Google+

Kṛṣṇa Sendiri Bilang: Aku Tak Terlihat, Tapi Kau Sembah Wajahku

Kṛṣṇa Sendiri Bilang: Aku Tak Terlihat, Tapi Kau Sembah Wajahku

(Menguak rahasia sloka Bhagavad Gītā 9.11 dan 7.25 untuk membongkar bhakti yang tersesat dalam rupa)

Kamu pernah merasa ada yang janggal ketika seseorang disembah sebagai Tuhan hanya karena dia punya aura kuat, bisa bicara lembut, dan katanya sakti?

Atau mungkin kamu sering dengar:

“Yang penting Kṛṣṇa, gak usah pakai logika, dia itu Tuhan pokoknya!”

Tapi... tunggu dulu... inilah Kesadaran Krishna Dibungkus Casing Manusia, terbuat oleh kalimat "Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabdha". Coba pikirkan kembali... 



Zaman sekarang, banyak yang gampang terpesona dengan penampilan luar. Sosok yang karismatik, bisa menari, bicara manis, atau punya pengikut banyak... langsung dianggap titisan Tuhan.
Lalu, muncul pernyataan:

"Kṛṣṇa adalah Tuhan. Lihat, Dia lahir sebagai manusia tapi tetap disembah. Kenapa yang lain tidak boleh?"

Eits, tunggu dulu.
Apa benar Tuhan bisa dibungkus tubuh manusia biasa?
Apakah karena bisa dilihat dan disentuh, lalu otomatis layak disembah?

Nah, mari kita dengerin sendiri dari Kṛṣṇa melalui Bhagavad Gītā:

📜 Bhagavad Gītā 9.11

avajānanti māṁ mūḍhā mānuṣīṁ tanum āśritam
paraṁ bhāvam ajānanto mama bhūta-maheśvaram

“Orang bodoh meremehkan Aku ketika Aku tampil dalam tubuh manusia (mānuṣīṁ tanum), karena mereka tidak mengenal hakekat-Ku yang transendental, sebagai Penguasa seluruh makhluk.”

🔥 Sloka ini keras dan gamblang. Yang melihat Tuhan hanya dari casing luarnya—yaitu tubuh manusia—adalah mūḍhāḥ alias tertipu oleh kebodohan.

🧠 Realita yang Sering Diabaikan

Kṛṣṇa memang muncul di dunia. Tapi Dia bilang sendiri: “Aku ini tak lahir dan tak berubah”.

nāhaṁ prakāśaḥ sarvasya yoga-māyā-samāvṛtaḥ
mūḍho ’yaṁ nābhijānāti loko mām ajam avyayam
Bhagavad Gītā 7.25

“Aku tidak tampak oleh semua orang, karena tertutupi oleh yoga-māyā. Dunia yang bodoh tidak mengenal-Ku sebagai yang tak lahir dan tak berubah.”

Jadi tubuh Kṛṣṇa yang kamu lihat—itu bukan hakikat-Nya yang sejati. Yang sejati adalah ātman atau Kesadaran Tak Terlahirkan. Tubuh bisa lahir, dewasa, tua, dan mati. Tapi Kesadaran? Ia abadi dan melampaui perubahan.

🔥 Upaniṣad: Jangan Tertipu Bentuk!

Para resi Upaniṣad juga memperingatkan dari ribuan tahun lalu:

na tasya pratima asti
"Tidak ada bentuk, patung, atau representasi yang bisa menggambarkan-Nya."
Śvetāśvatara Upaniṣad 4.19

Tuhan bukan wajah yang kamu lihat di altar. Bukan tokoh dengan nama terkenal. Dia adalah saksi hening dalam dirimu sendiri.

prajnānam brahma
"Kesadaran itu adalah Brahman."
Aitareya Upaniṣad 3.1.3

💔 Fanatisme Buta: Bhakti Tanpa Jñāna

Banyak yang mengaku cinta Tuhan, tapi tak mau belajar sloka, tak mau bertanya, bahkan anti logika. Padahal bhakti itu harus didampingi jñāna (pengetahuan). Tanpa jñāna, bhakti jadi fanatisme.

tam eva dhīro vijñāya prajñāṁ kurvīta brāhmaṇaḥ
"Orang bijak mendalami Tuhan melalui pengetahuan."
Muṇḍaka Upaniṣad 2.2.8

Kalau kamu benar-benar cinta Kṛṣṇa, pahami ajarannya—bukan cuma poster-Nya.

✨ Kembali ke Hakikat

Kṛṣṇa yang sejati bukan tubuhnya. Dia adalah manifestasi Brahman, hadir untuk membimbing manusia menuju kebebasan sejati. Tapi jika kamu terjebak pada tubuh-Nya, kamu akan melewatkan pesan-Nya.

Tuhan tidak bisa dijual lewat stiker, nyanyian viral, atau klaim “aku adalah Dia.”
Tuhan hanya bisa ditemukan oleh yang berani menyelam ke dalam Kesadaran, melampaui semua bentuk.

yo vai bhūmā tat sukham
"Yang Mahaluas adalah kebahagiaan sejati. Dalam yang kecil dan terbatas tidak ada kebahagiaan."
Chāndogya Upaniṣad 7.23.1

Kalau kamu haus yang sejati, jangan cari Tuhan di luar dulu.
Cari dulu Dia yang diam di hatimu.
Dan jangan sampai tertipu oleh casing manusia yang mengaku Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar