Google+
Tampilkan postingan dengan label Lontar Angastia Prana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lontar Angastia Prana. Tampilkan semua postingan

Pantangan buat SUAMI bila Istri-nya hamil

Pantangan buat SUAMI bila Istri-nya hamil

Dalam masyarakat Hindu di Bali sampai saat ini masih sering kita lihat berbagai tradisi dipercaya dan dilaksanakan dengan patuh. Disisi lain ada juga orang yang tidak lagi menjalankan tradisi tersebut dengan berbagai alasan. Namun banyak orang yang "sekedar" melaksanakan saja tradisi-tradisi ini tanpa memahami secara mendalam maksud dan tujuan dari tradisi tersebut.

Sebagai contoh, ketika si istri sedang hamil, maka lelaki atau suaminya tidak akan memotong rambutnya dan dibiarkan panjang. tapi banyak krama bali yang kurang mengeri maksud dari tradisi Manusa Yadnya tersebut.

Kanda Pat Rare dan Pembentukan Bayi Manusia

Kanda Pat Rare dan Pembentukan Bayi - Manusia

Ajaran Kanda Pat Rare berawal dari terbentuknya bayi dalam kandungan, seperti yang telah diceritakan dalam artikel "Kupasan Lontar Kanda Pat" lahirnya seorang anak berawal hubungan asmara orang tuanya. setelah itu pertemuan kama bang dan kama petak maka terbentuklah rare. berikut ini urutan perkembangannya.

Bayi dalam kandungan


Bayi dalam kandungan bisa terwujud karena pertemuan antara kama petak dan kama bang, atau pertemuan antara cukla yang keluar dari purusa (laki-laki) dan swanita yang keluar dari pradana (wanita).
  • Kama petak adalah air mani laki-laki yang juga disebut cukla, yang dengan Sang Hyang Semara
  • Kama bang adalah air mani perempuan yang disebut swanita , disimbolkan dengan Dewi Ratih
Kama petak dan kama bang juga disebut cukla swanita, yang disimbolkan dengan Sang Hyang Semara Ratih.Tumbuhnya bayi di dalam kandungan menurut agama Hindu adalah berkat bertemunya sang cukla swanita. Pertemuan itu baru dapat dibenarkan secara agama, apabila dilakukan oleh suami-istri yang sah.

Pelinggih Taksu di Merajan

Pelinggih Taksu di Merajan/Sanggah

Pada areal sanggah kamulan, ada sebuah pelinggih yang penting yaitu Taksu.
Pelinggih Taksu Agung adalah tempat untuk menghubungkan dan mendekatkan diri kehadapan Sang Hyang Taksu Agung atau Sang Hyang Adi Taksu. Bangunan Pelinggih Taksu ini Berbentuk Gedong dengan tiga kaki penyanga gedong serta anda bangunan dengan dua tiang (saka) didepannya.

Kata Taksu sudah merupakan bahasa baku dalam kosa kata Bali, yang dapat diartikan sebagai daya magis yang menjadikan keberhasilan dalam segala aspek kerja. Misalnya para seniman, pragina, dalang, balian, dalang dll. Mereka berhasil karena dianggap "metaksu".
sehingga kata "Taksu" tersebut bersifat Universal dan merupakan kekuatan profesi masing-masing umat. Setiap manusia memiliki profesionality (wiguna) sesuai dengan konsep "Catur Warna"
Dengan adanya profesi (Guna) memerlukan sekali anugerah Sang Hyang Widhi melalui manifestasinya yaitu Sang Bhuta Kala Raja, beliaulah sebagai sedahan Taksu dengan dewan taksu Sang Hyang Aji Saraswati. Taksu itu seseungguhnya adalah kekuatan magis dari Sang Hyang Widhi, dimana kekuatan tersebut merupakan kekuatan Gravitasi (gaya tarik), dengan kekuatan tersebut menyatu dengaan kekuatan magis manusia serta membangkitkan kekuatan manusia sehingga manusia memiliki kharisma, kekuatan yang menarik dan kemampuan spiritual sesuai dengan profesinya. Dengan demikian bangunan Suci Taksu sangat perlu dibuat sebagai stana Dewa Profesi.

Tutur Angastia Prana

Tutur Angastia Prana

[1a] Ong Awignamastu nama sidam. Iki katuturan Rêsi Bagawan Angastiaprana, madruwe Ida putra kêkalih, sane duwuran lanang, mapsengan Ida Sang Subrata, sane istri mapsengan Ida Sri Satiakrêti. Ida Bagawan Angastiaprana, puputing panugrahan, saking tapa brata, maraga Rêsi Boda, maraga Ida wong kara sara, raris sang putra lanang-istri, raris matur, Inggih paduka sang Rêsi, tabeya pakulun, kaula umatur tan kê-

[1b] na tulahsarik, raja panulah ring hyang suksma. Sumawur Bagawan Angastiaprana, Uduh anak ingsun kalih, napi pamalakun cêning ring bapa. Singgih batara, yan onang batara lugraha, ring kaula titiang nunasang, satingkahe dados jadma, sapunapi wite ring kuna. Sumawur Bagawan Angastiaprana, Sapuniki cêning kawite ring kuna, cening maraga Sang Hyang Siwa atma, duk sang bapa muang sang ibu sami bajang, cêning ngalih tongos, sang bapa muang sang ibu, pada ngêlah ka-

[2a] sêmaran, smaran sang bapa, maharan Smara-jaya, smran sang ibu maharan Smara-ratih, cêning maharan Smara-sunia, sami kasusupin manah sang bapa muang sang ibu, dadi matêmu karsa pada karsa, ya matêmu dêmên pada dêmên, masalin aran, sang bapa smara lulut manahnya, sang ibu wnang manahnya, cêning Smara-asih arannya, nyusup ring ibapa, muang ring ibu, krana matêmu pada suka, cêning dadi Sang Hyang Sunya-atma, duk matêmuang sanggama sang ibu ring sang bapa. Cêning Sanggama-molah, arane, nyusup ring