Google+

Pajeng Kober Umbul-umbul dan Lelontekan

Pajeng Kober Lelontekan

Pajeng kober dan lelontekan

KOBER (Bendera)

Bendera atau kober ini tidak sama dengan bendera biasa melainkan pada ujung bendera ini berisi tombak dan berisi gambar Anoman yang disebut Sang Marutsuta. Bendera ini merupakan simbul angin sebagai pelindung dan berada pada urutan ke empat setelah umbul-umbul kalau diidentifikasikan dengan sastra maka, sastranya " Mangkara."


Tedung

PAJENG atau TEDUNG (payung)

Pajeng atau payung biasanya berada pada urutan terakhir pada saat upacara Bethara melasti ke segara. Payung memayungi pretima atau daksina pelinggih Ida Bethara yang akan melasti ke segara atau danau. Pajeng merupakan simbul windu atau sunia sebagai kekuatan Siwa, kalau diidentifikasikan terhadap sastra maka sastranya " Ongkara ". 

Memayungi pratima mengandung pengertian bahwa Sanghyang Siwa yang bermanefestasi menjadi para Dewa yang disimbulkan dengan arca atau pratima, atau dibawah naungan Sang Hyang Widhi.

Umbul-umbul

UMBUL-UMBUL

Perangkat upacara ini berbentuk umbul-umbul bergambar seekor naga (Naga Gombang) yang merupakan simbul air sebagai simbul kekuatan Dewa Wisnu yang juga berfungsi sebagai simbul penjaga. Umbul-umbul ini berada dalam urutan ketiga setelah bandrang dan tombak, sastranya " Ungkara ".


Umbul-umbul” adalah sejenis bendera Hindu Bali dengan tinggi 5 sampai 10 meter, berlukiskan naga yang sangat dekoratif dan agung. Sering ditempatkan di area Pura-Pura atau digunakan sebagai sarana dalam parade prosesi Hindu Bali. Umbul-umbul adalah salah satu perangkat dalam sebuah tempat suci/Parhyangan.

Dilihat dari bentuknya yang unik dan menarik memberikan inspirasi pada masyarakat untuk membuat padanannya sehingga dimungkinkan untuk digunakan dalam konteks yang bersifat profan. Secara kasat mata dengan dipancangkannya umbul-umbul lebih memberi kesan kemeriahan suasana. Inilah mungkin salah satu alasan diadopsinya umbul-umbul walau dalam bentuk dan aksesoris yang berbeda untuk kepentingan di luar kegiatan seremonial religius Hindu. Sepanjang tidak menyertakan idiom-idiom Hindu hal tersebut sah-sah saja dilakukan. Umbul-umbul dalam agama Hindu adalah benda yang suci dan disakralkan.

Hal ini disebabkan oleh karena umbul-umbul mempunyai mythologinya sendiri yaitu yang tersurat dalam kitab Itihasa dalam epos besar Mahabharata, pada kisah Arjuna Pramada yaitu diceritakan Prabu Yudistira bermaksud membuat istana yang indah maka disuruhlah adik-adiknya mencari contoh istana yang bisa akan ditiru. Dalam persidangan Arjuna melaporkan bahwa konon istana yang sangat indah yaitu istana Alengka, tempat Dewi Sita ditawan oleh Rahwana. Keindahannya tak terlukiskan oleh kata-kata. Akhirnya Yudistira mengutus Arjuna untuk pergi ke sana, Arjuna meininta bantuan Sri Kresna untuk mengantarkannya dalam perjalanan menuju Alengka. Setelah sampai di tepi pantai menyeberang ke Alengka, maka dilihatlah jembatan yang dahulu dibuat oleh bala bantuan tentara kera dari Sri Rama. Setelah melihat jembatan itu. Sri Kresna terkenang pada penjelmaannya yang dahulu pada waktu beliau bereinkarnasi lahir sebagai Rama dan teringat serta rindu pada kesetiaan Hanoman, kerinduan ini menyebabkan Hanoman yang sedang bertapa tertarik oleh kerinduan Sri Kresna (reinkarnasi Wisnu) dan datang kehadapan Sri Kresna. Di lain pihak Arjuna berkata kepada Sri Kresna “Kanda saya tidak percaya pada kehebatan Hanoman dan para kera lainnya yang dikatakan begitu sakti, mengapa membuat jembatan seperti ini harus mengambil waktu beberapa hari. Saya dalam sekejap saja dapat membuatnya”. Kata-kata Arjuna ini didengar oleh Hanoman dan berkata “Ya Arjuna, bala tentara Sang Rama adalah banyak sekali, sebab itu kaini membuat jembatan yang kokoh”. Arjuna menjawab “Saya bisa membuat jembatan yang kokoh, barang siapa yang bisa mematahkan jembatan saya, saya akan sembah”. Kalau begitu cobalah kata Hanoman. Arjuna mengambil panah naganya dan begitu dilontarkan seketika menjadi jembatan yang kokoh sejajar dengan jembatan yang telah ada. Hanoman meloncat ke atas jembatan itu maka patahlah jembatan itu. Sri Kresna melihat kejadian itu, lalu melepaskan panahnya sehingga jembatan itu kembali sebagaimana semula dan Hanoman-pun mencoba untuk mematahkan, tetapi tidak bisa. Sadarlah Hanoman yang dihadapinya itu adalah junjungannya Rama Dewa, yang lahir kembali menjadi Sri Kresna lalu mendekatinya mau menyembahnya. Sebaliknya Arjuna mendekati Hanoman untuk menyembahnya, karena jembatan yang dibuat Arjuna telah bisa dipatahkan oleh Hanoman, tetapi Hanoman menolak dengan mengatakan manusia tidak boleh menyembah binatang, karena dia masih berupa monyet. Arjuna berkeras untuk menyembah, dengan mengatakan “Saya adalah ksatria Pandawa, saya tidak boleh ingkar pada kata-kata saya”.

Perdebatan ini akhirnya diketengahi oleh Sri Kresna dengan manasehatkan Arjuna bahwa jangan merasa diri sakti, karena tidak ada makhluk di dunia ini yang sakti, hanya Hyang Widhilah yang maha sakti, dan hanya Beliaulah yang patut disembah. Namun agar hutang sembah Arjuna bisa dilunasi, maka dikutuklah jembatan yang dibuat Arjuna itu menjadi umbul-umbul, dengan pesan agar manusia jangan takabur seperti Arjuna. Maka di manapun ada Parhyangan atau Pelinggih Dewa, maka dimukanya dipancangkan umbul-umbul dan kober (bendera) bergambar wanara. Dengan demikian, orang akan selalu ingat dengan peristiwa Arjuna dengan Hanoman, dan dengan menyembah di hadapan Parhyangan maka umbul-umbul dan bendera Hanomanpun ikut tersembah sebagai penebus janji bagi Arjuna.

Untuk meyakinkan peristiwa itu, maka umbul-umbul itu dihiasai dengan gambar naga (panah naga dari Arjuna) dan gambar wanara yaitu gambar Hanoman. Pesan yang hendak disampaikan dalam mythologi ini adalah sebagai manusia hendaklah tidak hidup dalam kesombongan karena akan membawa dampak negatif dalam diri sendiri dan orang lain.

Tombak atau bandrang

BANDRANG

Perangkat upacara ini berbentuk sebuah tombak hanya berisi bulu dari atas ke bawah sepanjang kira-kira setengah meter. Bandrang ini merupakan simbul kekuatan Dewa Brahma, disamping itu desertai lagi satu macam tombak yang berbentuk senjata dewata nawa sanga. Semuanya itu merupakan simbul api sebagai pengawal, dan kalau diidentifikasikan terhadap Widhi Sastra maka merupakan simbul sastra " Angkara". Bandrang dan tombak yang lain berada dalam urutan kedua setelah tebu pada upacara pemelastian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar