Visvarūpa Bukan Alasan Men-Tuhankan Manusia: Telaah Kritis Bhagavad Gītā Bab 11
Di tengah geliat kebangkitan spiritual modern, muncul kembali narasi lama yang menyamakan tokoh manusia tertentu — seperti Sai Baba — dengan Tuhan, berdasarkan tafsir harfiah Bhagavad Gītā, khususnya Bab 11 tentang wujud Viśvarūpa. Narasi ini berangkat dari kesalahan logika dan pemahaman yang keliru terhadap sloka-sloka suci, dan justru menyesatkan pencari spiritual dari hakikat Tuhan yang sejati.
Artikel ini bertujuan membongkar secara filosofis, teologis, dan skriptural, mengapa pemikiran seperti itu tidak hanya keliru secara Vedānta, tetapi juga miskin kedalaman spiritual.
🛑 Kesalahan FATAL: Menyamakan Wujud VISVARUPA dengan Wujud Tuhan Tertinggi
Para pengikut Sai Baba dan ISCKON - Hare Krishna sering mengutip:
BG 11.45 – "Sesudah melihat bentuk semesta ini yang belum pernah hamba lihat sebelumnya, hamba berbahagia, tetapi pada waktu yang sama pikiran hamba goyah karena ketakutan."
Mereka lalu menyatakan bahwa bentuk semesta (Viśvarūpa) yang dilihat Arjuna adalah Tuhan, dan karena itu wujud manusia yang memperlihatkan wujud ini (dalam kasus mereka: Sai Baba) adalah Tuhan itu sendiri.
Namun ini adalah kekeliruan besar. Justru dalam sloka itu Arjuna merasa gentar dan takut, bukan tenang. Ini membuktikan bahwa Viśvarūpa bukan bentuk kasih, bukan bentuk penyatu, dan bukan bentuk yang memberi kedamaian. Krishna menunjukkan Viśvarūpa sebagai wujud waktu penghancur (Kāla) — bukan untuk dipuja, tetapi untuk menyadarkan.
BG 11.32 – "Kālo’smi — Akulah Waktu, sang pemusnah dunia."
Dengan kata lain, Viśvarūpa bukan bentuk Tuhan yang dapat dimengerti atau dicintai. Ia adalah bentuk kosmik penghancur. Mengidentifikasikan Viśvarūpa dengan Sai Baba adalah penghinaan terhadap kedua-duanya: terhadap makna Viśvarūpa dan terhadap misteri Tuhan itu sendiri.
❌ Bentuk Viṣṇu dan Krishna Manusia Bukanlah Tujuan Akhir Pemahaman
BG 11.46 – Arjuna berkata ingin melihat Krishna dalam bentuk Viṣṇu berlengan empat.
BG 11.51 – Arjuna merasa tenang setelah melihat Krishna dalam bentuk manusia biasa.
Tafsir dangkal mengira bahwa bentuk manusia Krishna adalah bentuk sejati Tuhan. Maka mereka pun mengklaim: “Jika Krishna adalah Tuhan karena berbentuk manusia, maka Sai Baba juga.”
Ini adalah LOGIKA SESAT. Krishna tidak pernah menyatakan bahwa BENTUK MANUSIAnya adalah bentuk sejati Brahman. Justru sebaliknya:
BG 7.24 – "Orang bodoh mengira Aku telah menjelma sebagai manusia karena Aku mengambil wujud manusia. Mereka tidak mengetahui sifat-Ku yang lebih tinggi dan abadi."
Dan lebih tegas lagi:
BG 13.13–14 – Tuhan adalah:
"Tanpa tangan, namun mencengkeram segalanya. Tanpa kaki, namun menjangkau segalanya. Tanpa mata, namun melihat segalanya."
Inilah bentuk sejati Tuhan: tanpa bentuk, tanpa batas. Siapa pun yang membatasi Tuhan pada satu wujud manusia, belum memahami kedalaman Vedānta.
🔥 Brahman Tak Terbatas, Bukan Terkungkung Dalam Daging dan Jubah
Dalam tradisi Advaita Vedānta, didukung oleh Upaniṣad dan Bhagavad Gītā, Tuhan sejati disebut Brahman, yang:
-
Tidak berwujud (nirākāra),
-
Tak berawal dan tak berakhir (anādi, ananta),
-
Melampaui bentuk dan nama (nāma-rūpa-rahita),
-
Hanya bisa disadari melalui jñāna dan dhyāna.
Muṇḍaka Upaniṣad 1.1.6
"Yang tak terlihat, tak terjamah, tanpa mata, tanpa telinga, tanpa tangan dan kaki. Tapi meliputi segalanya."
Jadi ketika seseorang berkata, “Tuhan harus punya bentuk agar bisa dicintai,” ia sesungguhnya mengkerdilkan Tuhan sesuai kapasitas cinta pribadinya, bukan sesuai realitas Brahman.
⚠️ Kesombongan Spiritual: Mengklaim Tuhan Berinkarnasi Sebagai Diri Sendiri
Mengutip Bhagavad Gītā dan mengklaim bahwa “aku” atau “guruku” adalah Tuhan yang menjelma adalah bentuk kesombongan spiritual paling dalam. Bahkan Krishna sendiri tidak pernah menyuruh orang menyembah bentuk lahiriahnya.
Justru Ia menyuruh Arjuna untuk:
BG 18.66 – "Tinggalkan semua dharma luar, dan berlindunglah hanya pada-Ku."
Bukan pada “tubuh-Ku”, bukan pada “nama-Ku”, melainkan pada esensi-Ku sebagai Ātman dan Brahman.
✨ Tuhan Tidak Butuh Dibela oleh Jubah dan Gelar
Tuhan tidak pernah membutuhkan tubuh manusia untuk membuktikan eksistensi-Nya. Tubuh adalah alat; bentuk adalah simbol. Yang hakiki adalah kesadaran (prajñānaṁ brahma).
Siapa pun yang mengklaim bahwa “tokoh ini adalah Tuhan karena pernah menunjukkan mukjizat”, sedang memperdagangkan ilusi.
Tuhan tidak lahir. Tidak mati. Tidak punya agama. Tidak berlabel.
Tuhan adalah keheningan murni yang tak terlukiskan, namun menyinari segala bentuk.
"Neti, neti" — “bukan ini, bukan itu” — kata para ṛṣi.
Mereka yang benar-benar menyadari Brahman, tidak akan pernah mengklaim menjadi Tuhan.
Mereka hanya akan membimbing menuju yang Tak Terucap, Tak Terbatas, Tak Terjamah — Brahman. ingat!!! Visvarupa Bukan Alasan Menuhankan Manusia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar