Google+

Klaim Hare Krishna: Tiga Aspek Tuhan (Brahman, Paramatma dan Bhagawan)

Menjawab Klaim Hare Krishna
Tiga Aspek Tuhan (Brahman, Paramatma dan Bhagawan)

Tiga Aspek Tuhan Bukan Berarti Tiga Tingkatan Tuhan

Hare Krishna mengajarkan bahwa Tuhan memiliki tiga aspek, yaitu Brahman, Paramātmā, dan Bhagavān. Mereka mendasarkan ajaran ini pada Bhāgavata Purāṇa 1.2.11:

vadanti tat tattva-vidas tattvaṁ yaj jñānam advayam
brahmeti paramātmeti bhagavān iti śabdyate

“Para bijaksana menyebut Kebenaran Mutlak yang satu sebagai Brahman, Paramātmā, atau Bhagavān.”

Dari ayat ini kemudian berdasarkan Pemahaman Hare Krishna, mereka menarik kesimpulan bahwa:

  • Brahman hanyalah cahaya yang tidak bersifat pribadi.
  • Paramātmā hanyalah perluasan Krishna.
  • Bhagavān adalah bentuk tertinggi, yaitu Krishna sendiri.
  • Brahman dan Paramātmā hanyalah realisasi yang belum sempurna.

Persoalannya, Bhāgavata Purāṇa 1.2.11 sama sekali tidak mengatakan demikian.

Ayat tersebut hanya mengatakan bahwa Kebenaran Mutlak yang satu disebut dengan tiga istilah yang berbeda, tanpa menetapkan bahwa salah satunya lebih rendah atau lebih tinggi dari yang lain.

Brahman, Paramatma dan Bhagawan

1. Apakah Brahman Hanya Pancaran Cahaya Krishna?

Bhakta Hare Krishna atas nama Ajaran Veda menulis:

Brahman adalah cahaya (energi) yang berasal dari pribadi Krishna.

Mereka kemudian mengutip Brahma-saṁhitā 5.40 dan Bhagavad Gītā 14.27.

yasya prabhā prabhavato jagad-aṇḍa-koṭi-koṭiṣv aśeṣa-vasudhādi vibhūti-bhinnam tad brahma niṣkalam anantam aśeṣa-bhūtaṁ govindam ādi-puruṣaṁ tam ahaṁ bhajāmi

Bhakta hare krishna mengartikan sloka tersebut: Hamba sembah Govinda, Tuhan yang asli yang cahaya badanNya adalah BRAHMAN yang tidak terwujud nyata dan serba meliput. (uraian dalam kitab upanisad) dalam materi pandangan, brahman nampaknya sebagai kenyataan yang tidak terbatas, tidak terbagi bagi, dan ada di mana mana. (BS 5.40)

"Brahmano hi pratistaham" artinya Aku adalah pondasi brahman yang tidak terwujud secara nyata. (BG.14.27)

MASALAHnya, DEFINISI tersebut tidak pernah diberikan oleh Upaniṣad (sruti).

Sebaliknya, Upaniṣad mengartikan Brahman sebagai realitas tertinggi.

Misalnya,

satyam jñānam anantaṁ brahma

(Taittirīya Upaniṣad 2.1)

Brahman adalah Kebenaran, Pengetahuan, dan Tak Terbatas.

Tidak ada kata: cahaya yang keluar dari tubuh Krishna.”

Demikian pula,

sarvaṁ khalv idaṁ brahma

(Chāndogya Upaniṣad 3.14.1)

Sesungguhnya seluruh alam ini adalah Brahman.

BUKAN seluruh alam hanyalah sinar tubuh Krishna.”

Jadi definisi HK berasal dari teologi Gaudiya, bukan dari definisi asli Upaniṣad.


2. BG 14.27 Tidak Mengatakan Brahman Adalah Energi Krishna

Bhakta Hare Krishna mengutip

brahmaṇo hai pratiṣṭhāham

lalu menerjemahkan

"Aku adalah Brahman."

Padahal kata: pratiṣṭhālebih tepat berarti: dasar, landasan, fondasi, tempat tegaknya.

Ayat itu tidak mengatakan: Brahman adalah energi tubuh-Ku.

Justru ayat itu menunjukkan hubungan ontologis antara Brahman dan Kṛṣṇa, bukan hubungan fisik berupa pancaran cahaya.

Seluruh kalimat "Brahman adalah cahaya badan Krishna" TIDAK PERNAH muncul dalam Bhagavad Gitā.


3. Paramātmā Bukan "Duplikat Krishna"

Ajaran Veda Bhakta Hare Krishna menulis: "Paramātmā adalah perbanyakan pribadi Krishna."

Namun Bhagavad Gitā tidak pernah memakai istilah tersebu"Perbanyakan Krishna."

Yang dikatakan Gītā adalah

īśvaraḥ sarvabhūtānāṁ hṛddeśe 'rjuna tiṣṭhati

(BG 18.61)

Tuhan bersemayam di hati semua makhluk.

Demikian pula

sarvasya cāhaṁ hṛdi sanniviṣṭaḥ

(BG 15.15)

Aku bersemayam dalam hati semuamakhluk.

Perhatikan.

Tidak ada istilah "Aku membuat salinan diriku."

Yang ada hanyalah Tuhan hadir di semua makhluk.


4. Bhagawan Tidak Pernah Didefinisikan Sebagai Krishna Saja

Pengikut Hare Krishna sering menyatakan: Bhagawan berarti Krishna sendiri.

Padahal dalam Mahābhārata banyak tokoh yang disebut Bhagavān.

Misalnya

  • Bhagavān Vyāsa
  • Bhagavān Kapila
  • Bhagavān Nārāyaṇa
  • Bhagavān Śiva

Bahkan di Bhagavad Gitā sendiri, kata śrī bhagavān uvāca adalah gelar kehormatan.

Kata Bhagavān secara bahasa berarti Yang memiliki bhaga (kemuliaan ilahi), bukan nama eksklusif satu tokoh sejarah.


5. Analogi Matahari Tidak Ada Dalam Bhagavad Gitā

Hare Krishna memakai analogi

  • sinar matahari
  • bola matahari
  • dewa matahari

untuk menjelaskan: Brahman → Paramātmā → Bhagavān.

Analogi ini menarik secara pedagogis. Tetapi pembaca harus mengetahui bahwa analogi tersebut bukan berasal dari Bhagavad Gitā.

Demikian pula analogi

  • bukit,
  • kereta api,

adalah ilustrasi modern untuk guru GaudiyaBukan ajaran jemaat Veda.


6. Brahman Tidak Pernah Disebut "Realisasi Rendah"

Pengikut Hare Krishna menyatakan: Jñānī hanya mencapai Brahman.

Padahal Upaniṣad justru mengatakan

brahmavid āpnoti param

Orang yang mengenal Brahman mencapai Yang Tertinggi. 

(Taittirīya Upaniṣad 2.1)


Tidak dikatakan "baru mencapai tahap pertama."


7. Bhagavad Gitā Mengajarkan Kesatuan, Bukan Hierarki

Bhagavad Gitā justru berkali-kali mengajarkan

yo māṁ paśyati sarvatra

Siapa yang melihat Aku di mana-mana... (BG 6.30)

dan

vidyā-vinaya-sampanne... sama-darśinaḥ

Orang bijaksana melihat semuanya dengan pandangan yang sama. (BG 5.18)

Arah ajaran Gītā adalah melihat Yang Esa di dalam segala sesuatu.

Bukan menyusun tingkatan realisasi: Brahman Paramātmā Bhagavān.


Kesimpulan Tiga Aspek Tuhan Bukan Berarti Tiga Tingkatan Tuhan

Bhāgavata Purāṇa 1.2.11 memang menyebut tiga istilah: Brahman, Paramātmā, dan Bhagavān. Namun ayat itu hanya menyatakan bahwa para bijaksana menyebut Kebenaran Mutlak yang satu dengan tiga nama tersebut. Ayat itu tidak meninggikan hierarki , tidak mengatakan Brahman hanyalah cahaya tubuh Krishna, tidak menyebut Paramātmā sebagai “duplikasi” Krishna, dan tidak membatasi Bhagavān hanya pada satu pribadi historis.

Sebaliknya, Śruti mengartikan Brahman sebagai realitas tak terbatas ( satyam jñānam anantaṁ brahma ), Bhagavad Gītā mengajarkan Tuhan hadir di hati semua makhluk tanpa konsep "perbanyakan pribadi", dan Mahābhārata menggunakan gelar Bhagavān bagi lebih dari satu tokoh suci. Oleh karena itu, banyak penjelasan Hare Krishna dalam narasi tersebut merupakan penafsiran khas teologi Gaudiya Vaiṣṇava , bukan pernyataan eksplisit dari Veda, Upaniṣad, atau Bhagavad Gītā sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar