Punggung Tiwas: Ratuning Usadha
Jalan Sunyi Penyembuhan Bali
Di tengah maraknya praktik spiritual instan dan klaim kesaktian tanpa dasar, Punggung Tiwas: Ratuning Usadha hadir sebagai buku yang mengambil jalur berbeda: tenang, jujur, dan berakar kuat pada tradisi intelektual Bali.
Punggung Tiwas bukan sekadar teknik pengobatan. Ia adalah jalan kesadaran, sebuah ajaran usadha Bali yang dengan sadar menanggalkan ketergantungan pada sarana lahiriah, lalu kembali ke inti manusia itu sendiri: bayu, idep, dan sabda. Kesederhanaan ini bukan tanda kemiskinan ajaran, melainkan disiplin batin—latihan untuk tidak bergantung pada alat, ramuan, atau simbol kosong, melainkan pada kejernihan kesadaran yang terlatih.
Karena itulah Punggung Tiwas disebut Ratuning Usadha. Bukan karena ia mengklaim diri paling ampuh, tetapi karena ia berdiri pada lapisan paling dalam dari penyembuhan: pemahaman tentang tubuh sebagai medan kesadaran, bukan sekadar objek sakit dan sembuh.
Buku ini dengan tegas tidak menjanjikan kesaktian. Ia justru mengajarkan sesuatu yang jauh lebih mendasar dan langka: cara membaca ajaran tradisi dengan jernih dan bertanggung jawab. Pembaca diajak membedakan dengan jelas antara teks lontar, tafsir penulis, dan pengembangan kontemporer—agar tradisi tidak disalahgunakan, dan modernitas tidak kehilangan arah.
Di dalamnya, Dasa Aksara, Dasa Bayu, Pañca Brahma, Tri Nāḍī, hingga filsafat puruṣa dibahas bukan sebagai simbol magis untuk dipamerkan, melainkan sebagai struktur kesadaran yang hidup dalam tubuh manusia. Dari titik inilah usadha dipahami bukan sekadar pengobatan, tetapi laku Dharma yang menopang jalan menuju Mokṣa.
Jika Anda merasa sudah saatnya belajar dengan lebih jernih, lebih hati-hati, dan lebih bertanggung jawab, Punggung Tiwas: Ratuning Usadha layak berada di rak buku Anda.
Satu pesan singkat bisa menjadi langkah awal menuju pemahaman yang lebih dalam. Buku ini tidak menjanjikan perubahan instan—tetapi menawarkan fondasi yang tidak mudah runtuh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar