Google+

Grahasta Asrama - Catur Asrama

Grahasta Asrama - Catur Asrama

Grahasta merupakan tahapan kedua dari catur asrama artinya hidup berumah tangga, bersuami istri. 
Pada masa kehidupan Grhasta tujuan hidup diprioritaskan untuk mendapatkan Artha dan memenuhi Kama, oleh karena itu, suatu rumah tangga belum dapat dilaksanakan kalau belum siap dengan sumber Artha berupa pekerjaan yang tetap yang memberi hasil yang memadai untuk menjalankan rumah tangga. Demikian pula dengan Kama yang menyangkut dorongan hidup seperti nafsu haus, lapar dan seks. Dorongan hidup itu harus dipenuhi dengan berlandaskan Dharma. 

Kama adalah salah satu media untuk mendapatkan kebahagiaan dan jangan samapai Kama itu memperalat manusia (sang diri). Sang diri harus mampu membatasi Kama. Manusia tanpa Kama tidak dapat menikmati kebahagiaan sejati dari hidup didunia ini. Akan tetapi Kama tanpa batas dan kendali, maka keindahan dunia ini akan berbalik menjadi sumber kehancuran. 
Demikianlah "hidup dalam Grhasta Asrama, harus berlandaskan Dharma".
Grhasta tanpa berlandaskan Dharma akan mengakibatkan Artha dan Kama yang merupakan prioritas utama dalam Grhasta menjadi sumber kehancuran Grhasta itu sendiri. 

Didalam Agstya Parwa dijelaskan tentang Grhasta Asrama sebagai berikut: 
".....grhasta ta sira mastri pwa sira, mana-madrewya hulun, ityewawadi, mangunaken kayekadharma yathasakti....
Artinya:
Grhasta-lah beliau, beristilah beliau, mempunyai anak, memiliki abdi, memupuk kebajikan yang berhubungan dengan pembinaan diri pribadi (kayikadharma) dengan kekuatan yang ada padanya (yathasakti).

Grahasta Asrama diawali dengan perkawinan. Perkawinan yang baik adalah perkawinan yang sesuai dengan ajaran hindu, sehingga perlu diketahui tentang Perkawinan menurut pandangan hindu itu sendiri.

setelah seseorang dinyatakan melewati Brahmacari, maka akan dilanjutkan dan meningkatkan jenjang kehidupannya ke Grhasta. Setelah masuk kegerbang Grhasta barulah Artha dan Kama menjadi penting. Walaupun demikian untuk mendapatkan Artha dan Kama mereka selalu harus berpegang kepada ajaran Dharma. Dalam masa Grhasta mereka masuk dalam kancah rumah tangga, sudah berkeluarga, sudah beristri dan mungkin juga sudah punya keturuanan. Karena itu sebagai anggota masyarakat, mereka tentu mempunyai bermacam ragam kewajiban, baik kewajiban keagamaan maupun kewajiban kekeluargaan. Dilihat dari segi ini jenjang kehidupan Grhasta merupakan tahapan yang sangat berat tetapi merupakan tugas yang sangat mulia.

Seorang kepala rumah tangga atau Grhasta yang baik tentunya memiliki perencanaan dalam memimpin rumahtangganya. Itu wajib ia lakukan dengan penuh keyakinan dan kesungguhan. Kewajiban Grhasta merupakan ikatan suci (dharma). Kalau ia dapat berhasil melaksnakan kewajibannya iti, ia dapat berhasil mendapatkan rasa bebas dari ikatan. Misalnya kewajiban untuk menyekolahkan putra-putrinya. Ini adalah suatu ikatan namun suci nilainya. Kalau ia taat dan berhasil menyekolahkan putra-putrinya itu, seorang Grhastapun akan mendapatkan suatu rasa bebas dari ikatan. Demikianlah moksa atau kebebasan dari ikatan merupakan kenyataan hidup yang harus diperjuangkan secara bertahap, pasti dan penuh keyakinan. Kalau ikatan demi ikatan dalam hidup ini dapat dilepaskan satu demi satu secara bertahap, maka kebebasan yang paling ideal berupa moksa akan dapat dicapai. Yang perlu diingat disini adalah kebebasanhanya akan dapat dicapai melalui keterikatan.

Setelah hidup berumah tangga sebagai warga Grhasta, mereka lalu memasuki tahapan hidup yang ketiga yaitu Wanaprasta. Dalam hal ini mereka mengasingkan diri dari keramaian hidup bermasyarakan untuk bisa menjauhkan diridari keterikatan kehidupan duniawi. Mereka hidup menyendiri karena itu manfaan dari Artha dan Kama lalu menjadi semakin berkurang. Mereka bahkan sudah berani melepaskan diri dari ikan Artha dan Kama. Dalam masa Wanaprastha ini kegiatan yang banyak dilakukan adalah memusatkan pikirannya hanya kepada Tuhan. Mereka juga sudah melaksanakan tapa, bratha, yoga, dan semadhi.

1 komentar: