Google+

Sloka Veda Tentang Etika dan Budaya Kerja

Sloka Veda Tentang Etika dan Budaya Kerja


Kurvan eveha karmânņi
Jijīviset satam samah
Evam tvayi nanyatheto-asti
Na karma lipyate nare. (Yajurveda XL.2)
artinya:
Orang hendaknya suka hidup di dunia ini dengan kerja keras selama seratus tahun. Tidak ada cara yang lain bagi keselamatan seseorang. Suatu tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri dan tidak memihak, menjauhkan pelaku dari keterikatan.

Icchanti devah sunvantam
Na svapnaya sprhayanti.
Yanti pramadam atandrah. (Atharvaveda XX.18.3)
artinya:
Para dewa menyukai orang – orang yang bekerja keras. Para Dewa tidak menyukai orang – orang yang gampang – gampangan dan bermalas – malas. Orang – orang yang selalu waspada mencapai kebahagiaan yang agung.
Asmanvati riyate sam rabhadhvam
Uttisthata pra tarata sakhayah.
Atra jahama ye asan asevah
Sivan vayam uttaremabhi vajan. (Rgveda X.53.8)
artinya:
Ya para sahabat, dunia yang penuh dosa dan kesedihan sedang lewat bagaikan sebuah sungai, alirannya yang dihalangi oleh batu-batu besar yang berat. Tekunlah, bangkit dan seberangilah, tinggalkanlah pengikut yang tak berbudi. Seberangilah sungai kehidupan itu untuk pencapaian kesejahteraan dan kemakmuran.

Sa ratnam martyo vasu
Visvam tokam uta tmana
Accha gacchati-asthrta (Rg Veda I.411.6)
artinya:
Orang yang tidak kenal lelah memperoleh peKrtam me daksine haste
Jayo me savya ahitah
Gojid bhuyasam asyajid
Dhanamjayo hiranyajitrmata-permata, segala macam kekayaan dan anak cucu berkat ketekunannya.

Krtam me daksine haste
Jayo me savya ahitah
Gojid bhuyasam asyajid
Dhanamjayo hiranyajit (Atharvaveda X. 53. 8)
artinya:
Ketekunan semoga ada di tangan kanan dan kejayaan ada di tangan kiri. Semoga kami mendapatkan sapi-betina, kuda, kekayaan dan emas.

Gobhis tarkma-amatim durevam
Yavena ksudham puruhuta visvam
Vayam rajabhih prathama dhanani-
Asmakev janena jayema (Rgveda X 42. 10)
artinya:
Ya, Tuhan Yang Maha Esa, Sang Hyang Widhi, semoga kami menyeberangi kemiskinan yang tidak bisa itu dengan memperoleh sapi-sapi betina itu. Semoga kami mengatasi rasa lapar kami dengan memilikki makanan padi-padian seperti gandum, semoga kami memperoleh kekayaan dari para raja dan mencapai keberhasilan dengan usaha-usaha kami.

Krsan it phala asitam krnoti
Yan adhvanam apa vrnkte caritraih
Vadan brahma vadato vaniyan
Prnan apir aprnantam abhi syat (Rgveda X. 117.7)
artinya:
Sebuah mata bajak yang membajak menghasikan padi-padian, seorang laki-laki yang berjalan menteberangi jalanan. Seorang laki-laki yang terpelajar menyanyikan mantra-mantra Veda, adalah lebih unggul daripada seorang yang tetap diam. Orang yang dermawan melebihi orang yang tidak menolong temannya.

Ma sredhata somino daksata mahe
Krnudhvam raya atuje
Taranir ij jayati kseti pusyati
Na devasah kavatnave (Rg veda VII.32.9)
artinya:
Wahai orang-orang yang berpikiran mulia, janganlah tersesat, janganlah tersesat. Tekunlah dan dengan tekad yang keras untuk mencapai tujuan-tujuan yang tinggi. Bekerjalah dengan tekun untuk memperoleh kekayaan. Orang yang bersemangat (tekun sekali) berhasil, hidup berbahagia dan menikmati kemakmuran. Para dewa tidak pernah menolong orang yang bermalas-malas.

Sudakso daksaih kratunasi
Sukratur agne kavih kavyenasi visvavit
Vasur vasunam ksayasi tvam eka id
Dvaya ca yani prthivi ca pusyatah (Rgveda X. 91.3)
artinya:
Sang Hyang Agni (Tuhan Yang Mahaua Esa), Engkau berdaya guna dengan perbuatan-perbuatan yang berbudi luhur, Engkau bersemangat dengan kegiatan-Mu. Engkau seorang bagi penerima wahyu Veda. Engkau adalah yang maha mengetahui, Engkau adalah pendukung lima unsur yang agung (Panca Maha Bhuta). Engkau adalah satu-satunya penguasa atas semua benda, yang terpelihara oleh langit (sorga) dan bumi (dunia)


Na rte srantasya sakhyaya devah (Rgveda IV. 33. 11)
artinya:
Para Dewa menolong orang yang tidak dilelahkan oleh kerja keras yang berat.

Ayam me hasto bhagavan
Ayam me bhagavattarah (Rgveda X.60.12)
artinya:
Semoga tangan kananku beruntung dan tangan kiriku yang lebih beruntung.


Atandraso avrka asramisthah (Rgveda.4.12)
artinya
Ya Sang Hyang Agni (Tuhan Yang Maha Esa), hanya orang yang giat, tulus hati dan tidak kenal lelah, berhasil dalam kehidupan.

Nasusver apir na sakha na jamih (Rgveda. IV.25.6)
artinya:
Tuhan Yang Maha Esa, Sang Hyang Widhi, bukanlah sahabat, kerabat atau sanak saudara dari orang yang malas.

Dhana-dhanya prayogesu vidya saygrahanenu ca,
Ahare vyahara ca tyakta lajjaa sukhi bhavet (Canakya Nitisastra VII.2)
artinya:
Dalam urusan mencari beras dan dalam urusan keuangan, dalam hal menuntut ilmu, dalam hal menikmati makanan dan dalam hal berdagang, orang hendaknya meninggalkan rasa malu. Orang tersebut akan memperoleh kebahagiaan.

Dharmenarthah samaharyo
Dharmalabdham triad dhanam,
Kartavyam dharma paramam
Manavena prayatnatah (Sarasamuccaya 261)
artinya:
Dengan cara berusaha memperoleh sesuatu hendaklah berdasarkan dharma. Dana yang diperoleh karena usaha, hendaklah dibagi tiga, guna melaksanakan (biaya) mencapai yang tga itu; perhatikanlah itu baik-baik.

Karmany ewadhikaraste
Ma phalsesu kadacana,
Ma karma-phala-hetur bhur
Mate sango `stw akarmani (Bhagavadgita II. 47)
artinya:
Tugasmu hanya berbuat dan jangan sekali-sekali mengharap akan hasil; jangan sekali-kali hasil yang menjadi motifmu ataupun sama sekali terikat dengan tanpa kegiatan.

Yoga-sthah kuru karmany
Sangam tyaktwa dhananjaya,
Siddhi-asiddhyoh samo
Bhutwa samatwam yoga ucyate. (Bhagavad gita II. 48)
artinya:
Mantapkanlah dalam yoga dan lakukanlah kegiatanmu, wahai Dananjaya (Arjuna), lepaskanlah keterikatan dan tetap teguh baik dalam keberhasilan maupun kegagalan, karena ketenangan pikiran itu disebut sebagai yoga.

Durena hy awaram karma
Buddhi-yogad dhananjaya,
Budhau saranam anwiccha
Krpanah Phala-hetawah (Bhagavadgita II. 49)
artinya:
Sungguh sangat rendah derajat mereka yang hanya bekerja tanpa pendisiplinan kecerdasan (budhiyoga) wahai Dananjaya (Arjuna); berlindunglah pada kecedasan, kasihan mereka yang mengharapkan hasil dari kegiatan.

Buddhi-yukto jahatiha
Ubhe sukrta-duskrte,
Tasmad yogaya yujyaswa
Yogah karmasu kausalam (Bhagavadgita II.50)
artinya:
Orang yang telah mempersatukan kecerdasannya dengan yang bersifat Ilahi, bahkan telah melepaskan yang baik maupun yang buruk. Karenanya, usahakanlah untuk melakukan yoga, sebab yoga merupakan ketrampilan dalam kegiatan kerja.

Yajna-dana-tapah-karma
Na tyajyam karyam ewa tat,
Yajno danam tapas caiwa
Pawanani manisinam. (Bhagavadgita XVIII. 5)
artinya:
Kegiatan Yajna, dana, dan tapah jangan ditinggalkan tetapi harus dilaksanakan, karena kegiatan itu memurnikan orang-orang bijaksana.

Etany api tu karmani
Sangam tyaktwa phalani ca,
Kartawyani me pharta
Niscitam matam uttamam (Bhagavadgita XVIII. 6)
artinya:
Tetapi kegiatan kerja inipun hendaknya dilaksanakan dengan melepaskan keterikatan dan keinginan pada hasilnya. Wahai Partha (Arjuna), hal ini merupakan keputusan-Ku yang terakhir.

Niyatasya tu sannyasah
Karmano Nopapadyate,
Mohat tasya parityagas
Tamasah parikirtitah (Bhagavadgita XVIII. 7)
artinya:
Sesungguhnya melepaskan kewajiban yang harus dilakukan adalah tidak benar. Meninggalkan kewajiban karena kebodohan dinyatakan sebagai Tamasa.

Niyatam sanga-rahitam
Araga-dwesatah krtam
Aphala-prepsuna karma
Yat tat sattvikam ucyate (Bhagavadgita XVIII. 23)
artinya:
Suatu kegiatan yang bersifat wajib, yang dilaksanakan tanpa keterikatan, tanpa kebencian oleh orang yang tak mengharapkan hasil, itu dikatakan sebagai sattvika.

Yat tu kamepsuna karma
Sahankarena wa punah,
Kriyate bahulayasam
Tad rajasam udahrtam (Bhagavadgita XVIII. 24)
artinya:
Tetapi kegiatan kerja yang dilakukan dengan usaha keras oleh seseorang yang mencari pemenuhan keinginannya atau yang didorong oleh keakuan, dikatakan sebagi rajasa.

Anubhandam ksayam himsam
Anapeksya ca paurusam,
Mohad arabhyate karma
yat tat tamasam ucyate (Bhagavadgita XVIII. 25)
artinya:
Kegiatan yang kerja yang dilakukan karena kebodohan, tanpa memperdulikan akibat atau kerugian dan melukai, serta tanpa memandang kemampuannya, kegiatan dikatakan bersifat tamasika.

Samo damas tapah saucam
Ksantir arjawam ewa ca,
Jnanam wijnanam astikyam
Brahma-karma swabhawa-jam (Bhagavadgita XVIII.42)
artinya:
Ketenangan, pengendalian diri, tapah, kemurnian, kesabaran, kejujuran, kebijaksanaan, pengetahuan, dan keyakinan dalam agama, semuanya ini merupakan kewajiban dari para Brahmana, yang berasal dari sifatnya sendiri.

Sauryam tejo dhrtir daksyam
Yuddhe ca`py apalayanam,
Danam iswara-bhawasca
Ksatram karma swabhawa-jam (Bhagavadgita XVIII.43)
artinya:
Sifat kepahlawanan, pemberani, mantap, kemahiran, pantang mundur walaupun dalam pertempuran, kedermawanan dan kepemimpinan, semua itu merupakan kewajiban dari golongan Ksatria, yang berasal dari sifatnya sendiri.

Sve-sve karmany abhiratah
Samsiddhim labhate narah
Svakarmaniratah siddhim
yatha vindati tac chrnu (Bhagavadgita XVIII.45)
artinya:
Dengan mengabdikan kewajibannya sendiri manusia mencapai kesempurnaan. Bagaimana seseorang yang mengabdikan pada kewajibannya sendiri mencapai kesempurnaan, dengarkanlah ini:

Sreyan sva-dharmo vigunah
Para-dharmat svanusthitat
Svabhaya-niyatam karma
Kurvan napnoti kilbisam (Bhagavadgita XVIII.47)
artinya:
Lebih baik dharmanya sendiri walaupun tidak sempurna melakukannya daripada dharna orang lain walaupun sempurna pelaksanaanya; karena orang tidak akan melakukan dosa bila melakukan dharmanya sendiri yang ditentukan oleh sifatnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar