Kṛṣṇa sebagai Puruṣottama dalam Mahābhārata: Analisis Filosofis Berdasarkan Adi Parva
Dari Puruṣa ke Puruṣottama
Dalam filsafat Vedānta, dikenal konsep Puruṣa sebagai realitas tertinggi: eksistensi murni yang melampaui atribut, nirguṇa brahman. Namun, Mahābhārata, khususnya Adi Parva, tidak hanya membahas Puruṣa dalam tataran metafisika abstrak. Ia hadir dalam bentuk yang dinamis, personal, dan interaktif dengan dunia. Sosok agung ini kemudian disebut Puruṣottama – "Puruṣa yang paling utama, paling sempurna."
Makalah ini menelusuri bagaimana Adi Parva menyusun kerangka teologis sejak awal narasi, dan menempatkan Kṛṣṇa sebagai Puruṣottama, bukan semata karena kehebatannya dalam perang, tetapi karena ia adalah pengejawantahan tertinggi dari prinsip kosmik itu sendiri.
Menegaskan Hirarki Kosmis
Ādyaṁ puruṣam īśānaṁ puruhūtaṁ puruṣṭtutam
ṛrtam ekākṣaraṁ brahma vyaktāvyaktaṁ sanātanam (MBh 1.1.20)
"Ia adalah puruṣa pertama (ādyaṁ puruṣam), penguasa tertinggi (īśānaṁ), yang dipuja para dewa (ūpuru-hūtaṁ), yang diagungkan oleh semua (ūpuruṣṭtutam), kebenaran kosmis (ṛrtam), satu aksara OM (ekākṣaram), Brahman yang mencakup yang termanifestasi dan tidak (vyakta–avyaktaṁ), serta kekal abadi (sanātanam)."
Sloka ini memperkenalkan kita pada keberadaan absolut – bukan dewa personal, tapi realitas tunggal yang menyeluruh. Ia adalah nirguṇa brahman yang mengandung semua potensi penciptaan.
Dari Nirguṇa ke Saguṇa: Para Dewa Muncul dari Puruṣa
Maṇgalyaṁ maṇgalaṁ viṣṇuṁ vareṇyam anaghaṁ śucim
Namaskṛtya Hṛṣīkeśaṁ carācaraguruṁ harim (MBh 1.1.22)
"Yang membawa berkah (maṇgalyaṁ), Viṣṇu yang layak dipuja (vareṇyam), tanpa cela dan murni (anaghaṁ śucim). Aku bersujud kepada Hṛṣīkeśa (penguasa indra), guru dari semua makhluk (carācara-guruṁ), yaitu Hari."
Setelah mendefinisikan Puruṣa dalam bentuk nirguṇa, teks Mahābhārata beralih memperkenalkan Viṣṇu sebagai bentuk saguṇa brahman, realitas ilahi yang dapat didekati dan dipuja. Viṣṇu bukan hanya personifikasi kekuatan, tetapi juga panduan bagi semua makhluk.
Yasmāt pitāmaho jajñe prabhur ekaḥ prajāpatiḥ
Brahmā suraguruḥ sthāṇur manuḥ kaḥ parameṣṭhy atha (MBh 1.1.30)
"Dari-Nya muncul Pitāmaha (Brahmā), sang prajāpati tunggal, guru para dewa, keteguhan (Sthāṇu/Śva), Manu, Kaḥ (Tuhan yang tak terlukiskan), dan Parameṣṭhin."
Semua entitas agung lahir dari satu asal: Puruṣa. Kaḥ merujuk pada Tuhan dalam bentuk misteri, tak terdefinisi. Ini mengokohkan bahwa Puruṣottama adalah sumber dari segala bentuk eksistensi.
Vāsudeva dan Para Pāṇḍava sebagai Manifestasi Dharma
Vāsudevasya māhātmyaṁ pāṇḍavānāṁ ca satyatām
Durvṛttaṁ dhārtarāṣṭrāṁām uktavān bhagavān ṛṣiḥ (MBh 1.1.60)
"Sang bhagavān ṛṣiḥ (Vyāsa) menyampaikan keagungan Vāsudeva (Kṛṣṇa), kebenaran dan ketulusan para Pāṇḍava, serta perilaku jahat para keturunan Dhṛtarāṣṭra."
Ini adalah deklarasi moral dan spiritual yang memperkuat bahwa narasi Mahābhārata adalah drama kosmik antara Dharma dan Adharma. Vāsudeva adalah pusat etis dan metafisik cerita.
Kṛṣṇa sebagai Puruṣottama secara Eksplisit
Pratipede mahābāhuḥ saha rāmeṇa keśavaḥ
Vṛṣṇyandhakamahābhojaiṇ saṁvṛtaḥ puruṣottamaḥ (MBh 1.214.59)
"Keśava (Kṛṣṇa) yang berlengan kuat (mahābāhuḥ), datang bersama Rāma, dikelilingi oleh para Yādava dan disebut sebagai Puruṣottama."
Ete cānye ca bahavo devās tau puruṣottamau
Kṛṣṇa pārthau jighāṁsantaḥ pratīyur vividhāyudhāḥ (MBh 1.218.37)
"Para dewa dengan berbagai senjata mendekat untuk menyerang dua Puruṣottama: Kṛṣṇa dan Pārtha (Arjuna)."
Kedua sloka ini menyematkan gelar Puruṣottama secara eksplisit pada Kṛṣṇa, dan bahkan dalam konteks perang besar, gelar ini dibagi dengan Arjuna. Dalam konteks ini, Kṛṣṇa adalah Nārāyaṇa, dan Arjuna adalah Nara — pasangan abadi dalam peran ilahi mereka.
Kesimpulan: Mahābhārata sebagai Wahyu tentang Puruṣottama
Adi Parva bukan hanya pengantar cerita. Ia adalah fondasi metafisik dan teologis yang memperkenalkan Puruṣottama sejak awal. Dari Puruṣa yang bersifat nirguṇa, menjadi Viṣṇu yang saguṇa, lalu menjelma sebagai Kṛṣṇa — yang bukan sekadar manusia agung, tetapi realitas tertinggi yang menjelma demi menjaga Dharma.
Dalam filsafat Vedānta, pengenalan Brahman sebagai ekākṣara dan ṛtam dipadukan dalam Mahābhārata dengan narasi epik. Di sinilah spiritualitas dan sejarah menyatu. Dan melalui figur Kṛṣṇa — sang Puruṣottama — Mahābhārata menjadi bukan hanya epos, tetapi juga wahyu agung yang mengajarkan manusia tentang hakikat Ilahi yang hadir di tengah-tengah dunia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar