Google+

Bukan Manual Kesaktian: Mengapa Punggung Tiwas Perlu Dibaca dengan Dewasa

Bukan Manual Kesaktian: 

Mengapa Punggung Tiwas Perlu Dibaca dengan Dewasa

Banyak orang mendekati dunia spiritual dengan satu harapan: hasil cepat. Ingin segera bisa mempraktikkan, ingin segera merasakan “daya”, ingin segera melihat bukti. Punggung Tiwas: Ratuning Usadha justru berdiri berseberangan dengan cara berpikir semacam itu—dan melakukannya dengan sadar sejak halaman pertama.

Buku ini secara tegas menyatakan dirinya bukan manual pengobatan, bukan buku legitimasi kesaktian, dan bukan pula pengganti otoritas balian, sulinggih, atau tenaga medis. Penegasan ini bukan bentuk penyangkalan terhadap tradisi, melainkan perlindungan terhadap tradisi itu sendiri. Tradisi tidak dijaga dengan sensasi, tetapi dengan kejernihan sikap dan kedewasaan berpikir.

Di dalam buku ini, Punggung Tiwas tidak diposisikan sebagai teknik instan, melainkan sebagai peta kesadaran. Tubuh dibaca sebagai medan aksara, penyakit dipahami sebagai ketidakseimbangan makna hidup, dan penyembuhan ditempatkan sebagai laku Dharma—jalan panjang yang menuntun manusia bukan hanya menuju sehat, tetapi menuju pemahaman diri dan Mokṣa.

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada alih aksara lontar Punggung Tiwas yang disajikan secara serius dan bertanggung jawab. Teks lontar ditampilkan lengkap dalam aksara Bali, disertai romanisasi, serta terjemahan dalam bahasa Indonesia, sehingga pembaca tidak hanya “mengutip”, tetapi benar-benar memahami isi ajaran dari sumbernya. Pendekatan ini dilakukan dengan sikap filologis yang jujur: sadar akan sifat simbolik bahasa lontar, terbuka untuk kajian ulang, dan tidak memaksakan satu tafsir tunggal.

Lebih dari itu, buku ini tidak berhenti pada pemaparan filsafat dan teks. Di dalamnya juga disertakan pengembangan ilmu energi sebagai bonus, yang secara khusus dirancang untuk menjembatani pembaca pemula. Bagian ini bukan klaim ajaran asli lontar, melainkan sarana pendamping—agar pembaca yang belum hidup dalam laku tradisi tetap memiliki alat penataan napas, rasa, dan kesadaran, sebelum mencoba memahami dan mempraktikkan isi lontar Punggung Tiwas secara bertanggung jawab.

Dengan ketebalan lebih dari 400 halaman, buku ini memuat:

  • fondasi filsafat kesadaran dan puruṣa,
  • pemetaan usadha Bali dan struktur aksara,
  • alih aksara lontar lengkap (aksara Bali, romanisasi, terjemahan Indonesia),
  • serta bonus ilmu energi sebagai jembatan awal bagi pembaca modern.

Buku ini sangat relevan bagi:

  • praktisi usadha yang ingin memperdalam dasar filosofisnya,
  • peneliti dan pemerhati spiritualitas Bali,
  • serta pencari jalan batin yang sadar bahwa berpikir jernih harus mendahului berpraktik.

Jika Anda mencari jalan pintas, buku ini bukan untuk Anda.
Namun jika Anda mencari fondasi yang kokoh, jujur, dan tidak menyesatkan, Punggung Tiwas: Ratuning Usadha adalah bacaan yang layak dimiliki dan dipelajari perlahan.

📩 Pemesanan buku dapat dilakukan langsung melalui WhatsApp:

Satu pesan singkat bisa menjadi langkah awal untuk memahami Punggung Tiwas dengan cara yang benar—bukan tergesa, bukan sembrono, tetapi berakar, jernih, dan bertanggung jawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar