Apakah Nama Dewa Bisa Membawa ke Brahman?
Antara Nama dan Hakikat
Banyak tradisi mengajarkan bahwa menyebut nama-nama suci seperti “Rāma”, “Kṛṣṇa”, “Śiva”, atau “Nārāyaṇa” sudah cukup untuk membebaskan jiwa dari samsāra. Nama dianggap sakti, dan pengulangan (japa) dianggap sebagai tiket menuju mokṣa. Tapi pertanyaannya: apakah nama dewa itu sendiri cukup untuk menyadari Brahman yang nirākāra dan nirguṇa?
1. Nama Adalah Simbol, Bukan Realitas Mutlak
Nama-nama dewa adalah vyavahārika-satyam (kebenaran konvensional), bukan pāramārthika-satyam (kebenaran mutlak). Nama adalah penanda, bukan yang ditandai.
"nāma rūpaṁ ca bhidyete" – Chāndogya Upaniṣad 6.3.2
“Nama dan bentuk adalah dualitas yang muncul dari Brahman.”
Artinya, baik nama maupun bentuk adalah manifestasi dari Māyā. Brahman sendiri melampaui nama (anāma) dan tanpa bentuk (arūpa). Maka, menyebut nama dewa hanyalah permulaan, bukan realisasi tertinggi.
2. Japa Tanpa Pengetahuan Adalah Seperti Mengulang Nama Kosong
Japa memang penting sebagai sādhana, tapi jika dilakukan tanpa pengetahuan tentang hakikat atman dan Brahman, maka ia hanyalah pengulangan mekanis.
Dalam Muṇḍaka Upaniṣad 1.2.7, dikatakan:
"yasya deve parā bhaktir yathā deve tathā gurau"
“Bagi yang memiliki bhakti yang mendalam pada Tuhan dan juga pada guru, maka akan terungkap pengetahuan Veda padanya.”
Tapi bhakti di sini bukan sekadar memuja nama, melainkan cinta mendalam pada yang tak bernama, tak berbentuk, dan tak tercerap. Nama hanya jembatan—jangan sampai jembatan disembah, tapi tujuan dilupakan.
3. Nama Dewa Dapat Menuntun, Tapi Tidak Menyatu
Nama-nama dewa seperti Hari, Śiva, Rāma, Nārāyaṇa bisa menjadi pengantar batin. Tapi untuk mencapai Brahman, seseorang harus melampaui semua bentuk pemisah, termasuk identitas nama itu sendiri.
"nāma-rūpe vyākaravāṇi" – Taittirīya Upaniṣad 2.6.1
“Aku menjelaskan nama dan bentuk (sebagai pernyataan Brahman).”
Tapi sloka ini berlanjut untuk menegaskan bahwa setelah nama dan bentuk dipahami, kita harus melampaui keduanya untuk mencapai satyam, kebenaran sejati. Maka, nama dewa adalah tangga, bukan puncak.
4. Penyebutan Nama Tanpa Pemahaman Bisa Memperkuat Dualitas
Dalam sistem Advaita, segala yang memisahkan antara “aku” dan “Dia” adalah bagian dari avidyā (ketidaktahuan). Ketika kita terus-menerus menyebut “Kṛṣṇa”, “Śiva”, atau “Guru” sebagai entitas luar, kita sedang menegaskan perbedaan antara diri dan Tuhan.
Sebaliknya, Ṛṣi dalam Upaniṣad tidak menyebut nama, tapi mencari hakikat Diri.
"ahaṃ brahmāsmi" – Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad 1.4.10
“Aku adalah Brahman.”
Tidak ada nama. Tidak ada pemisah. Hanya kesadaran murni yang menyadari dirinya sendiri.
5. Mengapa Ṛṣi Tidak Mengandalkan Nama-Nama?
Ṛṣi-ṛṣi zaman dahulu tidak duduk berjapa “Rāma Rāma” atau “Kṛṣṇa Kṛṣṇa” siang malam. Mereka duduk dalam keheningan (mauna), dhyāna, dan ātma-vicāra (penyelidikan Diri).
"na tatra vāg gacchati na manaḥ" – Taittirīya Upaniṣad 2.9.1
“Ke sana (Brahman), kata dan pikiran pun tak dapat mencapai.”
Jika kata pun tak bisa menjangkaunya, maka bagaimana mungkin nama dapat menjadikannya satu? Nama mungkin dapat membawa rasa bhakti, tapi bukan realisasi non-dualitas.
6. Jika Nama Bisa Membawa ke Brahman, Mengapa Tidak Semua yang Berjapa Tercerahkan?
Jutaan orang menyebut nama Tuhan setiap hari, tapi hanya sedikit yang menyadari Diri. Mengapa? Karena japa yang tidak disertai viveka (kebijaksanaan), vairāgya (pelepasan), dan śraddhā (keyakinan pada hakikat Brahman) hanyalah aktivitas lidah.
Meditasi yang mendalam dan kesadaran yang melebur dalam ātman jauh lebih transformasional daripada ribuan pengulangan nama tanpa kesadaran.
Gunakan Nama Sebagai Gerbang, Tapi Masuklah ke Keheningan
Nama dewa bukanlah jalan akhir, tapi tangga menuju kesadaran yang melampaui nama. Jangan berhenti di suara. Masuklah ke diam yang mengungkapkan hakikat Brahman.
"Om iti etad akṣaram idam sarvaṁ" – Māṇḍūkya Upaniṣad 1.1
“Om adalah seluruh eksistensi.”
Tapi Om bukan Tuhan. Ia adalah penunjuk. Dan bahkan Om pun harus dilewati untuk menyatu dengan Turiya—kesadaran murni tanpa nama, tanpa bentuk, tanpa dualitas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar