Jīva Pergi ke Vaikuṇṭha atau Menjadi Brahman?
Pertanyaan ini tampak sederhana:
setelah mokṣa, jīva pergi ke suatu loka—atau tidak pergi ke mana pun?
Dalam banyak ajaran populer, tujuan akhir digambarkan sebagai:
- Vaikuṇṭha,
- Goloka,
- atau dunia rohani tertentu,
di mana jiwa:
- tetap eksis sebagai individu,
- menikmati pengalaman,
- dan menjalin relasi abadi.
Namun, ketika kita kembali kepada Śruti dan penjelasan Ācārya seperti Adi Shankaracharya, arah pemahamannya justru berbalik total.
Dalam Veda, realisasi tertinggi disebut:
pratyag-ātman — kembali pada diri terdalam
Artinya:
- bukan mencari keluar,
- bukan menuju tempat lain,
- tetapi menyadari bahwa:
Ātman tidak lain adalah Brahman itu sendiri.
Muṇḍaka Upaniṣad 3.2.6 (Bhashya Śaṅkara)
parāmṛtāḥ param amṛtam amaraṇadharmakaṃ brahma ātmabhūtaṃ yeṣāṃ te parāmṛtā jīvanta eva brahmabhūtāḥ, parāmṛtāḥ santaḥ parimucyanti pari samantātpradīpanirvāṇavadbhinnaghaṭākāśavacca nivṛttimupayānti parimucyanti pari samantānmucyante sarve, na deśāntaraṃ gantavyamapekṣante ।
‘śakunīnāmivākāśe jale vāricarasya vā । padaṃ yathā na dṛśyeta tathā jñānavatāṃ gatiḥ’ (mo. dha. 181-9)
‘anadhvagā adhvasu pārayiṣṇavaḥ’ iti śrutismṛtibhyām ;
deśaparicchinnā hi gatiḥ saṃsāraviṣayaiva, paricchinnasādhanasādhyatvāt ।
brahma tu samastatvānna deśaparicchedena gantavyam ।
yadi hi deśaparicchinnaṃ brahma syāt, mūrtadravyavadādyantavadanyāśritaṃ sāvayavamanityaṃ kṛtakaṃ ca syāt ।
na tvevaṃvidhaṃ brahma bhavitumarhati ।
atastatprāptiśca naiva deśaparicchinnā bhavituṃ yuktā ॥
Orang yang telah terbebaskan tidak bepergian ke tempat/loka lain, karena perjalanan semacam itu menyiratkan bahwa sang jiva masih berada dalam samsara. Karena Brahman itu tak terbatas, seorang jnani yang telah menyadari identitasnya dengan Brahman, yang juga merupakan Brahman Tak Terbatas itu sendiri, tidak pergi ke mana pun setelah kematian. Sebab, Brahman bukanlah tempat terbatas yang harus dicapai. Jika Brahman berada di suatu tempat, maka Brahman, yang tidak berbeda dengan objek apa pun yang terbentuk, pasti memiliki awal dan akhir, dan bergantung pada sesuatu yang lain, terbuat dari bagian-bagian, bersifat sementara, dan merupakan sesuatu yang dihasilkan. Brahman tidak akan pernah berada dalam sifat ini. Dengan demikian, 'pencapaian' Brahman tidak dapat melibatkan lokasi apa pun di tempat lain.
Orang yang telah mengetahui Brahman menjadi Brahman itu sendiri bahkan saat masih hidup.
Setelah bebas, mereka tidak pergi ke mana pun.
Perjalanan ke suatu tempat menunjukkan keterbatasan—dan itu masih bagian dari saṃsāra.
Brahman tidak terbatas oleh ruang. Jika Brahman berada di suatu tempat, maka ia akan:
- memiliki batas,
- bergantung,
- tersusun dari bagian,
- dan tidak kekal.
Karena itu, pencapaian Brahman tidak melibatkan perpindahan ke lokasi mana pun.
Śaṅkara menutup seluruh kemungkinan ini dengan satu garis tegas:
pergi ke suatu loka = masih dalam saṃsāra
Mengapa?
Karena:
- pergi → berarti ada jarak
- jarak → berarti ruang
- ruang → berarti batas
Dan yang berbatas:
bukan Brahman
Jika mokṣa diartikan sebagai:
- pergi ke Vaikuṇṭha
- atau Goloka
maka secara logika:
- itu adalah lokasi
- memiliki batas
- memiliki struktur
Dan semua yang memiliki struktur: tidak bisa absolut
Jika seseorang masih membayangkan:
- menjadi individu di suatu dunia
- menikmati objek (bahkan “rohani”)
- berinteraksi dengan entitas lain
maka:
dualisme masih utuh
Dan selama dualisme masih ada:
itu belum mokṣa menurut Śruti
Ilustrasi Śaṅkara (yang sangat tajam)
Seperti:
- burung di langit tidak meninggalkan jejak
- ikan di air tidak meninggalkan jejak
demikian pula:
jalan orang yang tercerahkan tidak dapat dilacak sebagai “perjalanan”
Karena memang:
tidak ada perjalanan
Maka pertanyaan awal:
jīva pergi ke Vaikuṇṭha atau Goloka?
jawabannya menurut Śruti adalah: tidak ke mana-mana
Karena yang terjadi bukan perpindahan, melainkan: penghapusan ilusi keterpisahan
Dan ketika itu lenyap:
- tidak ada tujuan
- tidak ada perjalanan
- tidak ada tempat
yang ada hanyalah: Brahman — tanpa batas, tanpa arah, tanpa dua
pikirkan dengan seksama: jika masih ada “pergi”, maka itu belumlah bebas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar