Google+
Tampilkan postingan dengan label Babad Pasek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Babad Pasek. Tampilkan semua postingan

Babad Ki Patih Wulung

Babad Ki Patih Wulung

bagi pecinta babad bali, pasti pernah mendengar kebesaran nama dari Ki Patih Wulung atau Patih Ulung. teapi sangat sedikit literatur yang menerangkan keberadaan beliau dan keturunannya. untuk itu, memalui artikel ini mencoba mengungkap siapa sebenarnya sosok Ki Patih Wulung tersebut. sudah tentunya, tulisannya ini masih banyak kekuarangannya, karena itu masukan dari para semeton bali pecinta babad bali sangatlah diperlukan.

Riwayat Singkat Ki Patih Wulung

Nama Sebelumnya Mpu Jiwaksara Putra dari Mpu Dwijaksara.
  • Sampai tahun 1343 : menjadi patih Amangkubumi Sri Tapohulung sehingg di sebut Ki Patih Ulung
  • 1343-1351 dianugrahi Oleh Mahapatih Gajah Mada Sebagai Raja Bali (caretaker) dengan Gelar Kiyai Gusti Agung Pasek Gelgel (I)
  • 1351-1358 kembali menjadi Patih (patihnya Sri Krena Kepakisan ) dengan pangkat Patih Amangkubumi dengan Gelar Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel (I)
  • 1358 : Karena ada intrik politik diantara para pejabat Keadipatian Bali, dimana para Arya dari Jawa menginginkan jabatan patih Amangkubumi dijabat olehnya maka Kiyayi Gusti Agung Pasek Gelgel (d/h Ki Patih Ulung) mengundurkan diri dari patih Amangkubumi dan memilih menjadi Bendesa (pemimpin wilayah desa/prebekel) di Desa Mas dengan gelar Kyayi Gusti Pangeran Bendesa Manik Mas (I)

silsilah Keturunan Dukuh Suladri

silsilah Keturunan Dukuh Suladri

berikut ini silsilah Keturunan Dukuh Suladri berdasarkan Buku Babad Pasek yang disusun oleh Jro Mangku Ketut Soebandi yang diterbitkan di Denpasar tanggal 5 Februari 1985.

Babad Dukuh Suladri diawali dengan menikahnya Mpu Ketek dengan putri Ki Arya Padang Subadra. dari pernikahan tersebut Ida Mpu Ketek menurunkan dua putra, yaitu:
  1. Sang Pemacekan
  2. Arya Kepasekan
Arya Kepasekan menurunkan Putra dan Putri, diantaranya:
  1. Kyai Agung Pamacekan
  2. Ni Luh Pemacekan
  3. Gusti Pasek Padang Subadra
Kiyai Agung Pemacekan menurunkan dua putra, yaitu:
  1. Ki Pasek Gelgel
  2. Ki Pasek Denpasar
Sang Pemacekan, kawin dengan dewi Dwararika, menurunkan dua orang putra putri, diantaranya:

  1. Mpu Pemacekan
  2. Ni Dewi Girinatha

Mencari Kawitan orang Bali

Mencari Kawitan orang Bali

Banyak orang bingung mencari Kawitan karena pada zaman Bali Kuna belum ada pemujaan Tuhan melalui Bhatara Hyang Kawitan. Setelah kalahnya Bali pemerintahan dipegang oleh Dalem Baturenggong dengan dibantu Danghyang Nirarta yg diberi gelar Pedanda sakti Wawu Rauh baru ada pemujaan Kawitan. Jadi orang2 Bali Mula yg sudah ada di Bali sebelum masuknya Dh Nirarta menjadi bingung untuk menelusuri jejak2 leluhur mereka yg sudah ada sebelum masuknya Danghyang Nirarta.

Sehingga banyak masyarakat Bali Mula masuk kedalam klompok Pasek, contoh: Kubayan, Dukuh, Karang Buncing, Tangkas, Bandesa, masuk ke soroh Pasek, padahal Kubayan itu adalah jabatan rohaniawan desa Bali Kuna sebelum masuknya Hindu ke Bali. Dukuh adalah turunan raja-raja Bali Kuno yg diberi gelar kependetaan oleh Danghyang Nirartta yg diberi julukan Pedanda Sakti Wawurawuh. Banyak sekali kontroversi mengenai sejarah Bali ini yang perlu diluruskan. Catur Lawa (Dukuh, Pasek, Pande, Penyarikan) itu bukan soroh atau kelompok warga.

antara Mpu Gni Jaya dengan Sri Gni Jaya

antara Mpu Gni Jaya dengan Sri Gni Jaya


Kadang-kadang seseorang kesulitan untuk mengetahui tahun berapa prasasti tersebut ditulis dan di zaman pemerintahan siapa prasasti tersebut dikeluarkan, maka seseorang kemudian cuma menebak-nebak dengan memainkan perasaan dan akal sehat, memainkan huruf perhuruf dalam kata, memainkan kata perkata dalam kalimat, sehingga hasil perenungan seseorang memunculkan banyak dugaan, banyak nama samar, banyak nama tempat sama, banyak nama pura sama, semua mengaku paling jitu dan sah. Tapi, karena pendapat itu tidak didukung oleh data sejarah, orang cendrung meragukan dan mengabaikannya, karena tiada data sejarah itulah muncul kemudian nama-nama samar yang belum tentu orangnya sama, riwayat berdasarkan Babad, jejak yang sesungguhnya dikait-kaitkan satu dengan yang lain, dirunut berdasarkan potongan-potongan ingatan, disampaikan dari mulut ke mulut, bisa saja muncul pendapat lain, sehingga terjadi silang sengketa beberapa versi, beda judul isi sama, atau tergantung dari aspek batiniah si penulis.

Disamping melalui konsepsi Tri Hita Karana atau konsep tata letak tempat dalam suatu wilayah atau desa, yang telah diwariskan oleh para leluhur terdahulu, yaitu tentang parahyangan, pawongan, palemahan. Dimana pangemong dan pangempon (penanggung dan pemelihara) pasti hidup di lingkungan terdekat dari pura tersebut. Bagaimana mungkin menghaturkan yadnya sehari-hari dengan lancar dan khusuk, sedangkan pengamong bertempat tinggal jauh dari letak wilayah administratif desa. Analogi ini kita ambil contoh; sanggar kamulan (tempat suci rumah tangga) dimana pemuja dan pemelihara pasti hidup berdampingan atau menyatu di dalam rumah tangga, tidak mungkin sanggar kemulan itu dipuja oleh tetangga sebelah kecuali hidup dalam satu batih keluarga di satu pekarangan rumah, dan Pura Desa Kuta misalnya, tidak mungkin di-mong dan di-mpon oleh masyarakat Desa Jimbaran dan selanjutnya.

Babad Pasek 3

Mulai dari jaman Bahari di mana di Bali masih keadaan guncang maka Bhatara Pasupati memerintahkan putranya 3 orang untuk mengukuhkan Bali. Ketiga putra ini yang nantinya menurunkan para Brahmana dan para Mpu di Jawa dan Bali.

Diceriterakan di Majapahit diperintah oleh Sri Aji Majalangu dengan Maha patih Yang terkenal Kryan Gajah Mada. Pada suatu ketika Sang Prabu Majapahit didatangi oleh para Mpu untuk memohon Raja di Bali. Hal ini diterima dan dipikirkan agar kelak Bali menjadi kerajaan yang kuat dan berwibawa. Setelah itu Kryan Gajah Mada mengusulkan kepada Sri Aji Majalangu untuk diangkatnya putra-putra dari Mpu Kepakisan karena dipandang cocok dan penuh bijaksana. Hal ini diterima, lalu diangkatnya yang tertua di Blangbangan, yang kedua di Pasuruhan dan yang wanita di Sumbawa serta yang bungsu di Gelgel. Putra yang bungsu bernama Sri Aji Kresna Kepakisan pergi ke Gelgel/ Samprangan dengan diiringkan oleh para Arya yang nantinya menurunkan para Ksatria di Bali seperti:
  • Arya Kanuruhan,
  • Arya Wang Bang,
  • Arya Kenceng,
  • Arya Dalancang,
  • Arya Tan Wikan,
  • Arya Kuta Waringin

Babad Pasek 2

Diceriterakan Bhatara Mahadewa beryoga dan tampak lah dua orang anak laki dan perempuan yang bernama
  • Bhatara Ghana dan
  • Hyang Manik Geni.
Bhatara Pasupati menurunkan putra dari Gunung Watukaru yang bernama
  • Bhatara Manik Kumayang.
Sanghyang Manik Galang bertempat di Pejeng, Sanghyang Tugu bertempat di Gunung Andakasa.
Beliau-beliau ini yang mengikuti putra dari Bhatara Gnijaya di gunung Lempuyang, yang bernama Bhatara Putranjaya, di Besakih. 

Kemudian tersebut di Bali diperintah oleh Sri Maharaja Masula-Masuli yang menurunkan
  • Sri Aji Jayapangus.
Sri Aji Jayapangus ini melahirkan:
  • Sri Ceddhangrok dengan gelar Sri Gajah Wahana.
Sri Gajah Wahana berputra Sri Mayadanawa yang bersifat loba, angkara-murka karena kesaktiannya. Dengan keangkuhan dari Sri Mayadanawa para dewa menjadi gelisah dan berunding untuk mendaya-upayakan Sri Aji Mayadanawa. 

Babad Pasek 1

Pada Sukra, Kliwon Tolu Sasih ke-5 Isaka 70 di bumi terjadi hujan yang amat deras, angin besar, lalu menurunkan putra dari Gunung Tolangkir, dan juga pada Sasih ke-6 Isaka 113 meletus lah Gunung Tolangkir dan lahirlah Bhatara Putrajaya, Bhatari Dhanuh, Bhatara Gnijaya. Adik dari Dewi Danuh bernama Bhatara Mahadewa. Dewi Danuh berparhyangan di Batur, Bhatara Gnijaya berparhyangan di Gunung Lempuyang.

Kemudian pada Anggara Kliwon Julungwangi sasih ke-2, Isaka 118, Bhatara Mahadewa bersama saudaranya beryoga menciptakan Brahmana pandita yang bernama Mpu Mahameru, Mpu Ghana dan Mpu Kuturan. Dan Mpu Pradah datang ke Gunung Semeru serta memuja Bhatara Pasupati. Juga Bhatara Mahadewa berputra Bhatara Ghana dan Bhatari Manik Geni diperistri oleh Mpu Gnijaya. Kemudian para putra Bhatara Pasupati datang ke Bali.

Diceriterakan Sri Aji Herlangga di Daha, didatangi oleh Bhatara Gnijaya serta diikuti oleh Mpu Mahameru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan, Mpu Pradah, untuk menyampaikan keadaan di Bali.
Ketika Mpu Pradah turun ke Bali menuju Silayukti dilihat oleh Mpu Kuturan lalu disambutnya. Pada Radite Paing Dungulan Mpu Bradah pindah ke Gelgel.