Google+

Kanda Pat Rare dan Pembentukan Bayi Manusia

Kanda Pat Rare dan Pembentukan Bayi - Manusia

Ajaran Kanda Pat Rare berawal dari terbentuknya bayi dalam kandungan, seperti yang telah diceritakan dalam artikel "Kupasan Lontar Kanda Pat" lahirnya seorang anak berawal hubungan asmara orang tuanya. setelah itu pertemuan kama bang dan kama petak maka terbentuklah rare. berikut ini urutan perkembangannya.

Bayi dalam kandungan


Bayi dalam kandungan bisa terwujud karena pertemuan antara kama petak dan kama bang, atau pertemuan antara cukla yang keluar dari purusa (laki-laki) dan swanita yang keluar dari pradana (wanita).
  • Kama petak adalah air mani laki-laki yang juga disebut cukla, yang dengan Sang Hyang Semara
  • Kama bang adalah air mani perempuan yang disebut swanita , disimbolkan dengan Dewi Ratih
Kama petak dan kama bang juga disebut cukla swanita, yang disimbolkan dengan Sang Hyang Semara Ratih.Tumbuhnya bayi di dalam kandungan menurut agama Hindu adalah berkat bertemunya sang cukla swanita. Pertemuan itu baru dapat dibenarkan secara agama, apabila dilakukan oleh suami-istri yang sah.

Seperti diketahui, bahwa unsur kelaki-lakian dan unsur kewanitaan, didalam lontar-lontar di Bali maupun dalam buku medis yang lain, mempunyai beberapa macam sebutan.
  • Unsur laki-laki itu disebut kama petak, sukla, kamajaya, Sang Hyang Semara, sperma, sel mani, airmani. 
  • Unsur kewanitaan itu disebut kama bang, swanita, kama ratih, Dewi ratih,ovum, sel telur dan air mani. 
Pertemuan sang cukla-swanita dari pria-wanita yang belum menikah sah, sebelum melakukan upacara perkawinan di anggap “kotor”. Pertemuan semacam itu disebut capa. Jika pertemuan capa ini menurunkan anak, maka anak yang lahir disebut astra. Anak astra tidak dapat disebut sebagai keturunan yang utama, karena kelahirannya itu semata-mata berdasarkan atas kepuasan nafsu birahi belaka (hanak-hanaking asmara dudu).

Pertemuan antara cukla dan swanita atau sperma dan ovum dari suami-istri, yang diwujudkan dengan melakukan hubungan senggama atau persetubuhan, mengakibatkan terjadi pembuahan atau kehamilan. Pertemuan antara sel mani tau sel telur (cukla-swanita) inilah yang kemudian menghasilkan manik, cikal bakal si jabang bayi. Sedangkan menurut lontar anggastyaprana, pertemuan kama itu disebut Sang Ajursulang. Pertemuan itu setelah luluh menjadi satu, disebut Sang Bubur Rumaket. Pada saat itulah datang Sang Hyang Nilakanta memberikan berkah, sehingga kentalah kama itu bagaikan telur. Telur tersebut dinamakan Sang Hyang Antigajati. Telur yang telah dihasilkan di dalam tube ampulla yang oleh getaran halus selaput lendir, pada dinding tube, menyebabkan telur itu masuk lebih jauh ke dalam tube, dan akhirnya sampai ke dalam rahim. Setelah sampai pada rahim, telur itu lalu melekat atau membenamkan dirinya, seolah-olah berakar pada lapisan lendir endometrium. Peritstiwa ini dinamakan implantasi atau “nidasi”.

Jadi setelah pertemuan sperma dan ovum (cukla-swanita) sehingga terjadi pembuahan, yang disebut sygote atau telur yang dihamilkan, atau Sang Hyang Antigajati, inilah yang dimaksud dengan manik. Manik ini masuk ke dalam garbha-pradana (perut sang ibu), dan akhirnya nidasi (mengendap) di dalam kunda cacupu manik itu mengalami proses pertumbuhan, semakin hari semakin besar, dan mengubah dirinya sehingga nantinya berbentuk seorang bayi (rare).

Masih menurut lontar Aggastya prana, pertumbuhan embrio atau Sang Antigajati hingga nantinya mencapai kesatuan tubuh yang lengkap, adalah berkat para Dewa yang asih dan memberikan berkah, agar embrio atau Sang Antigajati, maka datanglah para Dewa, antara lain : Sang Hyang Murcohaya, Sang Hyang Taya, Sang Hyang Ngalengis, Sang Hyang Rajatangi, Sang Hyang Murtining Luwih. Selain itu, datangjuga para Dewa Nawasanga, Sapta Rsi, Panca Rai, dan Sang Hyang Tiga Wisesa, lalu mewujudkan Sang Antigajti dari manik menjadi janin (bayi).

Pada saat embrio atau Sang Antigajati diwujudkan sebagai bayi (janin) dinamakan Sang Pratimajati. Jadi, yang dinamakan Sang Pratimajati tiada lain adalah janin itu sendiri, yaitu embrio atau Sang Antigajati setelah berumur 2 bulan kandungan.

Selanjutnya para Dewa pun bergotong royong merampungkan proyek tersebut, merampungkan si jabang byi dari manik hingga menjadi bayi, antara lain :
  • Sang Hyang Akasa memberikan kepala, 
  • Sang Hyang Ajining Akasa memberikan rambut, 
  • Sang Hyang Surya-Candra memberikan mata kiri dan mata kanan, 
  • Sang Hyang Baruna dan Sang Hyang Margalaya memberikan hidung, 
  • Sang Hyang Margacraya memberikan kedua lubang telinga, 
  • Sang Hyang Yama memberikan mulut, 
  • Sang Hyang Margayama memberikan lubang mulut, 
  • Sang Hyang Parigimanik memberikan gigi, 
  • Sang Hyang Rijasi memberikan gusi, 
  • Sang Hyang Maneptan memberikan bibir, 
  • Sang Hyang Madulatha memberikan pantat, 
  • Sang Hyang Cittawawaca memberikan perasaan, 
  • Sang Hyang Lape memberikan pipi, 
  • Sang Hyang Ngelaning memberikan dagu, 
  • Sang Hyang Atunggal memberikan leher, 
  • Sang Hyang Watu Gumulung memberikan “batun salakan”, 
  • Sang Hyang Taya memberikan tangan dan kaki, 
  • Sang Hyang Rontek memberikan jeriji, 
  • Sang Hyang Pancanaka memberikan kuku, 
  • Sang Hyang Munyang memberikan usehan (pusaran pada kepala) dan pungsed (pusar pada perut), 
  • Sang Hyang Angantala memberikan hulu hati.

Begitu pula Panca Rsi, turut ambil bagian dalam membentuk si jabang bayi seperti :
  • Sang Korsika memberikan kulit, 
  • Sang Garga memberikan daging, 
  • Sang Metri memberikan otot, 
  • Sang Purusa memberikan sum-sum. 
Dan ternyata Dewa Nawasangha pun tak mau ketinggalan, beramai-ramai menyempurnakan wujud si jabang bayi, seperti :
  • Sang Hyang Iswara memberikan papusuh (jantung), 
  • Sang Hyang Maheswara memberikan paru-paru, 
  • Sang Hyang Brahma memberikan hati, 
  • Sang Hyang Ludra memberikan usus, 
  • Sang Hyang Mahadewa memberikan ungsilan (ginjal), 
  • Sang Hyang Sangkara memberikan limpa, 
  • Sang Hyang Wisnu memberikan ampru (empedu), 
  • Sang Hyang Sambu memberikan ineban (ubun-ubun), 
  • Sang Hyang Siwa memberikan tumpuking hati. 
Yang bernama tumpuking hati adalah bhayu, yang bernma bhayu adalah atma, dan atma itulah berwujud “Sang Hyang Urip”, yaitu Dewa yang memberikan kehidupan pada semua mahluk di dunia ini.
Mengenai proses terjadinya janin (bayi) sebagaimana di paparkan tadi, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa, kejadian jasmaniah janin (bayi) itu berasal dari unsur-unsur Panca Mahabutha, dan inti sari dari Panca Mahabutha disebut Panca Tanmatra. Adapun perwujudan janin (bayi) yang tersisa dari unsur-unsur Panca Tanmatra dan Panca Mahabhuta adalah sebagai berikut.

Panca Mahabutha yang membentuk bayi :
  1. Pertiwi, menjadi serba padat, misalnya : kulit, daging, otot-otot, lemak dan sebagainya.
  2. Apah, menjadi serba cair, misalnya : darah, keringat, air kencing dan sebagainya. 
  3. Teja, menjadi serba bercahaya, misalnya : mata, panas badan dan sebagainya. 
  4. Bayu, menjadi serba bergerak, misalnya : bernafas, berjalan, makan dan sebagainya. 
  5. Akasa, menjadi serba berlubang, misalnya : lubang hidung, lubang telinga, lobang pantat dan sebagainya.

Panca tanmatra yang membentuk bay:
  1. Sabda Tanmatra menjadi telinga
  2. Sparsa Tanmatra menjadi kulit
  3. Rupa Tanmatra menjadi mata
  4. Rasa Tanmatra menjadi lidah
  5. Ganda Tanmatra menjadi hidung

Mengenai umur berapa sebenarnya manik dalam kandungan berubah enjadi bayi, menurut beberapa catatan, baik berupa lontar maupun buku, menerangkan secara berbeda-beda, diantaranya:
  • Cecangkriman Kanda Pat, menyebutkan bahwa setelah kandungan itu berumur 2 bulan (karongulan suba meraka manusa). 
  • Lontar Kanda Pat Rare, menyebutkan setelah berumur 5 bulan. 
  • Begitu pula keterangan dalam buku Manusa Yadnya, menyebutkan kira-kira 3 bulan (sawatara tigang sasih). Sedangkan menurut buku upacara Manusa Yadnya, menyebutkan kira-kira berumur 5 bulan (lebih kurang 6 bulan kalender). Proses perkembangan dan pertumbuhan manik hingga akhirnya menjadi bayi sempurna, hingga siap dilahirkan, itu disebut Kama-reka. Sebagaimana diungkapkan dalam buku Manusa Yajna. Begitu pula menurut Drs. I Gusti Ketut Adia Wiratmaja, bahwa manik yang mengalami pertumbuhan disebut kama-reka.

Menurut salinan lontar Kanda Pat Rare, proses pertumbuhan manik hingga menjadi janin (bayi) adalah sebagai berikut :
pada saat itu terjadi pertemuan ayah dan ibu (bersenggama). Ketika itu, benih laki-laki keluar dari ayah dan benih perempuan keluar dari ibu. Setelah sebulan pertemuan itu berlalu, aka tibul pancaran matahari dan bulan. Dua bulan pertemuan berlalu, maka timbulah suara, pikiran dan tenaga. Tiga bulan pertemuan berlalu, maka terbentuklah pancawarna (lima warna). Empat bulan pertemuan berlalu, maka terbentuklah Dewata Nawasanga (Sembilan Dewa). Lima bulan pertemuan itu berlalu, terbentklah bumi dan langit, kemudian bersatu membentuk manusia, bermata, bertelinga, berhidung, bermulut, bertangan, berkaki, berkemaluan, berpantat, dan pada saat ini si jabang bayi bernama Sang Hyang Putih Majati.
Enam bulan ada di dalam kandungan, maka ada saudara dari jabang bayi, yang keluar dari ayah disebut Babu Lembana.Tujuh bulan di dalam kandungan, maka ada saudara jabang bayi, yang keluar dari ibu, bernama Babu Abra. Delapan bulan ada di dalam kandungan, lagi ada saudara jabang bayi, yang keluar dari ayah bernama Babu Ugian. Sembilan bulan ada di dalam kandungan, keluar lagi saudara si bayi dari ibu, bernama Babu Kadered. Setelah sepuluh bulan ada didalam kandungan, maka bayi sudah siap untuk dilahirkan.


Merawat kehamilan

Bila seorang istri mulai mengandung, hamil, maka banyak hal yang perlu menjadi perhatian. Baik oleh si istri yang bersangkutan, maupun oleh sang suami. Terutama sekali tatkala si istri itu, baru untuk pertma kalinya mengandung. Artinya hamil baru pertama kali. Diawali dengan nyidam, istri nyidam akan banyak sekali permintaannya, yang kadang-kadang terasa aneh dan mengada-ada. Permintaan itu sedapat mungkin dipenuhi. Sebab, jika tidak terpenuhi dapat membawa efek yang kurang baik terhadap bayi yang sedang dikandungan. Karena permintaan istri yang nyidam, merupakan reproduksi keinginan si bayi, akan suatu makanan (zat), demi kelangsungan hidup dan perkembangan di dalam kandungan.

Dalam kenyataannya, hidup dan perkembngan seorang bayi selama dalam kandungan, sangat tergantung dari sikapibunya (orang tuanya). Baik masalah makanan, kesehatan, maupun dari segi watak atau kejiwaannya. Karena itu, baik fisik maupun kejiwaan seorang bayi, sangat ditentukan oleh sifat, watak kejiwaan seorang ibu waktu mengandung.

Perawatan sekala

Untuk mendapatkan seorang bayi yang baik, seorang ibu secara umum dapatlah disarankan, agar mendapat perawatan dan pelayanan yang cukup baik, antara lain :
  • perawatan kesehatan dari paramedis, 
  • pemenuhan makanan bergizi bagi ibu dan bayinya, serta 
  • perawatan mental dan psikologi seperti ajaran-ajaran agama dan kejiwaan. 

Sikap lain yang patut diperhatikan tatkala istri sedang hamil antara lain :
  • Tidak membangunkan istri yang sedang tidur. 
  • tidak melangkahi (ngungkulin) istri yang sedang tidur. Sebab pada saat istri tidur, ia mendapat hubungan pemeliharaan secara gaib dari para Dewa, kala dan pitara (roh leluhur), agar bayi yang dikandungnya itu dapat hidup dan selamat.

Adapun Dewa yang memberikan kekuatan gaib antara lain : Sang Hyang Sukana, Sang Hyang Mertyu Jiwa, Sang Hyang Prama Wisesa, Pitara (roh leluhur), baik dari garis laki-laki maupun perempuan.

Selain itu, dikatakan pula, pada saat si istri yang sedang hamil itu makan, dilarang anglawatin (membayangi dengan bayangan badan) terhadap nasi atau makanan yang sedang dimakannya.
Apa sangsinya, jika larangan itu dilanggar? 
Kalau suami melanggar larangan tersebut, maka akan mendapat kutuk para Dewa, Kala dan Pitara. Si istri bisa mengalami keguguran, bayinya mati dalam kandungan, sulit waktu melahirkan, lahir udah dan sebagainya. Disamping itu, pada saat istri hamil, bila ia sedang makan, hendaknya jangan diajak bicara, apalagi diberi kata-kata kotor, kasar, keras yang membuatnya tersinggung dan sakit hati. Karena, Sang Hyang Urip sedang bersemayam pada orang yang sedang makan.

Itulah sebabnya kemudian muncul mitos yang mengatakan, tidak boleh membunuh orang yang sedang makan, walaupun dia seorang penjahat atau musuh sekalipun. Maka dari itu, bagi suami-istri agar semua pikiran, perkataan dan perbuatan, diarahkan pada ajaran-ajaran kebajikan (dharma), agar terhindar dari malapetaka, baik bagi mereka berdua, maupun anak yang dikandungnya. 

Kepada istri yang sedang hamil, agar suka mendengarkan sekaligus melaksanakan nasehat-nasehat, membaca kitab-kitab bertuah seperti cerita kepahlawanan, bermacam-macam sesana (peraturan tingkah laku), memeriksakan kesehatan jasmaninya, memperhatikan makanan yang sehat dan bergizi dan sebagainya. Semua aktivitas itu akan berpengaruh, dan menurun pada anak atau karakteristik bayinya nanti. Demikian pula, si suami hendaknya ikut pula menjaga kedamaian dan kerukunan rumah tangga, terutama terhadap istrinya yang sedang mengandung.

Ada lagi, beberapa kegiatan yang perlu mendapat perhatian, dari suami yang istrinya hamil. Khususnya mengenai aktivitas yang hendaknya tidak dilakukan selama istrinya hamil. Seperti, jangan mencambuk sapi tatkala bekerja di sawah. Tidak boleh ngetok lait, atau menyumbat segala bentuk lubang (sombah), karena menurut kepercayaan, semua perbuatan itu akan membawa efek yang kurang baik bagi calon anaknya.

Dalam salinan Lontar Eka Pertama, disebutkan beberapa sikap bagi suami, sebagai kepala rumah tangga pada waktu istri hamil. Seorang suami hendaknya melakukan swadharma agar menurunkan anak yang baik (dharma putra), yaitu tidak diperkenankan:
  •  memotong rambut, 
  • membangun rumah, 
  • menyelenggarakan pengangkatan anak, 
  • membuat tambak (empang) 
  • membuat pagar rumah atau pagar ladang, 
  • memperistri wanita lain, 
  • selingkuh. 
Larangan-larangan berlaku bagi suami tersebut, konon merupakan petuah dari Bhatara Brahma yang disampaikan kepada Bhagawan Bergu.

Perawatan niskala
Disamping perawatan secara sekala tadi, perawatan niskala juga sangat diperlukan. salah satu caranya dengan memberikan panglukatan maupun ruwatan untuk ibu hamil seperti yang termuat dalam artikel "Upacara Magedong-gedongan" dengan harapan, secara niskala bayi dan ibunya terlindungi.

Kanda Pat Rare

Yang dimaksud dengan Kanda Empat Rare disini tidak lain adalah Sang Catur Sanak dan bayi. Catur Sanak berarti saudara empat. Rare sama dengan bayi. Setiap diri manusia mempunyai saudara empat. Ketika manusia masih berupa janin di dalam perut ibunya, ke empat saudara ini nyata. Kasat mata. Bisal dilihat dengan mata telanjang. Adapun yang tergolong saudara empat, atau Kanda Empat Rare antara lain :
  1. Yeh Nyom (air ketuban),
  2. Getih atau rah (darah),
  3. Banah/lamas (bungkus atau lemak pada kulit) dan
  4. Ari-ari (uri/placenta). 
Itulah nama-nama saudara empat yang menyertai bayi selama dalam kandungan. Keempatnya itu merupakan wujud nyata, dapat dilihat pada saatseorang ibu melahirkan bayinya. Akan tetapi dalam wujud abstrak, keempat saudara ini tidak dapat dilihat. Namanya pun berubah-ubah, sesuai dengan pertumbuhan si bayi.

Melihat fungsinya, keempat saudara itu besar sekali jasanya, dalam menjaga serta memelihara si bayi, selama ada dalam kandungan, sampai saatnya ia lahir ke Dunia. Maka dari itu, tidak salah kalau mereka disebut Catur Sanak atau Nyama Catur (saudara empat) si bayi, istilah Balinya Kanda Empat Rare, terhadap Yeh Nyom, Getih, Ari-ari dan Lamas, karena merekalah yang selalu menemani dan merawat si bayi. Bahkan menurut mitologi, si bayi telah berjanji tidak akan melupakan keempat saudaranya itu. Kalau sampai lupa, maka keempat saudaranya itu tidak akan menjaganya lagi. Janji itu diberikan dengan harapan, pada saat si bayi lahir agar di tolong mencari jalan keluar, yaitu ada yang membukakan pintu (yeh nyom), ada yang memapah dari kiri dan kanan (getih, lamas) dan ada pula yang mengantar dari belakang (ari-ari).

Yeh nyom (air ketuban - likuor amni)
Sejak hamil muda, kira-kira 3 bulan lamanya, sel-sel lapisan amnion, terutama yang meliputi bagian placenta, sudah mengeluarkan sedikit cairan jernih, yang berkumpul di ruangan amnion di mana janin itu berada. Bertambah tua kehamilan itu, maka bertambah banyak pula cairan amnion, sehingga pada bulan ke 10, janin seolah-olah terbenam dalam cairan tersebut. Cairan itulah yang disebut air tuban atau Yeh nyom. 

Fungsi yeh nyom antara lain : 
  1. menjaga supaya jangan sampai da perlekatan antara amnion dengan janin, jika janin tumbuh menjadi besar. 
  2. menjamin tumbuhnya janin dengan sempurna, dengan tidak ada rintangan. 
  3. menjaga agar tali pusar tidak mudah tertekan oleh janin. Misalnya, kalau perut perempuan hamil itu terbentur, atau mendapat pukulan dari luar, sehingga janin tidak mendapat kerusakan atau gangguan.

Dan bila bayi akan lahir, maka lapisan amnion itu lebih dulu pecah. Bila belum pecah, maka bayi tidak dapat lahir. Itulah sebabnya, kenapa Yeh Nyom disebut sebagai pembuka jalan bagi kelahiran seorang bayi. Sehubungan dengan itu, seorang bidan sering membantu seorang ibu, yang melahirkan, dengan merobek lapisan amnion, dengan maksud mempercepat kelahiran bayinya. Disamping itu Yeh Nyom juga berguna untuk melicinkan jalannya bayi keluar dari vagina seorang ibu. Jadi begitu besar jasa Yeh Nyom terhadap bayi, baik semasih dalam kandungan, maupun saat kelahirannya ke Dunia.

Getih (darah)
Didalam rahim seorang ibu, ada ruangan-ruangan berisi darah yang berasal dari si ibu. Ruangan-ruangan itu kemudian disebut intervillair. Di tengah-tengah intervillair ini terdapat jonjot-jonjot chorion, yang tumbuh terus menerus dan bercabang-cabang, seakan-akan sebuah pohon. Sementara itu, pada tiap-tiap pohon dan cabang, tumbuhlah pembuluh darah, yaitu pembuluh darah vena dan arteri yang dapat mengalirkan darah janin. Darah vena berguna untuk mengangkat zat makanan ke dalam tubuh janin (bayi), dan darah arteri adalah untuk mengeluarkan ampas pertukaran zat dari tubuh janin (bayi). Kedua macam darah itu hanya terpisah oleh dinding villus (jonjot-jonjot), dan melalui dinding inilah terjadi pertukaran zat-zat makanan dari darah si ibu ke darah janin (bayi).

Ruangan Itervillair itu berada pada placenta. Dengan demikian, di dalam placenta itu sendiri terdapat beberapa macam peredaran darah, yaitu melalui pohon dan cabang dari jonjot-jonjot chorion tadi. Darah arteri dari dinding uterus (rahim), amat banyak melalui deciduas basalis (lapisan pembungkus telur). Dengan demikian, melalui arteriitu mengalir darah si ibu, ke dalam ruangan intervellair yang luas, pada bagian pinggir dari sekeliling placenta. Dan ruangan vena ini disebut “sinus circularis”. Oleh karena banyaknya terdapat jonjot-jonjot horion, maka pembuluh-pembuluh darah dalam jonjot-jonjot itu, berkumpul pada bagian placenta di bawah lapisan amnion. Pembuluh-pembuluh vena akhirnya meenjadi satu vena yang besar (vena umbilicalis). Dan pembuluh-pembuluh arteri berkumpul menjadi dua pembuluh, yaitu 2 arteri umbilicalis. Ketiga pembuluh darah ini (1 vena umbilicalis dan 2 arteri umbilicalis) akhirnya berpisah dengan placenta dan menyatu dengan tali pusar.

Jadi, begitu besar jasa getih terhadap kelangsungan hidup janin di dalam kandungan ibunya. Hal ini dapat dilihat dengan adanya pembuluh-pembuluh darah, seperti vena umbilicalis yang mengalirkan darah dari placentake tubuh janin, melalui tali pusat (pusar) dengan membawa zat-zat makanan. Dan 2 pembuluh arteri umbilicalis berfungsi mengalirkan darah dari janin kejurusan placenta, dan di dalam darah ini terdapat ampas-ampas yang akan dibuang oleh janin ke dalam darah si ibu. Tanpa darah (getih) manusia takkan bisa hidup.

Ari-ari (uri/placenta)
Ari-ari (uri/placenta) ini tidak kalah pentingnya dari saudara-saudaranya yang lain. Janin hidup di dalam zat hormone dalam placenta (ari-ari). Zat hormon ini, disamping berfungsi schokbeaker, sehingga si bayi tetap aman, selamat bila misalnya si ibu jatuh, juga berfungsi sebagai pengatur suhu disekeliling janin (bayi) agar tetap konstan. Placenta dapat dianggap sebagai stasiun pembantu, penyalur sari-sari makanan dan o2 dari si ibu kepada bayinya, dan juga sebagai penampung sisa-sisa makan serta CO2 dari bayi untuk diserahkan kepada darah si ibu. Dalam hal ini tali pusat (pusar) adalah sebagai jembatan penghubung. Proses inilah yang menyebabkan bayi bias tumbuh dan berkembang, sehingga akhirnya menjadi sempurna bentuk tubuhnya serta siap untuk lahir.

Kira-kira akhir bulan keempat, maka sejak itu terbentuklah uri atau placenta (ari-ari) yang tetap. Mula-mula bentuknya tentu kecil, akan tetapi seiring dengan tumbuhnya janin, uri itupun tumbuh menjadi besar. Jika diperhatikan, nyatalah bahwa uri (ari-ari) itu sebetulnya terdiri dari 2 macam jaringan, yaitu jaringan yang berasal dari telur (janin), yakni jonjot-jonjot dan chorion frondosum, dan jaringan yang berasal dari si ibu, yaitu deci dua basalis. Kedua jaringan itu tumbuh menjadi satu, tak dapat di pisah-pisahkan, sehingga merupakan suatu benda yang tebal dan bundar bentuknya. Inilah yang kemudian dinamakan uri. Nama lainnya adalah placenta, dan di Bali disebut ari-ari.

Demikian ari-ari itu terbentuk dan berkembang di dalam rahim ibu, bersama-sama tumbuh mengikuti pertumbuhan janin itusendiri. Disamping kegunaan yang telah di uraikan tadi, ari-ari juga berguna sebagai alat pertahanan. Misal, si ibu menderita suatu penyakit, maka kuman-kuman penyakit di dalam darah si ibu tadi, tidak mudah masuk kedalam darah anak (bayi). Kecuali untuk penyakit tertentu, umpamanya syphilis, maka ari-ari pun tidak berdaya. Jadi, kalau orang tuanya syphilis, anaknya pasti syphilis.

Banah/Lamas (lemak pasa kulit/ cermix caseosa)
Pada akhir bulan ke lima, sejak terjadinya suatu pembuahan atau penghamilan, maka di bawah kulit janin, tumbuhlah jaringan lemak (gemuk), sedangkan kulit itu sendiri, pada bagian atasnya menjadi mati, dan bercampur dengan air tuban (yeh nyom), menjadi semacam gemuk yang melekat pada badan janin. Dengan adanya jaringan lemak di bawah kulit, maka janin dapat tumbuh dengan cepat, termasuk pertumbuhan tulang-tulang dan otot-ototnya. Melihat ajaran kejawen, maka posisi banah/lamas ini diganti oleh tali pusar (puser). Dalam pandangan jawa : pusar atau wudel. Bahasa Balinya pungsed. Menurut bahasa jawa kuno, istilah untuk pusar adalah nabi. Sedangkan pusar sendiri sebenarnya hanya bekas menempelnya tali pusar pada perut, ya tali pusarlah yang menghubungkan antara perut bayi dalam rahim dengan ari-ari. Ia sebagai alat untuk menyalurkan makanan dari ibu ke bayi dalam kandungan. Dengan tali pusar itu bayi mendapatkan pasokan makanan dari ibunya.

Jadi, bisa dimengerti kenapa kemudian yeh nyom, getih, ari-ari, dan lamas disebut saudara empat si bayi. Istilah jawanya, kakang kwah, adi ari-ari, getih dan puser. Karena amatlah besar jasanya dalam rangka menjaga dan memelihara ke selamatan serta pertumbuhan janin. Perilaku seorang ibu yang baru nyidam, dengan adanya manik di dalam kandungan yang makan sari-sari makanan. Manik ini adalah hasil persenggamaan bapak-ibu, yang bersemayam di dalam rahim. Manik itu membentuk huruf wong (Ong), bagaikan kanu, maka keluarlah “Catur Kanu”. Catur artinya empat, Kanu artinya saudara. Jadi Catur Kanu artinya saudara empat. Nama-nama saudara ini antara lain : Abra, Kered, Ugyan dan Lemana.

Sedangkan menurut buku Upacaran Manusa Yajna, nama-nama tersebut sedikit berbeda, akan tetapi pada dasarnya sama saja, yaitu : Babu Abra, Babu Kakere, Babu Sugian dan Babu Lembana. Selanjutnya, setelah janin itu berumur 20 hari, nama Catur Kanu itu berubah yaitu : Anta, Preta, Kala dan Dengen. Yang bernama Anta adalah ari-ari, yang bernama Preta adalah banah/lamas, yang bernama Dengen adalah yeh nyom (air ketuban). Sedangkan bayi itu sendiri bernama I Pung. Setelah bayi itu lahir. Maka nama-nama itu berubah lagi, yaitu : I Makair, I Mokair, I Jelair/Salahir dan Salabir, itu diberikan pada saat kepus pungsed (lepasnya tali pusat si bayi). Sedangkan nama si bayi sendiri ialah I Tutur Menget.

Setelah anak itu bisa memanggil bapa dan ibu, bisa berjalan, mulai saat ini mereka melupakan persaudaraan dan saling berpisah. Mereka pergi menuju tempat masing-masing. I Salahir pergi ke timur, I Jelair pergi ke selatan, I Makair pergi ke barat dan I Mokair pergi ke utara. Setelah berada di tempatnya masing-masing mereka kemudian mendapat anugrah bhetara, sehingga menjadi sakti dan namanya pun berganti. Yang di timur bernama I Anggapati, yang di selatan bernama I Mrajapati, yang di barat bernama I Banaspati, dan yang di utara bernama I Banaspati Raja.

Sesudah itu Ida Bhatara bersabda; 
wahai kamu sekalian pulanglah kamu ke dalam diri saudaramu I Legaprana. I Anggapati masuk lewat mata, bertempat di pepusuh (jantung). I Mrajapati masuk lewat telinga, bertempat di hati, I Banaspati kembali lewat hidung, bertempat di limpa. I Banaspati raja kembali lewat mulut bertempt di empedu”. 
Maka dari itu, seseorang hendaknya tidak melupakan Sang Catur Sanak: 
Yan sira lali asanak ring sanakta, sanakta lali asanak lawan kita, ika kengetaken sai-sai”.

Artinya : Jika seseorang lupa bersaudara kepada saudara empatnya (Sang Catur Sanak), saudara-saudaranya itu lupa pula bersaudara kepada dia, itu hendaknya di ingat terus menerus. Pada hakekatnya, Sang Catur Sanak itu tidak lain adalah kekuatan-kekuatan gaib panca mahabhuta, sebagai bahan dasar pembentukan tubuh manusia. Seperti kekuatan gaib angin, kekuatan gaib api, kekuatan gaib tanah, kekuatan gaib air, dan kekuatan gaib angkasa. Bila itu tidak di pahami, kita pun tidak akan mendapatkan kegaibannya.

Setelah umur kandungan mencapai 9-10 bulan, maka sudah saatnya bayi lahir ke Dunia. Kelahiran ini bisa berjalan dengan baik, bila mendapat pertolongan dari Sang Catur Sanak. Seperti yeh nyom sebagai pembuka jalan, getih dan lamas/puser, yang memapah dari kiri dan kanan, serta ari-ari yang mengantar dengan sedikit dorongan dari belakang. Bila tidak begitu, maka seorang bayi akan sulit dilahirkan. Terkecuali lewat operasi sesar (SC). Tapi, itu bukan tujuan ajaran Kanda Empat Rare. Ajaran ini menginginkan seorang bayi bisa lahir normal. Selain itu, menurut kitab Primbon Betaljamur Adam makna, kelahiran seorang bayi bisa diperkirakan berdasarkan hari nyakitnya. Pada saat perut si ibu mulai teras sakit, seperti mau ke WC, seolah-olah mau buang air besar. Sebagaimana ciri-ciri orang mau melahirkan maka bisa diprediksi berdasarkan hari bukaan vagina sang ibu, berikut ini :
  • Minggu = kemungkinan lahir jam : 6,7,11,1 atau jam 5. 
  • Senin = kemungkinan lahir jam : 8,10,1,3 atau jam 5. 
  • Selasa = kemungkinan lahir jam : 7,10,12,2 atau jam 5. 
  • Rabu = kemungkinan lahir jam : 7,9,11,2 atau jam 4. 
  • Kamis = kemungkinan lahir jam : 8,11,1,3 atau jam 4. 
  • Jum’at = kemungkinan lahir jam : 8,10,12,3 atau jam 4. 
  • Sabtu = kemungkinan lahir jam : 7,9,12,2 atau jam 2.

Perhitungan ini berlaku untuk hitungan waktu pagi, siang, sore dan malam. Artinya kalau tidak jam 1 pagi, berarti jam 1 siang. Kalau tidak jam 8 pagi berarti jam 8 malam, segitu seterusnya. Dihitung mulai jam sakit perutnya si ibu hamil. Ingat, perhitungan ini berlaku untuk situasi normal, artinya kondisi bayi dalam perut tidak bermasalah, baik menyangkut posisi bayi maupun kesehatannya. Baik-baik saja. Normal. Perhitungan itupun tidak ketat, tidak saklek, dia punya batasan toleransi yang benar. Misalnya, menurut perhitungan anak itu lahir jam 1 siang, maka jam 1 siang itu berlaku mulai 5 menit setelah jam 12, dan berakhir 5 menit sebelu jam 2 siang. Begitu juga untuk jam-jam yang lainnya.

saat kandungan sudah berumur, bayi akan lahir dinamakan Jatakarma disebut juga tutug sasihan antara umur kandungan 9 sampai 10 bulan, Sang Kamareka dengan kesaktian Dewa Ciwa, akan lahir melalui Bhagamandala rahasia Sang Kamareka. Istilah jawanya disebut margahina (jalan yang hina/vagina). Dan saat ini, bayi tersebut bernama Sang Hyang Kawaspadan. Waktu sang bayi lahir diikuti atau diprakarsai oleh nyamane catur (saudara empatnya) yang terdiri dari : yeh nyom, getih, ari-ari, lamas/puser. Pada saat kelahiran bayi ini, dibuatkan suatu upacara kecil seperti yang dijelaskan dalam artikel "Upacara Jatakarma dan Mendem Ari-ari".

Hal lain yang perlu di perhatikan bagi suami atau bapak si bayi adalah : membersihkan semua kotoran yang diakibatkan oleh persalinan tersebut. Seperti darah-darah yang melekat pada kain, yang di pakai untuk melahirkan. Sebaiknya di cuci oleh suami atau bapak si bayi. Dalam hal ini termasuk juga ari-arinya. Dan pada saat melakukan itu, tidak boleh ada perasaan jijik di dalam hati. Lakukan dengan penuh kasih dan sukacita. Walaupun pada kenyataannya, ari-ari itu sudah dibersihkan oleh dokter atau bidan yang membantu persalinan itu. Tapi sampai dirumah, sebelum di tanam, sebaiknya dilakukan pembersihan ulang. Ini untuk menunjukkan rasa kasih dan suka cita anda, kepada anak dan saudaranya itu. dan setelah beberapa hari disaat sisa ari-ari yang melekat pada bayi sudah lepas, maka dibuatkanlah "Upacara Manusa Yadnya Kepus Puser"

setelah bayi atau rare berumur 12 hari, dibuatkanlah upacara ngelepas awon atau sering juga disebut dengan upacara yadnya Nama karma, karena pada saat upacara inilah pertamakalinya bayi diberikan Nama secara niskala oleh keluarganya. 

setelah bayi berumur 42 hari, kembali dibuatkan "upacara Macolongan", yang di dedikasikan kepada nyame papat atau sang catur sanak yang telah melindungi si bayi semenjak dalam kandungan.

r. Upacara tiga bulanan

Setelah bayi berumur 105 hari (kurang lebih 3 bulan) maka dibuatkanlah upacara “nelu bulanin”. Si bayi dan bapak ibunya menghadap para Dewa di Hyang Kemulan atau merajan. Memohon kepada Betara Siwa Adidaya, agar si bayi bebas dari segala malapetaka. Secara sederhana upakara tiga bulanan ini biasanya berupa : banten penglepas awon/pebyakaonan, banten penyambutan, prayascita, peras seda, pejati, jejanganan, banten kumara, tataban dan banten tebasan pengambyean.

1. Tata cara pelaksanaan

Pertama, pandita/pinandita nuhur Ida Betara. Kedua, memuja memohon tirta penglukatan. Ketiga, pandita/pinandita memerciki tirta pada sesajen dan juga si bayi. Lalu dilanjutkan dengan natab penyambutan, penyeneng dan ditutup dengan nunas tirta betara. Mantra-mantranya : 1. Mantra penglepas awon = “pukulun bhatara brahma, bhatara wisnu, bhatara iswara, manusanira si angelepas awon ipun, bhatara tiga pakulun anyuda leteh ipun, teka sudha, teka sudha, teka sudha, sudha lepas malanipun”. Artinya = Om hyang Widhi wasa dalam manifestasi sebagai Bhatara Brahma, wisnu, iswara. Hamba-Mu si, memohon kepada Bhatara tiga agar membersihkan kekotorannya, sehingga menjadi suci dan bebas dari kesengsaraan atau penderitaan.

2. Mantra Penyambutan = “pukulun kaki sambut, nini sambut, tanedahan sambut agung, tanedahan sambut alit, yen lunge mangetan, mangidul, mangulon, mangalor, mwang maring tengah atmane si jabang bayi, tinututan dening pewatek dewata, pinayungan kala cakra. Pinageran wesi, sambut ulihakena atma bayu premanane si jabang bayi, amepeki raga sariranipun”. Artinya : Om Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai kaki sambut, nini sambut, tanpa kecuali sambut besar dan kecil, perkenankanlah hamba memohon mengenai roh si bayi, barangkali ia pergi ke timur, ke selatan, ke barat, ke utara atau ke tengah agar selalu mendapat perlindungan dari para Dewata, dipayungi oleh Kala Cakra dan berpagarkan besi. Selanjutnya, kembalikanlah kesempurnaan roh bayi ke badannya.

3. Mantra natab = “Pukulun kaki prajapati, nini prajapati, kaki citragotra, nini citragotri, ingsun aneda sih nugraha ring kita sambuta, ulapi atmane si. Menawi wenten ang ati-ati ring pinggiring samudra, ring tengahing udadi, kategak ring sarwa baksa, kakurung ring sumur agung, ndawag ulibakena ring awaknia si. Mogi-mogi dipun tetap medal kukuh, pageh, urip waras lan dirgayusa. Om ayu werdhi, yasa werdhi, werdhi pradnyan suka sriyem, dharma sentana wredisea. Santute sapta wredhayah”. Artinya = Om Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Sang Catur Sanak, seperti kaki prajapati, nini prajapati, kaki citragotra, nini citragotri (nama lain dari yeh nyom, ari-ari, getih, lamad/puser), hamba mohon kepada-Mu agar si bayi menemukan kehidupan yang sejahtera lahir batin, diberikan panjang umur dan dijauhkan dari penyakit dan mara bahaya.

Upacara satu oton

Ketika bayi menginjak usia 210 hari atau enam bulan pawukon, maka dibuatkan upacara otonan. Upacara ini bertujuan untuk menebus kesalahan-kesalahan dan keburukan-keburukan terdahulu, sehingga dalam kehidupan yang sekarang mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Mulai saat ini bayi boleh memakai perhiasan emas, perak atau ratna mutu manikan. Kalau anak belum punya nama, maka pada saat ini adalah saat terakhir untuk member nama. Atau kalau mau mengganti nama anak pada saat ini juga dilukat dan diberi nama baru, yaitu : yeh nyom disebut Anggapati, Getih/darah disebut Mrajapati, Ari-ari disebut Banaspasi, dan Lamad/puser disebut Banaspati Raja.

Karena tugas mereka untuk mengemban rare sudah selesai, maka Sang Catur Sanak kembali ke kahyangannya masing-masing. Antara lain : 1. Sang Anggapati pergi ke timur. 2. Sang Mrajapati pergi ke selatan. 3. Sang Banaspati pergi ke barat. 4. Sang Banaspati raja pergi ke utara. Banten yang dipergunakan biasanya : peras sedan tumpeng 11, dapetan, pengambyean, canang daksina, suci, banten permarisuda rare dan Sang Catur Sanak, Byakawon, prayascita, banten turun ke tanah, tedak siten, banten kumara, dan pengempug atau banten tumbuh gigi.

Pada saat otonan ini juga dilakukan acara menggunting rambut si bayi, sebagai simbul menghilangkan dasa mala yang ada pada bayi tersebut. Untuk selanjutnya bayi boleh digundul kuncung, artinya tidak plontos, rambut disisakan sedikit sebagai penutup ubun-ubunnya. Pada saat satu oton ini si bayi juga diperkenankan untuk menginjak tanah, agar mendapat berkah dari Sang Hyang Pertiwi. Dengan banten tuwun tanah atau tedak siten. Oleh karena itu, mulai saat ini si anak boleh menginjak tanah, dan mulai saat ini si anak boleh menginjak tanah, dan mulai saat ini juga si anak boleh diberi makan nasi.

Selanjutnya si bayi natab banten ngempugin agar segera tumbuh gigi. Lalu kelapa dan telur yang ada di banten pengempug itu dipecahkan. Kemudian gusi si bayi digosok-gosokkan dengan air kelapa dan putih telur tersebut. Ini adalah salah satu mantra ngempugin. Mantra : “Om Sang Hyang Surya, Brahma endi empug seka wetan untune si. Wesi kari pinaka untune, bumi kari pinaka gusine, arata jajare kaya walandingan sinigar, sira bhetari sri angelukata untune si. Tan keneng jamuran, tan keneng subatahan, munggah untune, Om Maha Bhatari Siwa Bumi Maha Sidhi”. Artinya = Om Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud Sang Hyang Surya, semoga gigi si. Tumbuh sehat dan kuat. Mohon Bhatari Sri berkenan mensucikan sehingga giginya terhindar dari penyakit.

Sedangkan untuk upacara turun tanah, salah satu bait mantranya berbunyi sebagai berikut : “Turun-turun si jabang bayi, turun maring lemah, katutan mas picis raja brana”. Artinya = Maka turunlah si anak menginjak tanah, diikuti oleh segala kebutuhan hidupnya, berupa mas pipis raja brama, semoga hidupnya selamat dan makmur sentosa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar