Tuhan Bukan Wujud: Membongkar Kesalahan Fatal Menyembah Sosok Fisik
“Tuhan tidak membutuhkan tubuh untuk menjadi Tuhan. Tapi manusia membutuhkan bentuk untuk merasa dekat dengan-Nya.” — Dharmātma
Di antara arus spiritualitas modern, banyak yang jatuh dalam ilusi bentuk. Mereka menunjuk satu tokoh—apakah itu Krishna, Sai Baba, atau guru spiritual lain—dan berseru: “Inilah Tuhan!”. Sebagian bahkan membawa sloka-sloka dari Bhagavad Gītā Bab 11 sebagai dalil, menyatakan bahwa karena Krishna memperlihatkan wujud kosmik-Nya, maka Tuhan pasti berwujud.
Tapi apakah benar Tuhan hanya bisa hadir dalam bentuk?
Mari kita bongkar ilusi ini dengan senjata yang paling suci: Sruti.
Wujud Kosmik: Bukan Tuhan Sejati, Tapi Pertunjukan Ilahi
Ketika Arjuna meminta Krishna memperlihatkan Visvarupa, wujud kosmik-Nya (BG 11.3–4), ini bukan karena wujud tersebut adalah bentuk sejati Tuhan, melainkan:
“Engkau tidak dapat melihat Aku dengan mata biasa ini. Maka Aku berikan kepadamu mata ilahi (divya cakṣus).”
— Bhagavad Gītā 11.8
➡️ Artinya? Wujud kosmik itu bukan realitas tertinggi. Ia hanyalah manifestasi yang dibuat agar Arjuna bisa melihat sesuatu yang tak terlihat. Ini seperti film hologram ilahi—megah, ya. Tetapi itu bukan Tuhan sejati.
Tuhan dalam bentuk Vishvarupa hanyalah pertunjukan. Sedangkan Tuhan sesungguhnya tidak bisa dilihat dengan mata biasa, tidak bisa dilukis, tidak bisa dibatasi oleh bentuk.
Sloka Tajam dari Krishna Sendiri: Aku Tak Berwujud!
Mereka yang memuja bentuk fisik harus membaca sloka ini dengan jujur:
“Orang bodoh mengira Aku menjadi wujud ini, padahal Aku yang abadi dan tak terungkap tidak berubah sama sekali.”
— Bhagavad Gītā 7.24
==> Krishna mengatakan hanya orang yang tak mengerti (abuddhayaḥ) yang berpikir bahwa Tuhan bertransformasi menjadi tubuh fisik.
Jadi bagaimana mungkin Krishna (atau siapapun) disebut Tuhan karena Ia memiliki bentuk fisik?
Itu bertentangan langsung dengan kata-kata-Nya sendiri!
Tuhan Itu Nirākāra: Tanpa Bentuk, Tanpa Batas
Dalam Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad, dijelaskan konsep neti neti — "bukan ini, bukan itu". Semua yang bisa dipikirkan, dilihat, atau diraba, bukanlah Brahman. Tuhan sejati melampaui semua nama dan bentuk.
Tuhan bukan satu figur yang bisa difoto, dipeluk, dipuja-puji dalam bentuk jasmani.
Tuhan adalah kesadaran murni yang meliputi dan melampaui segalanya.
“Aku ada di segala tempat, memiliki tangan dan kaki di semua arah, mata dan telinga di mana-mana.”
— Bhagavad Gītā 13.15
==> Ini bukan pujian puitis. Ini adalah penegasan kosmis bahwa Tuhan tidak terbatas pada satu tempat, satu bentuk, satu sosok.
Menyembah Wujud: Kejatuhan dalam Maya
Saat seseorang menyembah satu tokoh sebagai Tuhan mutlak hanya karena melihat bentuknya megah atau “berkharisma,” maka sesungguhnya:
Ia terjerat oleh māyā, ilusi terhebat dari Tuhan sendiri. Karena Tuhan hadir dalam semua bentuk, tapi tidak pernah terbatas oleh bentuk apapun.
Dan yang lebih menyedihkan:
Mereka yang mengkultuskan wujud jasmani, membuang ajaran Sruti, dan menggantikannya dengan khayalan sentimental.
Dharmātma Menyeru:
Jangan sembah yang tampak.
Jangan tangkap Tuhan dengan mata.
Temuilah Dia di dalam keheningan atma-mu sendiri.
Menyembah Krishna bukan berarti menyembah tubuh Krishna.
Menyembah Sai Baba bukan berarti Tuhan tinggal dalam rambut kribo dan jubah oranye.
Mereka yang mencari Tuhan dalam bentuk akan bertemu akhir bentuk itu—dengan kematian, perpecahan, dan keraguan.
Tapi mereka yang menyadari kehadiran Brahman dalam segalanya, dalam kesadaran, dalam keheningan, dalam cahaya dan kegelapan—merekalah yang menemukan Tuhan sejati.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar