Google+

Mengapa Pengetahuan Diri Tidak Pernah Diajar dalam Purāṇa?

Mengapa Pengetahuan Diri Tidak Pernah Diajar dalam Purāṇa?

Jika Tujuan Spiritual Adalah Realisasi Diri, Kenapa Cerita Justru Mendominasi?


Purāṇa selalu penuh dengan:

  • Kisah kelahiran dan kematian dewa

  • Pertempuran kosmis antara dharma dan adharma

  • Puja-puji dan mukjizat dari tokoh-tokoh “avatāra”

  • Pemuliaan tokoh tertentu sebagai Tuhan

Tapi mari kita tanya dengan jujur:

Di mana dalam Purāṇa diajarkan “tat tvam asi”?
Di mana dijelaskan bahwa jīva = Brahman?
Di mana pembaca diajak menyelidiki “Siapa Aku”?

Jawabannya: Tidak ada.


Pengetahuan Diri Hanya Diajarkan dalam Sruti (Upaniṣad)

Upaniṣad mengajarkan:

“tat tvam asi”Chāndogya Upaniṣad 6.8.7
“Engkau adalah Itu (Brahman).”

“ayam ātmā brahma”Māṇḍūkya Upaniṣad 1.2
“Diri ini adalah Brahman.”

“neti neti”Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad 2.3.6
“Bukan ini, bukan itu.”

“ātmanam eva vijānīyāt”Taittirīya Upaniṣad 2.1
“Seseorang harus mengenali Diri sejatinya.”

Sementara Purāṇa tidak memiliki ajaran semacam ini. Yang mereka miliki hanyalah narasi—kisah, bukan realisasi.


Purāṇa Bertujuan Edukatif-Ritualistik, Bukan Transenden

Tujuan utama Purāṇa adalah:

  • Menyebarkan nilai moral kepada awam

  • Mengajarkan bentuk ibadah rakyat

  • Mempopulerkan kisah-kisah dewa sebagai model etis

Mereka ditulis ribuan tahun setelah Veda dan Upaniṣad, dan tidak dimaksudkan untuk:

  • Menjelaskan Tattva (realitas mutlak)

  • Mencapai Nirvikalpa Samādhi

  • Menghancurkan dualitas antara penyembah dan Tuhan

Maka wajar jika kamu tidak pernah melihat tokoh dalam Purāṇa mencapai mokṣa melalui penyelidikan “siapa aku”.


Sekte yang Berbasis Purāṇa Menghindari Pengetahuan Diri

Contoh nyata:
Hare Krishna hanya mengajarkan:

  • Pengulangan nama Krishna

  • Penyerahan diri pada Krishna

  • Penolakan terhadap jñāna karena dianggap “kering”

Sai Baba menekankan:

  • Pengabdian pribadi

  • Keyakinan bahwa dirinya adalah Viṣṇu

  • Mistik dan pertunjukan karisma

Tak satu pun mengajarkan renungan mendalam terhadap Ātman, karena landasan mereka adalah kisah, bukan Sruti.


Pengetahuan Diri Mengancam Sekte dan Figur Kultus

Jika seseorang sadar bahwa:

“Aku adalah Brahman,”
maka:

  • Dia tidak lagi butuh guru permanen

  • Dia tidak lagi sujud pada nama tertentu

  • Dia tidak lagi tunduk pada aturan kultus

Itu sebabnya Pengetahuan Diri tidak diajarkan dalam Purāṇa, karena:

Kultus hanya bisa berdiri jika Diri tidak kamu kenali.


Sruti Melampaui Ibadah, Purāṇa Memelihara Ibadah

Upaniṣad berkata:

“na karmaṇā na prajayā dhanena tyāgenaike amṛtatvam ānaśuḥ”
Kaṭha Upaniṣad 2.3.14
“Bukan melalui ritual, keturunan, atau kekayaan seseorang mencapai keabadian, tapi melalui penanggalan (ego).”

Sementara itu, Purāṇa selalu mengajarkan:

  • “Siapa yang menyebut nama Krishna akan ke Vaikuṇṭha”

  • “Puja satu yuga ini akan menghapus dosa”

  • “Melihat avatāra adalah berkah”

Ini semua adalah dogma eksoterik yang mengikat, bukan ajaran pembebas.


Kesimpulan: Kalau Kamu Ingin Diri Sejati, Jangan Cari di Purāṇa

Pengetahuan Diri adalah senjata pemotong maya (ilusi).
Purāṇa hanya membangun cerita di dalam maya.

Jika kamu ingin:

  • Mengenali Tuhan sebagai Ātman

  • Membebaskan diri dari ilusi bentuk

  • Mencapai mokṣa melalui pengetahuan

Maka kamu harus belajar Upaniṣad dan Vedānta,
bukan mengulang kisah Purāṇa, atau menyembah manusia dan tokoh mitologis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar