata sira mahawanan phalwa, angendoni Bali rajya, aparah tiga ta laku ning parayoda. Si Rakyan Maddha jumujug maring wetaning Bali, Makasahaya para patih treh sira Mpu Witadharma, turun maring Toyaanar.
Kunang kang saking lur Bali, sira Arya Dhamar, kinantyan de Arrya Sentong, mwang Arrya Kutawaringin tumdun sira ring Ularan. Mwah sira Arrya Kenceng mwang sira Arrya Blog, Pangalasan, Kanuruhan mtu kiduling Bangsul, anuju ring Kuta."
Artinya :
Setelah selesai pembicaraan, pada suatu hari yang baik, berangkatlah beliau menggunakan perahu, menyerang kerajaan Bali, dibagi tiga penyerangan para prajurit. Si Rakryan Gajah Mada menyerang dari sisi timur Bali disertai para patih keturunan Mpu Witadharma turun di Tianyar.
Adapun yang menyerang dari sisi utara, beliau Arya Dhamar disertai Arya Sentong dan Arya Kutawaringin, turun dari Ularan. Arya Kenceng serta Arya Belog, Pengalasan, Kanuruhnan menyerang dari selatan pulau bali menuju kotaraja.
Salah satu keturunan Mpu Withadharma yang sudah menjadi patih di Bali dan mengabdi pada Sri Tapohulung-Raja Bedahulu adalah Mpu Wijaksara yang kini bergelar Ki Patih Ulung. Meskipun sudah menjadi Patih, tetapi kepribadian dan sikap ke-Brahmanaan-nya tidak serta merta hilang dalam diri Ki Patih Ulung. Karena Warna seseorang ditentukan oleh Pola perilaku dan kepribadiannya, bukan oleh pangkat dan jabatannya. Sehingga Ki Patih Ulung - meskipun sudah menyandang gelar Patih - tetapi prilaku kebrahmanaannya tidak bisa dilepaskan dari dirinya yang sudah melekat dan mendarah daging.

Mpu Dwijaksara (II) dan Mpu Jiwaksara sudah lebih dulu menetap dan mengabdi di Bali ditugaskan oleh Raja Kalagemet/Jayanegara atas usul patih Gajah Mada, untuk menjadi Bhagawanta Raja di Bali, dengan tugas pokok menyelenggarakan upacara dan mengatur parahyangan-parahyanga di Bali. Sedangkan Mpu Jiwaksara mengabdi pada Raja Sri Tapohulung/ Sri Astasura Ratna Bumi Banten, sebagai Patih, sehingga disebut Ki Patih Ulung.

Jadi kedatangan pasukan Gajah Mada beserta para patih keturunan Mpu Withadharma dari arah Timur Bali (Toya Anyar/Tianyar ) ibarat reuni keluarga (meskipun dalam perang/situasi politik yang kacau balau diakibatkan oleh rebutan pengaruh/kekuasaan).

Pada Perang antara Raja Bedahulu dengan Majapahit, kemenangan diperoleh oleh pihak Majapahit, walau pun dengan berbagai trik dan tipu muslihat, sebab kalah sakti oleh orang Bali Aga dan Bali Mula. Setelah Bali takluk kepada Majapahit maka pemerintahan di Bali diserahkan kepada para Arya yang ikut memenangkan perang.

Ki Patih Wulung Bergelar Kyayi Gusti Agung Pasek Gelgel

Karena para arya tidak bisa mengendalikan jalannya roda pemerintahan di Bali, yang penduduknya mayoritas orang Bali Aga, maka Bali dalam Kondisi yang instabil . Menghadapi situasi kekacauan seperti ini, maka Ki Patih Ulung- mantan Patih pada masa pemerintahan Sri Tapohulung mengambil inisiatif untuk mengirim perutusan dari Bali menghadap Raja Majapahit. Perutusan itu langsung dipimpin oleh Ki patih Ulung yang anggotanya terdiri dari sanak saudaranya yaitu :
  1. I Gusti Agung Padang Subadra,
  2. Arya Pemacekan/Pacekan
  3. Arya Kepasekan
  4. I Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa,
Setelah pembicaraan yang dilakukan oleh perutusan dari Bali dengan Majapahit, akhirnya diputuskan untuk menyerahkan kekuasaan pulau Bali kepada sanak saudara Ki Patih Ulung sebagai Raja Sementara. sebelum Majapahit mengangkat seorang Adhipati untuk Bali. Atas penunjukannya tersebut, Ki Patih Ulung dianugrahi gelar Kyayi Gusti Agung Pasek Gelgel sebagai Raja Bali mulai th 1343 M sampai diangkat Adipati secara Difinitip untuk Bali.

Setelah perutusan yang dipimpin oleh Ki Patih Ulung yang kini berganti nama atau bergelar Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel I kembali ke Bali, maka segeralah diadakan Rapat besar antara sanak saudara Kiyai Gusti Agung Pasek Gelgel (d/h.Ki Patih Ulung) dengan tokoh – tokoh Bali Aga. Di dalam rapat tersebut para peserta rapat setuju dengan pengangkatan Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel I sebagai pemimpin/Raja Sementara di Bali dan meninggalkan Gelar/Jabatannya nya terdahulu sebagai Patih (Ki Patih Ulung), Karena kerajaan Tapohulung/ Bedahulu sudah tidak ada dan digantikan oleh Majapahit.

Adapun pengangkatan Ki Patih Ulung menjadi raja dengan abihiseka Kiyayi I Gusti Agung Pasek Gelgel terjadi pada tahun caka 1265 (tahun 1343 M) berkedudukan di Gelgel.

Dengan diangkatnya Ki Patih Ulung menjadi Raja Bali dengan Gelar/abhiseka Kyayi Gusti Agung Pasek Gelgel (I) maka keadaan Bali berangsur – angsur menjadi membaik, Kekacauan akibat perang mulai ditata perlahan-lahan, persatuan dan kesatuan tampak mulai muncul kembali sehingga pemerintahan dapat dijalankan kembali, walaupun di sana sini masih perlu dibenahi, demi kesejahteraan Rakyar Bali.

Di dalam menjalankan tugasnya selaku pemimpin di Bali. Kyayi Gusti Agung Pasek Gelgel (I) (d/h. Ki Patih Ulung) di bantu oleh sanak saudaranya, juga dibantu oleh tokoh – tokoh Bali Aga serta memperoleh simpati dari Para Arya yang berasal dari Majapahit. (baca Catatan kaki 2)

Setelah beberapa tahun Kyayi Gusti Agung Pasek Gelgel bertahta sebagai Raja di Bali. Ki Patih Ulung yang kini sudah berganti nama/Gelar menjadi kiyai Gusti Agung Pasek Gelgel (I) bersama sanak saudaranya kembali ke Majapahit untuk memperoleh informasi apakah Raja majapahit akan menetapkan seorang adhipati untuk daerah Bali, karena sejatinya Ki Patih Ulung adalah seorang Brahmana (d/h. Mpu Jiwaksara).

Mengenai hal itu Maha Patih Hamengkubhumi Kryan Gajah Mada di isyaratkan akan menetapakan seorang adhipati dalam waktu dekat.

Kemudian pada purnama sasih kapat tahun Çaka 1272 (Bulan Oktober 1350) Raja majapahit secara terpusat di Majapahit melantik 6 orang adhipati yaitu, Çri Juru untuk Belambangan, Çri Bhima Çakti untuk Pesuruan, Arya Kuda Panolin alias Kuda Pengasih untuk Madura, Arya Dhamar untuk Palembang, Çri Kepakisat (seorang perempuan) untuk Sumbawa, Çri Kresna Kepakisan untuk Bali. Çri Kresna Kepakisan adalah putra bungsu dari Çri Soma Kepakisan.

Dengan diangkatnya Çri Kresna Kepakisan maka pucuk kepemimpinan di Bali berpindah dari Kyayi Gusti Agung Pasek Gelgel (I )( d/h. Ki Patih Ulung) kepada Çri Kresna Kepakisan. Dengan demikian berakhirlah masa jabatan Kyayi Gusti Agung Pasek Gelgel (I) (d/h. Ki Patih Ulung) sebagai pemimpin di Bali selam 7 tahun.

Masa Pemerintahan Dalem Sri Kresna Kepakisan th. 1350-1373 M

Çri Kresna Kepakisan diangkat menjadi Adipati Bali (raja Bali dibawah Majapahit) berkedudukan di Samprangan, daerah Gianyar. Dipilihnya desa Samprangan atas petunjuk dari Maha Patih Hamengkubhumi Kryan Gajah Mada, karena di desa tersebut pasukan Majapahit dikonsentrasikan untuk menyerang Ibu Kota Kerajaan Bali.

Sri Kresna Kepakisan diangkat menjadi Adipati Bali, didampingi oleh para Arya dari Majapahit yang ikut memenangkan peperangan. Para Arya didudukkan sebagai penguasa Wilayah, diantaranya :
  1. Arya Wang bang
  2. Arya Kuthawaringin di Klungkung
  3. Arya Belog di Kaba-kaba
  4. Arya Kenceng
  5. Arya Dalancang
  6. AryaTemenggung
  7. Arya kanuruhan
  8. Arya Pemacekan-Anak dari Mpu Pemacekan Keluarga Pasek Sanak Pitu dari garis keturunan Mpu Ketek di Bondalem
  9. Arya Getas
Dengan diangkatnya seorang Adipati baru di Bali maka Kedudukan I Gusti Agung Pasek Gelgel (I) kembali ditetapkan menjadi Patih, sedangkan para Arya dari Majapahit disebar disetiap desa untuk mengawasi tata tertib dan keamanan desa taklukan, sedangkan Patih Amangku Bumi diberikan kepada Arya Kepakisan/ Krian Nyuh Aya.

Adhipati Çri Kresna Kepakisan lebih dikenal dengan sebutan Dalem Samprangan. Pemerintahan beliau menganut system kepemerintahan di Majapahit serta beliau kurang memahami apresiasi rakyat Bali. keberadaan tempat suci orang Bali Aga tidak dapat perhatian dan diabaikan. Sikap inilah yang sangat menyinggung perasaan orang Bali Aga, pemerintahan beliau dijauhi. Lama kelamaan rasa tersinggung ini meningkat menjadi rasa anti pati, yang puncaknya orang Bali Aga tidak mau mengakui pemerintahan Adhipati Samprangan. Mereka lalu melakukan pemeberontakan dengan mengangkat senjata.

Pemberontakan ini diawali dari Desa Tampurhyang Batur sebagai pusat pemerintahan orang-orang Bali Aga yang dipimpin oleh Kyayi Kayuselem, kemudian diikuti oleh desa Batur, Terunyan, Abang, Buahan, Kedisan, Cempaga, Pinggan, Peladu, Kintamani, Serai, Manikliyu, Bonyoh, Sukawana, Alas Gunung Sari, Taro dan Bayad. Kemudian pemeberontakan ini mendapat simpati dari desa-desa timur bali yaitu, Culik, Tista, Basangalas, Got, Margatiga, Sekulkuning, Garinten, Lokasrana, Puhan Bulkan, Sinanten, Tulamben, Batudawa, Muntig, Juntal, Carutcut, Bantas, Kuthabayem, Watuwayang, Kedampal, dan Hasti, serta desa-desa lainnya sehingga jumlahnya adalah tidak kurang dari 39 desa

Adhipati Samprangan mencoba memadamkan pemberontakan ini dengan cara mengerahkan pasukan yang berasal dari Majapahit,diantaranya dikirim seorang Kstarya Dalem Majapahit yang bernama : I Dewa Madenan dengan didampingi oleh para Arya diantaranya :
  1. Arya Dakeh
  2. Arya Dangab
  3. Arya Cempaka
  4. Arya Mangun
Namun usaha tersebut gagal, menyebabkan para Arya tersebut, termasuk I Dewa Madenan tidak berani pulang ke Majapahit. I Dewa Madenan kemudian menetap di sebelah barat laut Desa Alas Gunung Sari atas perlindungan dan jaminan Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel.sejak tahun 1352.

Tidak lama berselang Desa Alas Gunung Sari terserang wabah GERUBUNG yang menyebabkan penduduknya banyak yang meninggal. Dan Desa Alas Gunung Sari ditinggalkan oleh penduduknya mengungsi kearah barat laut dan membentuk desa baru yang kini bernama Desa Madenan, sebagai penghormatan kepada I Dewa Madenan yang bersedia menetap dan tunduk kepada orang-orang Bali Aga.

Di Desa nya yang baru I Dewa Madenan meletakkan semua gelar kebangsawanannya dan hidup sebagai petani atas perlindungan dan jamina Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel yang sangat dihormati oleh orang-orang Bali Aga maupun orang-orang Majapahit, karena sejatinya Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel I (d/h. Ki Patih Ulung) adalah seorang Brahmana ( Mpu Jiwaksara) yang bertugas melindungi dan membimbing setiap umat tanpa melihat aspirasi atau kiblat politik umatnya, yang karena situasi politik di Bali saat itu, beliau Nyineb menjadi Ksatrya (Patih, kemudian menjadi Raja dan kembali menjadi Patih Amangku bumi). Sementara bekas desa Alas Gunung sari (sekarang dinamakan Pekarangan) dikuasai oleh Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel yang kemudian diwariskan kepada Keturunannya sampai sekarang.

Dengan kekalahan Prajurit Majapahit itu menyebabkan beliau Dalem Sri Kresna Kepakisan, putus asa, sebab itu beliau berniat meletakkna jabatan dan kembali ke Majapahit.

Namun sebelum mengambil keputusan, beliau mengutus Ki Patih Ulung (Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel ) untuk melaporkan situasi ini ke Majapahit. Raja Majapahit di damping oleh Maha Patih Gajah Mada menerima utusan yang dipimpin oleh Ki Patih Ulung dengan baik, tetapi menolak niat Adhipati samprangan untuk mengundurkan diri dan tetap menduduki jabatannya. Tatkala itu Maha Patih gajah Mada mengatakan “sampai dimana kekuatan orang-orang Bali Aga yang pernah dikalahkan dulu”.

Melalui utusan yang dikirimkan oleh Adhipati Samprangan ke Majapahit, Raja Majapahit menganugrahkan Adhipati Samprangan seperangkat pakaian kebesaran, pending emas, keris Ki Ganja Dungkul dan satu keropak lontar yang memuat Sasananing Nithi Praja (Pedoman Kepemimpinan terhadap rakyat). Sedangkan Maha Patih Gajah Mada mengirimkan sepucuk surat untuk adhipati Samprangan, yang berisi petunjuk untuk mengadakan konsultasi dan kerjasama dengan Ki Patih Ulung dan sanak saudarannya dan menjadikan Ki Patih Ulung sebagai Patih Amangku Bumi, mendampingi Krian Nyuh Aya, serta mengirim Keluarga Pasek keseluruh Bali untuk menjadi pemimpin di desa-desa menjadi Bendesa dan Bekel, karena menurut Patih Gajah Mada, orang-orang Bali Aga masih menganggap Ki Patih Ulung dan sanak saudaranya adalah pemimpin mereka yang sah , disegani dan dihormati. Apabila strategi ini dijalankan, Gajah Mada yakin orang-orang Bali Aga akan mau tuntuk dengan pimpinan adhipati Sri Kesna Kepakisan.

Adhipati Samprangan sangat senang menerima anugrah yang diberikan oleh Raja Majapahit dan sepucuk surat yang diberikan oleh Maha Patih Gajah Mada. Beliau segera mengadakan rapat dihadiri para mantri dan pejabat lainnya. Dalam rapat itu hadir juga Ki Patih Ulung sebagai pimpinan Utusan Adipati Samprangan, juga hadi:
  1. Kiyayi Gusti Agung Padang Subadra,
  2. Arya Pacekan/Pemacekan dan
  3. Arya Kepasekan
  4. Kiyayi Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa,
Dalam rapat tersebut adhipati Samprangan langsung mengangkat Ki Patih Ulung sebagai Patih Amangku Bumi dengan mengembalikan Gelar Kiyai Gusti Agung Pasek Gelgel (I) yang dulu pernah disandangnya, tetapi kini kedudukannya bukan sebagai Raja, melainkan sebagai Patih Amangkubumi. Gelar Kiyai Gusti Agung Pasek Gelgel (I) sesuai dengan gelar yang diberikan oleh rakyat Bali Aga kepada Ki Patih Ulung saat Ki Patih Ulung diangkat sebagai caretaker Adipati di Bali (1343-1350) yang disetujui oleh Mahapatih Gajah Mada. Sejak saat itu Ki patih Ulung kembali menyandang Gelar Kiyai Gusti Agung Pasek Gelgel (I) dan menghapuskan embel-embel Patih Ulung-nya. (baca Catatan kaki 3)

Kemudian setelah rapat selesai maka diutuslah Kiyai Gusti Agung Pasek Gelgel I ( d/h Ki Patih Ulung) beserta Kiyayi Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa, untuk pergi ke Tampurhyang guna melakukan pembicaraan perdamaian dengan orang-orang yang masih setia terhadap raja Sri Tapohulung.

Ketika utusan tersebut sampai disana, pada saat itu sedang diadakan rapat yang dihadiri utusan dari desa Tenganan Pegringsingan, Seraya, Kuthabayem, Sidatapa, Jimbarana gunung, Padawa, Sukawana, Alas Gunung Sari, Taro, dan lainnya, tampak juga di dalam rapat tersebut tokoh-tokoh Bali Aga diantaranya:
  • Ki Taruhulu, 
  • Ki Kayuselem, 
  • Ki Wreska, 
  • Ki Tarunyan, 
  • Ki Badengan, 
  • Ki Kayutangi, 
  • Ki Celagigentong, 
  • Ki Tarum, 
  • Ki Panarajon, 
  • Ki Kayuputih, 
  • Ki Pasek Sukalwih, dan lainnya. 
Ketika sedang asyiknya mereka berdialog, datanglah Kiyai Gusti Agung Pasek Gelgel I ( d/h Ki Patih Ulung) bersama Kiyayi Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa. Mereka diterima dengan baik oleh peserta rapat terutama Kiyai Kayuselem, karena mereka sudah mengenal betul Kiyai Gusti Agung pasek Gelgel (d/h Ki Patih Ulung) karena beliau dulunya adalah seorang Patih Amangkubumi bernama Ki Patih Ulung, pada zamannya Sri Tapohulung/ Sri Astasura Ratna Bumi Banten.
Di pesamuan itu Kiyai Gusti Agung Pasek Gelgel I ( d/h Ki Patih Ulung) menjelaskan tujuannya ke pada peserta rapat, dan peserta rapat setuju dan tidak akan memperpanjang persoalan kalau itu adalah perintah dari Kiyai Gusti Agung Pasek Gelgel I (d/h Ki Patih Ulung). Karena orang-orang Bali Aga menganggap Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel adalah Raja/pemimpin mereka yang disah dan disegani.

Kiyai Kayuselem mengajukan syarat kepada Adipati Samprangan melalui Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel I (d/h Ki Patih Ulung) yaitu untuk tidak mengabaikan tempat pemujan rakyat Bali terutama Kayangan Tiga, Sad Khayangan, terutama Pura Besakih.

Setelah masalah tersebut disetujui , Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel I (d/h Ki Patih Ulung) mengutus salah seorang untuk melaporkan bahwa orang-orang bali aga telah menghentikan pemberontakan, sedangakan Kyayi Gusti Agung Pasek Gelgel (I) , Kiyayi Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa beserta rombongannya tetap tinggal di Tampurhyang Batur, peristiwa itu terjadi pada tahun Çaka 1274 (tahun 1352 M).

Di Tampurhyang Batur, Kyayi Gusti Agung Pasek Gelgel I (d/h Ki Patih Ulung) menikahi Luh Madri, putri Kyayi Kayuselem, sehingga untuk beberapa lama ( 1352-1355 M ) Kiayi Gusti Agung Pasek Gelgel I (d/h Patih Ulung) menetap di Tampurhyang. Dari pernikahan itu mereka memiliki 2 orang putra laki-laki dan keduanya bernama I Gusti Pasek Gelgel.

Pada tahun Caka 1277 (1355 M) Kyayi Gusti Agung Pasek Gelgel I (d/h Ki Patih Ulung) kembali ke Samprangan kemudian ke Gelgel, istri bersama kedua putranya ditinggal di Tampurhyang Batur. Sedangkan I Gusti Pangeran Tohjiwa kembali ke Desa Kejiwan. Ketika itu turut pula beberapa orang pimpinan orang-orang Bali Aga, diantaranya Kyayi Kayuselem, Ki Pasek Bali dan lainnya. Sesampai di Samprangan mereka diterima dengan baik oleh Adhipati Sri Kresna Kepakisan. Setelah itu mereka menyampaikan telah menghentikan pemberontakan yang dilakukan dan memohon untuk tidak mengabaikan tempat pemujaan orang-orang Bali, dan adhipati berjani tidak akan mengabaikan tempat-tempat pemujaan dan akan merubah segala kekeliruan yang telah beliau lakukan.

Atas kesuksesan Kyayi Gusti Agung Pasek Gelgel I (Ki patih Ulung) dan sanak saudaranya, itu membuktikan bahwa Kyayi Gusti Agung Pasek Gelgel masih memiliki pengaruh yang sangat kuat dan masih sangat disegani serta dihormati oleh orang-orang Bali Aga.

Nyineb Wangsa menjadi Bendesa Mas

Tidak lama Dalem Sri Kresna Kepakisan menikmati aman damainya pemerintahan dengan dibantu oleh Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel yang mengendalikan Orang-orang bali Aga dari Gelgel, kembali terjadi intrik politik dalam pemerintahan Dalem Sri Kresna Kepakisan. Intrik politik yang dilancarkan oleh para Arya Majapahit keturunan Kediri yang tidak puas akan kedudukannya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dan mengingat rakyat Bali yang baru mulai bangkit dan mulai percaya dengan kepemimpinan Dalem Sri Krsna Kepakisan, maka Kyayi Gusti Agung Pasek Gelgel (I) (d/h. Patih Ulung) mengundurkan diri dari patih Amangkubumi dan memilih menetap di desa Mas. Sedangkan kedudukannya sebagai pemimpin para Pasek di Gelgel (semacam Fraksi atau partai) diserahkan kepada anaknya yang bernama Kiayi Gusti Smaranata bergelar Kyayi Gusti Pasek Gelgel II. Dan Patih Amangkubumi Dalem Sri Krsna Kepakisan kembali di jabat oleh Arya Kepakisan keturunan Kediri.

Kembali Jiwa atau Kepribadian Kebrahmanaan Ki Patih Ulung (dh. Mpu Jiwaksara) muncul, yaitu memilih untuk mengabdi kepada Umat dari pada mengejar Jabatan duniawi. Tetapi oleh Dalem Sri Kresna Kepakisan beliau tetap ditunjuk sebagai Ksatrya/pemimpin di Desa Mas.

Oleh Sri Krsna Kepakisan niat Ki Patih Ulung yang sudah bergelar Kyayi Gusti Agung Pasek Gelgel I (dh. Mpu Wijaksara) untuk mengundurkan diri dari Gelgel dikabulkan dengan tetap menjadikannya seorang Ksatrya - menjadi Kepala Desa Otonom/Bendesa di Desa Mas.

Pada tahun 1358 M, Kyayi Gusti Agung Pasek Gelgel ( d/h. Ki Patih Ulung) pergi meninggalkan Gelgel menuju Bali tengah dan menetap di Desa Mas, diiringi oleh beberapa ratusan rakyat serta dibekali berbagai pusaka pemberian Dalem Sri Krsna Kepakisan dan disertai Wejangan/Bhisama dari Dalem Krsna Kepakisan yaitu : “Kekayaan, harta benda, pusaka-pusaka dan lain-lain yang menjadi milik Bendesa Mas tidak boleh diambil atau dijarah/dikuasi untuk kerajan”.

Di Desa Mas Ki Patih Ulung (Kiyai Gusti Agung Pasek Gelgel I ) menjadi Bendesa dengan Gelar Kyayi Gusti Pangeran Manik Mas dan memimpin Desa Mas secara turun temurun.

Di Desa Mas Ki Patih Ulung (Kyayi Gusti Agung Pasek Gelgel I) yang telah berganti nama menjadi Kyayi Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas I, mempunyai seorang putra bernama Kyayi Gusti Pangeran Manik Mas II (mengambil nama jabatan orang tuanya) dan melanjutkan memerintah di desa Mas. Kyayi Gusti Pageran Manik Mas II mempunyai putra-putri sbb :
  1. Kiyai Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas (III),
  2. Gusti Luh Made Manik Mas yang kemudian menikah dengan sepupunya yang bernama Rare Agon (anak Kiayi Smaranata/Ki Gusti Agung Pasek Gelgel II)
  3. Gusti Luh Nyoman Manik Mas Genitri, yang kemudian diperistri oleh Danghyang Nirartha.
Nama Bendesa Mas tetap tercantum sebagai pengenal garis keturunan. Dari sinilah menurun para Bendesa Mas yang tersebar di seluruh Bali antara lain di Gading Wani.

Pada Waktu masih menetap di Gelgel Ki Patih Ulung ( Kyayi Gusti Agung Pasek Gelgel I ) menikahi Gusti Luh Tohjiwa anak dari Pangeran Tohjiwa. Dari pernikahannya dengan Gusti Luh Tohjiwa, kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel I (d/h Ki Patih Ulung) mempunyai seorang putra diberi nama Kyayi Gusti Smaranatha. Kiyayi Gusti Smaranata menikah dengan Ni Gusti Rudani (anak Mpu Wiradangka) mempunyai anak bernama Ki Gusti Rare Angon. Gusti Rare Angon menikahi sepunya yang tinggal di Desa Mas yang bernama Gusti Luh Made Manik Mas (anak dari Kiyayi Gusti Pangeran Manik Mas II) dan mempunyai putra diberi nama I Gusti Agung Pasek Gelgel III (memakai gelar/nama yang pernah disandang oleh kakeknya dahulu sewaktu menjadi caretaker raja Bali sebelum Sri Kresna Kepakisan ditetapkan menjadi Raja/Adipati difinitip)

Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel III – anaknya rare Angon di Gelgel mempunyai putra:
  • Dari istrinya yang bernama Ni Luh Tangkas Kori Agung menurunkan putra yaitu Pasek Pangeran Tangkas Kori Agung, Bandesa Tangkas Kori Agung, Pasek Bandesa Tangkas Kori Agung dan Pasek Tangkas Kori Agung.
  • Dari Istri beliau yang berasal dari Desa Gelgel, berputra 6 orang laki-laki dengan nama yang sama masing-masing adalah : I Gusti Pasek Gelgel Aan, I Gusti Pasek Gelgel Akah, I Gusti Pasek Gelgel Mandwang, I Gusti Pasek Gelgel Sangkanbhuwana, I Gusti Pasek Gelgel Bhudaga dan I Gusti Pasek Gelgel Pegatepan.

Pasek Gelgel Aan kemudian anaknya ada yang ke Payangan terus keturunannya sekitar abad ke 16 M ada yang ke Madenan dan Bondalem, menurunkan Pasek Gelgel di banjar Pengaji Madenan dan Bondalem.

Keturunan Pasek Gelgel Aan yang ada di Banjar Pengaji Desa Madenan kemudian menguasai tanah bekas kekuasaan Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel di Pekarangan-Desa Madenan, bahkan meluas ke utara sampai Gege (hutan) Pengantungan tali (Tempat persembunyian terakhir Istri Gusti Kaler Pemacekan - Gusti Ayu Surung) dan keselatan sampai perbatasan banjar Sangambu, ke timur sampai perbatasan Desa Kutuh dan ke barat sampai Tukad Yeh Song. Jadi hampr 1/3 wilayah Desa Adat Madenan.

Hingga sekarang hampir 90 % wilayah tersebut masih dikuasai oleh anak cucu dan cicit Kiyayi Gusti Agung Pasek gelgel I (Bendesa Mas dan Pasek Gelgel), dan sebagian lagi oleh keluarga Pulasari (dalem Taruk) dan Kiyayi Kayu Selem. (baca Catatan kaki4)

catatan kaki dari Babad Ki Patih Wulung

Catatan kaki 1:
Mpu Dwijaksara adalah seorang Brahmana yang sangat dihormati oleh rakyat dan raja Bali maupun rakyat dan raja Majapahit. Pengiriman Mpu Dwijaksara beserta anaknya Mpu Jiwaksara ke Bali, mempunyai motif politik yaitu supaya rakyat Bali senang kepada pemerintahan Majapahit. Apalagi sebelumnya Kerajaan Bali berada dalam Kontrol Kertanegara, dan kini kedudukan Kertanegara sudah digantikan oleh Majapahit. Sehingga menjadi wajar kalau wilayah kekuasaan Raja Kertanegara secara otomatis menjadi kekuasaan Majapahit. Untuk memperluas pengaruh dan membuat rakyat Bali menjadi senang dengan Majapahit maka dikirimkanlah Mpu Dwijaksara sebagai penasehat/Bhagawanta Raja Bali dengan tugas pokok mengatur parahyangan-parahyangan serta menyelenggarakan upacara-upacara pada parahyangan-parahyangan yang telah dibangun oleh para Mpu sebelumnya. Dan Anaknya yang bernama Mpu Jiwaksara didudukkan sebagai Patih pada raja Bali dan kemudian bergelar Ki Patih Ulung atau Patih Amangkubuminya Sri Tapohulung. 

Naiknya Sri Astasura Ratna Bumi Banten menjadi raja Bali, membawa perubahan dalam pandanganya terhadap politik yang dijalankan oleh Kerajaan Majapahit. Sikap Politik Raja Bali ini dianggap bertentangan dengan sikap Politik pemerintah pusat (Majapahit) sehingga beliau dijuluki Sri Bedahulu. 

Akibat pembangkangan yang ditunjukkan oleh Sri Bedahulu terhadap Majapahit, maka Sri Bedahulu diserang oleh bala tentara Majapahit tahun 1343. 

Ada suatu tradisi dijam kerajaan-kerajaan untuk menyebut Patih Amangkubumi sang raja sesuai dengan nama Rajanya. Seperti Contoh : Dalem Kresna Kepakisan maka patihnya disebut Arya Kresna Kepakisan. Dalem Di Made maka patih amangkubuminya disebut I Gusti Agung di Made. Dan sebagainya. Jadi pemberian gelar Ki Patih Ulung kepada Mpu Jiwaksara menunjukkan bahwa beliau adalah Patih Amengkubuminya Sri Tapohulung.

Catatan kaki 2:
Ki Patih Ulung Sebagai Raja Bali dengan gelar Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel yang ke I karena digenerasi berikutnya ada juga yang memakai gelar tsb. tetapi bukan lagi sebagai Raja.
Patih Ulung mempunyai keuntungan Gineologis terhadap situasi politik di Bali saat itu karena :
  1. Rakyat Bali Aga mengetahui bahwa Patih Ulung adalah mantan Patihnya raja Ratna Bumi Banten sekaligus juga keturunan seorang Brahmana (Mpu Dwijaksara) yang sudah lama menetap di Bali (Gelgel).
  2. Kerabat Pasek sudah ada di hampir setiap desa di Bali,
  3. Pihak Majapahit menganggap Patih Ulung masih punya hubungan leluhur dengan Raja Majapahit dari garis Ibu (Ken Dedes) karena patih Ulung adalah keluarga Pasek Sanak Sapta Resi .
  4. Selain itu, loyalitas keluarga Pasek Sanak Sapta Resi kepada Majapahit sudah dibuktikan diantaranya : (a) Pada Saat Raden Wijaya bermaksud memproklamasikan Kerajaan-nya yang baru yang diberi nama Majapahit, Raden Wijaya mengundang seluruh keturunan Mpu Gnijaya yang ada di Bumi Majapahit untuk memperkokoh/mendukung rencananya mendirikan Kerajaan baru yang bernama Majapahit itu. (b) Raden Wijaya mengorganisasikan seluruh keturunan ke 7 (tujuh) Mpu anak cucu Mpu Gnijaya yang dahulu diusir oleh Dandang Gendis dari Kediri dalam suatu wadah/organisasi dan diberi nama SANAK PITU. Peristiwa ini terjadi bertepatan dengan pendeklarasian Kerajaan Majapahit oleh Raden Wijaya pada Purnama Kapat th 1215 C atau 1293 M. (Baca Babad Pasek oleh I Gst. Bgs.Sugriwa, Balimas Denpasar, 1990) (c) Keluarga Sanak Pitu banyak menduduki posisi penting di Majapahit. Diantaranya adalah Arya Pemacekan, Arya kepasekan dan Ki Gusti Agung Padang Subadra yang merupakan keturunan Sanak Pitu dari garis Mpu Ketek
  5. Ki Patih Ulung adalah anak dari Mpu Dwijaksara, Dimana Mpu Dwijaksara bertugas di Bali atas perintah Raja Kalagemet - Raja Majapahit, untuk mengatur parahyangan di Bali sekaligus sebagai Bhagawanta raja Majapahit di Bali.
  6. Keluarga Mpu Withadharma - Kerabat Patih Ulung lainya, ikut berperang mendampingi Gajah Mada dari arah Toya Anyar. Sedangkan Arya Pemacekan( Keluarga Sanak Pitu dari garis keturunan Mpu ketek, ikut menyerang Bali dari arah Bondalem (Bali utara).
Jadi hubungan gineologis itu menguntungkan Patih Ulung sehingga patih Ulung diangkat menjadi penguasa sementara di Bali untuk menenangkan rakyat Bali Aga yang baru kalah dari peperangan yang diakibatkan oleh pembelotan Rajanya Sri Tapohulung terhadap pemerintah Pusat di Majapahit.

Sudah menjadi tradisi didalam pemerintahan Raja-Raja Hindu, bahwa raja atau Wilayah taklukan tetap diberi kuasa/otonomi untuk memimpin wilayahnya, tetapi atas kontrol pemenang perang dalam hal ini Raja Bali berada dibawah kontrol pemerintah pusat Majapahit. Dan mantan pejabat Raja Bali yang paling senior saat itu adalah Ki Patih Ulung, sehingga tampuk pimpinan sementara diserahkan kepada Ki Patih Ulung dengan Gelar abiseka yang baru yaitu : Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel - berkedudukan di Gelgel. 

Catatan kaki 3:

Dalam Babad Pasek yang diterjemahkan oleh I Gusti Bagus Sugriwa disebutkan :
“Setelah siap semuanya maka sekawanan utusan itu pulang ke Bali dengan diberi juga hadiah oleh Krian Patih (Gajah Mada)……besoknya pagi-pagi Dalem (sri Krsna Kepakisan) sedang dihadap oleh para menterinya sekalian, datanglah menghadap para utusan itu yaitu Ki Patih Ulung, Kiyayi Pemacekan, Krian Kepasekan dan Krian Padang Subadra.

Dalem turun dari singasananya berdiri dihalaman menjemput utusan yang baru datang dari Majapahit, para menteripun turun dari tempat duduknya menurutkan raja. Oleh para utusan itu dipersembahkan sekali nasehatnya Krian Patih Gajah Mada. “Jika demkian baiklah, senang juga hatiku” kata dalem seraya melihat Krian Nyuh Aya. Para menteri sekalian senang mendengar sabda dalem demikian”

Ternyata isi surat yang dikirimkan Gajah Mada kepada Dalem Sri Kesna Kepakisan berisi perintah untuk selalu melibatkan Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel (d/h Patih Ulung) dalam pemerintahan, bahkan diperintahkan oleh Gajah Mada supaya mendudukkan Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel (d/h Ki Patih Ulung) sebagai Patih Amangkubumi, guna meredam pemberontakan orang-orang Bali Aga di pegunungan. Perintah ini tentu akan membuat perubahan dalam hati Krian Nyuh Aya yang saat itu menjabat sebagai patih Amangkubumi, sehingga Sri Kresna Kepakisan menyempatkan melihat ekpresi roman muka Krian Nyuh Aya."

Catatan kaki 4:
Pada babad Pulasari tulisan Bhagawan Dwija dijelaskan sbb: 
Gusti Gede Balangan menetap di Desa Pantunan atas jaminan keselamatan dari Gusti Agung Pasek Gelgel.
Setibanya Gusti Gede Sekar dan Gusti Gede Pulasari di Puri Gelgel, langsung menghadap Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan. Betapa gembiranya Dalem Ketut menerima kemenakan-kemenakan beliau, namun terasa agak kecewa karena tidak semua kemenakannya mau hadir. Tetapi akhirnya beliau maklum setelah mendapat penjelasan dari Gusti Agung Pasek Gelgel bahwa keputusan untuk menuju tempat masing-masing sudah dipertimbangkan dengan baik.
Gusti balangan adalah cucu dari Sri Kresna Kepakisan (generasi ke 3 Sri Krsna Kepakisan). Jadi : Ki Gusti Agung Pasek Gelgel dalam babad Pulasari ini sejaman dengan Dalem Taruk (ayah Gusti Balangan) jadi kemungkinan Ki Gusti Agung Pasek Gelgel ini adalah genreasi ke 2 Patih Ulung yang bernama Kiyayi Smaranata yg mengantikan jabatan Ki Patih Ulung sebagai Patih di Kerajaan Gelgel. Kiayi Smaranata (Ki Gusti Agung Pasek Gelgel II) mempunyai putra bernama Ki Gusti Rare Angon. Ki Gusti Rare Agon mempunyai anak bernama Ki Gusti Agung Pasek Gelgel. Nama Ki Gusti Agung Pasek Gelgel muncul lagi pada generasi ke 4 Patih ulung. Jadi Untuk Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel-anak dari pada Rare Angon (kumpi dari Ki Patih Ulung) kita sebut saja dengan Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel III

Nama Ki Gusti Agung Pasek Gelgel selalu muncul dalam babad-babad sejak dari zamanya Sri Kresna Kepakisan sampai jamannya waturenggong. ini berarti Ki Gusti Agung Pasek Gelgel adalah Nama Gelar/Jabatan yang disandang oleh keluarga Pasek di Gelgel yang menjabat di Ke Adipatian Bali, bukan nama untuk 1 orang.

Nama I Gusti Agung pada Keluarga Pasek berakhir pada Masa dalem Waturenggong merestrukturisasi Masyarakat Bali, Keluarga Ki Gusti Agung Pasek Gelgel III (anaknya rare Angon) pergi meninggalkan Gelgel menyebar keseluruh Bali akibat kekacauan Politik di Gelgel.dan setelah Restrukturisasi Masyarakat Bali kedalam 4 kasta oleh D. Nirarta, Keluarga Pasek tidak lagi memakai nama Ki Gusti Agung.
Artikel yang terkait dengan Babad Ki Patih Wulung:
Demikianlah sekilas Babad Ki Patih Wulung, semoga bermanfaat.

1 komentar: