Google+

Menolak Sankara, Mengutip Śaṅkara: Kontradiksi yang Terbuka

Menolak Śaṅkara, Mengutip Śaṅkara: Kontradiksi yang Terbuka

Ada satu pernyataan yang sering dikutip:

“Śrīla Vyāsadeva menyampaikan Vedānta untuk pembebasan,
tetapi jika seseorang mendengar komentar Śaṅkarācārya, semuanya akan rusak.”
(Caitanya Caritāmṛta, Madhya 6.169)

Sekilas ini terdengar tegas.
Namun justru di sinilah kontradiksi mulai terlihat.

Masalah Pertama: Menolak, tapi Bergantung

Di satu sisi:

  • komentar Śaṅkara dianggap “merusak”

Di sisi lain:

  • karya-karya beliau justru dikutip luas

Bukan hanya kutipan ringan, tetapi:

  • bhāṣya pada Upaniṣad
  • bhāṣya pada Brahma Sūtra
  • bhāṣya pada Bhagavad Gītā
  • hingga karya seperti Bhaja Govindam

Padahal ini bukan karya biasa.

Ini adalah:

fondasi sistematis Vedānta klasik (prasthāna-traya-bhāṣya)


Jika benar:

komentar Śaṅkara “merusak”

maka:

  • mengapa karyanya dipakai?
  • mengapa slokanya dikutip?
  • mengapa otoritasnya diam-diam diandalkan?

Masalah Kedua: Inkonsistensi Metodologis

Tidak mungkin dua hal ini berdiri bersamaan:

  1. Menolak otoritas seorang ācārya
  2. Sekaligus menggunakan karyanya sebagai rujukan

Karena jika:

  • otoritasnya ditolak → maka karyanya gugur
  • karyanya dipakai → maka otoritasnya diakui

Tidak ada posisi tengah.


Masalah Ketiga: Śaṅkara Justru Menyatukan, Bukan Merusak

Secara historis dan filosofis, Adi Shankaracharya:

  • tidak menciptakan teks baru
  • tetapi menjelaskan Śruti secara sistematis

Ia:

  • menyelaraskan Upaniṣad
  • menjelaskan Brahma Sūtra
  • menafsirkan Bhagavad Gītā

Dan yang paling penting:

menghilangkan kontradiksi, bukan menciptakannya


Masalah Nyata: Bukan Śaṅkara yang Bermasalah

Jika ada yang merasa “rusak” setelah membaca Śaṅkara, maka ada dua kemungkinan:

  1. pemahamannya berubah
  2. atau doktrin sebelumnya tidak tahan diuji

Karena satu hal pasti:

Śaṅkara tidak menambah teks—ia justru kembali ke teks


Ironi yang Tidak Bisa Disembunyikan

Yang terjadi justru sebaliknya:

  • Śaṅkara ditolak secara verbal
  • tetapi digunakan secara diam-diam

Ini bukan perbedaan pandangan.

Ini:

ketergantungan tanpa pengakuan

Jika suatu ajaran:

  • melarang membaca satu sumber
  • tetapi diam-diam memanfaatkan sumber itu

maka masalahnya bukan pada sumbernya,
tetapi pada ketidakjujuran intelektualnya.

Karena dalam tradisi Veda:

kebenaran tidak takut diuji
dan tidak perlu disembunyikan

Dan jika satu pemikiran runtuh hanya karena dibaca secara utuh, maka yang rapuh bukan teksnya—tetapi keyakinannya sejak awal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar