Google+

Pengantar Bhagavad Gita

Pengantar Bhagavad Gita

oleh IWB Mahendra
Di India kuno, sekitar 3200 tahun yang lalu, konflik antara Pandawa yang saleh dan Korawa yang tidak saleh mencapai titik yang tidak dapat dikompromikan. Ketidakadilan yang dilakukan terhadap lima Pandawa dan istri mereka, Draupadi, oleh Raja Korawa, Duryodhana, telah melampaui batas toleransi. Dewa Krishna, yang selalu berpihak pada Dharma (kebenaran dan kewajiban moral), berusaha untuk mencegah perang dengan menyarankan perdamaian. Krishna memohon kepada Raja Dhritarashtra dan putranya, Duryodhana, untuk memberikan Pandawa hak mereka yang sah atas setengah dari kerajaan Hastinapura.

Namun, keinginan untuk perdamaian gagal, dan perang Mahabharata (atau Kurukshetra) pun ditakdirkan untuk terjadi.

Dalam Dharma-Yuddha (perang untuk kebenaran) ini, terjadi sebuah episode di mana Arjuna, sang pejuang yang hebat dan pemberani, mendapati dirinya tiba-tiba diliputi perasaan depresi mental, kesedihan, dan ketakutan. Ia menyadari bahwa ia harus bertarung melawan kerabat dekatnya — saudara laki-laki, paman, dan guru — yang kini menjadi musuh. Arjuna sangat terganggu dengan kehancuran dan kematian yang pasti akan terjadi akibat perang. Ia berpikir lebih baik mundur ke hutan daripada membunuh orang-orang yang dekat dan disayanginya.

Latar yang dramatis itulah yang menjadi pembuka Bhagavad Gita. Prajurit pemberani Arjuna, dengan Tuhan Krishna sebagai kusirnya, berdiri di antara dua pasukan yang berbaris siap untuk memulai pertempuran. Dalam kegelisahannya, Arjuna meletakkan senjatanya, Gandiva, dan memohon untuk mundur dari medan perang. Gemetar karena gugup dan cemas, ia tidak mampu mengangkat busurnya yang perkasa. Emosinya yang penuh cinta terhadap orang-orang terdekatnya, serta kebingungannya tentang tugas dan Dharma, membuatnya tidak dapat menemukan jalan yang benar dalam situasi yang menegangkan ini.

Arjuna berkata kepada Krishna:
"Bagaimana aku bisa membunuh mereka? Bukankah lebih baik menyerahkan seluruh kerajaan ini, yang berbau darah saudara-saudaraku sendiri, dan pensiun ke hutan dengan damai? O Krishna, aku tidak dapat memutuskan rencana tindakanku selanjutnya. Aku menyerahkan diriku di kaki suci-Mu. O Tuhan, mohon bimbinglah aku melalui ketidakpastian yang sulit ini karena aku adalah murid-Mu dan Engkau adalah Guruku."

Mendengar kegelisahan ini, Krishna memberi teguran keras kepada Arjuna:
"O Yang Berani, mengapa tergila-gila pada saat ini! Mengapa engkau menyerahkan dirimu pada kehinaan dan kepengecutan ini? Jangan berpikir bahwa dengan 'omonganmu yang tinggi tentang pelepasan keduniawian dan pensiun ke hutan' orang-orang akan memujamu dan menyebutmu pemberani dan cerdas. Sebaliknya, selama berabad-abad yang akan datang orang akan menyalahkanmu karena melarikan diri dari medan perang. Dari generasi ke generasi, orang-orang akan menertawakanmu dan mengolok-olok pelarianmu yang tidak jantan."

Shrimad Bhagavad-Gita, Bab II, Ayat 2 dan 3
"Dalam krisis seperti ini, dari mana datangnya kekesalan ini, wahai Arjuna, yang tidak seperti Arya, memalukan, dan bertentangan dengan pencapaian surga?"
"Jangan menyerah pada kehinaan, wahai putra Kunti! Sungguh malang nasibmu. Buanglah sifat pengecut yang kejam ini dan bangkitlah, wahai penghangus musuhmu."

Mendengar teguran ini, Arjuna menenangkan dirinya, dan dialog lebih lanjut antara Dewa Krishna dan Arjuna berlangsung di bab-bab berikutnya. Gita, yang terdiri dari delapan belas bab dan 700 ayat, dimulai dengan konflik internal Arjuna yang menggambarkan pertarungan spiritual manusia dalam menghadapi dilema moral yang besar.

Menurut IWB Mahendra, seorang spiritual kontemporer, Bhagavad Gita bukan sekadar kitab suci yang mengatur aspek moral atau etika, tetapi juga menyajikan sebuah model kehidupan spiritual yang bersifat universal dan timeless. Ia menekankan bahwa Bhagavad Gita adalah dialog batin antara diri yang lebih rendah dengan diri yang lebih tinggi. Bagi IWB Mahendra, Krishna bukan hanya berfungsi sebagai teman atau guru bagi Arjuna, tetapi juga sebagai penuntun jiwa yang membawa Arjuna keluar dari kebingungannya untuk menyadari hakikat sejatinya—Atman (Diri Yang Abadi).

Mahendra menjelaskan bahwa Arjuna dalam pertempuran Kurukshetra, lebih dari sekadar seorang ksatria yang harus bertarung, melainkan ia menggambarkan manusia sejati yang terjebak dalam dilema antara tugas duniawi dan tanggung jawab spiritual. Dalam konteks ini, Arjuna tidak hanya berjuang di medan perang, tetapi juga berjuang melawan ketidaktahuan dan keraguan batin yang ada dalam dirinya. Ini adalah refleksi dari kondisi manusia dalam perjalanan spiritual mereka, di mana kita harus memilih untuk bertindak sesuai dengan Dharma kita, meskipun jalan tersebut penuh dengan tantangan.


Yoga dalam Bhagavad Gita

Arjuna mengajukan banyak pertanyaan kepada Krishna tentang tujuan hidup, hakikat kelahiran manusia, tugas dan kerja (Karma), serta Diri (Atman). Krishna mengajarkan berbagai jenis Yoga, yang meliputi Jnana-Yoga, Raja-Yoga, Karma-Yoga, dan Bhakti-Yoga.

Bab II hingga IX membahas Karma-Yoga — Yoga tindakan tanpa pamrih — berlawanan dengan Jnana-Yoga, Yoga pengetahuan. Krishna menasihati Arjuna untuk berperang tanpa memikirkan akibatnya. Krishna berkata:
"Tugasmu adalah, dan kamu hanya berhak, untuk berperang; kamu tidak memiliki kendali atas hasilnya."
Ini adalah inti dari Karma-Yoga: melakukan pekerjaan tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan hasil.

Orang yang menjalani Karma-Yoga bertugas melakukan pekerjaan sebagai pemujaan, tanpa menginginkan hasil yang pasti darinya. Pekerjaan yang dilakukan dengan sepenuh hati dan kesempurnaan adalah cara terbaik bagi seseorang untuk menyadari Atman, atau Diri yang sejati.

Namun, bagi orang-orang yang tidak memiliki kecenderungan untuk monastisisme atau pelepasan duniawi, Krishna menganjurkan Nishkam Karma (Karma tanpa pamrih) sebagai jalan yang lebih sesuai. Melalui Karma-Yoga, seseorang membersihkan pikiran dan bertumbuh secara spiritual, menuju penyadaran Diri yang lebih tinggi.


Inkarnasi Ilahi (Avatar) dan Dharma

Konsep Inkarnasi Ilahi (Avatar) sangat penting dalam ajaran Gita. Krishna menjelaskan bahwa setiap kali Dharma terancam dan Adharma (ketidakbenaran) merajalela, Tuhan berinkarnasi untuk menegakkan keseimbangan kosmik.

Bab IV, Ayat 7 dan 8 menyatakan:
"O Arjuna, setiap kali ada kemunduran kebenaran, dan ketidakbenaran berada di atas, maka Aku akan membentuk Diri-Ku sendiri."
"Demi perlindungan orang-orang yang berbudi luhur, untuk penghancuran para pelaku kejahatan, dan untuk menegakkan Dharma (kebenaran) di atas landasan yang kokoh, aku dilahirkan dari zaman ke zaman."

Konsep ini menjelaskan bahwa Avatar (inkarnasi Tuhan) datang untuk melindungi yang baik dan menghancurkan kejahatan, serta untuk menegakkan kebenaran di dunia. Dalam konteks ini, Dharma bukan hanya tentang kebenaran moral, tetapi juga pencarian spiritual yang lebih tinggi.


Bhakti Yoga dan Penyerahan Diri

Dalam Bab XII Bhagavad Gita, Arjuna bertanya kepada Krishna tentang Bhakti Yoga (jalan pengabdian):
"O Tuhan, para penyembah,
i) yang pikirannya selalu tertuju kepada-Mu, memuja-Mu sebagai pribadi yang berwujud dan memiliki sifat,
ii) dan mereka yang hanya memuja Brahman yang tidak dapat binasa dan tidak berwujud, di antara mereka yang paling mengetahui Yoga?"

Krishna menjawab bahwa kedua jalur ini dapat membawa seseorang kepada-Nya, namun jalan yang melekat pada Tuhan yang berwujud lebih mudah dijalani. Ia berkata:
"Di sisi lain, mereka yang hanya mengabdikan diri kepada-Ku, dan menyerahkan semua tindakan kepada-Ku, memuja-Ku — sang ilahi yang nyata — terus-menerus bermeditasi kepada-Ku dengan pengabdian yang tulus; mereka ini, wahai Arjuna, akan segera Kuselamatkan dari lautan kelahiran dan kematian."
(Bhagavad Gita, XII, Ayat 6-7)

Krishna menjelaskan bahwa penyembah yang bebas dari niat jahat, yang ramah dan penuh belas kasih, yang bebas dari keegoisan dan gangguan duniawi adalah yang paling disayangi oleh-Nya. Mereka yang melaksanakan Bhakti Yoga dengan sepenuh hati, tanpa pamrih, akan menemukan kedamaian dan pencerahan.


Kesimpulan Bhagavad Gita

Bhagavad Gita adalah ringkasan dari ajaran-ajaran Veda dan Upanishad, yang mengajarkan kita untuk menjalani hidup dengan prinsip Dharma dan Karma yang benar. Dalam Gita, Krishna mengajarkan kepada Arjuna tentang jalan Karma-Yoga (tindakan tanpa pamrih), Bhakti-Yoga (pengabdian tanpa syarat), dan Jnana-Yoga (pengetahuan spiritual) sebagai sarana untuk menyadari Atman, atau Diri yang lebih tinggi.

Krishna juga mengajarkan bahwa penyerahan diri kepada Tuhan tidak hanya berarti pengabdian kepada sosok yang berwujud, tetapi juga pengenalan diri kita yang lebih tinggi melalui kesatuan dengan Brahman. Dengan Bhakti dan Jnana, kita dapat melampaui ego kecil kita dan mencapai Kesadaran Kosmik yang lebih besar.

Akhirnya, Gita mengajarkan bahwa melalui tindakan yang benar, pengabdian yang tulus, dan pengetahuan yang dalam, kita dapat mencapai Pembebasan (Moksha) dan hidup dalam keselarasan dengan alam semesta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar